Pendakian Lawu 21 – 23 April 2008


Itu adalah saya. Mendapati diri sedang berjalan menuju masjid nurul iman untuk sholat tarawih, sembari sempat melihat bulan. Bulan tanggal 15. Bulan yang benar-benar bulat penuh. Aduh, tiba-tiba jadi ingat Lawu. Gunung Lawu. Iya, yang letaknya di dekat Tawangmangu itu. Iya, yang katanya kalau dilihat dari Solo bentuknya seperti kepala manusia yang sedang tidur itu. Iya, yang para pendaki itu sering mendaki gunung ini. Iya, yang puncaknya bernama Hargodumilah itu. Iya, Lawu yang itu.

Maka, jika diingat-ingat lagi, pendakian saya di Lawu untuk yang pertama kali adalah dimulai ketika saya dan kawan-kawan mendapati libur sekolah selama 3 hari. Itu libur UAN. Libur khusus bagi para pelajar SMA yang bukan kelas XII, karena para anak kelas XII terserbut harus sedang berperang melawan UAN saat itu. Tapi kami tidak, karena kami masih kelas XI. Dan karena UAN bukan urusan kami, maka kami pun sibuk mencari urusan kami. Maka setelah diskusi dengan kawan-kawan, maka Lawu-lah tempat kami, para anggota vachera, untuk menghabiskan 3 hari libur tersebut.

Tapi apa masalahnya? Yaitu adalah kami semua, para manusia-manusia calon pendaki Lawu itu, belum pernah pergi ke sana sama sekali. Atau bahkan rute yang harus kami ambil untuk menuju gunung tersebut kami tidak tahu. Atau bahkan letak gunung itu pun juga kami tidak tahu, karena Gunung Lawu itu tidak terlihat dari Jogja. Saat itu, yang kami tahu hanyalah gunung itu berada di Jawa Tengah. Itu saja yang kami tahu.

Maka, ketika saya berkata bahwa saya memiliki teman dari SMA 1, yang anggota THA, yang itu artinya adalah Teladan Hiking Association, yang bernama Punta, yang pernah mendaki gunung itu bahkan sampai 3 kali, maka saya pun diutus untuk bertanya kepadannya, sembari Fikar, sembari Bimo, mencari data lewat internet. Dan ketika itu saya bertanya apa saja yang kami butuhkan dan rute untuk mencapai kesana dengan pesawat telepon, karena saya agak malas kalau harus pergi ke sana, ke THA. Oke. Sudah hampir 1 ½ jam saya meneleponnya. Rute, jalur pendakian, jalur bus, taksiran biaya, sudah beres semua Insya Allah.

Maka, pada pagi hari tanggal 21 April 2008 berkumpulah kami. Saya, Fikar, BimoJamban, Ican, Ramon, dan Ahong di halaman SMA N 2 Jogja. Itu adalah kami yang sudah bertekad untuk mendaki Lawu. Maka kami berangkat, diantar oleh seorang kawan bernama Sinyod, yang bapaknya itu seorang sopir bus Jogja – Solo, yang katanya akan menemani sampai terminal di Solo sana. Berangkatlah kami bertujuh naik bus Jogja Tempel. Ngeeenngg… itu bus kami, lewat Pertigaan Jati Kenana, lewat Ludiro, lewat mana saja jalur menuju terminal Giwangan, sehingga setelah kami sampai kami pun turun dari bus Jogja Tempel dan mencari bus lagi untuk menuju Terminal Tirtonandi di Solo sana. Nah, itu dia Bus Jogja-Solo. Agak tua dan butut. Tapi tak mengapa karena jika ada Sinyod, maka biaya yang seharusnya 8.500 rupiah untuk menuju ke sana biasa dikurangi. Bahasa pasarnya yaitu, mendapat discount. Sehingga kami hanya membayar 5 ribu untuk sampai di Solo nanti. Tapi dimana Sinyod saat bus ini berangkat? Aduh, dia tertinggal. Tadi dia pergi sebentar dan bilang pergi menitipkan tas di sana, di kantor terminal mungkin. Detik ketika dia pergi itulah detik saat bus ini berangkat. Aduh, bagaimana ini? Kami tidak tahu dimana letak terminal Tirtonandi? Aduh, aduh, aduh.

Untunglah kami punya mulut, sehingga kami bisa berbicara, sehingga kami bisa bertanya. Bertanya pada kernet yang berdiri di pinggir pintu itu. Bertanya dan mendapat jawaban bahwa terminal Tirtonandi adalah terminal bus terakhir di Kabupaten Solo. Baiklah untuk sementara kami bisa tenang karena sudah tahu letak terminal tujuan kami. Hati kami agak santai sekarang. Bisa menikmati perjalanan. Bisa mengobrol dengan leluasa. Bisa menggosip dengan leluasa. Bisa menikmati apa saja dengan leluasa. Karena pada saat itu hanya kamilah penumpang bus itu. Bus Damar jurusan Jogja-Solo. Bus melaju dengan sangat kencang. Tapi biarpun begitu, tetap saja ada pengamen. Alah, sudah berapa kali ini masuk pengamen. Saya agak lupa. Menyanyilah mereka lagu-lagu apa saja bermacam-macam. Ada yang Kangen Band. Ada yang Ada Band. Ada yang inilah band. Ada yang itulah band. Tapi entah kenapa tidak ada yang Metallica atau Rolling Stone band. Mungkin karena tidak pasaran di telinga Indonesia pada umumnya. Mungkin karena mereka sendiri juga belum pernah tahu ada band macam mereka. Apa urusanku? Tapi itu, ada juga yang keroncong. Ada juga yang dangdut. Ada juga yang karangannya sendiri, yang biasannya satu sama lain pengamen menciptakan lagu yang sama tema, yaitu tentang kehidupan di jalanan. Wajarlah, toh setiap hari mereka hidup di jalanan. Merasakan pahit manis getir peluh resah lelah senang susah di jalanan. Tapi, diantara sekian banyak mereka yang menyanyi, yang menjual suaranya di Bus Damar yang sedang saya naiki ini, hanya satu itu yang saya beri penghargaan berupa uang upah dia menyanyi. Hanya satu itu dan pun mungkin dia tidak dapat disebut bernyanyi juga. Itu adalah dia yang… entah cacat apa saya tidak tahu. Yang hanya bisa berkata “eee.. eee…” itu. Yang jika berjalan terlihat sulit sekali itu. Maka saya beri dia uang bukan karena suaranya, tapi karena kehidupannya. Itu adalah rezekimu yang Allah titipkan lewat saya bung.

Akhirnya sampai juga di Tirtonandi. Kebingungan nomer dua menyerbu lagi. Sekarang kami harus naik apa untuk menuju Lawu? Oh, ternyata kami masih harus naik Bus Solo-Tawangmangu. Itu kami tahu berkat hasil telepon dengan Punta. Tapi mana bus yang menuju kesana? Oh, ternyata itu, yang agak besar itu. Kami tahu karena ada banyak orang yang menawarkan bus nya untuk ditumpangi. Mereka tahu kami akan kemana karena ransel super besar yang kami bawa, yang menandakan kami adalah seorang pendaki, yang berarti kemana lagi tujuan para pendaki jikalau tidak mendaki? Mereka tahu kami akan mendaki gunung Lawu karena tidak ada lagi Gunung yang dapat kami tuju dari terminal ini selain Gunung Lawu. Dan hal itu sudahlah biasa bagi para kernet untuk mengantarkan kami ke sana. Ke bus yang juga tidak kalah tua dari bus yang baru saja kami tumpangi tadi, untuk menuju ke terminal Tawangmangu. Yes, kami sudah naik dan siap untuk menuju terminal berikutnya.

Ohh, hari sudah menjelang sore kala itu. Waktu itu, kami sudah berada di tengah-tengah kota Karanganyar. Ada pemandangan yang menurut saya, atau kami, sangat menarik. Yaitu pemandangan kota ini yang dipenuhi oleh baliho atau papan iklan yang berisi foto seorang wanita, yang ternyata adalah Bupati Kabupaten Karanganyar, yang menurut persepsi kami, beliau ini sangat narsis. Karena, oh jika kamu tahu atau kamu tinggal di Karanganyar saat itu, entah bagaimana saat ini, kamu akan mendapati kami yang dengan sangat kurang kerjaan sempat menghitung jumlah foto wanita ini dari terminal Tirtonandi tadi sampai di terminal tawangmangu. Dan kamu akan tahu, bahwa jumlah foto yang terpampang sepanjang hampir 1 ½ jam perjalanan itu ternyata adalah sejumlah sekitar 28 foto, atau lebih karena mungkin ada yang tertinggal di belakang sana, dengan berbagai pose, berbagai tempat, dan berbagai slogan yang mendampinginya. Oh, wahai. Maafkan kami warga Karanganyar. Maafkan kami ibu Bupati karanganyar.

Dan sampailah kami di Tawangmangu. Langit sudah hampir gelap saat itu. Cuaca agak mendung saat itu. Aduh, semoga tidak hujan. Tapi kenyataannya memang tidak. Untunglah. Untunglah juga kami segera mendapat ompreng, sebuah kendaraan mirip angkot yang akan mengantar kami ke Lawu. Untunglah. Karena mereka bilang bahwa omprengan itu sudah akan habis jika sudah sore. Mereka? Itu, orang-orang yang memberi info lewat internet. Tapi kenyataannya tidak kok. Omprengan masih ada sampai nanti jam 7 malam, bahkan biasanya lebih malam lagi juga ada, itu kata mang supir.

Hanya ada kami berenam saat itu. Setelah ada 2 orang ibu-ibu yang turun di daerah entah apa namanya tadi. Mau mendaki lewat jalur mana jadinya? Itu saya yang bertanya. Oiya, jika kamu belum tahu, gunung Lawu itu terdapat 2 jalur untuk mendakinya. Jika kamu belum tahu, Jalur yang pertama itu adalah Cemoro Kandang, itu letaknya masih di jawa Tengah, sedangkan jalur yang kedua adalah Cemoro Sewu, itu letaknya di Jawa Timur. Tapi biarpun antar propinsi begitu, jarak yang memisahkan kedua jalur tersebut mungkin hanya sekitar 1 km saja kok. Dan, kata pak supir yang menjelaskan ini, yang biasa dan populer digunakan oleh para pendaki adalah jalur Cemoro Sewu yang ada di Jawa Timur itu. Karena, jika kamu belum tahu, jalur Cemoro Sewu saat itu sudah sangat nyaman digunakan. Karena jika kamu belum tahu, jalur itu sudah terpasang batu-batu yang mirip seperti anak tangga, terus sampai nanti agak dekat puncak. Maka setelah berunding, bertanya juga sama mang Sopir yang sampai serakang saya masih belum tahu namanya, maka diputuskan untuk mengambil Jalur Cemoro Sewu. Baru nanti pada saat pulang kami akan mengambil jalur Cemoro Kandang, biar lengkap. Oke. Sudah diputuskan begitu. Ayo pak, tancap sampai Cemoro Sewu. Tancap sampai Jawa Timur!! Sipp… ngeeenngg…

Jika kamu tahu lagi, ini adalah pendakian saya, dan juga mereka yang duduk bersama saya itu, yang pertama kali dengan menggunakan transportasi umum. Sebelum ini, kami selalu mendaki dengan menggunakan motor. Itu pun pasti selalu saja ada kakak kelas yang senantiasa membimbing kami untuk sampai ke gunung mana yang akan kami daki nanti. Tapi tidak kali ini. Kami sampai ke sini, ke Jawa Timur, ke Gunung Lawoe, dengan hanya bermodalkan hasil telpon dengan teman, dan dengan ikhtiar kami sendiri. Tidak juga dengan internet, atau mungkin iya tapi sedikit, karena pada saat berangkat tadi kertas hasil print-out sempat saya hilangkan dan sampai sekarang belum ketemu. Untung tadi sempat dibaca sedikit. Jadi aduh, maafkan saya. Dasar kamu itu Cup! Tapi kan kita sampai juga disini? Hhehe.. Dan lagi jika kamu tahu, bagaimana perjalanan dari Jogja menuju Lawu ini, dibarengi dengan adrenalin yang terus terpacu mengingat kemungkinan besar kami akan tersesat, tidak tahu arah, tidak tahu bagaimana rupa daerah yang akan kami tuju. Jika kamu dapat merasakannya, kamu akan tahu bahwa ini benar-benar sangat menyenangkan. Saya jadi sedikit tahu tentang perasaan bagaimana para backpacker itu, menjelajahi kota-kota manapun mereka ingini. Sekali-sekali, saya juga ingin seperti mereka. Tapi sayang, saat ini saya masih sekolah. Masih banyak tugas yang harus diselesaikan, sayang.

Hasta la vista! Kami sudah berada di sini. Di masjid di bawah Cemoro Sewu. Langit yang tadi sore merah sudah berubah menjadi hitam malam. Dan di depan situ, di pinggir jalan, adalah gapura Cemoro Sewu, tempat mulainya kami mendaki nanti. Ohh, betapa itu. Langit sangat cerah hari ini. Bintang-bintang bertebaran disini. Dan saat ini ternyata adalah bulan malam 15. Bulan purnama. Dimana sinar matahari yang menyinarinya dapat dipantulkan oleh bulan secara menyuluruh sampai ke bumi karena permukaannya tidak terhalang sama sekali oleh bayangan bumi, tempat kaki kita berpijak ini. Dan oh, jika kamu berada disini sekarang, ternyata ini adalah aspal tertinggi di pulau jawa. Maksudnya, ini adalah jalanan yang sudah dilapisi aspal, yang letaknya berada di ketinggian yang paling tinggi diantara jalanan-jalanan aspal yang lain. Jikalau siang nanti, kamu akan lihat bahwa ternyata, jauh di sana, terlihat bahwa awan pun sudah ada di bawah kakimu. Sungguh pemandangan yang sangat indah, bahkan sebelum kami mulai mendaki ini Lawu.

Setelah sholat Isya yang dijama’ dengan Magrib, dan makan, dan packing, maka kami ke sana. Bukan ke gapura itu, tapi ke jalan aspal yang sangat lebar ini. Yang lebarnya tidak kalah dengan jalan tol ini. Ngapain kami kesana? Ternyata adalah kami yang juga tidak kalah narsis dengan bupati karanganyar itu, yang ingin berfoto-foto dahulu. Foto sebelum pendakian dimulai. Kami berpose layaknya boyband yang kesasar di tengah jalan raya ini, seakan-akan jalan ini milik kita. Milik 6 orang nekat yang akan mendaki gunung lawu nanti.

Puas berfoto, maka kami pun mulai mendaki. Padang bulan purnama menyinari langkah-langkah dalam kami mendaki, sehingga bahkan kami tak usah memerlukan senter untuk kami berjalan di malam yang terang ini. Senter kami matikan, dan jalanan masih tetap terlihat terang. Seolah-olah, ada cahaya lampu yang sangat terang yang menyinari kami dari atas sana. Dari bulan. Ini adalah kali pertama saya mendaki gunung tanpa senter pada malam hari. Dan itu sangat mengasyikan. Oiya, kami mendaki tadi itu dimulai ketika waktu menunjukkan hampir pukul 9 malam.

Dan, tanpa terasa kami sudah agak jauh berjalan, karena kami sangat ribut waktu itu. Sangat banyak omong. Sangat banyak membahas ini. Sangat banyak bercanda itu. Sangat banyak mencela dia. Sudah banyat menggosipkan mereka. Sudah banyak menggunjing semuanya. Aduh, maafkan kami para guru-guru SMA 2. Aduh maafkan kami juga kepada beberapa siswanya yang menggemaskan. Aduh, maafkan kami acara-acara TV beserta artisnya yang mungkin malah akan senang bila dibicarakan. Aduh, terutama, maafkan kami Mas Dono. Mas Dono yang Danar. Mas Danar Dono yang membina Vachera. Maafkan kami, karena apa lagi yang asik kita obrolkan selain hal-hal itu tadi?

Dan maka ternyata kami sudah melewati padang rumput itu. Juga sudah melewati pos 1 yang katanya jika malam sabtu dan minggu buka warung itu. Sudah sempat tidur sebentar di pos 2. Sudah hampir sampai ke pos 3. Dan sudah bau belerang. Dan bau belerang lagi. Dan bau belerang dimana saja kami berjalan. Memang begitu jika kamu sampai di dekat pos 3. Bau belerang yang memabukkan itu yang membuat pusing itu, yang bahkan dapat membuatmu mati jika kamu menghirup terlalu banyak itu, muncul meruap dari mana saja. Maka tidak disarankan bagi siapapun yang masih belum bosan hidup untuk berlama-lama disana. Dan kami belum bosan hidup. Maka kami tidak berlama-lama disana.

Aduh, perasaan apakah ini? Tiba-tiba menjadi berat begitu sampai di suatu tempat. Itu terjadi setelah hampir 3 jam kami mendaki. Oh, ternyata perasaan ini adalah perasaan mengantuk. Kompak, tidak ada satupun dari kami yang tidak mengalaminya. Itu karena hari-hari sebelum itu adalah hari-hari tanpat tidur bagi beberapa siswa Smada yang pemalas. Karena hari sebelum ini adalah hari jatuh tempo pengumpulan tugas paper, sebuah penelitian pertanggungjawaban karena kita piknik di Bali beberapa bulan yang lalu. Tidak usah kita bahas banyak-banyak karena saya tidak suka dengan tugas tersebut. Karena saya juga termasuk mereka. Orang-orang yang saat itu berprinsip “kalau bisa dikerjakan besok kenapa harus dikerjakan sekarang”. Termasuk mereka yang malas mengerjakannya. Sehingga saat besok itu sudah menjadi sekarang, maka saya kebingungan untuk mengerjakan tugas yang deadline­-nya sudah bisa dihitung dengan menggunakan jari satu tangan kanan itu. Dan tak ada pilihan lain selain mengerjakannya secara nocturnal. Atau hidup di malam hari untuk berhadapan dengan komputer, mengetik penelitian yang mengada-ada. Tanpa tidur.

Duh, sampai mana tadi? Oiya, mengantuk. Dan kami semua mengantuk. Sangat tidak mungkin untuk melanjutkan perjalanan dengan kondisi seperti ini. Walau pun tadi sudah makan jeruk, makan kopiko, makan apa saja cemilan yang ada dalam ransel BimoJamban, tetap saja kami semua mengantuk. Maka diputuskan, dibawah tebing itu kami akan membangun tenda untuk kemudian kami beristirahat. Dan tanpa sadar kami pun tertidur. Lelap sekali. Masih di bawah sinar bulan itu. Yang bulat itu. Yang di sekitarnya, terdapat pelangi yang berbentuk seeprti cincin itu. Yang itu ternyata bernama halo. Yang menurut kami semua, itu benar-benar indah sekali.

Pagi hari. Cuaca sangat cerah. Awan pun masih malu untuk menampakkan dirinya sehingga kami dapat melihat pemandangan bukit itu, entah apa namannya, yang ada di hadapan kami itu, dari ujung atas sampai bawah. Indah sekali. Dan kami pun bergantian untuk pipis. Pipis di atas sana. Di balik semak-semak. Dan juga tak lupa sholat shubuh. Dan juga tak lupa berfoto. Dan setelah itu adalah kegiatan masak-memasak seperti biasa. Makan-memakan seperti biasa juga. Maksudnya, saling berbagi dengan orang lain dalam hal makanan, tanpa membedakan bahwa ini dia yang beli atau itu saya yang beli. Ahh, indah sekali kebersamaan ini. Dan itu ada burung apa namanya melihat kami dari atas dahan pohon apa namanya. Ah, benar-benar indah sekali pagi ini. Indah dan agak dingin.

Matahari sudah agak tinggi. Perut sudah kenyang. Mata sudah segar. Tenda sudah dibereskan. Foto sudah banyak diambil. Sampah sudah dibersihkan insya Allah. Maka kami pun berangkat setelah memastikan tidak ada lagi yang harus dilakukan disini. Berangkat lagi. Berjalan lagi. Mendaki lagi.

Ternyata, jalanan yang kami lalui masih begitu. Masih dipenuhi batu-batu yang tersusun membentuk tangga seperti kemarin. Masih di jalan yang dipinggirnya terdapat pembatas itu. Pembatas yang dari besi itu. Hanya bedanya, sekarang kami lebih segar dan tidak mengantuk. Juga kami dapat melihat pemandangan di bawah sana yang Subhanallah indahnya gila.

Kemudian sampailah juga kami di jalan entah apa namanya ini. Jalan setapak yang sudah agak dekat dengan puncak ini. Fantastis sekali. Itu jalan setapak yang, jikalau kamu melihat ke kiri akan nampak tebing-tebing yang sangat curam, tapi juga sangat mengagumkan. Dan jika kamu melihat ke arah kanan, maka kamu akan mendapati pemandangan bumi dari atas awan. Benar-benar indah dan mengagumkan sekali. Mengingatkan saya pada jembatan setan yang ada di Merbabu sana. Dan lalu, tiba-tiba saja ada Gita Gutawa menyanyi. Apa? Dimana? Ternyata dari Hp si BimoJamban. Dia bernyanyi “Sempurna”. Wah, tiba-tiba jadi muncul sebuah ide. Ide untuk membuat video klip. Video klipnya Gita Gutawa dengan lagunya yang sempurna. Dengan background yang sempurna pula di atas Lawu ini. Pinjem kameranya Can! Oke. Fikar jadi kameramen, sedangkan kami menjadi 5 orang boyband bersuara emas layaknya Gita Gutawa. Action! Kami berjalan menyusuri jalan setapak itu. Berjalan menari melenggak lenggok kesana kemari, dengan bibir yang dimonyong-monyongkan agar jelas bahwa bibir kami juga berbahasa sama seperti bahasa bibir Gita Gutawa. Agar juga kamu mengerti bahwa kami juga mengucapkan kata-kata yang sama dengan yang Gita Gutawa ucapkan.

…Janganlah kau tinggalkan diriku,

hanya mampu menghadapi semua,

tanpa bersamamu ku takkan bisa..

kau adalah ……”

“Eh, salah-salah..”, itu Fikar yang tiba-tiba berkata di saat kami sedang menari-nari gila di sana.

“Aku lali nak sakjane aku ngetotke kalian, ra ketok mengko kowe.. lali aku.. sorry sorry..” yang itu artinya kira-kira dia lupa kalau seharusnya sebagai kameramen dia harus mengikuti kami berjalan. Wasem, tiwas udah bergaya gila-gilaan. Ah, tapi kalau Gita Gutawa nggak seru! Kurang Rock! Ada yang lebih rock lagi? Ada nih, “I will Survive” nya Cake. Gimana? Oke. Akhirnya kita pindah aliran. Yang seharusnya tadi mau bikin videonya Gita Gutawa berganti menjadi memalsu videonya Cake, dengan lagu I will Survivenya. Maka Ramon berperan sebagai gitaris sehingga dia mengambil dahan itu. Maka Ican berperan sebagai drummer yang Cuma punya stick dari batang yang diambilnya tadi itu, tanpa drum. Maka Ahong berperan sebagai bassis yang intrumen palsunya tak jauh berbeda dengan Ramon. Maka saya pun berperan sebagai peniup terumpet walau di lagunya sedikit sekali terdengar tiupan terumpet. Tidak apa-apa karena yang penting adalah gaya. Dan maka BimoJamban pun didaulat menjadi vokalis dengan mic dari botol aqua kosong. Dan tetap saja Fikar menjadi kameramen karena siapa lagi yang mau?

Action! Ramon mulai menggenjreng gitarnya. Menggenjreng seolah-olah di gitar itu terdapat senar. Ican juga sama. Mulai menabuh drum. Padahal mana drumnya? Ahong juga sama saja dengan Ramon. Dan saya juga tak kalah gila meniup batang yang seolah-olah terumpet ini, meskipun tidak ada suara terumpet pada menit awal lagu ini. Terumpet hanya ada pada melodi yang masih nanti. Dan Jamban juga menyanyi. Tapi sayang, apa yang dikeluarkan dari mulutnya sama sekali tidak sama dengan suara dari vokalis Cake yang meraung dari HP miliknya. Itu karena ternyata dia tidak hafal liriknya. Maka yang terlihat darinya adalah bibir yang kesana-kemari tanpa arti. Hanya pada saat reff saja dia dapat menyelaraskan bibirnya dengan lirik yang sebenarnya.

Oh, kawan. Lihatlah itu kami di jalanan setapak ini. Menari, menyanyi, bergoyang, menggenjreng gitar, menabuh drum, membetot bass, meniup terumpet, sambil terus berjalan ke depan. Menuju puncak Hargodumilah. Tidak ada seorang pun selain kami di sini. Di jalanan ini maksudnya, karena di atas nanti agak banyak pendaki. Tapi di sini, kami merasa seperti memiliki gunung ini sendiri. Tidak peduli dengan kesenangan duniawi lain. Tidak peduli dengan kehidupan di dunia di bawah sana. Dunia yang dalam pandangan kami sangat besar dan luas dibandingkan kami yang sangat kecil ini. Apalah itu kehidupan duniawi? Apalah itu kehidupan sekolah? Siapa yang peduli. Kami sedang di atas sekarang. Di negeri di atas awan. Maka kenapa juga kami harus memikirkan mereka yang berada di bawah awan? Kenapa juga kami pikirkan mereka yang sedang UAN? Terserah mereka. Itu urusan mereka, sedangkan kami di sini ingin bersenang-senang. Ini adalah dunia kami. Ini adalah negeri kami. Dan itu adalah negeri kamu, wahai para kakak kelas XII.

Aduh, capek sekali kami. Capek menari dan tertawa. Tak terasa kami pun sampai di sana. Di sendang derajat. Itu adalah tempat dimana terdapat mata air. Tempat seharusnya para pendaki bertenda sebelum menuju puncak. Itu ditujukan bagi para pendaki yang tidak mengantuk, yang sanggup berjalan sampai ke sana, sedangkan kami tidak. Setelah istirahat sebentar disana, berbasa-basi ini dan itu dengan para pendaki lain yang masih terlihat bertenda di sana, dan juga setelah mengambil beberapa botol persediaan air untuk diminum nanti, kami pun meneruskan perjalanan.

Tapi tak terasa juga kami sudah hampir sampai puncak. Tahukan kamu? Kami sekarang sudah sampai di pertigaan itu. Pertigaan yang jika kamu berjalan ke kanan maka kamu akan menemukan Hargodalem dengan warung pecelnya. Tidak, kamu tidak salah baca. Di sana benar-benar ada warung pecel. Ada rumah juga. Ada kebun juga. Ada ayam juga. Itu ayam ternak. Saya sendiri juga kaget melihatnya. Tapi, jika kamu ambil jalan ke kiri, maka kamu akan menemukan jalan ke atas yang sangat menanjak dan sudah tidak lagi berbatu. Sudah hanya tinggal tanah. Itulah jalan yang akan membawamu ke puncak Hargodumilah. Puncak tertinggi dari gunung ini. Gunung berketinggian 3265 meter di atas permukaan laut ini. Dan sudah tentu kami mengambil jalan yang kiri itu.

Beberapa menit kami mendaki, akhirnya kami sampai di sini. Di puncak. Puncakk!! Lega sekali hati saya. Hati mereka juga. Akhirnya sampai juga tujuan kami. Sampai juga di sini. Sampai. Sampai. Sampai hampir menangis karena haru. Sudah ada beberapa orang di sini. Itu adalah para pendaki yang sudah sampai di sini dahulu sebelum kami.

Oh, jika kau ada di sini sekarang kawanku, kau akan melihat betapa besar dan menakjubkan negeri Indonesia yang engkau pijak sekarang ini. Pandanglah itu di sebelah Barat, dimana terdapat gunung Merbabu, gunung Merapi, gunung Sindoro, gunung Sumbing, gunung Ungaran, dan beberapa gunung di Jawa Barat yang saya belum tahu apa itu namanya, terlihat tinggi menjulang menembus awan. Pandanglah itu di sebelah Utara dimana terlihat gunung Slamet yang masih agak malu untuk memperlihatkan tubuhnya. Pandanglah itu Timur dimana terdapat gunung Bromo dan gunung Semeru yang lebih tinggi lagi menjulang dan menantang kami. Oh, Semeru, gunung impian kami yang benar-benar ingin kami injak puncaknya. Dan oh itu di sebelah Selatan, apa itu biru? Ternyata itu adalah Samudra Hindia. Warna birunya benar-benar seperti kaca raksasa yang berkilauan memantulkan warna langit yang biru itu. Benar-benar menakjubkan sekali pemandangan yang kau dapat dari sini. Saya serasa berada di dunia yang lain. Serasa benar-benar berada di atas pulau langit. Dan awan-awan yang ada di bawah itu adalah lautnya. Dan gunung-gunung dan bukit-bukit yang menjulang menembus awan itu adalah pulau-pulau langit yang lain. Dan seolah-olah mereka yang ada disana sekarang, di puncak dari masing-masing gunung yang tinggi menjulang menembus langit itu, juga merasakan hal yang sama ketika melihat ke arah gunung Lawu. Terpana oleh kecantikkan bumi pertiwi. Dan lalu di bawah sana, di balik awan itu, adalah pulau Jawa yang sangat luas sekali. Oh negeriku, ini baru Pulau Jawa yang kami lihat, dan itu benar-benar sangat luas dan besar, dan kami ini, yang manusia ini, yang telah tinggal di pulau ini, benar-benar sangat kecil dibandingkan denganmu. Tapi seolah-olah kami, mereka, manusia-manusia yang tinggal di badanmu itu, benar-benar tidak sadar dengan itu. Seolah-olah kami telah merasa menguasaimu. Dan lalu dengan perasaan yang itu, maka kami dengan seenaknya merusak alammu. Dan kami tidak sadar, bahwa sekarang telah banyak akibat yang kami tanggung akibat perbuatan kami, para manusia itu. Maafkan kami yang benar-benar sangat kecil ini Ya Indonesia. Maafkan kami yang sangat tidak tahu diri ini Ya Allah. Keberadaan kami benar-benar sangat kecil di hadapanMu Ya Rabb. Maafkan ketololan dan ketidaktahuan diri kami ini.

Di puncak itu, terdapatlah sebuah tugu kecil. Yang anehnya, pada tugu tersebut masih ada juga sebuah iklan. Iklan buku tulis kiki. Lalu dicoret silang oleh Bibiz, yang itu entah orang atau apa tidak tahu. Lalu dibawahnya adalah coretan-coretan lagi. Coretan dari mereka yang mengaku sebagai pecinta alam tetapi tidak sadar akan kata arti kata “pecinta alam” itu sendiri. Tidak tanggung-tanggung, mereka bahkan memakai pilok untuk mencoret-coret tugu ini. Dasar!

Lalu di atas tugu itu, terdapatlah beberapa lubang yang digunakan untuk menancapkan tongkat bendera. Maka setelah puncak ini kosong dan tidak ada orang lagi, kami segera memasang bendera kuning kebanggan kami yang telah kami ikatkan kepada sebatang dahan yang kami bawa temukan tadi. Bendera kuning bertuliskan Vachera ini. Dan di atas bendera kuning ini, kami juga mengikatkan bendera negeri ini. Merah putih, berkibar juga disini. 2 bendera kebanggaan ini berkibar-kibar ditiup angin Lawu yang agak dingin. Ada rasa tertegun. Ada rasa haru. Ada rasa bangga. Ada rasa apapun yang membuat hati ini menjadi segar. Segar, bagai tidak memiliki persoalan-persoalan duniawi.

Setelah puas dengan semua ini. setelah sudah hampir 2 jam kami di sini, menikmati awan yang bergerak perlahan di bawah sana. Menikmati kabut yang semakin naik. Yang membuat pemandangan tadi hampir hilang ditelan putih. Setelah puas dengan foto-foto kami yang telanjang badan dan hanya memakai kolor itu. Setelah puas dengan itu semua, maka kami pun turun. Turun melewati jalur Cemoro Kandang. Maka ketika kami sampai di pertigaan yang tadi lagi, kami belok ke kiri, menuju hargodalem. Melewati warung pecel yang itu. Memberi salam kepada orang yang sedang duduk-duduk di kursi luar itu. Tidak mampir karena kami takut kehabisan uang.

Kami melewati ini, sebuah padang yang sangat menakjubkan. Padang, dimana di sepanjang jalan kamu memandang, yang ada hanyalah kumpulnya pohon bunga edelweiss. Di sana edelweiss. Di sini edelweiss. Dimana-mana edelweiss. Tapi sayang, waktu itu adalah bulan April, dan edelweiss yang benar-benar mekar bunganya baru sangat sedikit sekali. Tapi itu saja tidak mengurangi keindahan jalan ini karena daunnya pun juga tak kalah indah dengan bungannya. Daunnya yang hijau salju itu.

Maka tanpa terasa, setelah agak lama kami berjalan menyusuri jalur Cemoro Kandang yang landai itu, sampailah di pos 3. Wah, rumput di sini sangat hijau dan lembut. Bagai karpet raksasa sedang digelar di sini. Ah, itu adalah rombongan dari UPN Yogyakarta yang entah mau apa di sini. Kami tahu mereka darimana karena mereka sedang memasang spanduk. Sial, saya lupa apa tulisannya. Maafkan ya? Dan di rumput yang seperti karpet ini, yang menurut saya tidak kalah dari rumput di lapangan Maguwoharjo itu, kami tidur. Bukan tidur yang sebenarnya, tapi tidur-tiduran. Tidur-tiduran untuk menikmati lembutnya rumput ini. Aduh, sudah jam berapa ini? sudah waktunya sholat dhuhur. Maka kami pun sholat. Sholat yang sebelumnya tayamum karena tidak ada air di sini. Kata om UPN itu, air baru ada nanti ketika mendekati pos 2. Oh, subhanallah. Lihatlah kami yang sedang sholat itu. Di hamparan karpet hijau raksasa yang tak kalah dengan karpet di masjid-masjid pada umumnya. Benar-benar nikmat sekali. Ah, kita sudah selesai sholat. Istirahat sebentar sambil foto-foto. Hei, lihatlah itu di bawah. Di bawah sana itu. Lihatlah awan yang hitam gelap itu. Ternyata sekarang sedang mendung.

Maka, kita cukupkan saja jurnal harian ini sampai di sini. Sampai sini saja saya bernostalgia karena setelah ini adalah jalan yang zig-zag dari sini dari pos 3, hingga basecamp cemoro kandang yang sangat amat jauh dan hujan. Iya, hujan. Hujan lebat. Sampai pusing.

Mungkin akan bersambung. Mungkin juga memang berakhir di sini saja. Terimakasih dan merdeka!

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: