Takbiran Ramai Sepi


Ketika itu adalah malam takbiran. Malam takbiran 2008. Malam terakhir di bulan ramadhan. Malam dimana saya tidak pergi ke masjid untuk mengumandangkan takbir seperti malam-malam yang lalu karena teman-teman sudah sedang mudik. Malam dimana sangat sepi sekali di rumah sehingga saya tidak tahu harus berbuat apa. Malam dimana saya memutuskan untuk pergi saja dari rumah sebentar untuk berkeliling kota Jogja. Malam dimana tak lupa juga saya membawa kamera untuk menemani berkelana.
Jogja sedang dingin. Dingin, tapi tidak hujan. Hanya sedikit mendung kala itu. Oh, takbir bergema dimana-mana. Di segala penjuru. Indah sekali terdengar di telinga. Kemana ya enaknya? Saya mengendarai motor tanpa tujuan. Tiba-tiba saja saya sudah ada di Jalan Solo. Lalu belok kiri di perempatan Janti. Lalu lewat jembatan layang. Indah sekali Jogja malam itu. Sinar-sinar lampu berkelipan di sana dan disana. Bagus sekali pemandangan dari atas jembatan layang. Oh iya, ke sana saja. Ke Wonocatur. Ke tempat kontrakan saya dahulu. Tiba-tiba saja saya kangen ingin lihat bagaimana bentuk rumah yang dulu saya kontrak untuk ditinggali selama hampir 3 tahun. Itu terjadi dari tahun 1994 sampai habis kontrak pada tahun 1997. Sudah lama saya tidak ke sana.
Sampai di Pertigaan Blok O. Aduh, apalagi ini. Ada sekelompok bus militer keluar dari gang kompleks dirgantara, itu gang sebelum pertigaan blok O. Ketika itu saya sedang ingin belok kiri, dan lalu terperangkap bus-bus biadab itu. Bus itu ada di depan dan belakang saya. Beriringan menggiring saya sehingga saya tidak bisa belok ke kanan pada saat seharusnya saya belok di gang dusun Wonocatur untuk mencapai kontrakan. Terpaksa saya lurus, berharap ada jalan untuk memutar.
Ternyata tidak ada. Tidak ada jalan memutar. Dan bus itu masih saja menggiring saya entah kemana. Ketika saya mendapat kesempatan dan sudah dapat menyalip bus paling depan, dan tentu saja sudah ada di depan bus-bus brengsek itu, sa ya baru sadar bahwa saya tidak tahu berada di mana. Aduh, kesasar di jogja? Kesasar di kota yang sudah saya tinggali selama 15 tahun ini? Yang benar saja!? Tapi itu benar. Saya benar-benar tidak tahu ini di mana. Kenangan selama 3 tahun tinggal di sini benar-benar tidak berguna. Dan pula, ini malam hari. Haduhh… Okelah, tenang. Saya terus berjalan entah kemana. Yang jelas ke selatan, karena saya yakin, dimanapun ini berada pastilah nanti tembusannya jalan Wonosari. Santai.
Di depan sangat ramai. Di depan itu. Di perempatan. Orang-orang pada beramai-ramai berhenti di sana untuk melihat. Saya juga ikut berhenti untuk melihat apa yang dilihat oleh mereka. Oh, ternyata di sana sedang ada semacam pawai. Pawai takbir keliling antar kampung. Ada tank. Ada mobil. Ada pesawat terbang. Ada bedug yang besar meraung-raung dipukuli oleh beberapa pemuda. Ada replika masjid yang berkelap-kelip. Ada anak-anak perempuan berkerudung yang entah kenapa rambutnya masih juga terlihat menari-nari membawa lampu. Ada anak-anak kecil memegang lampion berbagai bentuk juga ikut menari, yang diantara bentuknya terdapat bentuk yang sangat mengerikan. Bintang davidnya yahudi, lambang Israel. Itu yang bikin bodoh atau tolol saya tidak tahu dan tidak peduli. Dan ada anak-anak yang disemir rambutnya itu, yang duduk di atas mobil pick-up itu, bersama-sama mengumandangkan takbir dengan keras dan sembrononya. Seolah-olah mereka tidak tahu jika Tuhan yang mereka sembah itu Maha Mendengar dan Maha Melihat apa yang mereka lakukan. Biarin. Buat apa saya pikir. Yang saya pikirkan malah orang yang memakai rompi hijau scoutlight itu. Yang masih juga berseragam di malam yang dingin ini. Yang itu kita kenal dengan sebutan Bapak Polisi. Lihatlah itu beliau-beliau sibuk mengatur kendaraan yang ingin melintasi perempatan ini. Yang terhadang oleh pawai jalanan itu. Yang ramai ribut mengklakson seolah tak punya sabar. Seolah tempat yang dituju akan menghilang 5 menit lagi. Saya ambil kamera, lalu memotret beliau. Ckrek! Ciamik!
Saya melanjutkan perjalanan. Tujuan pertama saya, yaitu menengok rumah kontrakan saya dahulu, saya cancel. Sampailah saya di jalan wonosari. Santai saja belok kanan setelah melihat apa yang ada di barat sana. Kembang api yang berpendar-pendar dan meledak-ledak menghiasi pemandangan langit di ufuk barat sana. Yang saya tahu itu dari Alun-alun Utara. Saya putuskan untuk ke sana saja. Itu artinya saya harus lurus di perempatan ringroad di depan itu. Lalu terus saja lurus ketika melewati perempatan-perempatan berikutnya di Jalan…aduh lupa lagi namanya, pokoknya jalan yang menuju Alun-alun Utara itu. Banyak sekali lampu lalulintas yang saya lewati. Mungkin ada sepuluh. Mungkin lebih. Tidak apa-apa. Toh saya tidak terburu-buru. Tidak seperti orang itu. Orang yang baru saya menyalipku itu.
Alah, perempatan lagi. Perempatan Tamsis. Lampu merah lagi. Saya melihat ke samping kiri dan kanan. Pengguna motor juga. Yang kiri berboncengan, laki perempuan. Tidak tahu mau kemana karena saya tidak bertanya kepadanya. Saya ambil kamera, memotret lampu merah yang detiknya menunjukkan 17. Orang-orang yang ada di samping tadi melihat saya, tapi siapa yang peduli? Motor melaju lagi begitu saya tahu lampu telah berubah menjadi hijau.
Sampailah di alun-alun utara. Saya parkir motor di pinggir jalan, dimana pengguna motor yang lain juga pada parkir disitu. Waw, kembang api tiada henti diledakkan. Diledakkan oleh mereka yang berkuasa untuk membeli kembang api yang harganya sudah pasti mahal. Indah sekali. Indah sekali.
Di sana ada penjual jagung bakar. Di sana ada penjual bakso. Di sana ada penjual es degan. Tapi saya lebih tertarik dengan mi ayam yang dijual di samping penjual es degan. Maka saya pergi membeli mi ayam. Dan makan. Makan mi ayam dibawah letupan kembang api yang tiada henti meledak di atas sana. Oh langit kota Jogjakarta, begitu indah dirimu malam itu. Jelas saya ambil kamera. Mengubahnya pada mode fireworks. Memotret beberapa kembang api yang indah meledak di atas sana. Wah, baru kali ini mencoba mode fireworks dan hasilnya sangat memuaskan. Saya lihat orang-orang lain juga turut memotret. Memotret dengan blitz. Lalu kecewa. Wahai para fotografer, kau pasti tahu kenapa.
Sepi. Sungguh saya merasa sepi di sini. Di tengah mereka para manusia, motor, mobil, dan beberapa hewan yang lalu lalang di Alun-alun Utara ini, saya di sini sendiri, makan mi ayam dan memotret kembang api sendirian. Sepi. Sungguh sepi. Agak lama saya duduk di sana. Merasakan betapa indah kota Jogja malam itu. Merasakan betapa bodohnya saya di sana sendirian. Melihat mereka yang berpasang-pasangan itu berjalan kesana-kemari. Mendengarkan kakak adik yang terus saja berceloteh di depanku. Ahh.. manusia sebanyak ini tapi tidak ada satupun yang saya kenal.
Karena sudah merasa sangat bodoh, dan ngantuk, dan jam juga sudah menunjukkan pukul 10 malam, maka saya putuskan untuk menyudahi memandang kembang api yang terus saja meledak dari tadi. Cabut dari situ setelah sebelumnya membayar mi ayam dan es teh seharga 4 ribu kepada ibu yang menjual mi ayam itu. Mesra sekali ya Bu? Berjualan dengan suaminya di malam yang indah ini, di bawah letusan kembang api yang belum juga berhenti dari tadi. Tentu saja dia tidak menjawab karena saya hanya berkata di dalam hati.
Oh, Jogja masih juga ceria. Pawai takbir keliling juga ternyata masih ada di sini. Di perempatan kantor pos besar. Itu ada lambang Muhammadiyah yang sangat besar menyala, diarak oleh beberapa orang. Ada Al-Qur’an raksasa juga. Juga dibelakangnya ada replika Mesjid. Sungguh asik Jogja malam itu. Malam takbiran yang sungguh ramai di Jogjakarta. Di langit sana, kembang api masih juga terlihat tak berhenti meledak.

30 Oktober 2008

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: