Ketika Vachera Ketika Lalala


vachera Dahulu, kala SMP, saya tidak tahu bahwa sebuah gunung itu pernah didaki, dan dipuncaki, oleh kumpulan pelajar SMA. Bahkan saya sempat percaya bahwa Gunung Merapi itu, tiap tahunnya, bergeser 5 meter ke barat. Itu informasi saya dapat dari sesama kawan di SMP 8 dahulu. Entah bagaimana, pokoknya dahulu saya tak pernah membayangkan sama sekali, akan melakukan kegiatan yang mereka namakan mendaki gunung.

Memasuki SMA, dan lalu sudah diospek, sudah dibentak-bentak, sudah PPLB—Pekan Pengenalan dan Latihan Baris-berbaris, dan maka seperti SMA mu pada umumnya, adalah kegiatan untuk memilih ekstrakulikuler. Sesaat setelah melihat daftar list-nya, ada 18 ekskul kalau tidak salah waktu itu, dan semuanya sama sekali tidak menarik bagi saya. Setidaknya untuk saat itu. Tapi karena waktu itu saya tidak ingin bosan karena tidak ada kegiatan, maka saya mencoba untuk masuk ekskul, yang entah bagaimana pikiran saya saat itu sampai masuk Klub Jurnal.

Awal masuk ekskul tersebut, kesan yang pertama kali saya dapatkan adalah, “Wah, aku yang paling ganteng disini!”. Bukan, bukan karena wajah saya ganteng, tetapi itu lebih dikarenakan karena saya adalah satu dari dua orang yang lelaki. Dan itu sangat membuat saya risih karena saya yakin kromosom saya bukan XXY, sehingga saya tidak terbiasa dengan perempuan begitu banyak. Iya kan Bu Maryati? Iya. Semoga iya. Dan karena itu, saya pindah ekskul. Saya mencoba masuk ekskul lain di Smada. Saya masuk ekskul Robotik. Kenapa? Saya juga tidak tahu. Mungkin karena pengaruh Gundam. Walau saya tahu tidak mungkin ada anak SMA yang bisa membuat Gundam.

Disini saya bertemu Richie. Anak kurus kerting yang lahir di London itu katanya. Dahulu, saat pertama kali bertemu, Richie masih kelas X juga, sama seperti saya saat itu. Anak kelas sebelah. Tapi seiring dengan waktu, ternyata sekarang dia sudah satu kelas dengan saya.

“Chi, itu gimana maksudnya? Kok robotnya bisa jalan sejalur sama itu plester?” Pakai bahasa Indonesia benar saat itu saya berkata, itu terjadi saat ada pertemuan rutin Robotik, dan itu adalah kali pertama saya ikut ekskul tersebut.

“Itu, adalah (bbzzzzzztt…..????)”

bagian yang dikurung itu anggap saja sebagai penjelasan atas pertanyaan saya barusan, yang ia jawab dengan sangat serius dan mendetail. Tidak usah saya bahas karena saya sudah lupa. Saya sudah lupa sejak dua puluh detik setelah ia selesai menjelaskannya. Merasa tidak mampu dengan semua teknik elektro super hi-tech itu, saya pun memutuskan untuk tidak lagi mengikuti ekskul tersebut.

Sempat saya juga masuk ekskul Aeromodeling, tetapi juga begitu cepat saya memutuskan untuk keluar karena ternyata anggotanya hanya sedikit dan tidak ada satupun anggota yang saya kenal. Maka setelah saya diajak untuk masuk ekskul Frosa oleh kawan sekelas saya waktu itu, yang ternyata Frosa itu adalah nama organsisasi Palang Merah Remaja Smada, saya jawab boleh juga. Pertemuan pertama yang saya sempat datangi ternyata adalah saat pemilihan ketua umum Frosa yang baru. Dan ketika itu, adalah 3 orang yang calon terpilih untuk menjabat sebagai ketua Frosa. Ketiga orang itu satu per satu berdiplomasi seperti pemilu pada umumnya. Lalu pada saat akhir dilaksanakanlah pemilu itu sendiri. Saya memilih Mas Wachid, yang dalam diplomasinya tadi mengatakan “Jangan pilih saya ya…”.

Hari-hari setelah itu adalah hari-hari membosankan tanpa ekskul, karena Frosa juga ternyata tidak begitu menarik perhatian saya. Maintenance Komputer juga begitu. Saya tidak jadi tertarik untuk masuk begitu melihat Lab TI dulu. Sangat berantakan dan panas. Tidak seperti sekarang ini, yang sudah dingin karena empat buah AC yang baru. Hari-hari itu berlanjut saja begitu sampai akhirnya diadakan suatu event besar bernama Pensi.

Malam Pensi itu bertempat di Lapangan Upacara Smada. Bintang tamu yang akan tampil nanti adalah The Rain. Tapi tidak usah dibahas bagaimana jalannya pensi itu karena ada yang lebih menarik di belakang sana, di parkiran yang sekarang menjadi jalan masuk antara pintu luar dengan venue. Dan di sana itu, mungkin berasa agak sedikit sangat romantis, karena hanya diterangi oleh lampu-lampu badai yang menyala redup, hasil dari sumbangan paksa yang diwajibkan oleh panitia kepada para anak kelas X. Dan di sana itu juga, terdapatlah hal yang benar-benar menarik perhatian saya. Sebuah mading berisi kumpulan foto-foto pemandangan dan foto-foto narsis para anggota Organisasi Pecinta Alam di sekolahku. Bukan makhluk-makhluk yang berada dalam foto tersebut yang membuat saya begitu bergairah saat melihatnya, tetapi itu lebih dikarenakan oleh foto pemandangan yang terpampang dan background tempat mereka berfoto.

Awan itu berada di bawah. Di bawah mereka yang sedang bergaya itu. Awan itu menggumpal begitu saja seperti laut. Lalu di jauh sana, tampak seperti sebuah pulau lain. Pulau di atas awan. Mereka berada di atas awan. Di mana itu? Dunia lain kah? Itu adalah reaksi yang mungkin akan terjadi bila kamu tidak pernah mendengar cerita tentang pendakian sebuah gunung. Ya, mereka sedang berada di puncak gunung. Dan pulau yang ada di jauh sana itu adalah puncak dari gunung yang lain. Foto itu benar-benar, seolah-olah entah kenapa, memunculkan sebuah semangat yang entah apa. Mungkin sesuatu seperti saya juga ingin merasakan difoto di atas sana. Sebuah semangat narsis yang bodoh. Maka tanpa pikir panjang, saya memutuskan untuk mengikuti ekskul ini. Vachera, itulah nama organisasi itu.

Maka waktu pun berlalu seolah-olah waktu berjalan begtiu cepat sehingga kau merasa Einstein begitu benar dengan teori relativitasnya. Karena seiring dengan berlalunya waktu itu, sudah banyak sekali hal yang saya dapat di sini. Kamu tak akan bisa bayangkan bahwa seorang yang tidak pernah berolahraga seperti saya, tiba-tiba memutuskan untuk menjadi seorang petualang dan pendaki gunung. Kamu tak akan tahu bahwa ketika untuk pertama kalinya saya mendaki, sekitar sepuluh menit setelah berjalan dari basecamp, saya memaki-maki di dalam hati, menyesal kenapa saya harus memasuki ekskul yang benar-benar membuat lelah ini seolah-olah saya lupa bahwa mendaki gunung itu diperlukan kekuatan fisik yang cukup kuat. Tetapi ketika kamu sudah mencapai tujuanmu. Ketika kami sudah mencapai pos dua merbabu (karena memang disitulah tempat pelantikan kami, para keluarga yang baru saat itu) dan pagi sudah menyambutmu. Ketika kamu melihat ke arah barat sana, di dekat jurang itu, ya, ya, sedikit agak menerabas semak-semak yang di sana itu, dan kamu akan menemukan sebuah tanah lapang yang jika kamu melihat lurus ke depan, kamu akan melihatnya. Melihat apa yang saya lihat di dalam foto waktu pensi dahulu malam. Ternyata benar. Ternyata bukan hasil dari editan adobe photoshop. Gumpalan awan itu memang benar-benar ada di bawah kakimu. Pulau langit itu benar-benar ada dan terlihat di jauh sana. Pulau-pulau yang setelah saya tahu ternyata itu adalah puncak dari Gunung Sumbing dan Sindoro. Sungguh indah. Sungguh menakjubkan. Seolah-olah rasa lelah akibat pendakianmu yang selama hampir 5 jam lebih tadi malam itu hilang begitu saja, diserap oleh pemandangan yang begitu menakjubkan yang tersaji di depan matamu itu. Sungguh indah.

Dan seiring dengan berlalunya waktu, maka seperti inilah kami sekarang. Di tengah belantara Gunung Merapi beberapa hari yang lalu, sedang memberi materi diksar untuk mereka para anak kelas X, calon anggota baru Vachera. Waktu-waktu yang indah ketika kami berpetualang bersama, menelusuri daerah-daerah baru yang bahkan kami tak tahu itu dimana. Melewati petualangan-petualangan yang mendebarkan tetapi juga menyenangkan. Berbagi cerita, berbagi canda, berbagi tawa, berbagi makanan, berbagi minuman, berbagi roti, mi goreng, paravin, sleeping bag untuk berselimut, sarung, dan hal-hal lain yang membuatmu seperti seakan mereka adalah bagian dari keluargamu. Semua itu berlalu tidak begitu saja. Semua masih terekam jelas dalam ingatan. Semua terekam tak pernah mati. Tetapi sebagai manusia yang masih normal, sebagai manusia kelas XII SMA yang sebentar lagi akan menghadapi berbagai ujian seperti UAN, UM, dan sebagai-bagainya, kecuali jika kamu seperti Ilham dan nama panggilanmu adalah Sum, kakak kelas saya yang masih saja mendaki walaupun sudah mendekati masa ujian, maka sudah sewajarnya bagi kami untuk vakum sejenak dari kegiatan semacam itu. Dan yang tersisa sekarang, setelah kami resmi lengser dari jabatan-jabatan di organisasi itu, dan setelah otak kami harus terpaksa dipacu untuk belajar dan belajar, adalah tinggal mengenang semua itu. Semua kenangan indah itu. Semua kenangan yang tak akan terlupakan itu. Semua haru biru kegiatan yang telah kami lakukan bersama. Semua itu akan terus tersimpan dalam hati ini, dan juga dalam file-file foto-foto digital dalam komputer kami. Sampai pada akhirnya nanti, ketika puncak yang bernama “lulus” dan “diterima di fakultas yang diinginkan” ini sudah tercapai, kita akan mendaki gunung bersama lagi. Ketika Vachera Ketika Lalala.

7 November 2008

*”Ketika Lalala” : sebuah lagu dari C’mon Lennon

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: