Arsip untuk Desember, 2008

Matahari Terakhir 2008 dan Pesta Pora

Jika kamu sempat melihat pemandangan langit pada jam 6 sore tadi, maka kamu akan melihat pemandangan yang menurut saya mengandung arti filosofi yang amat mendalam. Sungguh, pada jam itu, pada waktu adzan maghrib, sebuah panggilan Allah untuk segera sholat Maghrib dan sebuah tanda bahwa matahari terakhir 2008 telah terbenam, sudah selesai dikumandangkan, jika kamu lihat pemandangan langit di sana, di atas, masih saja berwarna ungu. Seolah-olah, matahari enggan terbenam tahun ini. Seolah-olah, beliau masih ingin bersinar tahun ini. Karena, seolah-olah, tahun depan adalah sebuah tahun yang berat dimana dampak krisis global mencapai klimaksnya pada 4 bulan pertama di tahun itu. Belum lagi juga kalau kita bicara tentang pemilu yang juga akan dilaksanakan tahun itu juga (who care!?). Belum lagi jika kita membicarakan Israel bangsat itu yang sepertinya akan benar-benar melakukan serangan yang benar-benar besar pada saudara kita Palestina pada tahun itu juga. Belum lagi juga kalau saat ini kamu adalah anak kelas XII SMA yang masa depannya benar-benar ditentukan pada tahun itu juga. Ohhhh…sungguh sebuah pandangan pesimisme terhadir seketika menjelang pergantian tahun baru ini. Juga juga juga.

Tapi bagaimana pun juga, tetap saja entah kenapa masih sempat-sempatnya juga kita-kita ini tidak lepas dari sebuah perayaan gila-gilaan untuk menyambut tahun baru ini. Euforia macam pesta hura-hura, turun ke jalan, kebut-kebutan, diskon mall, kembang api, menggosip, dansa, dansa, dansa, menggila, menggelinjang, mabuk, mabuk, mabuk, menari purbakala, lari, berteriak-teriak, telanjang, beringas, mengaum, ahooyy…!!! Hey!! Senang-senang-senang sekali!!! Free!! JERK IT OUT!!

Euforia binatang.

Ya, mungkin apa yang kita pikirkan itu masuk akal. Apa bedanya hari ini dengan besok? Toh tetap saja besok matahari terbit dari timur. Apa bedanya dengan hari ini dan kemarin? Atau mungkin kamu pikir tidak? Sehingga kamu harus berpesta gila seperti itu karena kamu pikir besok adalah hari kiamat? Tidak, karena jika kamu berpikir seperti itu pastilah kamu akan pergi ke Masjid untuk berzikir secara maksimal. Atau paling tidak kamu akan melihat acara dzikir nasional yang dipimpin oleh ustadz Arifin Ilham nanti malam di TV One. Tapi jika kamu tidak berfikir seperti itu, maka apa yang kamu pikirkan? Sementara saudara kita yang ada di Palestina itu sekarang ini benar-benar sedang berjuang mati-matian melawan penjahat paling biadab di dunia ini bernama zionis israel. Oh wahai, apa kamu tidak melihat TV, apa kamu tidak melihat bagaimana sebuah wilayah bernama Gaza sudah hancur lebur diporak-porandakan oleh segi enam biru sialan itu dan telah menghasilkan mayat saudara kita sebanyak lebih dari 370 jiwa lebih? Tidak bisa membayangkan kah kamu ketika kamu nanti berfoya-foya dalam euforia binatang itu, para pemuda itu, pemuda Palestina itu, terus saja berjihad dengan segala cara untuk melawan kekejaman israel? Bahkan hanya bersenjatakan sebuah batu, mereka berani melawan tentara israel yang memakai protector dan persenjataan lengkap. Apa kamu tidak pernah mencoba bayangkan, bahwa jika seolah-olah Jogja adalah Gaza, sehingga pada saat kamu mengira secercah cahaya merah yang menyala pada jam 12 malam nanti itu adalah kembang api, ternyata itu adalah sebuah bom yang diluncurkan oleh pesawat siluman israel yang dengan sangat cepat memporak-porandakan alun-alun utara. Sehingga semua pada mati. Sehingga penyanyi dangdut itu juga mati. Sehingga baik tua muda, kaya miskin, pendosa atau bertaqwa, semuanya mati. Sehingga semua bangunan pada terbakar. Ohh, asik sekali! Asik sekali!! Langit menyala merah dan tanah dialiri darah!! Ohh, semua merah!! Asik sekali!! Ayo kita menari lagi, menggelinjang bersama mengelilingi api itu!!!

Gila! Lalu buat apa kamu tadi siang repot-repot berdemo menentang penjajahan zionis itu? Sinting!

Matahari sudah benar-benar tenggelam. Langit yang tadi ungu sudah berganti menjadi hitam pekat. Selamat tahun baru hijriyah. Selamat tahun baru masehi. Selamat bertambah umur Bumiku. Selamat bertambah tua. Bertambah umur. Bertambah dekat dengan kiamat. Bertambah dekat dengan mati.

Ohh…jerk itu out!

palestine Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan komentar

Obrolan Ikan Asin

Adalah mereka itu, para manusia yang sedang di jembatan itu, duduk-duduk saja begitu di sana untuk sekedar menikmati pemandangan sore. Seharusnya mereka melakukan kegiatan yang dinamakan revolling, atau turun ke bawah jembatan dengan menggunakan tali, seperti dapat kamu lihat ketika tim rescue melakukan penyelamatan dengan turun dari helikopter, dengan menggunakan tali. Tetapi tidak. Merreka tidak melakukannya. Walaupun pada kenyataan yang dapat kita seksama lihat bahwa tali karmantel sudah terpasang manis dan berbagai macam peralatan seperti carabiner, figure eight, webbing, bahkan hernes (yang ini terus terang saya tidak tahu bagaimana ejaan bakunya) sudah tersedia berpasang-pasang. Tak lupa berpasang-pasang sarung tangan juga ada di sana. Mereka semua rasa juga tidak ada yang kurang kalau untuk sekedar melakukan penurunan. Tetapi bagi mereka itu, yang terus saja sedari tadi duduk saja untuk sekedar menikmati rambutan kecil-kecil dipadu dengan ikan asin campur sambal, entah kenapa sangat nyaman untuk terus saja duduk menghabiskan waktu untuk bersantai serta bersenda gurau di atas jembatan.

Mereka duduk saja begitu, membicarakan apa saja yang dapat mereka bahas saat itu. Termasuk juga bagaimana mereka menjalani ujian semester beberapa hari yang lalu, dimana beberapa dari mereka adalah sungguh tidak beruntung mengetahui dirinya harus remidi dalam berbagai pelajaran. Dan juga mereka, yang kebanyakan darinya adalah memasuki program kelas IPA, harus menerima kenyataan berat bahawa ternyata pelajaran-pelajaran seperti Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi itulah dimana remidi yang mereka harus jalani. Dan juga beberapa pelajaran seperti PKn, Bahasa Inggris, dan lain-lain juga tak luput. Seolah-olah mereka tidak peduli bahwa adik kelasnya beberapa waktu lalu sudah sibuk sendiri untuk memasang tali carmantel agar supaya mereka yang sudah datang kesini tidak kecewa dan bisa melakukan aksi descending dengan berbagai macam gaya. Tetapi kenyatannya, mereka bahkan sama sekali tidak memegang benda bernama carabiner, figure eight, atau webbing. Hanya pinggiran matras dipegang sedikit untuk melap saos sambal. Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan komentar

Filosofi Reaksi Fusi

Jangan merasa hidup terselubungi kegelapan,

Kamu hidup di alam terang benderang

Jangan kamu meratapi keputusasaan,

Pada alam ini terdapat sejuta harapan

Jangan kamu berjalan pada kegelapan,

Pada alam ini terdapat matahari

Tinggalkan komentar

Aku Saya Gue Bleh!!

Saya rasa kita, bangsa Indonesia ini, sepertinya agak mengalamai sedikit dilema ketika menggunakan kata ganti orang pertama “aku” dalam menuliskan sebuah prosa. Saya rasa saja, lho. Atau mungkin hanya saya yang merasa? Karena entah kenapa, saya sama sekali tidak nyaman untuk menggunakan berbagai kata ganti “aku” yang sudah tersedia di dalam Bahasa Indonesia dalam menuliskan sesuatu. Mari kita coba sedikit dengan suatu eksperimen kecil.

Jikalau saya mempunyai kalimat seperti ini :

(….) membeli kerupuk.

Dan kita masukkan satu-satu kata ganti “aku” yang ada, maka akan terjadi : Baca entri selengkapnya »

2 Komentar