Pendakian Merbabu lagi. Sama vachera lagi meski personel yang berangkat cuma 4 orang. Sebenarnya rada males karena ini musim hujan, tapi ketika itu pagi lihat langit sedang biru cerah, segera saya sms temen-temen buat ndaki. Maka berangkatlah kami. Tapi kali ini lewat jalur selo.  Ngomong-ngomong, sebanyak ini saya daki merbabu, sekalipun belum pernah lewat jalur ini. Jadi ya kemarin banyak-banyak cari info lewat internet. Lumayan membantu.

Jalur selo itu, kalau bisa saya gambarkan, itu masyaAllah jauh sekali. Serasa bukan naik merbabu saja (karena biasanya saya lewat jalur wekas). Apalagi kalau sampai di sekitaran daerah Sabana (daerah padang rumput, dekat puncak). Tapi keren. Pemandangan yang didapat sungguh asik. Bukit-bukit di atas seolah-olah kayak bukit-bukit di film teletubbies. Hijau dan menggunduk-gunduk. Disertai dengan edelweiss yang tumbuh menghutan dimana-dimana di sepanjang sabana.  Asik sekali, apalagi jika tidur di situ. Angin yang hijau mengalir semilir. Dan jika malam, maka akan terlihat lampu-lampu kota Magelang dan (mungkin) Solo atau Boyolali. Gak taulah, karena saya agak disoriented dan kurang info. Pokoknya lampu kota. Dan sangat banyak, seperti laut yang memantulkan cahaya bintang.

Dan, saya menemukannya disana. Mungkin sudah agak lama saya melupakan ini. Basic of the adventure, it’s not about destination, but the journey. Ketika malam hari kedua, dan angin sedang berhembus sangat dingin, terlihatlah itu. Seperti yang saya bahas di atas, lampu-lampu kota yang kecil-kecil seperti cahaya bintang. Dan sadar akan satu hal, bahwa oh bahwa, kita ini sangat kecil adanya. Dan bumi itu sungguh maha luas. Saya sedikit lupa akhir-akhir ini, karena google earth dan facebook yang seolah menyempitkan jarak.

Saya ingin bertualang lagi. Menjelajahi wajah bumi dimanapun. Kebenaran didapat bukan dari kasur tidur di kamar, bukan dari bangku kuliah di kampus, di kantin, di WC. Bukan dari sekedar tour wisata atau trip ala travel agent. Tapi ketika memutuskan untuk jujur dan berani keluar dari cangkang, menapaki sesuai dengan jalan yang kita pilih. Read the rest of this entry »

Saya kesana lagi. Ke Merbabu tercinta yang serasa feel like home. Kali ini bersama anak-anak Avante, semacam pecinta alam di fisika teknik. Saya sebut semacam karena memang begitulah kenyataanya. Agak sangsi buat menyebut ini sebagai mapala. Organisasi ini baru berdiri 6 bulan yang lalu, dan saya bisa dianggap sebagai angkatan kedua disini.  But it’s okelah, let’s have some fun in here.

Pendakian terdiri dari sekitar 8 orang dari angkatan 2009 dan 7 orang angkatan 2008. Kesana naik motor dan rencanannya lewat jalur wekas. Saya tawari mereka buat mampir ke warung simbok e anak vachera, warung nasi goreng di deket gapura masuk kalau mau ke basecamp. Itu adalah warung nasi  goreng yang kamu harus rela buat nunggu lama sampai nasi goreng benar-benar jadi entah karena apa, mungkin karena si simbok masih harus ngonceki bumbu-bumbunya. Tapi begitu menjelang detik-detik sebelum jadi, siapkan ember atau minimal tutup mulutmu rapat-rapat biar ilermu tidak muncrat kemana-mana, karena bau yang keluar dari panci penggorengan adalah masyaAllah, dashyat luar biasa menggoda perut. Apalagi tahulah, hawa pegunungan  yang dingin, semakin bikin perut yang lapar ini ingin cepat-cepat makan itu nasi gorng buatan simbok. Yang konon luar biasa maknyus!

Lanjut kepada pendakian. Jalanan menuju basecamp sekarang sudah bagus. Sudah dikasih blok semen 2 jalur dan tengahnya sudah dikasih batu-batuan yang sejajar dengan tinggi blok semen. Jadi kami yang naik motor ini cukup santai saja melewati jalanan yang curamnya mring luar biasa. Dulu, sebelum dibangun ini jalan blok, trek masih berupa batu-batuan. Jika kamu boncengan, pendaki yang duduk di belakang kudu siap rela jalan kaki dari jalanan pinus sampai ke basecamp kalau motor tidak kuat. Pun kalau kuat, kasihan motormu, pasti akan berbau gosong di sekitaran mesinnya. Apalagi untuk motor saya yang cuma smash 110cc. Pahit. Read the rest of this entry »

fisika vs kewarganegaraanHasil karya waktu SMA, menyenangkan sekali ketika tidak ada kerjaan di kelas, lalu mencoba menggambar beliau, para pahlawan tanpa tanda jasa ini. Hahaha :D

Maafkan saya pak, andai saya sadar lebih cepat tentang apa yang mungkin bapak rasakan jikalau tahu bahwa setelah ini saya bikin, malah lalu disebar ke seantero penghuni kelas sampai semua pada tahu, dan saya tidak buang tapi mlah disimpan di binder hingga yang pinjem binder saya pasti tahu tentang ini, pasti sayaa…akan “sedikit” membuat bapak terlihat lebih keren lagi.

Hormat saya untuk bapak!

Januari 2009

Saya lupa ngapain aja, tapi sepertinya masih senang-senang dengan kegiatan SMA. Oh, dulu kapan itu di masa lalu pernah sampai berpikir buat bikin kaos “I HATE SCHOOL! I RATHER DO ANYTHING THAN GO TO SCHOOL” karena terlalu muak dengan Matematika dan IPA. Tapi kelihatannya pada saat Januari itu keinginan tersebut luntur, seiring dengan semakin berpikir ke arah akhir menjadi seorang siswa SMA.

Februari 2009

Lagi-lagi lupa. Tapi kelihatannya sudah mulai sering banyak bertanya ke SSC tentang bagaimana pemcehana soal. Mulai lihat-lihat selebaran univeritas. Mulai iri karena sudah banyak yang diterima di universitas sedangkan saya pikir diri ini masih nol besar. Tryout UM sudah seperti menjadi keseharian tiap minggu. Oh, buku kenangan sudah mulai digarap. Kelas XII IA 5 saya sudah mulai foto-foto, dengan konsep yang, mungkin, amburadul. Biar begitu tetap saja ini indah, bagaimanapun juga kita dahulu.

Maret 2009

Ujian SIMAK UI akhirnya terjadi di bulan ini. Pembuktian besar pada apa yang kami semua para makhluk yang sedang menjalani kelas XII SMA tahun angkatan 2009 lakukan setahun ini. lalu bulan depannya adalah UM UGM dan UAN. Doa-doa mulai benar-benar digencarkan. Otak diperas habis-habisan, apalagi setelah menjalani semacam terapi shock sehabis SIMAK UI yang benar-benar gagal.

April 2009

UM UGM yang saya rasa manis karena saya untuk pertamakali bisa mantap dalam mengerjakan soal. Dan nyatanya subhanallah, saya tembus UGM jurusan fisika teknik. Alhamdulillah bagaimanapun juga. Tapi UJIAN AKHIR NASIONAL? pahiiitttt. Saya tak menyangkan bahwa soal-soalnya akan sesusah itu. Saya takut tidak lulus nantinya. Oh iya, ada sebuah hari yang menyenangkan, sehari setelah UM UGM.

Mei 2009

Masa-masa akhir SMA. Ujian praktek, ujian akhir sekolah yang kembali pada sistem lama (baca=mencontek, karena setahun ini membiasakan diri untuk berlaku jujur demi UAN dan UM), dan kegiatan yang benar-benar indah di penghujung masa SMA yang manis. Dengan berbagai bumbu pada hari-harinya yang membuat ini menjadi semakin nano-nano. SMA, sebuah kisah klasik untuk masa depan, yang akan terus hidup dengan bagaimanapun cara dan rasa di relung hati masing-masing siswa. Hei, saya didaulat menjadi ketua film angkatan, dengan Bimo juga. Agak berat sebenarnya. Tapi kamerapun mulai rolling akhir bulan ini karena, ehm, berbagai paksaan yang mengharuskan film ini segera dirampungin. Film yang nantinya akan diberi judul “SOLACE Stories ’09”.

Read the rest of this entry »

Langit sedang keren sore itu.

Matahari sudah menjadi besar dan bulat dan merah di ufuk barat sana, tertutupi oleh sekedar pepohonan dan rumah-rumah. Awan tak kalah merah, dan banyak, seperti gumpalan kasur di langit biru,  yang sedang dimakan abu-abu. Dimakan gelap. Saya bisa merasakannya, romantis. Membebaskan saya untuk lalu berlaku melankolis.

Dan merapi sedang sangat cerah di utara sana. Seolah-olah berkata bahwa hei! lelaki adalah mereka yang harus bisa tegas, gagah, berani mengambil pilihan, berani menantang angin. Hmm..entah kenapa saya selalu suka ketika memandangnya. Oh, sang raksasa. Oh, mereka yang sedang menari-nari di atas sana. Saya dapat merasakan anginmu, yang mendayu-ndayu, yang mesra sampai di sini, memelukku. Begitu dingin, tetapi tersembunyi kehangatan yang membuat hati tentram. Begitu mesra, hingga membuat jatuh cinta.

Hahaha, langit sore.

Saya adalah salah satu dari makhluk yang suka buat sekedar memandang ke atas, memandangi langit, apapun itu, bagaimanapun itu.

Oh, tapi datang juga kau, Reksasa Senjakala.  Hei, anak-anak cepat masuk rumah kalau tidak mau diculik. Hei, bagaimana dengan kami? Siapkan pedang, siapkan tombak, saya tak akan takut buat melawanmu. Saya punya merapi. Saya punya angin. Saya punya awan. Saya punya langit. Saya sedang ber-supernova.

Hei langit, yang berangsur-angsur sudah sedang menjadi gelap.

Semoga saja saya punya senter buat melalui malam yang dingin ini. Buat menemukan sebuah tempat dimana saya bisa bikin tenda dan api unggun. Tempat saya bisa merasa nyaman. Merasa tenang buat istirahat dan tidur, untuk lalu melanjutkan perjalanan setelahnya menuju kemanapun,

Kemanapun saya suka.

Saya merasa tenang sore ini. Apapun itu, bagaimanapun itu. Bagaimanapun suasana sedang sangat tidak mungkin untuk saya buat bisa bilang merasa nyaman.

Kalau ada yang dinamakan writer block oleh para penulis, mungkin yang saya alami ini adalah ilustrator block kali ya? Saat ini saya benar-benar merasa tidak bisa menggambar dengan baik saat ini. Tangan saya merasa terbelenggu untuk menggambar apapun. Mungkin ini efek dari berusaha untuk memindah karakter yang sedari dulu bertipe manga menjadi tipe gambar yang lebih. Yang lebih ke ilustrasi, bolehlah mengkartun, tetapi bukan manga. Sialan, susah sekali. Sedari kecil sudah dicekoki gambar-gambar macam Dragon Ball, Rave, Full Metal Alchemist, dan lainnya.

Efeknya, saya jadi susah untuk menggambar apapun sekarang. Menggambar ilustrasi agak susah untuk diwujudkan, tapi menggambar manga pun jadi susah. Justru gambar saya sekarang sedang dalam masa kacau. Yang timbul hanyalah corat-coret tidak jelas saja.

Saya merasa terbelenggu. Terbebani. Mungkin, mungkin lho, mungkin karena terbebani untuk harus lebih baik lagi karena saya kerja di Bulpos itu. Aduh, gawat kalau begini terus.

Saya ingin tangan saya bebas lagi, bagaimana pun caranya. Semoga ini hanya masalah waktu.

Arghh pikiran saya sedang kacau sekali!!

Waw, ini malam menn, jam di HP sudah jam 02.28 saat saya mengetik ini, keren. Lumayan tadi ada sedikit olahraga buat ke warnet ini karena saya jalan kaki, dan agak jauh walau tidak menyebabkan keringat. Lagipula juga ada headphone, jadi bisa dengerin gugun n the bluesbug, atau yeah yeah yeahs. Tidak pakai motor, dan menurut saya itu keren. Bulan sedang bugil-bugilnya bulat. Bintang sedang senang bagus banyak. Langit cerah dan awan berwarna merah karena banyaknya sinar lampu kota Jogja, yang kuning temaram. Malam yang indah. Malam? Ini PAGI hei!

Oh Jogjakarta, oh Jogjakarta, oh burjo yang entah dimana pembelimu karena pada malah pesan mi goreng atau nasi telur… tapi ini nanti mau beli mie tante rebus saja dink, hangat. Ada teh tarik di rumah, tapi malas. Beli teh yang tidak perlu ditarik sajalah, capek narik-narik. Koran hari ini belum terbit. Mungkin sedang dalam proses cetak. Jadi tidak bisa baca koran di situ nantinya. Tidak bisa baca kolom pikiran pembaca dan lowongan kerja. Hmm… yasudahlah, saya berpikiran pembaca sendiri. Terimakasih..

Eh, seolah-olah tanpa terasa, tiba-tiba sekarang sudah jam 02.45.

Adalah Jogja yang saat ini sedang musim hujan. Setiap hari langit berwarna abu-abu, enak sekali. Seperti halnya juga saat ini, bahwa kegatan perkuliahan saya juga turut menjadi begitu abu-abu. Bahwa hei, saya sadar saya adalah mahasiswa semseter satu fisika teknik yang justru tidak tahu akan kemana nanti saya berada. Akankah dunia industri? Mbuh. Tapi itu tidak pentinglah untuk saya pikirkan sekarang. Yang penting adalah bagaimana untuk harus tetap terus maju saja saat ini. Maju kedepan, bukan malah mundur kebelakang.

Hmm, sama juga seperti jurnal ini, mau saya setir kemana lagikah kamu hei sleeplessstudent.wordpress.com? saya juga tidak tahu enaknya mau bermain apalagi denganmu. Seandainya ada scanner atau wacom, pasti lebih asik. Saya jadi bisa upload gambar-gambar sesuka saya, lalu menjadikannya sebagai jurnal bergambar. Oh, pasti menyenangkan.

 

rusak//apanya?//kepala saya//sabar om//lha piye meneh jal?//kalau kata dia sih, jadilah seperti pohon Oak, berani menantang angin//tapi masalahnya, saya sendirilah angin itu!/semakin saya maju, semakin menambah besar angin yang harus saya hadapi//kalau begitu jadilah badai/berani menantang balik, berani membuat distorsi/menerbangkan sesuatu untuk kelangsungan hidup//seolah-olah, seperti waltz muram//
“Ku dilanda badai rindu
Oh logika lindungi aku
Beri aku amnesia
Ku tak mau ingat dia.”

(Dalam berbagai arti yang dengan itu semoga tidak bikin siapapun kamu ada rasa apapun, semoga tidak salah paham, ini tentang saya SAJA. Saya sendiri juga tidak suka dengan catatan ini karena agak sedikit berbau melankolis.)

nb: saya mengambil kata-kata dari Soe Hok Gie dan lirik lagu berjudul “Waltz Muram” dari Tika and The Dissident