Nenek itu Pelangi itu


Sungguh, pagi ini adalah sebuah pagi di hari kamis yang sangat biasa, di musim hujan yang sangat biasa juga. Kamu tidak akan berkata “Wah!! Ini adalah hari kamis yang Anu!!” pada hari ini karena ini memang bukan suatu hari yang luar biasa. Atau itulah yang setidaknya saya rasakan karena apa yang saya tahu tentangmu? Dan sungguh, pada pagi itu adalah hari dimana saya harus masuk sekolah seperti biasanya. Dan sungguh, pada pagi itu, hujan turun gemerintik rintik kecil-kecil, sehingga kamu mungkin akan berpikir sangat tanggung jika menggunakan mantrol karena seolah-olah ini sedang tidak hujan, tapi kamu juga berpikir apa saya harus pakai mantrol karena hujan yang gemerintik kecil ini lama-lama juga pasti akan membasahi tubuh. Dan pagi itu, sungguh, saya berpikir untuk tidak pakai mantrol saja. Saya sedang malas melipat mantrol nanti jikalau dipakai. Lalu saya berangkat saja begitu.

Dan orang-orang itu, mereka yang pagi ini sedang melewati pertigaan ringroad timur itu, pastilah mereka sekarang sedang terkejut. Atau tidak. Karena jika mereka melihat ke arah barat, ya, ya,itu ada pelangi membentang begitu saja di sana. Besar sekali, membusur dari utara ke selatan. Dan karena saya sedang membawa kamera, maka saya berhenti saja begitu di sekitar hotel river castle itu. Berhenti untuk memotret sejenak karena pagi itu masih terlalu pagi untuk masuk sekolah. Bel masuk masih akan berbunyi sekitar 15 menit lagi.

Seandainya kamu adalah manusia seperti nenek itu, pastilah kamu juga akan menegur saya karena menghalangi jalannya naik sepeda. Karena pengalamanmu melihat pelangi pastilah lebih banyak daripada pengalaman anak yang baru sedang diam memandang pelangi di pinggir jalan ini. Kamu pastilah sedang berpikir untuk tidak ingin berpikir dan berpusing-pusing tentang bagaimana fantastisnya posisimu sekarang ini dengan matahari di belakangmu dan pelangi di depanmu itu sehingga secara kebetulan membentuk sudut sekitar 47°, dan sehingga kamu bisa melihat pelangi itu di matamu. Dan kamu pasti juga tidak ingin berpusing-pusing tentang bagaimana cahaya matahari itu dapat didispersikan dengan sempurna oleh air sehingga kamu dapat melihat warna pelangi yang tujuh dengan masing-masing panjang gelombangnya itu. Atau setidaknya, jika kamu bukan seorang yang suka berpikir secara optika fisis, kamu mungkin tidak ingin susah-susah untuk sedikit melirik dan menelusuri apa artifisial pelangi pagi itu. Atau romantisme dan filosofi yang ada di belakangnya karena sejauh apapun kamu mengejar, kamu tidak akan bisa menggapai pelangi.

Dan nenek itu, yang sedang naik sepeda di depan saya itu, lewat begitu saja setelah menegur saya. Dan lalu meneruskan perjalanannya bersepeda. Disusul kakek yang hanya tersenyum saja melihatnya. Dan saya pergi juga, berangkat ke sekolah. Dan pelangi itu juga pergi. Yayaya, saya juga paham. Sudut yang terbentuk sudah tidak lagi 47°. Yayayaya.

20 November 2008

pelangi

pelangi

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: