Bukan maksud saya untuk merahasiakan jurnal harian saya ketika sudah hampir selesai mendaki Gunung Lawu. Untuk itu, saya beberkan di sini cerita-cerita itu. Lagipula kenapa harus dirahasiakan jikalau memang tidak ada peristiwa yang penting atau berarti yang terjadi?
Maka ketika itu kami sudah hampir sampai di Cemoro Kandang. Sudah berlari, sudah berhujan-hujanan selama hampir 4 jam dalam jalan kuda yang zig-zag dan serasa tidak ada habisnya ketika menuruni Gunug Lawu. Nonstop. Suara motor dikejauhan sudah mulai terdengar. Peradaban!! Itu adalah peradaban!! Sudah 1 hari penuh kami di sini tidak mendengar suara mesin kecuali ringtone HP alarm dan suara ckrek kamera. Akhirnya sampai pada peradaban lagi, itu berarti kami sudah harus mengucapkan selamat tinggal dengan dunia di atas awan ini. Selamat tinggal…
Sampai juga di Basecamp Cemoro Kandang. Udara dingin menyambut kami berlima yang sedang basah kuyup. Menggigil begitu kami di dekat WC umum. Di sana ada beberapa anak yang sedang kemah memandangi kami dengan pemandangan bak melihat alien turun dari gunung. Tapi saya terlalu kedinginan sehingga tidak peduli. Menggigil begitu kami di sana sambil antri untuk mandi. Atau lebih tepatnya menunggu kawan-kawan saya mandi karena saya sudah terlalu gila dengan dinginnya sehingga memutuskan untuk mandi nanti saja ketika tubuh ini sudah agak sedikit bisa beradaptasi. Ambil air wudhu dan bersiap untuk sholat ashar. Perasaan pertama saat menyentuh air adalah “Arghh!!” Dinggiiinnnya minta mati. Air bagai serasa lebih dingin dari es yang sudah 3 hari disimpan dalam freezer. Mungkin tidak sedingin itu sebenarnya, tapi itulah yang saya rasakan. Saya sholat dengan menggigil yang amat sangat. Baca entri selengkapnya »

Komentar Terakhir