Beberapa Lembar Kemudian

28 10 2009

rusak//apanya?//kepala saya//sabar om//lha piye meneh jal?//kalau kata dia sih, jadilah seperti pohon Oak, berani menantang angin//tapi masalahnya, saya sendirilah angin itu!/semakin saya maju, semakin menambah besar angin yang harus saya hadapi//kalau begitu jadilah badai/berani menantang balik, berani membuat distorsi/menerbangkan sesuatu untuk kelangsungan hidup//seolah-olah, seperti waltz muram//
“Ku dilanda badai rindu
Oh logika lindungi aku
Beri aku amnesia
Ku tak mau ingat dia.”

(Dalam berbagai arti yang dengan itu semoga tidak bikin siapapun kamu ada rasa apapun, semoga tidak salah paham, ini tentang saya SAJA. Saya sendiri juga tidak suka dengan catatan ini karena agak sedikit berbau melankolis.)

nb: saya mengambil kata-kata dari Soe Hok Gie dan lirik lagu berjudul “Waltz Muram” dari Tika and The Dissident





IDUL FITRI 2009 MASEHI

25 09 2009

Semoga belum telat kiranya untuk mengucapkan ini. Semoga juga masih diberi kesempatan untuk meminta dan memberi maaf kepada semuanya, termasuk hutang-hutang yang masih ada, semoga diikhlaskan semua-muanya. Terimakasih..

TAQABALALLAHU MINNA WA MINKUM, MINNAL AIDZIN WAL FAIDZIN, MOHON MAAF LAHIR BATIN.





Takbiran 1430H

19 09 2009

Ohh, sudah malam takbiran lagi. padahal saya kira baru kemarin saya nulis jurnal dengan judul “Takbiran Ramai Sepi”. Mohon maaf lahir batin lagi untuk itu. Baca entri selengkapnya »





Pendakian Sumbing 10 – 11 Agustus ‘09

23 08 2009

Pendakian Sumbing ternyata jadi dilakukan. Saya kalah debat dan ternyata ada keinginan juga buat kesana karena sampai saat ini saya belum pernah mendaki itu Sumbing. Dan ternyata si Ican, Dodog, dan Gingsoel pun juga hanya ingin kesana, bukan gunung lain. Maka dari hasil mufakat ini, diputuskan untuk jadi mendaki Gunung Sumbing dengan hanya 4 orang yang tidak tahu apa-apa dan mengesampingkan firasat saya kemarin. Hanya berbekal hasil telepon saya dengan teman SMP gambar peta pendakian sumbing yang saya gambar sendiri, dan guide dari internet (dari mapala geografi ugm, saya lupa alamatnya apa, cari saja di google) kami berangkat kesana. Guide internet yang bukan dari merbabu.com karena saya buang jauh-jauh setelah baca isinya.

Ada cerita yang tidak menarik sebenarnya sebelum kami berangkat ke Sumbing. Itu terjadi waktu masih kumpul dan bersiap-siap buat berangkat di angkringan si om depan Smada. Itu waktu kami sibuk buat ngecek perlengkapan, dan ternyata ada yang kurang. Radio! Sebuah makhluk yang membuat kami tidak akan diam saja selama mendaki. Atau minimal radio tersebut bakal terus saja nggambleh dalam diam kami karena kelelahan nanti, sehingga tidak terasa begitu sunyi. Saya agak lupa bagaimana itu, tapi kita sempat SMS dan telepon banyak teman-teman. Tapi sialnya, tidak ada yang punya, sehingga entah bagaimana bodohnya kami, sehingga kepikiran buat ke Klithikan dulu buat beli radio. Masing-masing urunan Rp 5.000, lalu saya dan Dodog berangkat kesana. Berangkat kesana pakai motor si Gingsoel dan tidak membawa STNK-nya. Dan ternyata benar sial, ketika itu di daerah Transito itu ada razia. Anjrit, tapi untung kami tidak terlalu maju sehingga kami berhenti di agak jauh sebelum razia itu. Telepon si Gingsoel suruh bawain STNK-nya, iya. Tapi ketika si Gingsoel datang, entah bego atau bagaimana, dia sendiri tidak bawa STNK karena pakai motor Ican, sehingga akhirnya saya harus jalan kaki ke depan foto digital Pertigaan Jatinom buat ngambil STNK-nya Gingsoel. Untunglah kebegoan ini berakhir ketika saya dapat SMS dari Simbah yang bilang kalau ternyata punya, sehingga kami tidak usahlah susah-susah ke Klithikan buat beli. Oke, saya telpon Simbah buat pinjem dan akan kesitu sebentar lagi. Tapi nyatanya ketika kembali ke angkringan si Om itu, ternyata malah dipinjami radio sama si Om. Radio yang kelak kami beri nama SiFikar. Tapi nggak ada baterenya lho? Nggak apa-apa, kami beliin nanti. Makasih om! Dan berangkatlah kami dengan tidak jadi mampir ke rumah Simbah. Itu sekitar jam 11.30 siang.

Perjalanan dari Jogja ke Wonosobo jauh sekali. Sekitar pukul 14.30 kami baru sampai ke desa Garung (desa terakhir sebelum pendakian Subing). Makan dulu di warung transit di bawah itu dan sholat Ashar di masjid di atas. Baru sekitar jam setengah 4 sore kita ke Basecamp buat lapor. Ternyata basecamp sumbing itu asik walau agak sedikit mahal, karena kita dikasih peta pendakian sumbing beserta keterangan-keterangannya. Peta yang saya gambar jadi tidak ada artinya. Tapi tidak saya buang karena keren. Setelah banyak bertanya ini itu sama petugas SAR, dan dicegat sama anak-anak TPA yang minta juga ikut foto bareng kami, kami langsung naik. Kami mendaki lewat jalur baru. Kebetulan saya bawa drawing pen sehingga sayalah yang bawa peta dari Om SAR tadi. Biar gampang kalau navigasi atau sekedar coret-coret.

Edan, gunung Sumbing itu benar-benar keren kalau kamu mau tahu. Baru sekitar 15 menit kami berjalan dan keringat sudah membanjir serta jantung kami berdetak kencang. Panoramanya pun lucu. Tidak monoton sehingga kamu tidak akan bosan. Sebelum ke pos 1 itu, track yang kita lalui adalah ladang para petani. Itu sampai agak jauh, sampai sekitar batas kilometer (KM) III. Sampai ke Boweisen (batas antara ladang dengan hutan). Saya pikir apa ya? Gila, tinggi sekali. Apa nggak capek itu nanti yang ngerawat dan bolak-balik bawa hasil panen?

Sepanjang perjalanan, sebelum sampai di bawah Pos 1, ada sungai di sisi kiri kami. Tapi sayangnya ini musim kemaru, sehingga air terjun yang ada di situ tidak ada air yang mengalir terjun. Mata air pun cuma ada air kotor sekali, sehingga tidak jadi ngmbil air disitu. Lalu sampailah ke pos 1 yang bernama Kedung.

Track setelah itu adalah hutan pinus. Jalurnya lebih mendaki lagi. Seolah-olah tidak ada jalan landai buat kami bisa istirahat. Sampai akhirnya tiba di Pos 2 yang bernama Gatakan. Sebelum itu, sebelum nanti kami turun dan sudah sampai di basecamp, kami tidak tahu bahwa itulah yang dimaksud pos 2 karena bentuknya cuma tanah lapang biasa. Tapi ada pohon besar sekali yang tidak ada daunnya. Juga sebuah makam. Kami sempat berdoa sebentar disitu.

Jalanan lebih gila lagi begitu keluar dari pos 2. Jalurnya lebar berpasir dan pohon pinus mulai jarang. Ditambah lagi dengan sudut kemiringan yang amat sangat. Bikin capek karena licin sekali. Sampai akhirnya sekitar jam 8 malam sampai di pertemuan antara jalur baru dan lama. Disana sudah benar-benar lapang. Pohon mulai jarang dan yang ada hanya rumput dan semak belukar. Jalanan masih berpasir dan karena lapangnya kondisi jalan membuat angin yang bertiup agak kencang membuat kami menggigil kedinginan. Tapi, tapi kalau kamu suka bintang, kamu pasti akan iri dengan kami yang ada disini. Bintang-bintang benar-benar banyak sekali bertabur di atas sana, berkelap-kelip dan kadang-kadang bergerak, bahkan jatuh. Bulan yang bulat walau tidak penuh juga bersinar terang di agak timur situ. Keren sekali. Baca entri selengkapnya »





Pendakian Lawu 20-21 Mei ‘09

23 08 2009

Nostalgia sebentar saya kira oke daripada hanya disimpan lalu lupa. Pada saat itu adalah sudah selesai yang UAN, UAS, dan sebagainya itu. UM juga alhamdulillah sudah tembus. Sudah tidak ada kerjaan lagi. Makanya ayo mendaki? Itu saya bilang sama Dodog yang juga sama diterima di UGM jurusan teknik industri. Kapan? Tanggal 20 Mei saja, sehari setelah ujian praktek selesai. Oke! Tapi ternyata itu si Ramon yang UPN npertambangan itu juga ikut. Nita si pacar Ramon yang juga kecantol di UGM jurusan gizi dan kesehatan juga ikut ternyata. Maka ada 4 orang yang siap berangkat untuk mendaki. Oke-oke, semakin ramai semakin asik.

Dan 20 Mei pun tiba. Berangkatlah kita ke Lawu. Ke terminal Giwangan dulu buat nanti naik bus Jogja-Solo, diantar oleh bapake Ramon, ditemani musik2 radio dan rasa deg-degan karena semula ini hanya rencana gila saya dan Dodog saja, tetapi malah beneran terjadi. Iya, kami seharusnya senang karena sampai saat ini semua berjalan dengan lancar baik persiapan barang2 yang akan dibawa dan juga persiapan ongkos perjalanan. Tapi tetep saja kaget.

Sampai pula di Giwangan, pamit sama bapak Mon? Udah. Lalu jalan kami ke peron dengan plakat SOLO. Jalan membawa ransel besar yang oleh karenanya menjadi pusat perhatian calon penumpang lain. Itu ada bus sudah siap melaju. Kami naik kesana dan alhamdulillah kosong. Yeah, duduklah kita di kursi belakang. Kamu tahu? Bus Jogja-Solo itu terkenal sekali dengan aksi gila-gilaannya. Kalau saya ke klaten naik motor, saya biasa memaki-maki sama itu Bus, lain ceritanya kalau saya yang naik ini Bus. Saya bergembira hati karena aksi kebut-kebutan Bus ini mendatangkan sensasi tertentu, selain angin dari kaca jendela yang otomatis kencang sehingga tidak membuat gerah dan panas. Tapi ternyata tidak semua berjalan indah, ya Pak Supir ya? Karena kita semua para penumpang, dan pak kernet, dan pengamen, dan kamu pak supir tahu kalau ketika akan menyebrangi rel kereta api yang baru saja dilewati kereta, bus ini malah tidak ikut dalam antrian kendaraan roda 4 tapi malah ambil sisi kanan dan menyalip semua mobil, truk, dan bus lain. Dan karenanya, bus ini malah kena tilang, yang membuat kamu menjadi minta maaf sama penumpang-penumpang. Oh, iya, saya maafkan.

Sampai di Tirtonandi, lanjut langsung ke tawangmangu. Oh, di Karanganyar foto-foto bupati narsis yang entah siapa namanya itu sudah tinggal sedikit. Sampai di terminal, langsung naik ompreng ke cemoro sewu. Ompreng penuh, suasana sangat sumpek dan menyebalkan.

Begitu sampai di Cemoro Sewu, oh hujan. Menunggu sekitar 2 jam sambil makan nasi goreng, lalu memberanikan diri untuk mulai mendaki. Untunglah sudah mulai terang. Jalan bebatuan jadi agak basah, tapi it’s oke. Hari sudah mulai malam dan waktunya buat menyalakan senter. Sebenarnya lancar-lancar saja sih perjalanan, jadi tidak banyak yang bisa diceritakan. Udara malam juga nggak begitu dingin. Bulan juga cerah. Oh, begitu lancar syukurlah. Baca entri selengkapnya »





Kancil Insomnia dan Monyet Sulit Tidur

12 07 2009

Kalau kamu pikir ini bercanda, maka kamu salah karena ini cerita ada benar. Setidaknya, ini saya karang buat biar jadi ada, biar kamu tahu kalau saya tidak berbohong mengatakan akan berdongeng seperti ini.

Pada suatu malam, di suatu hutan liar yang alhamdulillah tidak terjamah penebang liar—setidaknya belum karena kayu jatinya pasti akan mengundang jikalau para penebang-penebang liar itu tahu, ada seekor kancil yang entah kenapa malah merasa seolah-olah dia itu malah seperti kelelawar, nocturnal. Kalau kamu bertanya kenapa bisa terjadi hal seperti itu, jawabannya adalah karena Pak Tani sekarang sangat sibuk dengan mendengarkan kampanye dari bapak-bapak dan ibu calon presiden dan wakilnya yang sok-sokan menjunjung tinggi ekonomi kerakyatan dalam kampanye akhir-akhir ini, sehingga lupa akan ladangnya, sehingga timun pun mudah dicuri, sehingga mengakibatkan si kancil jadi tidak usah susah-susah kalau mau mencuri lagi, dan dengan kecerdikannya pada suatu hari dia mencuri semua timun yang ada, memasukkan ke dalam karung, membawa ke dalam rumahnya, dan menjadikan dia punya banyak stok makanan, sehingga dia benar-benar tidak perlu bekerja lagi, dan akhirnya menjadikan si kancil malas dan mudah tertidur pada siang hari karena tak perlulah ia susah mencuri, dan akhir-akhir ini malah bikin si kancil jadi suka tidak bisa tidur malam karena kebanyakan tidur siang. Baca entri selengkapnya »





Pendakian Merapi (lagi) 4-5 Juni ‘09

10 07 2009

Pendakian Merapi. Sebelumnya tadi pagi ambil ijazah di sekolah. Pulang, terus packing, alhamdulillah sudah disediakan duit sama ibuk Rp 50.000,- . Berangkat ke Merapi jam 2 siang. Sengaja nggak bareng sama angkatan bawah biar gak terlalu rame dan ngrepotin (atau malah direpotin). Ada aku, Dodog, Fikar, Ucil, Kendho, Cing, Gingsoel, Suriph, Fitri, dan Kokom. Sampai di Ketep beli jagung bakar. Itu, yang jual dua bocah entah umur berapa. Semacam sedang kelas 1 SD.

“Satunya berapa dek? Yang mentah.”

“1500 mas”

“10 biji sepuluh ribu ya?”

“heh…” bingung dia “mm…gak bisa mas”

“lah, berapa emang?” hehe, saya mau ketawa liat mereka bingung.

“yaa… satu 1500 mas”

“sepuluh ribu sepuluh ya? Masak tawar dikit gak boleh?”

“mmmm….. gak bisa mas”

“oke, kalo gitu pas-nya aja deh berapa? Aku nambah berapa lagi gitu?”

yaa… satu 1500, kalo sepuluh jadi… mmm…” bingung banget deh. Kasihan sekali waktu liat itu bocah. Partnernya juga cuma diam aja.

15000 dek..” itu Dodog yang kasih tau akhirnya. Haha. Bayar segitu deh akhirnya kami. Nggak tega.

Lanjut lagi perjalanan setelah dapet jagung, minyak tanah, dan memastikan bahwa si Fikar benar-benar bawa bumbu (sebenarnya tidak sengaja, niatnya mau bikin tempe katanya). Jalanan ke Selo itu aneh. Ada 17 belokan yang bentuknya hampir sama lengkungannya (itu dari hasil saya dan Kokom hitung dan dicocokan dengan hasil hitungan teman-teman lain waktu pulang, daripada ngantuk). Sampai di basecamp jam 4 sore, menjelang setengah 5. Cari makan dan dapat warung nasi goreng. Nyamleng! Lalu berangkat dan mulai mendaki jam setengah 7, habis maghrib. Ada orang bilang, kalo ketemu Ridwan dari Kartasura, suruh turun aja. Adik dan ayah-nya meninggal karena kecelakaan. Astaughfirullah.. Baca entri selengkapnya »





Lembar Baru

29 06 2009

OKE. Saya perbarui lagi wordpress saya. Yeah, walau mungkin tidak ada yang lihat. Tak apalah. Minimal, sekarang ini saya sudah mulai membuat catatan harian saya di komputer setiap hari. Entah karena pengaruh apa. Mungkin karena buku Catatan Seorang Demonstran – Soe Hok Gie. Rasanya, saya sudah belajar dari kehidupan SMA saya yang jarang saya abadikan dengan menulis jurnal—mungkin ada satu dua hari spesial yang saya catat kejadian-kejadiannya—tapi tidak tiap hari saya lakukan itu. Rasanya sayang juga membiarkan satu persatu kejadian itu lewat, lalu dilupakan, sekecil apapun sebuah peristiwa. Menyesal sekali. Tapi mungkin tidak akan saya terbitkan disini (mungkin satu atau dua, tapi tidak semuanya) karena walau setidak dibaca pun, tetap saja saya harus sadar mana yang privacy mana yang untuk jamuan umum.

Dan kehidupan SMA saya sudah tamat. Sudah selesai. OVER! Tidak ada lagi yang namanya berangkat pagi untuk masuk jam ke-noL. Tidak ada lagi yang namanya ramai di kelas, berusaha merencanakan sesuatu yang tidak jelas apa maksud dan tujuannya dikala bosan dengan pelajaran yang diajarkan bapak dan ibu guru. Tidak ada lagi membaca komik di kelas, bermain HP waktu pelajaran PKn, tidur waktu pelajaran agama. Tidak ada lagi rapat OSIS yang membosankan. Tidak ada lagi mengurus kegiatan ini-itu seperti Pensi, SEN, Try Out, Kajian KHR, dan semacam itu. Tidak ada lagi belajar bersama ketika UM dan UAN sudah begitu dekat. Dimana kelas yang tadinya benar-benar payah dan berisik menjadi kelas yang rajin dalam membuka dan mengerjakan soal-soal latihan. Tidak ada lagi istirahat siang lalu ke kantin atau sholat. Tidak ada lagi bel pulang sekolah. Tidak ada lagi. SMA sudah berakhir. It’s over man! Kamu sedang membuka Bayu Ardiyanto yang tidak lagi menyandang gelar Pelajar SMA. Sekarang ini, kamu membuka sebuah bab baru. Sekarang ini, saya adalah Mahasiswa! (Calon lebih tepatnya, karena baru pada tanggal 18 Agustus 2009 besok saya resmi menjadi mahasiswa UGM). Baca entri selengkapnya »





Catatan-catatan Akhir Sekolah

10 05 2009

Bagaimana ya memulainya? Terlalu banyak sekali kenangan yang ada itu di dalam SMA N 2 Yogyakarta tahun 2007-2009. Lho, banyak sekali. Gila, seminggu lagi adalah kegiatan kelas terakhir bagi kita anak SMA kelas XII. Itu pun adalah ujian praktek sehingga tidak bisa begitu menikmati duduk di bangku untuk bersama-sama menyimak pelajaran yang diajarkan oleh bapak atau ibu guru. Sambil kau tahu sendirilah bagaimana kelakukan anak SMA jaman sekarang. Baca komik, ngobrol, ber-sms dengan orang-orang lain di entah dimana yang sama-sama bosan dengan apa yang bapak ibu guru omongkan, menggambar, dan atau malah tidur. Ya ampun, sudah hampir berakhir, lho.

Dan kalau diingat-ingat lagi, terlalu banyak peristiwa baik menyenangkan ataupun menyebalkan yang ingin saya tulis disini. Tapi itu tidak mungkin karena terlalu banyak sehingga membuat saya lupa. Atau memang karena saya ini malas menulis.Hehe. Tapi menurut saya sih, yang paling menyenangkan adalah ketika kita duduk bersama dengan kawan-kawan untuk saling menghina sesama. Aduh, kita tertawa walau ada satu dua orang yang terhina. Tidak apa-apa karena kita sama-sama senang. Karena kita memang sama-sama manusia sehingga tidak masalah lah.

Jadi ingat tentang itu, kelas X-7. Sewaktu wali kelas kita adalah Bapak Hadi yang guru Fisika itu. Yang kepalanya botak menyenangkan dan berjenggot serta berjambang keren sekali. Yang karena itu sehingga membuat saya jadi agak sering untuk membuat karikaturnya karena mudah sekali untuk digambarkan dalam bentuk kartun. Haha, maaf sekali atas kekurangajaran saya. Tapi menurut saya sih, itu belum seberapa dengan yang biasa kita lakukan ketika kelas kita sudah pindah ke lab bahasa. Ketika entah siapa itu mengajarkan seisi kelas tentang sebuah permainan bernama 5 jadi, permainan dimana kamu harus menyediakan kertas dari buku tulis matematika yang kotak-kotak itu dan lalu bertanding dengan kawanmu untuk memberi tanda silang atau lingkaran sesuai kesepakatan dan berlomba untuk mendapatkan 5 lingkaran atau silang yang segaris. Duh sulit banget njelasinnya. Pokoknya semacam itulah, masa kamu tidak tahu? Dan sehingga pada akhirnya seluruh isi kelas (terutama kaum lelaki yang agak tidak niat sekolah saat itu) menjadi tahu bagaimana cara bermain serta intrik-intrik supaya menang. Yang karena hal itulah maka pada suatu waktu ketika Pak Hadi mengajar, kita dengan semena-mena malah membuat sebuah turnamen akbar 5 jadi “uselezz” (aduh, itu tuh sebutan untuk kelas kami X-7 kalau kamu mau tahu). Sudah ada panitia resmi dan kertas logistik untuk bermain pun sudah disipakan sendiri oleh panitia. Dan dengan sangarnya pula, setelah undian untuk menentukan siapa lawan bermain yang diadakan beberapa menit sebelum Pak Hadi datang, kita duduk dengan lawan bermain kita untuk melaksanakan turnamen akbar 5 jadi tersebut yang entah kenapa sangat bergengsi sekali menurut kita. Yang keren adalah, ketika Pak Hadi datangpun, turnamen terus berlanjut. Apalah itu GLB, GLBB, hukum newton?! Peduli setan, ayo tetap teruskan bertanding! Baca entri selengkapnya »





Alhamdulillah

27 04 2009

ugm