Arsip untuk November, 2008

After 12 After Midnight

Dan pasti kamu tahu pada jam-jam seperti ini adalah suatu waktu yang menurut aku amat mengandung sesuatu seperti seolah-olah yang mereka sebut magis. Karena entah kenapa pada jam-jam ini, di saat beberapa dari kamu tertidur dengan lelap, bagi beberapa dari kamu yang lain, yang kebetulan bangun di tengah malam atau entah kenapa tidak tidur sedari tadi sore, dan tidak mengantuk, adalah suatu waktu dimana memori otak benar-benar dipenuhi oleh kejadian-kejadian masa lalu. Baik itu setahun, sebulan, sehari, atau bahkan beberapa waktu sebelum engkau akhirnya memutuskan untuk menulis sesuatu seperti ini.

Juga itulah yang terjadi padaku malam ini. Jika kamu bilang ini agak sedikit melankolis, aku bilang biarin. Karena memang itulah yang memang sedang aku pikirkan. Aku biarkan jari-jariku menari-nari di atas keyboard. Memutar kembali piringan hitam masa lalu. Biarlah mereka menari-nari tanpa terkendali karena memang aku tidak tahu akan menulis apa untuk kali ini. Dan kamu pasti sadar, bahwa mungkin baru kali ini aku menggunakan kata ganti “aku”, bukan “saya”. Biarin. Aku sedang ingin sedikit meniru mereka, pujangga angkatan 66 itu.

Dan jika kita masih mebicarakan tentang masa lalu, maka beberapa saat lalu, ketika saya menuliskan judul “After 12 After Midnight” ini, mungkin sudah terjadi beberapa peristiwa di luar sana. Mungkin saja di belahan Afrika sana, di suatu tempat di daerah pedalaman, terdapatlah seorang peneliti yang sedang dikejar babi hutan. Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan komentar

Nenek itu Pelangi itu

Sungguh, pagi ini adalah sebuah pagi di hari kamis yang sangat biasa, di musim hujan yang sangat biasa juga. Kamu tidak akan berkata “Wah!! Ini adalah hari kamis yang Anu!!” pada hari ini karena ini memang bukan suatu hari yang luar biasa. Atau itulah yang setidaknya saya rasakan karena apa yang saya tahu tentangmu? Dan sungguh, pada pagi itu adalah hari dimana saya harus masuk sekolah seperti biasanya. Dan sungguh, pada pagi itu, hujan turun gemerintik rintik kecil-kecil, sehingga kamu mungkin akan berpikir sangat tanggung jika menggunakan mantrol karena seolah-olah ini sedang tidak hujan, tapi kamu juga berpikir apa saya harus pakai mantrol karena hujan yang gemerintik kecil ini lama-lama juga pasti akan membasahi tubuh. Dan pagi itu, sungguh, saya berpikir untuk tidak pakai mantrol saja. Saya sedang malas melipat mantrol nanti jikalau dipakai. Lalu saya berangkat saja begitu.

Dan orang-orang itu, mereka yang pagi ini sedang melewati pertigaan ringroad timur itu, pastilah mereka sekarang sedang terkejut. Atau tidak. Karena jika mereka melihat ke arah barat, ya, ya,itu ada pelangi membentang begitu saja di sana. Besar sekali, membusur dari utara ke selatan. Dan karena saya sedang membawa kamera, maka saya berhenti saja begitu di sekitar hotel river castle itu. Berhenti untuk memotret sejenak karena pagi itu masih terlalu pagi untuk masuk sekolah. Bel masuk masih akan berbunyi sekitar 15 menit lagi.

Seandainya kamu adalah manusia seperti nenek itu, pastilah kamu juga akan menegur saya karena menghalangi jalannya naik sepeda. Karena pengalamanmu melihat pelangi pastilah lebih banyak daripada pengalaman anak yang baru sedang diam memandang pelangi di pinggir jalan ini. Kamu pastilah sedang berpikir untuk tidak ingin berpikir dan berpusing-pusing tentang bagaimana fantastisnya posisimu sekarang ini dengan matahari di belakangmu dan pelangi di depanmu itu sehingga secara kebetulan membentuk sudut sekitar 47°, dan sehingga kamu bisa melihat pelangi itu di matamu. Dan kamu pasti juga tidak ingin berpusing-pusing tentang bagaimana cahaya matahari itu dapat didispersikan dengan sempurna oleh air sehingga kamu dapat melihat warna pelangi yang tujuh dengan masing-masing panjang gelombangnya itu. Atau setidaknya, jika kamu bukan seorang yang suka berpikir secara optika fisis, kamu mungkin tidak ingin susah-susah untuk sedikit melirik dan menelusuri apa artifisial pelangi pagi itu. Atau romantisme dan filosofi yang ada di belakangnya karena sejauh apapun kamu mengejar, kamu tidak akan bisa menggapai pelangi. Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan komentar

Hidup 2008 – 2009

Bangun Mandi Mana sempat sarapan Berangkat 30 menit perjalanan Sekolah Istirahat Sekolah Istirahat Sekolah Praktikum Les Istirahat Les Pulang Hujan Capek Makan Tidur Bangun Mandi Berangkat 30 menit perjalanan Sekolah Istirahat Sekolah Istirahat Sekolah Praktikum Les Istirahat Les Pulang Hujan Capek Makan Tidur Bangun Dan begitu hingga hari “itu” semakin mendekat Dan begitu saja tanpa disadari

20 November 2008 Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan komentar

Ketika Vachera Ketika Lalala

vachera Dahulu, kala SMP, saya tidak tahu bahwa sebuah gunung itu pernah didaki, dan dipuncaki, oleh kumpulan pelajar SMA. Bahkan saya sempat percaya bahwa Gunung Merapi itu, tiap tahunnya, bergeser 5 meter ke barat. Itu informasi saya dapat dari sesama kawan di SMP 8 dahulu. Entah bagaimana, pokoknya dahulu saya tak pernah membayangkan sama sekali, akan melakukan kegiatan yang mereka namakan mendaki gunung.

Memasuki SMA, dan lalu sudah diospek, sudah dibentak-bentak, sudah PPLB—Pekan Pengenalan dan Latihan Baris-berbaris, dan maka seperti SMA mu pada umumnya, adalah kegiatan untuk memilih ekstrakulikuler. Sesaat setelah melihat daftar list-nya, ada 18 ekskul kalau tidak salah waktu itu, dan semuanya sama sekali tidak menarik bagi saya. Setidaknya untuk saat itu. Tapi karena waktu itu saya tidak ingin bosan karena tidak ada kegiatan, maka saya mencoba untuk masuk ekskul, yang entah bagaimana pikiran saya saat itu sampai masuk Klub Jurnal.

Awal masuk ekskul tersebut, kesan yang pertama kali saya dapatkan adalah, “Wah, aku yang paling ganteng disini!”. Bukan, bukan karena wajah saya ganteng, tetapi itu lebih dikarenakan karena saya adalah satu dari dua orang yang lelaki. Dan itu sangat membuat saya risih karena saya yakin kromosom saya bukan XXY, sehingga saya tidak terbiasa dengan perempuan begitu banyak. Iya kan Bu Maryati? Iya. Semoga iya. Dan karena itu, saya pindah ekskul. Saya mencoba masuk ekskul lain di Smada. Saya masuk ekskul Robotik. Kenapa? Saya juga tidak tahu. Mungkin karena pengaruh Gundam. Walau saya tahu tidak mungkin ada anak SMA yang bisa membuat Gundam.

Disini saya bertemu Richie. Anak kurus kerting yang lahir di London itu katanya. Dahulu, saat pertama kali bertemu, Richie masih kelas X juga, sama seperti saya saat itu. Anak kelas sebelah. Tapi seiring dengan waktu, ternyata sekarang dia sudah satu kelas dengan saya.

“Chi, itu gimana maksudnya? Kok robotnya bisa jalan sejalur sama itu plester?” Pakai bahasa Indonesia benar saat itu saya berkata, itu terjadi saat ada pertemuan rutin Robotik, dan itu adalah kali pertama saya ikut ekskul tersebut.

“Itu, adalah (bbzzzzzztt…..????)” Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan komentar

Sepotong Fajar

sepotong fajar

sepotong fajar

sesuatu yang ingin saya lakukan setelah membaca cerpen yang sangat bagus dari Seno G Ajidarma yang berjudul “Sepotong Senja untuk Pacarku” dalam buku antologi kumpulan Cerpen Kompas tahun 1992, “Pelajaran Mengarang”.

Tinggalkan komentar