Pendakian Gunung Merapi, 17 – 18 Agustus 2008


Kala itu adalah tanggal 17 Agustus. Tahunnya tahun 2008. Di SMA 2 telah selesai diadakan upacara bendera memperingati kemerdekaan Indonesia yang telah sudah dikumandangkan 63 tahun yang lalu. Seperti yangt terjadi pada sekolah-sekolah menengah atas pada umumnya, SMA kami pun juga begitu. Begitu ramai. Begitu tidak peduli dengan apa yang disampaikan oleh bapak kepala sekolah. Begitu tidak khidmat. Begitu sembrono. Begitu sangat sembrono. Dan saya juga pun sudah tentu termasuklah orang-orang yang juga begitu. Ini wajar karena memang jujur saja kami tak mengerti apa itu arti sebenarnya kemerdekaan. Yang mungkin kami tahu hanya begitu lahir, tau-tau negeri ini sudah merdeka. Tinggal kita nikmati dengan senikmat-nikmatnya. Begitu bukan? Astaghfirullah… Demi kebaikan Indonesia, maka janganlah engkau berpikir begitu kawan. Kasian mereka yang sudah susah-susah memerdekaan negeri kita.

Alkisah, pada hari itu saya sudah kelas XII SMA. Sudah senior. Petantang-petenteng kesana kemari tanpa kenal takut. Yes! Tapi apa ini? Di warung nasi bakar, saat saya sedang lahap memakan nasi bakar. HP berdering, tanda ada SMS masuk. Mas, aku ijin ke merapi ya? Ada 5 orang kelas XI yang mau ikut. 4 cewek sama 1 cowok.Ternyata ada SMS dari Fitri, salah satu anak vachera kelas XI. Vachera itu adalah organisasi (yang mengaku sebagai) pecinta alam smada. Tau jalan nggak? Kapan berangkat? Itu saya balas SMS dia. Sekarang dah mo brangkat, mau uwes takon-takon karo Si Sum. Rutene mengko cari info neng kono wae. Ya Allah, 5 anak ingusan ini mau berangkat ke Merapi tanpa pengetahuan yang cukup? Maka dari itu, karena terpaksa kasihan dan juga ingin mendaki Merapi lagi, saya SMS Fikar. Oke! Itu Fikar yang jawab. Oke. Maka singkat cerita, petualangan menuju Merapi untuk menyusul adik-adik kita, kita mulai dari sini. Maka singkat cerita kami sudah berada di Jalan Magelang menuju Basecamp Selo. Maka singkat cerita kami sudah berada di Base Camp Merapi. Maka singkat cerita kami tidak menemui mereka di Base Camp. Maka singkat cerita ternyata mereka sudah mendaki dahulu. Maka singkat cerita kami pun sholat ashar karena hari sudah sore. Maka singkat cerita kami melakukan persiapan untuk mendaki, yang secara umum disebut dengan packing. Maka singkat cerita, pendakian pun kami mulai.

Oh, Merapi yang abu-abu. Langit Merapi sedang mendung kala itu. Sama sekali tidak terlihat Gunung Merbabu yang hanya beberapa meter di belakang kita. Itu semua karena kabut. Kabut sialan! Tapi itu sudah biasa. Tidak mengapa. Kami maju dan mulai melangkah.

Kala itu adalah tanggal 17 Agustus. Kamu pasti tahu tradisi yang ada di sini. Bukan, bukan menyembah makam. Itu syirik namannya. Bukan juga menyedekahi Mbah Marijan. Mbah Marijan sudah kaya karena jadi bintang iklan jamu, untuk apa disedekahi lagi. Tetapi yak tepat. Kamu benar. Setiap tanggal 17 Agustus, untuk memperingati kemerdekaan bangsa, maka seluruh orang yang mengaku sebagai pecinta alam, petualang, dan orang-orang lain yang memiliki rasa nasionalisme terhadap negeri kita Indonesia ini sangat tinggi, akan berkumpul di gunung ini untuk ber-upacara. Saya tidak tahu bagaimana proses dan wujud upacara yang terjadi disana karena itu sudah tadi pagi terjadi di atas sana, di Pasar Bubrah. Sedangkan saya baru datang siang-siang. Walhasil, dikala semua orang pada turun, kami berdualah satu-satunya gerombolan yang mendaki. Kalau tidak salah ada lebih dari 50an orang yang turun. Mungkin lebih karena saya terlalu malas untuk menghitung. Memang kenapa harus dihitung? Memangnya ada gunannya jika tahu berapa jumlah mereka semua? Sudah tak usah dibahas. Sempat saya lihat itu rombongan dari Jejak Petualang. Dengan puluhan potir-potirnya. Dengan bajunya yang merah menyala. Juga sempat saya melihat itu rombongan dari Metro TV. Aduh, saya telat berangkat ke sana. Mungkin jika dari kemarin kita berangkat, besok beberapa hari lagi wajah saya akan terpampang di Jejak petualang ataupun Metro TV. Aih, diri ini.

Tak jauh kami berjalan, adalah beberapa orang yang sedang bertenda di sana. Di pintu masuk area pohon pinus. Alah..apa sih nama tempatnya?

“Mas, rombongannya yang tadi 5 orang ya?” itu mas yang ada di dalam tenda yang bicara.

“Hah?” itu saya jawab begitu karena saya tadi tidak mendengar dia bicara.

“Mas yang rombongan 5 orang anak SMA tadi itu? Yang 2 cowok 3 cewek tadi?”

“Iya, udah jauh belum ya?” 2 cowok?

“Ya, udah lumayan. Mungkin udah sekitar 1 jam yang lalu mereka lewat”

“Oh, makasih mas”

“Kalo kamu konstan jalannya begitu, paling-paling juga bentar udah kesusul kok”

“Oh, makasih mas”

“Ati-ati ya..”

“Oh, makasih mas”

Perjalanan dilanjutkan. 2 cowok? Sudahlah, tak usah dipikirkan dahulu. Sekarang kita lanjutkan perjalanan. Mumpung masih sore. Perut sudah lapar. Tadi hanya packing sekitar ½ jam. Tak banyak bawa makanan. Tidak juga membawa bahan bakar. Tidak juga membawa tenda atau kantung tidur. Matilah kami jika tidak menemukan 5 anak tadi. Benar-benjar matilah kami.

Sudah sekitar 1 jam kami mendaki. Sudah amat ngos-ngosan nafasku. Entah kenapa raga ini lemah sekali. Sudah parah sekali keadaan saya saat itu. Aduh, maaf ya Kar. Maaf ya Kar. Maaf za Kar. Maaf ya. Berkali-kali saya istirahat. Minum. Lalu berangkat lagi dengan raga yang sudah benar-benar terpuruk. Oh wahai kawan, kamu tak akan tahu perasaan saya kala itu. Antara stress memikirkan kemungkinan terburuk jikalau kami tidak menemukan mereka, dan juga menyesal telah memutuskan untuk menyusul mereka. Tapi karena sudah terlanjur basah, maka sekalian saja menyelam, minum airnya juga jika perlu. Oke. Berangkat lagi.

Itu di depan adalah Pos I. Sudah lumayan jauh juga mendaki. Ah! Itu! Itu! Itu mereka! 5 orang anak kelas XI yang sudah gila mendaki merapi tanpa tahu apa-apa ini. Alhamdulillah.. makhluk-makhluk ini akhirnya ketemu juga. Itu artinya kami tak usah memikirkan berbagai macam kemungkinan tidur tanpa tenda atau kekurangan makanan. Aman. Sip. Maka dari itu kami pun berfoto-foto ria merayakan kemenangan. Kemenangan? Ini baru pos I tahu!! Masih jauh sekali tujuan kita. Kemenangan masih jauh. Masih terlalu cepat untuk dirayakan. Oke. Mendaki lagi.

Ah, kenapa ini? Raga yang sedari tadi rasanya sudah tak mampu berjalan sekarang ini berangsur-angsur membaik. Ah, begitu nikmat sekarang rasanya kami mendaki. Bersama itu memang menyenangkan. Setuju? Harus. Apalagi ternyata fitri membawa Radio. Oh, surga telinga ini. Pinjem donk. Buat apa? Buat disetel di jalan, biar tambah rame.

Maka tanpa terasa, kami pun sudah hampir 2 jam lebih mendaki. Sudah melewati jalanan yang berbatu-batu tadi. Uh, licin. Pegangan yo cah. Semangat. Hati-hati. Oh wahai kawan, jalanan Merapi itu jikalau kamu tahu, sungguh sangat amat ‘wow’! Terdiri atas batu-batuan cadas yang tertata dengan spontan membentuk sebuah jalan menuju ke puncak. Tumpukan batu-batu dengan kerapatan yang berbeda-beda ini kadang sangat mudah untuk jatuh di kala terpijak. Maka mengakibatkan orang yang berada di bawahnya cedera karena terkena lontaran batu yang jatuh tadi. Uh, naudzubillah hi min zolik. Untung kami tidak mengalaminya. Menantang sekali. Sampai-sampai radio Fitri pun terjatuh berkali-kali. Menantang sekali. Untung dia tidak tahu. Matilah aku jika dia tahu. Menantang sekali.

Oh, sudah malam. Sudah harus ngeluarin senter. Apa ini? Ternyata saya tidak bawa. Tidak mengapa karena mereka sudah bawa. Jumlah total manusia yang membawa senter adalah 3. Jumlah total yang membawa radio adalah 1. Jumlah total yang mendaki adalah 5. Maka 3 senter dan 1 radio untuk 5 orang. Oh, cukuplah. Tak mengapa.

Udara sangat dingin. Kami sudah mendaki hampir 2 ½ jam. Sudah sampai di jalanan terbuka. Alah..apa lagi ini namanya? Lupa. Keadaan saat itu benar-benar menggila. Angin berkecepatan luar biasa menghajar kami dari arah yang berlawanan. Belum lagi ditambah hawa dingin yang dibawa oleh angin gunung tersebut. Alah, angin gunung. Itu arti dari nama saya. Bayu Ardiyanto. Angin Gunung Laki-Laki. Sudahlah buat apa kita bahas. Aduh…Belum lagi jalanan yang sangat terbuka. Tidak ada tempat bagi kami untuk berlindung dari terpaan angin. Mau kembali ke bawah juga sudah tidak mungkin. Sudah terlalu jauh, terlalu gelap, dan terlalu curam. Mau tak mau kami harus terus maju. Berjuanglah wahai kawan. Tujuan kita tinggal sedikit lagi tercapai. Jangan sampai kita mati di sini.

Ah, akhirnya sampai juga. Sampai juga di Pasar Bubrah. Benar-benar sebuah pendakian yang gila. Angin masih berhembus dengan kencang. Kami mencari tempat untuk berlindung.

“Di sini aja” siapa itu yang biacara?

“Di sini, di balik batu aja, aman!” oh, ternyata beberapa orang yang sudah sampai dahulu sebelum kami. Mereka sudah selesai mendirikan tenda. Sudah makan juga. Sudah buang air kecil juga. Kami belum. Maka kami mendirikan tenda di tempat yang ditunjukan Om tadi. Ah, siapa namannya? Lupa tanya.

Tenda sudah berdiri. Hanya satu karena memang hanya satu yang mereka bawa. Kami, para lelaki, akan tidur dimana nanti? Oh, tenang saja, sudah ada 3 kantung tidur. Pas dengan jumlah kami para laki-laki yang ada 3 orang. Oh, syukurlah tidak harus satu tenda dengan para akhwat. Bahaya. Bisa-bisa terjadi hal yang diinginkan nanti. Bahaya. Maka, bahan pangan kami buka. Logistik kami siapkan. Kompor kami siapkan. Ah, kenapa lagi ini? Paravin yang hanya mereka bawa hanya satu. Satu batang. Bukan, bukan satu pack. Apa?? Satu batang!! Gila ya kalian ini?? Gimana bisa masak kalo paravin Cuma satu batang??!!

Oke. Santai. Mari tenangkan diri dan berpikir. Ah, tetangga kita tadi itu. Om-om yang ngasih tau tempat itu. Marilah kita minta dengan mereka. Minta ya mas? Iya. Syukurlah dapat. Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah, telah menempatkan tenda kami di samping rombongan yang baik hati ini. Sudah diberi paravin, diberi arang pula untuk menyalakan api unggun, sekedar upaya untuk menghangatkan diri di dalam kedinginan yang menggila ini. Ahh..baik sekali. Itulah yang saya suka dari mendaki gunung. Jikalau kami bertemu dengan pendaki lain, kami merasa sudah seperti kawan lama saja. Tidak ada rasa membeda-bedakan diantara kami. Tidak seperti pelajar di Jogja sana, yang tak segan untuk tawuran hanya karena masalah beda SMA saja. Beda tempat bersekolah. Memangnya kenapa kalau beda? Kita kan sama-sama pelajar kota Jogjakarta? Ahh.. lain kali saja saya bahas ini.

Oke. Masalah makan memakan sudah beres. Sekarang kami sedang bercengkrama membahas pendakian tadi. Membahas dari awal kami mendaki. Membahas betapa bodohnya telah mendaki pada tanggal 17 agustus, disaat orang-orang lain sudah selesai melaksanakan upacara bendera yang katanya melegenda itu. Alah, kenapa juga harus dibahas disini. Setelah selesai ngobrol. Bicara ini. Bicara itu. Bahas ini. Bahas itu. Bahas apa saja yang bisa dan mungkin dibahas. Maka kami pun tidur. Bagi mereka yang perempuan, maka tidur di dalam tenda. Bagi mereka yang lelaki tidur dengan kantung tidur di luar. Bagi mereka yang banci silakan tidur di jurang saja.

Hoahem… Sudah pagi. Sudah jam 5 pagi. Hayu sholat shubuh dulu. Brr… Dingin. Allahuakbar. Subhanallah. Hebat sekali cuaca kala itu. Kabut putih menutup seluruh permukaan pasar bubrah, sehingga bila engkau buang hajat 7 meter di depan kawanmu pun tidak akan ketahuan. Dan kami sedang bingung sekarang. Bingung akankah kami mau melanjutkan untuk mendaki sampai ke puncak garuda atau turun saja karena cuaca yang sangat imposible ini. Tunggu situasi dulu, kata Fikar. Oke. Kita tunggu situasi dahulu sambil makan dan minum kopi. Ah, tetangga kami juga sudah bangun rupannya. Assalamu’alaikum wahai kawan.

Siapa itu? Yang sudah sedang mendirikan tenda di belakang sana. Oh, ternyata itu turis. Ada 5. Orang semua. Ada juga wanita diantara mereka. 2 jumlahnya. Juga ada itu guide. 3 jumlahnya. Total mereka ada 8 orang. Orang semua. Iya, udah tau! Maka ketika saya dan kawan-kawan diajak bergabung untuk sama-sama menghangatkan diri di api unggun yang dibuat oleh tetangga, turis itu pun diajak turut serta juga.

“C’mon Sir, Fire.. hot…!”, alah bahasa apa ini.

“Okay”, kata turis-turis itu. Lalu tentu saja mereka bergabung dengan kami.

“Wow, it’s better in here..”

“Yes, relaxing isn’t it?”

“Yes hot… hot itu brarti sudah klimaks. Klimaks berarti wes ameh metu!!” Itu tetangga saya yang berkata. Mau keluar apanya? Sudah tidak usah dibahas. Ah, dialog mereka. Dialog antara turis itu dan tetangga saya yang baik ini.

“Thank you”

“Okay-okay…”

“Terimakasih”

“Loh, you can speak Indonesia?”

“Yeah, a little bit”

“How Indonesia?”

“It’s very beautiful country I think. It’s very fantastic, especially in here.” Wow, bangga nggak tuh negara kita dibilang indah. Makanya, jangan buang sampah sembarangan donk. Setuju?

“Oh.. thanks. Thankyou Friend!”

“Yeah, friend. What is friend in Indonesia?”

“Friend is Teman”

“Teman?”

”Yeah, and in Javanese, it’s called konco”

“Konco?”

“Yes. He is my konco. You are my konco. Everybody is konco!”

Aih, roman muka turis itu jadi aneh. Seolah-olah konco itu sebutan untuk hewan atau semacamnya. Padahal kan beneran konco itu teman. Ah.. dasar mereka. Dasar turis yang katanya datang dari Jerman itu. Ngapain ke Indonesia? Apa Cuma ingin mendaki Merapi? Tentu tidak. Tapi tidak rugi juga sih mendaki merapi. Fantastic. Itu kata mereka. Hmm… tak disangka ternyata merapi bisa terkenal sampai ke Jerman. Bangganya. Bangga nggak? Makanya kamu juga kudu ngerasain rasanya mendaki merapi. Masa’ yang pribumi kalah sama yang turis? Malu kan?

Ah, sudah jam 9 lebih. Turis-turis tadi sudah pulang. Para manusia-manusia yang ada di Pasar Bubrah juga sudah banyak yang menyerah untuk menunggu kapan cuaca di tempat ini normal dan lalu satu persatu dari mereka turun. Iya, kamu benar. Cuaca disini masih seperti tadi. Kabut benar-benar belum mau turun. Masih menggumpal saja di sini. Angin juga masih menghajar tempat ini dengan sangat kencangnya. Benar-benar kondisi yang tak bisa dibayangkan. Ada rombongan yang sudah membulatkan tekad. Mereka ingin mendaki lagi. Menuju puncak. Kami juga diajaknya turut serta. Wah, mikir-mikir dulu deh mas.

Maka berundinglah kami. Dan setelah berunding agak lama, disambi makan dan minum, juga ngemil biskuit yang dibawa para anak-anak kelas XI ini, maka diputuskan 3 orang dari kami untuk mendaki puncak. Mereka adalah Fikar, Cing, dan Vista. Saya tidak ikut karena perut saya sakit. Kamu tahu sendiri kalau perut sakit itu pertanda mau buang apa. Maka saya tidak berani ambil resiko. Baiklah, saya menunggu disini saja bersama adik-adik wanita ini. Hati-hati ya..

Menunggulah saya. Menunggu lama sekali. Menunggu sampai-sampai saya sempat muter-muter kawasan pasar bubrah ini bolak-balik. Menunggu sampai tercipta ide untuk mendesai jaket vachera. Menunggu sampai kami makan banyak sekali. Menunggu sampai banyak sekali mendengar kabar orang hilang di tengah kabut seperti ini. Menunggu sampai kami memutuskan membongkar tenda kami karena mereka juga tak kunjung datang. Menunggu sampai tercetus keputusan untuk menyusul mereka karena kami khawatir. Menunggu sampai perutku sakit sekali.

Jam 11 lebih. Sudah 2 jam mereka mendaki. Normalnya, perjalanan ke puncak hanya butuh 1 jam kurang, lalu untuk kembali hanya sekitar 30 menit. Jadi normalnya mereka sudah seharusnya sampai disini. Ada disini dan sedang menceritakan mereka menaklukan puncak merapi. Tapi nyatanya belum. Maka, saya pun menyusul mereka seperti perjanjian awal sewaktu mereka berangkat tadi. Khawatir juga jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Saya berangkat sendiri, tanpa seorang pun menemani.

Menembus kabut sendirian ternyata mengerikan juga. Saya sempat melihat orang-orang itu. Orang-orang yang berdiam diri di balik batu, terjebak dalam kondisi yang begini di Pasar Bubrah, mau naik tidak mungkin, mau balik juga kabut masih sangat tebal. Tak ada bedanya dengan kondisi kami juga. Tiba juga di jalan mendaki ini. Jalan menuju puncak. Jalanan yang hanya terdiri dari batu-batu, dan sangat terjal, dan sangat licin. Aduh, kabut juga masih juga belum menghilang. Aduh, batu yang tadi kujadikan tanda tempat 4 anak cewek menunggu tadi, juga sudah tidak terlihat. Aduh gila.

Woooyy… karrr!!! Vacheraa!!!??? Itu saya yang berteriak. Lama. Tak ada jawaban. Wooyyy!!!! Ah, itu suara mereka. Suara si Cing dan Vista. Juga ada suara Fikar juga. Ah sialan, ternyata mereka tertawa-tawa. Tapi syukurlah tidak terjadi apa-apa.Tapi dimana mereka? Mereka masih diatas, masih tertutup oleh kabut, tidak terlihat. Ternyata mereka tidak tahu jalan pulang. Tertutup kabut, sama sepertiku. Maka saya pun menunggu mereka.

Ah, perasaan ini. Baru pertama kali kurasakan. Hening, sunyi, tak ada seorang pun di samping ku di lingkungan yang tiba-tiba menjadi asing ini. Segala arah hanya putih, putih, dan putih. Putih kabut. 3 orang tadi juga tak kunjung datang. Sedang apa sih mereka? Lama sekali. Tiba-tiba saya teringat oleh Adnan. Teringat oleh permintaannya supaya dibawakan batu dari merapi. Alah, apa bedanya dengan batu di belakang rumahmu? Toh juga sama-sama kotor. Wah, beda fren. Kalo yang dari merapi itu bisa saya banggakan. Made in Merapi gitu.. Alah,dasar anak itu. Tapi karena sudah terlanjur terpaksa berjanji untuk bawain itu batu, maka saya pun mengambil beberapa batu. Ada 3 batu. Yang 2 merah, yang 1 putih. Tapi sayang sekali wahai Adnan, jelas saja tidak ada batu yang ada label made in merapi nya.

Duh, lama sekali 3 manusia ini. Lama sekali. Eh, ternyata batu berwarna merah ini istimewa juga. Bila digoreskan kepada batu-batu lain yang lebih padat akan meninggalkan bekas yang dalam dan berwarna merah. Bagus sekali. Bahasa yang lebih mudah untuk menjelaskannya adalah, ternyata batu ini dapat digunakan untuk menulis. Lalu kenapa? Tidak ada hal khusus sih. Hanya saja, tiba-tiba saya rindu. Rindu dengannya. Dengan seseorang yang berada di Jogja sana, yang entah sedang melakukan apa saat ini. Tak terasa tangan ini menggoreskan namanya di salah satu batu, di salah satu sudut merapi sana. Alah..apaan sih ini?

Akhirnya mereka datang juga. Ngapain aja sih? Tak usah dibahas sekarang, lebih baik ayo turun. Singkat cerita, kami pun sudah agak lama berjalan turun. Loh kok? Kenapa? Anu, kok rasanya beda sama kayak tadi berangkat? Jalanan juga sudah aneh. Terlalu landai untuk jalanan menuju puncak. Beneran nih ini jalannya? Hmm, sepertinya ada yang aneh. Feeling ini ternyata benar, begitu saya coba untuk naik, memeriksa ke atas sebentar, ternyata posisi kami tadi sudah ada di jurang. Di atas ternyata sudah ketemu dengan jalan yang benar untuk menuju tenda. Jika maju sedikit lagi tadi, mungkin saya tidak akan bisa menuliskan apa yang kamu baca sekarang ini. Subhanallah…

Huf, akhirnya selesai juga pendakian kali ini. Kami sudah sampai di basecamp sekarang. Sudah habis turun dari Merapi. Karena terlalu lancar, maka tidak usahal perlu saya ceritakan. Tidak usah saya ceritakan juga tentang saya yang terus saja sakit perut sedari puncak tadi. Juga tidak usah pula saya ceritakan tentang mata saya yang sudah menjadi aneh karena tulisan WC tiba-tiba terbaca menjadi SURGA. Ahh.. lega. Lega kenapa? Kau tahu sendiri lah.

Ah, langit Magelang sedang mendung. Udara dingin masih juga terasa di sini. Di basecamp selo. Setelah ini saya akan vakum sebentar. Mengingat sekarang ini saya sudah menginjakkan kaki di kelas XII. Sudah waktunya untuk berpikir tentang masa depan. Selamat tinggal merapi.. selamat tinggal gunung-gunung lain. Tunggu saya lagi setelah proses kelas XII ini selesai.

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: