Lembar Baru

29 06 2009

OKE. Saya perbarui lagi wordpress saya. Yeah, walau mungkin tidak ada yang lihat. Tak apalah. Minimal, sekarang ini saya sudah mulai membuat catatan harian saya di komputer setiap hari. Entah karena pengaruh apa. Mungkin karena buku Catatan Seorang Demonstran – Soe Hok Gie. Rasanya, saya sudah belajar dari kehidupan SMA saya yang jarang saya abadikan dengan menulis jurnal—mungkin ada satu dua hari spesial yang saya catat kejadian-kejadiannya—tapi tidak tiap hari saya lakukan itu. Rasanya sayang juga membiarkan satu persatu kejadian itu lewat, lalu dilupakan, sekecil apapun sebuah peristiwa. Menyesal sekali. Tapi mungkin tidak akan saya terbitkan disini (mungkin satu atau dua, tapi tidak semuanya) karena walau setidak dibaca pun, tetap saja saya harus sadar mana yang privacy mana yang untuk jamuan umum.

Dan kehidupan SMA saya sudah tamat. Sudah selesai. OVER! Tidak ada lagi yang namanya berangkat pagi untuk masuk jam ke-noL. Tidak ada lagi yang namanya ramai di kelas, berusaha merencanakan sesuatu yang tidak jelas apa maksud dan tujuannya dikala bosan dengan pelajaran yang diajarkan bapak dan ibu guru. Tidak ada lagi membaca komik di kelas, bermain HP waktu pelajaran PKn, tidur waktu pelajaran agama. Tidak ada lagi rapat OSIS yang membosankan. Tidak ada lagi mengurus kegiatan ini-itu seperti Pensi, SEN, Try Out, Kajian KHR, dan semacam itu. Tidak ada lagi belajar bersama ketika UM dan UAN sudah begitu dekat. Dimana kelas yang tadinya benar-benar payah dan berisik menjadi kelas yang rajin dalam membuka dan mengerjakan soal-soal latihan. Tidak ada lagi istirahat siang lalu ke kantin atau sholat. Tidak ada lagi bel pulang sekolah. Tidak ada lagi. SMA sudah berakhir. It’s over man! Kamu sedang membuka Bayu Ardiyanto yang tidak lagi menyandang gelar Pelajar SMA. Sekarang ini, kamu membuka sebuah bab baru. Sekarang ini, saya adalah Mahasiswa! (Calon lebih tepatnya, karena baru pada tanggal 18 Agustus 2009 besok saya resmi menjadi mahasiswa UGM). Baca entri selengkapnya »





Catatan-catatan Akhir Sekolah

10 05 2009

Bagaimana ya memulainya? Terlalu banyak sekali kenangan yang ada itu di dalam SMA N 2 Yogyakarta tahun 2007-2009. Lho, banyak sekali. Gila, seminggu lagi adalah kegiatan kelas terakhir bagi kita anak SMA kelas XII. Itu pun adalah ujian praktek sehingga tidak bisa begitu menikmati duduk di bangku untuk bersama-sama menyimak pelajaran yang diajarkan oleh bapak atau ibu guru. Sambil kau tahu sendirilah bagaimana kelakukan anak SMA jaman sekarang. Baca komik, ngobrol, ber-sms dengan orang-orang lain di entah dimana yang sama-sama bosan dengan apa yang bapak ibu guru omongkan, menggambar, dan atau malah tidur. Ya ampun, sudah hampir berakhir, lho.

Dan kalau diingat-ingat lagi, terlalu banyak peristiwa baik menyenangkan ataupun menyebalkan yang ingin saya tulis disini. Tapi itu tidak mungkin karena terlalu banyak sehingga membuat saya lupa. Atau memang karena saya ini malas menulis.Hehe. Tapi menurut saya sih, yang paling menyenangkan adalah ketika kita duduk bersama dengan kawan-kawan untuk saling menghina sesama. Aduh, kita tertawa walau ada satu dua orang yang terhina. Tidak apa-apa karena kita sama-sama senang. Karena kita memang sama-sama manusia sehingga tidak masalah lah.

Jadi ingat tentang itu, kelas X-7. Sewaktu wali kelas kita adalah Bapak Hadi yang guru Fisika itu. Yang kepalanya botak menyenangkan dan berjenggot serta berjambang keren sekali. Yang karena itu sehingga membuat saya jadi agak sering untuk membuat karikaturnya karena mudah sekali untuk digambarkan dalam bentuk kartun. Haha, maaf sekali atas kekurangajaran saya. Tapi menurut saya sih, itu belum seberapa dengan yang biasa kita lakukan ketika kelas kita sudah pindah ke lab bahasa. Ketika entah siapa itu mengajarkan seisi kelas tentang sebuah permainan bernama 5 jadi, permainan dimana kamu harus menyediakan kertas dari buku tulis matematika yang kotak-kotak itu dan lalu bertanding dengan kawanmu untuk memberi tanda silang atau lingkaran sesuai kesepakatan dan berlomba untuk mendapatkan 5 lingkaran atau silang yang segaris. Duh sulit banget njelasinnya. Pokoknya semacam itulah, masa kamu tidak tahu? Dan sehingga pada akhirnya seluruh isi kelas (terutama kaum lelaki yang agak tidak niat sekolah saat itu) menjadi tahu bagaimana cara bermain serta intrik-intrik supaya menang. Yang karena hal itulah maka pada suatu waktu ketika Pak Hadi mengajar, kita dengan semena-mena malah membuat sebuah turnamen akbar 5 jadi “uselezz” (aduh, itu tuh sebutan untuk kelas kami X-7 kalau kamu mau tahu). Sudah ada panitia resmi dan kertas logistik untuk bermain pun sudah disipakan sendiri oleh panitia. Dan dengan sangarnya pula, setelah undian untuk menentukan siapa lawan bermain yang diadakan beberapa menit sebelum Pak Hadi datang, kita duduk dengan lawan bermain kita untuk melaksanakan turnamen akbar 5 jadi tersebut yang entah kenapa sangat bergengsi sekali menurut kita. Yang keren adalah, ketika Pak Hadi datangpun, turnamen terus berlanjut. Apalah itu GLB, GLBB, hukum newton?! Peduli setan, ayo tetap teruskan bertanding! Baca entri selengkapnya »





Alhamdulillah

27 04 2009

ugm





UAN, H-7

13 04 2009

donkey_ilTapi untuk sekali ini, demi masa depan di sana itu, demi masa depan yang sudah menyongkol di depan mata, saya akan mencoba untuk optimis kali ini. Mungkin kalau kamu pernah baca itu buku “5 cm” karya Donny Dhirgantoro kamu akan paham apa yang saya maksud kemudian ini. Bahwa sebuah kalimat yang berbunyi “selagi masih bisa bermimpi” itu benar-benar nyata berharganya, terutama untuk saat ini. Okelah, saya sudah gagal dalam SIMAK UI kemarin, dan UM UGM pun belum keluar hasilnya. Semoga pengumumannya adalah merupakan yang terbaik bagi saya. Dan walau rasa pesimis itu tetap ada, tapi untuk saat ini semoga dapat dengan lancar saya lupakan sejenak untuk memikirkan hal yang lebih penting daripada ini.

Ya, 1 minggu lagi adalah UAN.

Dan selagi saya,,eh kita. Kita anak kelas XII. Selagi kita masih bisa bermimpi, karena SNMPTN, USM ITB, dan berbagai jalan lain masih tersedia, maka mari kita mimpikan itu. Halah, bahasa opo iki… Tapi yang saya ingin saya sadar di sini itu adalah bahwa, taruhlah mimpi itu 5 cm di depan jidatmu. Dan kejar! Seolah-olah kamu adalah seorang keledai yang sedang dinaiki oleh pengembara dan di depanmu itu adalah wortel yang diikatkan pada tali dan dihubungkan dengan kail. Sehingga apa, sehingga kamu akan terus mengejar wortel itu. Dimana wortel itu ibaratkanlah bahwa itu adalah mimpi.

Yeah, saya masih dapat bermimpi. Dan semoga mimpi itu dapat saya wujudkan kelak. Aminn… Semoga apapun itu, kemanapun itu, dimanapun nanti saya berada setelah ini, setelah lulus nanti (aminn lulus..), adalah yang terbaik bagi saya. Huhhhrrghhh!!!

Hell Yeah, 1 minggu lagi adalah UAN.

Dan semoga gerbang itu, gerbang kelulusan itu, dapat kita dobrak dengan sukses menjawab soal-soal yang akan diajukan nanti.

Semangat yo boy!!

Jadikan SMADA 09 lulus semua dengan cara terbaik!!!





Sekali berkali-kali

11 04 2009

07-copySekali-kali saya berpikir bahwa seandainya saya ingin sekali-kali hidup dan berpikir secara normal senormal-normalnya. Semacam seandainya saya ini tidak usah mengerti saja tentang internet. Tidak punya blog, facebook, friendster, dan semacamnya. Sekali-kali saya juga ingin berpikir sepertinya enak sekali kehidupan saya dulu ketika itu. Ketika masih balita sehingga tidak perlu berpikir macam-macam tentang masa depan. Ketika hidup itu hanyalah bermain di pekarangan rumah di suatu desa di Klaten bersama bulek dan paklek, dan lalu ketika sore menjelang sudah seperti suatu runitas untuk duduk di lincak depan rumah simbah untuk melihat ke arah halaman untuk melihat ular sawah lewat. Sekali-kali saya ingin hidup dengan polos sajalah, tidak usah susah-susah terjebak dalam roman duniawi seperti ini. Dimana saya malah mengerti (walau sedikit-sedikit, benar-benar kadang-kadang cuma sedikit karena saya malas lihat berita atau nonton sepakbola) tentang politik, berita-berita terbaru, gosip, anime, manga , jepang, google, artis, porno, dan semacam itu.

Sekali-kali, benar-benar sekali-kali, saya malah ingin hidup di perantauan sana. Di suatu desa di kaki merbabu misalnya. Dimana saya tidak usah saja mengerti tentang susahnya hidup karena terlalu banyak berpikir yang bukan-bukan akibat pemberitaan di TV atau internet. Di mana saya bisa tersenyum polos saja untuk sekedar mengaji pada sore hari dan setelah pulang lalu bermain petak umpet bersama kawan-kawan hingga maghrib menjelang. Tak usahlah berpikir bahwa bersekolah tinggi-tinggi untuk sukses. Tak usahlah susah-susah memikirkan persaingan dunia yang diakibatkan oleh globalisasi yang semakin menggila.

Sekali-kali saya ingin berpikir bahwa musik yang saya dengarkan itu cukuplah The Beatles, Rolling Stone, Koes Plus, dan Rhoma Irama. Dan sekali-kali saya ingin berpikir bahwa itulah rock ‘n roll sesungguhnya. Dan itulah musik sesungguhnya juga. Tidak usahlah dicampuri dan dibikin bising oleh musik-musik dari band-band yang sekarang ini suka mengisi acara-acara semacam Dashyat atau MTV Ampuh. Tidak usah saja mengerti tentang musik pop, musik poprock, musik popdut, musik rockdut, musik emo, musik hardcore, mayor label, musik indie, musik antah berantah. Fvck!

Sekali-kali saya tidak ingin mengerti Bahasa Indonesia saja. Biarin. Biar saya tidak mengerti bagaimana perkembangan jaman sehingga saya bisa santai hidup dengan pikiran saya yang murni dan tidak tercampuri oleh apapun.

Sekali-kali saya tidak ingin mengenal SBY. Meski memang benar-benar saya tidak kenal beliau, tapi seolah-olah saya kenal karena TV. Tapi walau begitu, faktanya beliau juga sudah pasti tidak mengenal saya, meski saya rakyatnya.

Sekali-kali saya juga tidak ingin listrik itu ada. Sehingga kita dapat terus dengan polos hidup dengan keyakinan dan pendirian diri dan suku kita masing-masing tanpa dicampuri oleh kebudayaan bangsa lain yang tidak lain terbawa melalui TV dan Internet yang sudah pasti memerlukan listrik. Sehingga juga kita dapat menikmati malam ketika purnama datang untuk bermain keluar dan berkejar-kejaran di bawah terangnya bulan dan kerlipan bintang. Asik sekali.

Sekali-kali saya ingin kamu tahu bahwa saya kadang-kadang capek untuk hidup di zaman sekarang ini. Ingin rasanya kembali ke masa radio begitu populer, lebih populer daripada TV yang saat itu masih mahal harganya. Karena saya pikir iklan pada radio itu lebih menarik daripada racun-racun iklan di TV.

Sekali-kali saya ingin untuk tidak usah saja ada sekolah. Tidak usah saja ada pelajaran biologi, kimia, fisika, matematika, TI, apalagi kewarganegaraan. Biar tidak usah susah-susah mikirin UAN dan SNM PTN dan hasil UM kemarin. Baca entri selengkapnya »





Oyeah, WAR and ROCK n ROLL!!!

21 03 2009

Yeah. Sekaranglah waktunya.

Perang akan segera dimulai. Sudah tak ada waktu lagi untuk berpaling. YEAH!

ROCK n ROLL..!!!!

~rawwrrr!!!!

[sementara "OFF" . . . .]





UM UGM vs UM SURGA

16 03 2009

Tapi sebenarnya apa ya? Sebenarnya bahwa menurut saya hidup adalah bagaimana kita memaknai hidup itu sendiri. Dan itulah masalahnya! Disitulah maka otak ini berpikir ke arah sana. Ke arah sebuah pertanyaan yang entah bagimana malah bikin merinding. Kepada sebuah pertanyaan yang kalo kamu buka Al-Quran surat berapa ayat berapa akan kamu lihat bahwa ternyata hidup adalah kekal setelah kita mati nanti. Ohh, lalu?

Lalu apa yang terjadi selanjutnya ya?? Kalau kekal dan tidak mati2, apa nggak bosen? Hyaa… Itupun subhanalloh kalo kita masuk surga, kalau neraka?? wetetetetettt….naudzuilahi min zolik…

Nah, oke. Ngomong-ngomong tentang hidup dan mati, surga dan neraka, pastilah oh pasti tak lepas dari apa yang kita namakan Ujian. Ujian Masuk SURGA. UM SURGA. Oh, seandainya kita sedikit membandingkan dengan UM UGM, mari kita coba. Baca entri selengkapnya »





Seolah-olah Saya sedang Berbicara Denganmu, Hei Einstein!

20 01 2009

Hei! Kau yang sedang menjulurkan lidah padaku itu. Yang disampingmu tertulis rumus maha dashyat yang telah kau temukan itu. E = mc² itu. Arrghh.. seolah-olah. Seolah-olah sekarang ini, jam 4 pagi ini, pagi yang dingin ini, seolah-olah kamu keluar dari buku diktat kimia dan mengejekku dengan berkata:

Ketika saya tidak mempunyai persoalan khusus yang harus dipecahkan oleh pikiran saya, saya sering mengumpulkan dan menyusun kembali bukti-bukti teorema matematika dan fisika yang telah lama saya kenal. Tidak ada maksud dan tujuan lain; itu semata hanyalah kesempatan bagi saya untuk terus memenuhi kesenangan dan kebutuhan berpikir”.

Hei!! Kau menghinaku? Seolah-olah dari tadi saya diam itu karena saya telah mengerti semua apa yang saya pelajari? Seolah-olah yang saya lakukan ini karena saya mempunyai waktu yang amat luang?”

Lalu?”

Saat ini entah kenapa saya seharusnya belajar kimia, dan nanti itu, beberapa jam lagi, adalah Latihan Ujian Nasional putaran pertama MKKS Jogja, dan kau pikir saya telah mengerti semua materi semua ini? Semua yang ada tertulis di SKL ini? Argghh.. Chemist is the worst nightmare for me!!”

Jangan pernah menganggap belajar sebagai suatu kewajiban, tetapi anggaplah ia sebagai suatu kesempatan untuk membebaskan diri dalam mempelajari keindahan alam da kehidupan.”

Fvck! Kau pikir kau tahu bagaimana sistem pembelajaran Indonesia saat ini? Kau pikir saya mengerti apa yang saya pelajari? Kau pikir saya mengerti untuk apa saya mempelajari ini semua, kalau tidak lain tujuannya hanyalah agar saya lulus UAN dan diterima di UM? Baca entri selengkapnya »





Senandung Di Atas Awan

2 01 2009

awan 1

Ini adalah kutipan omongan penyiar radio beberapa minggu yang lalu yang saya dengar di atas Merbabu, di pos II :

“Hidup adalah pengorbanan

Jika nggak mau berkorban, berarti kamu nggak mau hidup

Jika nggak mau hidup, mati saja kamu

Jika nggak mau mati, nggak usah hidup!”

Haha. Nggak nyambung!

Maka hirup saja udara segar ini kalau begitu. Rasukkan ke dalam tubuh. Rasakan apa saja yang terkandung. Buka jaketmu. Rasakan dinginnya. Hmm.. Disertai dengan bunyi radio handphone yang kemresek, dan secangkir kopi cofeemix yang dibuat apa adanya dengan air dari mata air Merbabu, sungguh nikmat pagi itu. Bahkan suara Charlie ST 12 atau Ryan D’Massive yang keluar dari mulut speaker radio ini pun terdengar begitu merdu di sini. Sembari menikmati hembusan angin dan awan yang naik ke atas dan menerpa muka dan tubuh sehingga menjadikannya sedikit basah. Dan memandangi pucuk Sindoro, Sumbing, dan Slamet di kejauhan sana yang terkadang tertutup awan. Dan jika tiba suatu waktu dimana awan yang naik sudah menutupi permukaan pos II ini, maka pemandangan pun akan berubah menjadi hanya putih belaka. Seolah-olah di depan sana itu hanyalah sebuah wallpaper putih belaka. Dan jika sinar matahari sudah mampu kembali menembus permukaan awan ini, dan membuat wallpaper putih tadi sirna, maka nikmatilah itu. Matikanlah radio dan dengarlah bunyi-bunyian ini. Tengoklah itu sedikit ke bawah, kepada air terjun yang kecil tetapi deras bunyinya di sela-sela tebing. Lihatlah itu monyet-monyet yang sedang kawin di atas pohon di agak jauh di sana. Kaookk…kaookk…! Pandanglah itu. Bukit di depanmu, di mana sekarang ini sudah sangat hijau, sudah beda sekali dengan dulu pada waktu pasca kebakaran. Pandanglah itu. Pohon-pohon yang begitu kecil tampak di matamu, tetapi besar sekali wujudnya jika kamu mendekati ke sana.

“Kalau misalnya aku di sana, seberapa besar diriku jika dilihat dari sini?”

Atau mungkin sangat kecil lebih tepat untuk kamu ucapkan.

Dan lihat awan itu. Bergumul begitu di depanmu, seolah-olah kamu ingin melompat ke sana, lalu menaikinya. Wah, pasti menyenangkan. Tapi sangat bodoh jika kamu lakukan itu karena tentu saja kamu akan jatuh.

Dan jika kamu sudah turun ke bawah, kembali ke kehidupan nyata. Tengoklah itu ke atas, kepada awan yang putih itu.

Waw! Betapa tingginya kita berada tadi. Jauh, jauh, jauh di atas awan.

Baca entri selengkapnya »





Langkah-langkah yang Indah

2 01 2009
vachera

vachera

iseng…