OKE. Saya perbarui lagi wordpress saya. Yeah, walau mungkin tidak ada yang lihat. Tak apalah. Minimal, sekarang ini saya sudah mulai membuat catatan harian saya di komputer setiap hari. Entah karena pengaruh apa. Mungkin karena buku Catatan Seorang Demonstran – Soe Hok Gie. Rasanya, saya sudah belajar dari kehidupan SMA saya yang jarang saya abadikan dengan menulis jurnal—mungkin ada satu dua hari spesial yang saya catat kejadian-kejadiannya—tapi tidak tiap hari saya lakukan itu. Rasanya sayang juga membiarkan satu persatu kejadian itu lewat, lalu dilupakan, sekecil apapun sebuah peristiwa. Menyesal sekali. Tapi mungkin tidak akan saya terbitkan disini (mungkin satu atau dua, tapi tidak semuanya) karena walau setidak dibaca pun, tetap saja saya harus sadar mana yang privacy mana yang untuk jamuan umum.
Dan kehidupan SMA saya sudah tamat. Sudah selesai. OVER! Tidak ada lagi yang namanya berangkat pagi untuk masuk jam ke-noL. Tidak ada lagi yang namanya ramai di kelas, berusaha merencanakan sesuatu yang tidak jelas apa maksud dan tujuannya dikala bosan dengan pelajaran yang diajarkan bapak dan ibu guru. Tidak ada lagi membaca komik di kelas, bermain HP waktu pelajaran PKn, tidur waktu pelajaran agama. Tidak ada lagi rapat OSIS yang membosankan. Tidak ada lagi mengurus kegiatan ini-itu seperti Pensi, SEN, Try Out, Kajian KHR, dan semacam itu. Tidak ada lagi belajar bersama ketika UM dan UAN sudah begitu dekat. Dimana kelas yang tadinya benar-benar payah dan berisik menjadi kelas yang rajin dalam membuka dan mengerjakan soal-soal latihan. Tidak ada lagi istirahat siang lalu ke kantin atau sholat. Tidak ada lagi bel pulang sekolah. Tidak ada lagi. SMA sudah berakhir. It’s over man! Kamu sedang membuka Bayu Ardiyanto yang tidak lagi menyandang gelar Pelajar SMA. Sekarang ini, kamu membuka sebuah bab baru. Sekarang ini, saya adalah Mahasiswa! (Calon lebih tepatnya, karena baru pada tanggal 18 Agustus 2009 besok saya resmi menjadi mahasiswa UGM). Baca entri selengkapnya »

Tapi untuk sekali ini, demi masa depan di sana itu, demi masa depan yang sudah menyongkol di depan mata, saya akan mencoba untuk optimis kali ini. Mungkin kalau kamu pernah baca itu buku “5 cm” karya Donny Dhirgantoro kamu akan paham apa yang saya maksud kemudian ini. Bahwa sebuah kalimat yang berbunyi “selagi masih bisa bermimpi” itu benar-benar nyata berharganya, terutama untuk saat ini. Okelah, saya sudah gagal dalam SIMAK UI kemarin, dan UM UGM pun belum keluar hasilnya. Semoga pengumumannya adalah merupakan yang terbaik bagi saya. Dan walau rasa pesimis itu tetap ada, tapi untuk saat ini semoga dapat dengan lancar saya lupakan sejenak untuk memikirkan hal yang lebih penting daripada ini.
Sekali-kali saya berpikir bahwa seandainya saya ingin sekali-kali hidup dan berpikir secara normal senormal-normalnya. Semacam seandainya saya ini tidak usah mengerti saja tentang internet. Tidak punya blog, facebook, friendster, dan semacamnya. Sekali-kali saya juga ingin berpikir sepertinya enak sekali kehidupan saya dulu ketika itu. Ketika masih balita sehingga tidak perlu berpikir macam-macam tentang masa depan. Ketika hidup itu hanyalah bermain di pekarangan rumah di suatu desa di Klaten bersama bulek dan paklek, dan lalu ketika sore menjelang sudah seperti suatu runitas untuk duduk di lincak depan rumah simbah untuk melihat ke arah halaman untuk melihat ular sawah lewat. Sekali-kali saya ingin hidup dengan polos sajalah, tidak usah susah-susah terjebak dalam roman duniawi seperti ini. Dimana saya malah mengerti (walau sedikit-sedikit, benar-benar kadang-kadang cuma sedikit karena saya malas lihat berita atau nonton sepakbola) tentang politik, berita-berita terbaru, gosip, anime, manga , jepang, google, artis, porno, dan semacam itu.
Hei! Kau yang sedang menjulurkan lidah padaku itu. Yang disampingmu tertulis rumus maha dashyat yang telah kau temukan itu. E = mc² itu. Arrghh.. seolah-olah. Seolah-olah sekarang ini, jam 4 pagi ini, pagi yang dingin ini, seolah-olah kamu keluar dari buku diktat kimia dan mengejekku dengan berkata:


Komentar Terakhir