Pendakian Sumbing 10 – 11 Agustus ‘09

23 08 2009

Pendakian Sumbing ternyata jadi dilakukan. Saya kalah debat dan ternyata ada keinginan juga buat kesana karena sampai saat ini saya belum pernah mendaki itu Sumbing. Dan ternyata si Ican, Dodog, dan Gingsoel pun juga hanya ingin kesana, bukan gunung lain. Maka dari hasil mufakat ini, diputuskan untuk jadi mendaki Gunung Sumbing dengan hanya 4 orang yang tidak tahu apa-apa dan mengesampingkan firasat saya kemarin. Hanya berbekal hasil telepon saya dengan teman SMP gambar peta pendakian sumbing yang saya gambar sendiri, dan guide dari internet (dari mapala geografi ugm, saya lupa alamatnya apa, cari saja di google) kami berangkat kesana. Guide internet yang bukan dari merbabu.com karena saya buang jauh-jauh setelah baca isinya.

Ada cerita yang tidak menarik sebenarnya sebelum kami berangkat ke Sumbing. Itu terjadi waktu masih kumpul dan bersiap-siap buat berangkat di angkringan si om depan Smada. Itu waktu kami sibuk buat ngecek perlengkapan, dan ternyata ada yang kurang. Radio! Sebuah makhluk yang membuat kami tidak akan diam saja selama mendaki. Atau minimal radio tersebut bakal terus saja nggambleh dalam diam kami karena kelelahan nanti, sehingga tidak terasa begitu sunyi. Saya agak lupa bagaimana itu, tapi kita sempat SMS dan telepon banyak teman-teman. Tapi sialnya, tidak ada yang punya, sehingga entah bagaimana bodohnya kami, sehingga kepikiran buat ke Klithikan dulu buat beli radio. Masing-masing urunan Rp 5.000, lalu saya dan Dodog berangkat kesana. Berangkat kesana pakai motor si Gingsoel dan tidak membawa STNK-nya. Dan ternyata benar sial, ketika itu di daerah Transito itu ada razia. Anjrit, tapi untung kami tidak terlalu maju sehingga kami berhenti di agak jauh sebelum razia itu. Telepon si Gingsoel suruh bawain STNK-nya, iya. Tapi ketika si Gingsoel datang, entah bego atau bagaimana, dia sendiri tidak bawa STNK karena pakai motor Ican, sehingga akhirnya saya harus jalan kaki ke depan foto digital Pertigaan Jatinom buat ngambil STNK-nya Gingsoel. Untunglah kebegoan ini berakhir ketika saya dapat SMS dari Simbah yang bilang kalau ternyata punya, sehingga kami tidak usahlah susah-susah ke Klithikan buat beli. Oke, saya telpon Simbah buat pinjem dan akan kesitu sebentar lagi. Tapi nyatanya ketika kembali ke angkringan si Om itu, ternyata malah dipinjami radio sama si Om. Radio yang kelak kami beri nama SiFikar. Tapi nggak ada baterenya lho? Nggak apa-apa, kami beliin nanti. Makasih om! Dan berangkatlah kami dengan tidak jadi mampir ke rumah Simbah. Itu sekitar jam 11.30 siang.

Perjalanan dari Jogja ke Wonosobo jauh sekali. Sekitar pukul 14.30 kami baru sampai ke desa Garung (desa terakhir sebelum pendakian Subing). Makan dulu di warung transit di bawah itu dan sholat Ashar di masjid di atas. Baru sekitar jam setengah 4 sore kita ke Basecamp buat lapor. Ternyata basecamp sumbing itu asik walau agak sedikit mahal, karena kita dikasih peta pendakian sumbing beserta keterangan-keterangannya. Peta yang saya gambar jadi tidak ada artinya. Tapi tidak saya buang karena keren. Setelah banyak bertanya ini itu sama petugas SAR, dan dicegat sama anak-anak TPA yang minta juga ikut foto bareng kami, kami langsung naik. Kami mendaki lewat jalur baru. Kebetulan saya bawa drawing pen sehingga sayalah yang bawa peta dari Om SAR tadi. Biar gampang kalau navigasi atau sekedar coret-coret.

Edan, gunung Sumbing itu benar-benar keren kalau kamu mau tahu. Baru sekitar 15 menit kami berjalan dan keringat sudah membanjir serta jantung kami berdetak kencang. Panoramanya pun lucu. Tidak monoton sehingga kamu tidak akan bosan. Sebelum ke pos 1 itu, track yang kita lalui adalah ladang para petani. Itu sampai agak jauh, sampai sekitar batas kilometer (KM) III. Sampai ke Boweisen (batas antara ladang dengan hutan). Saya pikir apa ya? Gila, tinggi sekali. Apa nggak capek itu nanti yang ngerawat dan bolak-balik bawa hasil panen?

Sepanjang perjalanan, sebelum sampai di bawah Pos 1, ada sungai di sisi kiri kami. Tapi sayangnya ini musim kemaru, sehingga air terjun yang ada di situ tidak ada air yang mengalir terjun. Mata air pun cuma ada air kotor sekali, sehingga tidak jadi ngmbil air disitu. Lalu sampailah ke pos 1 yang bernama Kedung.

Track setelah itu adalah hutan pinus. Jalurnya lebih mendaki lagi. Seolah-olah tidak ada jalan landai buat kami bisa istirahat. Sampai akhirnya tiba di Pos 2 yang bernama Gatakan. Sebelum itu, sebelum nanti kami turun dan sudah sampai di basecamp, kami tidak tahu bahwa itulah yang dimaksud pos 2 karena bentuknya cuma tanah lapang biasa. Tapi ada pohon besar sekali yang tidak ada daunnya. Juga sebuah makam. Kami sempat berdoa sebentar disitu.

Jalanan lebih gila lagi begitu keluar dari pos 2. Jalurnya lebar berpasir dan pohon pinus mulai jarang. Ditambah lagi dengan sudut kemiringan yang amat sangat. Bikin capek karena licin sekali. Sampai akhirnya sekitar jam 8 malam sampai di pertemuan antara jalur baru dan lama. Disana sudah benar-benar lapang. Pohon mulai jarang dan yang ada hanya rumput dan semak belukar. Jalanan masih berpasir dan karena lapangnya kondisi jalan membuat angin yang bertiup agak kencang membuat kami menggigil kedinginan. Tapi, tapi kalau kamu suka bintang, kamu pasti akan iri dengan kami yang ada disini. Bintang-bintang benar-benar banyak sekali bertabur di atas sana, berkelap-kelip dan kadang-kadang bergerak, bahkan jatuh. Bulan yang bulat walau tidak penuh juga bersinar terang di agak timur situ. Keren sekali. Baca entri selengkapnya »





Pendakian Lawu 20-21 Mei ‘09

23 08 2009

Nostalgia sebentar saya kira oke daripada hanya disimpan lalu lupa. Pada saat itu adalah sudah selesai yang UAN, UAS, dan sebagainya itu. UM juga alhamdulillah sudah tembus. Sudah tidak ada kerjaan lagi. Makanya ayo mendaki? Itu saya bilang sama Dodog yang juga sama diterima di UGM jurusan teknik industri. Kapan? Tanggal 20 Mei saja, sehari setelah ujian praktek selesai. Oke! Tapi ternyata itu si Ramon yang UPN npertambangan itu juga ikut. Nita si pacar Ramon yang juga kecantol di UGM jurusan gizi dan kesehatan juga ikut ternyata. Maka ada 4 orang yang siap berangkat untuk mendaki. Oke-oke, semakin ramai semakin asik.

Dan 20 Mei pun tiba. Berangkatlah kita ke Lawu. Ke terminal Giwangan dulu buat nanti naik bus Jogja-Solo, diantar oleh bapake Ramon, ditemani musik2 radio dan rasa deg-degan karena semula ini hanya rencana gila saya dan Dodog saja, tetapi malah beneran terjadi. Iya, kami seharusnya senang karena sampai saat ini semua berjalan dengan lancar baik persiapan barang2 yang akan dibawa dan juga persiapan ongkos perjalanan. Tapi tetep saja kaget.

Sampai pula di Giwangan, pamit sama bapak Mon? Udah. Lalu jalan kami ke peron dengan plakat SOLO. Jalan membawa ransel besar yang oleh karenanya menjadi pusat perhatian calon penumpang lain. Itu ada bus sudah siap melaju. Kami naik kesana dan alhamdulillah kosong. Yeah, duduklah kita di kursi belakang. Kamu tahu? Bus Jogja-Solo itu terkenal sekali dengan aksi gila-gilaannya. Kalau saya ke klaten naik motor, saya biasa memaki-maki sama itu Bus, lain ceritanya kalau saya yang naik ini Bus. Saya bergembira hati karena aksi kebut-kebutan Bus ini mendatangkan sensasi tertentu, selain angin dari kaca jendela yang otomatis kencang sehingga tidak membuat gerah dan panas. Tapi ternyata tidak semua berjalan indah, ya Pak Supir ya? Karena kita semua para penumpang, dan pak kernet, dan pengamen, dan kamu pak supir tahu kalau ketika akan menyebrangi rel kereta api yang baru saja dilewati kereta, bus ini malah tidak ikut dalam antrian kendaraan roda 4 tapi malah ambil sisi kanan dan menyalip semua mobil, truk, dan bus lain. Dan karenanya, bus ini malah kena tilang, yang membuat kamu menjadi minta maaf sama penumpang-penumpang. Oh, iya, saya maafkan.

Sampai di Tirtonandi, lanjut langsung ke tawangmangu. Oh, di Karanganyar foto-foto bupati narsis yang entah siapa namanya itu sudah tinggal sedikit. Sampai di terminal, langsung naik ompreng ke cemoro sewu. Ompreng penuh, suasana sangat sumpek dan menyebalkan.

Begitu sampai di Cemoro Sewu, oh hujan. Menunggu sekitar 2 jam sambil makan nasi goreng, lalu memberanikan diri untuk mulai mendaki. Untunglah sudah mulai terang. Jalan bebatuan jadi agak basah, tapi it’s oke. Hari sudah mulai malam dan waktunya buat menyalakan senter. Sebenarnya lancar-lancar saja sih perjalanan, jadi tidak banyak yang bisa diceritakan. Udara malam juga nggak begitu dingin. Bulan juga cerah. Oh, begitu lancar syukurlah. Baca entri selengkapnya »





Pendakian Merapi (lagi) 4-5 Juni ‘09

10 07 2009

Pendakian Merapi. Sebelumnya tadi pagi ambil ijazah di sekolah. Pulang, terus packing, alhamdulillah sudah disediakan duit sama ibuk Rp 50.000,- . Berangkat ke Merapi jam 2 siang. Sengaja nggak bareng sama angkatan bawah biar gak terlalu rame dan ngrepotin (atau malah direpotin). Ada aku, Dodog, Fikar, Ucil, Kendho, Cing, Gingsoel, Suriph, Fitri, dan Kokom. Sampai di Ketep beli jagung bakar. Itu, yang jual dua bocah entah umur berapa. Semacam sedang kelas 1 SD.

“Satunya berapa dek? Yang mentah.”

“1500 mas”

“10 biji sepuluh ribu ya?”

“heh…” bingung dia “mm…gak bisa mas”

“lah, berapa emang?” hehe, saya mau ketawa liat mereka bingung.

“yaa… satu 1500 mas”

“sepuluh ribu sepuluh ya? Masak tawar dikit gak boleh?”

“mmmm….. gak bisa mas”

“oke, kalo gitu pas-nya aja deh berapa? Aku nambah berapa lagi gitu?”

yaa… satu 1500, kalo sepuluh jadi… mmm…” bingung banget deh. Kasihan sekali waktu liat itu bocah. Partnernya juga cuma diam aja.

15000 dek..” itu Dodog yang kasih tau akhirnya. Haha. Bayar segitu deh akhirnya kami. Nggak tega.

Lanjut lagi perjalanan setelah dapet jagung, minyak tanah, dan memastikan bahwa si Fikar benar-benar bawa bumbu (sebenarnya tidak sengaja, niatnya mau bikin tempe katanya). Jalanan ke Selo itu aneh. Ada 17 belokan yang bentuknya hampir sama lengkungannya (itu dari hasil saya dan Kokom hitung dan dicocokan dengan hasil hitungan teman-teman lain waktu pulang, daripada ngantuk). Sampai di basecamp jam 4 sore, menjelang setengah 5. Cari makan dan dapat warung nasi goreng. Nyamleng! Lalu berangkat dan mulai mendaki jam setengah 7, habis maghrib. Ada orang bilang, kalo ketemu Ridwan dari Kartasura, suruh turun aja. Adik dan ayah-nya meninggal karena kecelakaan. Astaughfirullah.. Baca entri selengkapnya »





Senandung Di Atas Awan

2 01 2009

awan 1

Ini adalah kutipan omongan penyiar radio beberapa minggu yang lalu yang saya dengar di atas Merbabu, di pos II :

“Hidup adalah pengorbanan

Jika nggak mau berkorban, berarti kamu nggak mau hidup

Jika nggak mau hidup, mati saja kamu

Jika nggak mau mati, nggak usah hidup!”

Haha. Nggak nyambung!

Maka hirup saja udara segar ini kalau begitu. Rasukkan ke dalam tubuh. Rasakan apa saja yang terkandung. Buka jaketmu. Rasakan dinginnya. Hmm.. Disertai dengan bunyi radio handphone yang kemresek, dan secangkir kopi cofeemix yang dibuat apa adanya dengan air dari mata air Merbabu, sungguh nikmat pagi itu. Bahkan suara Charlie ST 12 atau Ryan D’Massive yang keluar dari mulut speaker radio ini pun terdengar begitu merdu di sini. Sembari menikmati hembusan angin dan awan yang naik ke atas dan menerpa muka dan tubuh sehingga menjadikannya sedikit basah. Dan memandangi pucuk Sindoro, Sumbing, dan Slamet di kejauhan sana yang terkadang tertutup awan. Dan jika tiba suatu waktu dimana awan yang naik sudah menutupi permukaan pos II ini, maka pemandangan pun akan berubah menjadi hanya putih belaka. Seolah-olah di depan sana itu hanyalah sebuah wallpaper putih belaka. Dan jika sinar matahari sudah mampu kembali menembus permukaan awan ini, dan membuat wallpaper putih tadi sirna, maka nikmatilah itu. Matikanlah radio dan dengarlah bunyi-bunyian ini. Tengoklah itu sedikit ke bawah, kepada air terjun yang kecil tetapi deras bunyinya di sela-sela tebing. Lihatlah itu monyet-monyet yang sedang kawin di atas pohon di agak jauh di sana. Kaookk…kaookk…! Pandanglah itu. Bukit di depanmu, di mana sekarang ini sudah sangat hijau, sudah beda sekali dengan dulu pada waktu pasca kebakaran. Pandanglah itu. Pohon-pohon yang begitu kecil tampak di matamu, tetapi besar sekali wujudnya jika kamu mendekati ke sana.

“Kalau misalnya aku di sana, seberapa besar diriku jika dilihat dari sini?”

Atau mungkin sangat kecil lebih tepat untuk kamu ucapkan.

Dan lihat awan itu. Bergumul begitu di depanmu, seolah-olah kamu ingin melompat ke sana, lalu menaikinya. Wah, pasti menyenangkan. Tapi sangat bodoh jika kamu lakukan itu karena tentu saja kamu akan jatuh.

Dan jika kamu sudah turun ke bawah, kembali ke kehidupan nyata. Tengoklah itu ke atas, kepada awan yang putih itu.

Waw! Betapa tingginya kita berada tadi. Jauh, jauh, jauh di atas awan.

Baca entri selengkapnya »





Sepulang dari Lawu

24 10 2008

Bukan maksud saya untuk merahasiakan jurnal harian saya ketika sudah hampir selesai mendaki Gunung Lawu. Untuk itu, saya beberkan di sini cerita-cerita itu. Lagipula kenapa harus dirahasiakan jikalau memang tidak ada peristiwa yang penting atau berarti yang terjadi?

Maka ketika itu kami sudah hampir sampai di Cemoro Kandang. Sudah berlari, sudah berhujan-hujanan selama hampir 4 jam dalam jalan kuda yang zig-zag dan serasa tidak ada habisnya ketika menuruni Gunug Lawu. Nonstop. Suara motor dikejauhan sudah mulai terdengar. Peradaban!! Itu adalah peradaban!! Sudah 1 hari penuh kami di sini tidak mendengar suara mesin kecuali ringtone HP alarm dan suara ckrek kamera. Akhirnya sampai pada peradaban lagi, itu berarti kami sudah harus mengucapkan selamat tinggal dengan dunia di atas awan ini. Selamat tinggal…

Sampai juga di Basecamp Cemoro Kandang. Udara dingin menyambut kami berlima yang sedang basah kuyup. Menggigil begitu kami di dekat WC umum. Di sana ada beberapa anak yang sedang kemah memandangi kami dengan pemandangan bak melihat alien turun dari gunung. Tapi saya terlalu kedinginan sehingga tidak peduli. Menggigil begitu kami di sana sambil antri untuk mandi. Atau lebih tepatnya menunggu kawan-kawan saya mandi karena saya sudah terlalu gila dengan dinginnya sehingga memutuskan untuk mandi nanti saja ketika tubuh ini sudah agak sedikit bisa beradaptasi. Ambil air wudhu dan bersiap untuk sholat ashar. Perasaan pertama saat menyentuh air adalah “Arghh!!” Dinggiiinnnya minta mati. Air bagai serasa lebih dingin dari es yang sudah 3 hari disimpan dalam freezer. Mungkin tidak sedingin itu sebenarnya, tapi itulah yang saya rasakan. Saya sholat dengan menggigil yang amat sangat. Baca entri selengkapnya »





Pendakian Lawu 21 – 23 April 2008

25 09 2008

Itu adalah saya. Mendapati diri sedang berjalan menuju masjid nurul iman untuk sholat tarawih, sembari sempat melihat bulan. Bulan tanggal 15. Bulan yang benar-benar bulat penuh. Aduh, tiba-tiba jadi ingat Lawu. Gunung Lawu. Iya, yang letaknya di dekat Tawangmangu itu. Iya, yang katanya kalau dilihat dari Solo bentuknya seperti kepala manusia yang sedang tidur itu. Iya, yang para pendaki itu sering mendaki gunung ini. Iya, yang puncaknya bernama Hargodumilah itu. Iya, Lawu yang itu.

Maka, jika diingat-ingat lagi, pendakian saya di Lawu untuk yang pertama kali adalah dimulai ketika saya dan kawan-kawan mendapati libur sekolah selama 3 hari. Itu libur UAN. Libur khusus bagi para pelajar SMA yang bukan kelas XII, karena para anak kelas XII terserbut harus sedang berperang melawan UAN saat itu. Tapi kami tidak, karena kami masih kelas XI. Dan karena UAN bukan urusan kami, maka kami pun sibuk mencari urusan kami. Maka setelah diskusi dengan kawan-kawan, maka Lawu-lah tempat kami, para anggota vachera, untuk menghabiskan 3 hari libur tersebut. Baca entri selengkapnya »





Pendakian Gunung Merapi, 17 – 18 Agustus 2008

21 09 2008

Kala itu adalah tanggal 17 Agustus. Tahunnya tahun 2008. Di SMA 2 telah selesai diadakan upacara bendera memperingati kemerdekaan Indonesia yang telah sudah dikumandangkan 63 tahun yang lalu. Seperti yangt terjadi pada sekolah-sekolah menengah atas pada umumnya, SMA kami pun juga begitu. Begitu ramai. Begitu tidak peduli dengan apa yang disampaikan oleh bapak kepala sekolah. Begitu tidak khidmat. Begitu sembrono. Begitu sangat sembrono. Dan saya juga pun sudah tentu termasuklah orang-orang yang juga begitu. Ini wajar karena memang jujur saja kami tak mengerti apa itu arti sebenarnya kemerdekaan. Yang mungkin kami tahu hanya begitu lahir, tau-tau negeri ini sudah merdeka. Tinggal kita nikmati dengan senikmat-nikmatnya. Begitu bukan? Astaghfirullah… Demi kebaikan Indonesia, maka janganlah engkau berpikir begitu kawan. Kasian mereka yang sudah susah-susah memerdekaan negeri kita.

Alkisah, pada hari itu saya sudah kelas XII SMA. Sudah senior. Petantang-petenteng kesana kemari tanpa kenal takut. Yes! Tapi apa ini? Di warung nasi bakar, saat saya sedang lahap memakan nasi bakar. HP berdering, tanda ada SMS masuk. Mas, aku ijin ke merapi ya? Ada 5 orang kelas XI yang mau ikut. 4 cewek sama 1 cowok.Ternyata ada SMS dari Fitri, salah satu anak vachera kelas XI. Vachera itu adalah organisasi (yang mengaku sebagai) pecinta alam smada. Tau jalan nggak? Kapan berangkat? Itu saya balas SMS dia. Sekarang dah mo brangkat, mau uwes takon-takon karo Si Sum. Rutene mengko cari info neng kono wae. Ya Allah, 5 anak ingusan ini mau berangkat ke Merapi tanpa pengetahuan yang cukup? Maka dari itu, karena terpaksa kasihan dan juga ingin mendaki Merapi lagi, saya SMS Fikar. Oke! Itu Fikar yang jawab. Oke. Maka singkat cerita, petualangan menuju Merapi untuk menyusul adik-adik kita, kita mulai dari sini. Maka singkat cerita kami sudah berada di Jalan Magelang menuju Basecamp Selo. Maka singkat cerita kami sudah berada di Base Camp Merapi. Maka singkat cerita kami tidak menemui mereka di Base Camp. Maka singkat cerita ternyata mereka sudah mendaki dahulu. Maka singkat cerita kami pun sholat ashar karena hari sudah sore. Maka singkat cerita kami melakukan persiapan untuk mendaki, yang secara umum disebut dengan packing. Maka singkat cerita, pendakian pun kami mulai. Baca entri selengkapnya »