Jalan Kota Pelajar


Setiap hari pasti begini. Sampai malas saya lakukan. Tapi apa boleh buat? Ini memang sudah tuntutan profesi. Tak ada yang bisa menghentikan. Hanya lulus dari SMA yang mungkin bisa menghentikan. Bicara apa sih ini? Nggak jelas!

Ini, saya sedang bicara, atau menulis, tentang jalan raya. Jalan antara Perumahan Griya Purwa Asri sampai dengan SMA N 2 Yogyakarta. Jalan yang setiap hari mau tidak mau harus mau saya lewati supaya dapat mencapai sekolah, menuntut ilmu, bertemu dengan teman-teman, bertemu dengan ibu kantin, bertemu dengan bapak satpam, bertemu dengan bapak-bapak dan ibu-ibu guru, bertemu dengan guru fisika, kimia, matematika, dan biologi, bertemu dengan banyak orang. Ini mau sekolah atau Cuma mau ketemuan? Sebenarnya banyak sekali rute yang dapat diambil. Bisa lewat jalur alternatif jogja magelang, nanti tembus lewat jalan magelang, lalu ambil selatan. Atau bisa juga lewat jalan ring road utara, sama juga nanti tembus lewat jalan magelang. Atau kalau mau bisa juga bisa memotong lewat jalan geyajan, lewat UGM, lalu lewat perempatan Jetis yang akhirnya juga sampai di jalan magelang. Atau yang setiap hari saya lewati yaitu lewat jalan solo, yang akhirnya tidak lewat jalan magelang, tetapi lewat pingit, lalu diteruskan lewat pertigaan jatikencana, lurus sedikit , lalu ambil utara di dekat pom bensin jalan Bener. Itu sekolah saya, utara ASMI. Di depan sekolah adalah sawah, juga di sampingnya, juga di belakangnya agak jauh. Alah, mewah sekali sekolah ini. Mepet sawah sekali.

Lama perjalanan dari rumah sampai sekolah adalah 25 menit. Tapi jika kamu berangkat lebih dari jam 6.45 pagi, maka akan memakan waktu lebih lama lagi. Bisa-bisa memakan waktu hingga 40 menit, atau lebih. Kau tahulah kondisi jalanan Jogja dikala pagi. Sangat macet. Tapi tidak jika kamu berangkat sekolah sekitar jam 06.00 pagi. kamu akan sangat mungkin berkecepatan 80 km/jam atau lebih di Jalan Solo. Tapi ngapain juga berangkat jam 6 pagi? Kayak udah bosen dirumah aja. Kecuali kalau ada pendalaman materi pagi, atau yang biasa disebut dengan jam ke nol. Maka dengan sangat terpaksa harus bangun pagi-pagi, mandi pagi-pagi, tanpa sarapan langsung berangkat ke sekolah, itu karena kamu akan telat jikalau sarapan.

Hal yang paling tidak menyenangkan memiliki rumah yang jauh dari sekolah saat kamu SMA adalah saat pulang sekolah. Bukan, ini bukan karena saya cinta dengan sekolah saya sehingga malas pulang sekolah. Tapi lebih dikarenakan oleh sifat-sifat sebagian pelajar SMA yang membuat heran dan pusing. Ituloh, budaya nglitih. Atau kalau secara bahasa Indonesia artinya adalah segerombolan pelajar SMA, atau istilah yang lebih kamu adalah “genk”, yang menyetop seorang pelajar yang sedang pulang sekolah, lalu menghajar pelajar yang tidak tahu apa-apa itu, hanya dikarenakan pelajar yang diserang itu beda SMA. Beda tempat bersekolah dengan mereka yang menyerang. Kadang-kadang hingga kepala bocor. Kadang-kadang hingga motor rusak berat. Kadang-kadang hingga masuk rumah sakit. Kadang-kadang bisa lebih parah. Kadang-kadang bisa bikin tewas. Alah, kurang kerjaan banget nggak sih kalau kamu pikir? Tapi itu benar-benar ada loh. Ini bukan mitos. Bahkan mungkin kamu yang membaca ini juga pernah mengalaminya. Bahkan mungkin kamu yang membaca ini pernah membuat orang lain mengalaminya. Itu artinya mungkin juga kamu orang yang suka meng-klitih. Dan parahnya, rute yang harus saya lewati jika pulang sekolah adalah rute yang amat berbahaya. Benar-benar menguji nyali.

SMA tempat saya bersekolah adalah SMA 2 Jogjakarta. Itu, kalau kamu tahu, adalah SMA negeri paling barat di Jogjakarta. Maka jikalau pulang, saya harus melewati beberapa SMA lain. Jika kamu ambil jalur utara, yaitu belok kiri pada saat melewati perempatan pingit dan lewat jalan magelang, maka kamu harus melewati SMA 4. Tapi jika tidak mau lewat sana, maka di Jogja Jogja kamu bisa belok kanan, dan kamu akan melewati daerah Jetis, dan disana ada STM 1 Jetis dan SMA 11. Jika dari sana kamu ambil kiri di perempatan Jetis, maka ada SMA lain yang juga harus kamu lewati yaitu SMA Muhamadiyah 1. Jika kamu ambil jalan lurus pada perempatan pingit tadi, yaitu jalan Solo, maka kamu harus melewati SMA 3 dan SMA Bosa setelah kalian belok kanan dari perempatan Gramedia. Jika tidak mau lewat sana dan belok ke Utara, maka kamu akan melewati rute pulang para siswa SMA 6 dan SMA 9. Tidak ada pilihan jalan yang lebih baik dari itu selain kamu harus memutar lewat jalan godean, lalu belok kanan di perempatan Ringroad, yang pada akhirnya kamu harus memutari setengah lingkaran jalan ringroad. Tapi itu tidak pernah saya lakukan karena terlalu jauh dan sangat memboroskan bensin.

Maka akibatnya, kadang-kadang saya juga mengalami peristiwa itu. Apa itu tadi? Oiya, diklitih. Untung saja hingga saat ini saya belum pernah mengalami peristiwa dihajar atau semacamnya. Itu karena beruntung hingga yang meng-klitih­ saya bukan orang-orang yang benci dengan SMA 2. Tidak usahlah kamu tahu siapa mereka itu karena saya pun juga hanya tahu sedikit. Paling Cuma sekali ada segerombolan orang yang kebetulan bermusuhan dengan SMA 2, lalu kebetulan pula mendapati saya, lalu mengklitih saya. Alah, santai, mereka Cuma 2 orang. Masih kelas X pula. Mereka kelas X dan saya kelas XII. Secara mental, saya jauh lebih unggul. Maka dengan gertak sedikit aja ternyata langsung kabur. Pengalaman memang guru terbaik, bukan Pak Rahadiyo atau Pak Heru. Saya tahu mereka masih kelas satu karena mereka memakai bed pelajar jogja baru. Oiya, sekarang pelajar jogja tidak lagi memakai bed alamat sekolah mereka lagi pada lengan kanan seragam wajibnya, tetapi memakai bed yang bertuliskan “pelajar kota jogjakarta”. Semua SMA di Jogja sama, tidak ada yang tidak. Jadi tidak ada yang tahu sekolah di SMA mana jikalau tidak ditanya. Ini diharapkan akan mengurangi orang-orang yang tawuran atau klitih-mengklitih. Tapi nyatanya tetap ada kan? Yaiyalah, sudah budaya sih, sulit diilangin. Budaya yang aneh di kota yang katanya kota pelajar ini. Tapi untuk kelas XI dan XII mungkin masih belum banyak yang pakai karena hal itu baru diadakan pada saat tahun ajaran yang sekarang ini berlangsung.

Maka dari itu sadarlah wahai pelajar Jogja!! Ini kota pelajar!! Bukan kota orang-orang yang suka menghajar!! Kamu ada untuk belajar!!! Kamu ada bukan untuk menghajar orang para pelajar yang masih ingin belajar dengan serius!! Sadaarrrrr!!!!

Hmm, Jogjakarta kota pelajar. Mungkin saat ini, julukan itu sangat tidak tepat bagi kota ini. Kota yang sangat saya cintai ini. Kota yang sangat panas dan tidak juga turun hujan akhir-akhir ini.

Iklan
  1. #1 by Helmy Fahrizal on November 3, 2008 - 8:52 am

    benar,kita harus menghentikan tawuran
    saya sendiri pernah diklitih lo sama SMA 4
    trus teman2 saya langsung mbales ke sma4
    (tapi saya gak ikut)

  2. #2 by sleeplessstudent on November 4, 2008 - 8:50 am

    @ Helmy Fahrizal

    haduh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: