Arsip untuk Oktober, 2008

Sepulang dari Lawu

Bukan maksud saya untuk merahasiakan jurnal harian saya ketika sudah hampir selesai mendaki Gunung Lawu. Untuk itu, saya beberkan di sini cerita-cerita itu. Lagipula kenapa harus dirahasiakan jikalau memang tidak ada peristiwa yang penting atau berarti yang terjadi?

Maka ketika itu kami sudah hampir sampai di Cemoro Kandang. Sudah berlari, sudah berhujan-hujanan selama hampir 4 jam dalam jalan kuda yang zig-zag dan serasa tidak ada habisnya ketika menuruni Gunug Lawu. Nonstop. Suara motor dikejauhan sudah mulai terdengar. Peradaban!! Itu adalah peradaban!! Sudah 1 hari penuh kami di sini tidak mendengar suara mesin kecuali ringtone HP alarm dan suara ckrek kamera. Akhirnya sampai pada peradaban lagi, itu berarti kami sudah harus mengucapkan selamat tinggal dengan dunia di atas awan ini. Selamat tinggal…

Sampai juga di Basecamp Cemoro Kandang. Udara dingin menyambut kami berlima yang sedang basah kuyup. Menggigil begitu kami di dekat WC umum. Di sana ada beberapa anak yang sedang kemah memandangi kami dengan pemandangan bak melihat alien turun dari gunung. Tapi saya terlalu kedinginan sehingga tidak peduli. Menggigil begitu kami di sana sambil antri untuk mandi. Atau lebih tepatnya menunggu kawan-kawan saya mandi karena saya sudah terlalu gila dengan dinginnya sehingga memutuskan untuk mandi nanti saja ketika tubuh ini sudah agak sedikit bisa beradaptasi. Ambil air wudhu dan bersiap untuk sholat ashar. Perasaan pertama saat menyentuh air adalah “Arghh!!” Dinggiiinnnya minta mati. Air bagai serasa lebih dingin dari es yang sudah 3 hari disimpan dalam freezer. Mungkin tidak sedingin itu sebenarnya, tapi itulah yang saya rasakan. Saya sholat dengan menggigil yang amat sangat. Baca entri selengkapnya »

1 Komentar

Ini Namanya Judul

Lalu ini namanya isi. Kenapa memangnya? Kenapa saya menulis judul yang sangat menarik seperti itu? Jawabannya adalah agar tulisan yang terserah bagaimana menurutmu ini juga ikut dibaca. Kamu pasti tahu jika sepintar apapun isi suatu tulisan, pasti tidak akan dibaca jika judulnya tidak menarik. Dari mana kamu tahu? Dari mana saya tahu katamu? Oh, baby. Jika kamu membaca tulisan ini, maka itu adalah buktinya. Dan pastilah jika kamu sedang membuat tulisan, atau karangan, atau puisi, atau syair, atau lagu, atau pantun, atau sekedar tulisan tidak resmi tanpa aturan seperti ini, sebodoh apapun isinya, sejenius apapun pengarangnya, pastilah kamu juga memikirkan judul yang menarik agar tulisanmu juga ikut dibaca. Lalu jika sudah mendapat judul yang menarik, dan tulisanmu itu sudah siap dibukukan, jangan lupa untuk mendesain cover yang baik dan menarik juga. Setelah jadi, jangan lupa beri plastik pelindung agar bukumu tidak dapat dibaca ketika seseorang yang kebetulan lewat di sebuah toko buku, melihat sampul bukumu yang menarik dan timbul rasa penasaran terhadap bukumu. Sebelum mereka membelinya. Sebelum mereka puas atau malah kecewa dengan isinya. Jadi inti dari semua ini apa katamu? Intinya adalah… jadilah desainer sampul yang baik! Hahaha…

9 Oktober 2008

2 Komentar

Takbiran Ramai Sepi

Ketika itu adalah malam takbiran. Malam takbiran 2008. Malam terakhir di bulan ramadhan. Malam dimana saya tidak pergi ke masjid untuk mengumandangkan takbir seperti malam-malam yang lalu karena teman-teman sudah sedang mudik. Malam dimana sangat sepi sekali di rumah sehingga saya tidak tahu harus berbuat apa. Malam dimana saya memutuskan untuk pergi saja dari rumah sebentar untuk berkeliling kota Jogja. Malam dimana tak lupa juga saya membawa kamera untuk menemani berkelana. Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan komentar

IDUL FITRI 2008 MASEHI

Saat itu adalah saat hari pada saat tarawih ramadhan terakhir. Saat itu adalah ketika saya sedang melakukan aktifitas yang bernama buka bersama di rumah Topek, bersama beberapa kawan. Saat itu sudah sekitar pukul 7 lebih malam, dan sholat isya’ berjamaah sudah selesai dijalankan. Dan orang itu, yang gendut itu, yang saya dan kawan-kawan bicarakan karena perawakan tubuhnya yang gendut, dan rambutnya yang jabrik, dan kaosnya yang berwarna merah itu, dan berperawakan mirip dengan adik kelas saya, sudah selesai membacakan informasi tentang jumlah perolehan infaq selama bulan ramadhan di mesjid itu. Dan maka setelah itu adalah bapak yang tadi memimpin sholat itu naik ke mimbar dan berkhutbah. Berkhutbah tentang ini dan tentang itu. Dan kebetulan saya mendengarkan apa yang beliau sampaikan. Sampai saat terakhir beliau berkata begini,

“…Yang kita ucapkan setelah sholat ied itu seharusnya bukannya minal aidzin wal faidzin, tetapi seharusnya adalah TAQABALALLAHU MINNA WA MINKUM, karena itu artinya berarti adalah kita saling mendoakan agar kita dipertemukan lagi dengan ramadhan yang akan datang. Baru setelah itu kita mengucapkan MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN….(dst)”

Jadi begitulah kira-kira wahai pembaca. Maka dari itu, walau agak telat, saya ucapkan dan mohonkan juga kepada anda :

TAQBALALLAHU MINNA WA MINKUM.. TAQABLALLAHU YA KARIIM.. MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN.. MOHON MAAF LAHIR BATIN!” ^^

Tinggalkan komentar