Aku Saya Gue Bleh!!


Saya rasa kita, bangsa Indonesia ini, sepertinya agak mengalamai sedikit dilema ketika menggunakan kata ganti orang pertama “aku” dalam menuliskan sebuah prosa. Saya rasa saja, lho. Atau mungkin hanya saya yang merasa? Karena entah kenapa, saya sama sekali tidak nyaman untuk menggunakan berbagai kata ganti “aku” yang sudah tersedia di dalam Bahasa Indonesia dalam menuliskan sesuatu. Mari kita coba sedikit dengan suatu eksperimen kecil.

Jikalau saya mempunyai kalimat seperti ini :

(….) membeli kerupuk.

Dan kita masukkan satu-satu kata ganti “aku” yang ada, maka akan terjadi :

Saya membeli kerupuk.

Gue membeli kerupuk.

Aku membeli kerupuk.

Aq membeli kerupuk.

Q membeli kerupuk.

Akkyu membeli kerupuk.

Aqyu membeli kerupuk.

I membeli kerupuk.

Diri ini membeli kerupuk.

Aneh nggak? Kenapa ya saya merasa sedikit ganjil? Dalam ketika saya menuliskan kata “saya”, akan terdengar sebuah bunyi yang seolah-olah saya adalah si formal. Jika saya masukkan kata “gue”, akan terdengar bunyi menyebalkan seolah-olah saya ini produk Jakarta. Jika saya masukkan kata “aku”, akan terdengar sebuah bunyi yang seolah-olah meninggikan diri sendiri, laiknya mereka para pujangga gunakan. Lain jika yang saya gunakkan adalah macam “Aq” atau “Q” seperti jika kamu ber-sms. Entah kenapa rasannya malah lebih mirip dibaca “Akhi” atau “Khi” membeli kerupuk. Malah jauh sekali dari arti kata “aku” yang ingin dimaksudkan. Lucu juga jika kita gunakan “akkyu” atau “aqyu”, entah kenapa terasa seolah-olah saya adalah seorang anak kecil atau XXY. Lalu “I”, memangnya saya Inggris? Dan “diri ini”? sangat tidak masuk akal jika saya bukan penulis lirik dari sebuah lagu untuk memasukkannya ke dalam sebuah prosa.

Seolah-olah tidak ada kata ganti “aku” yang benar-benar memiliki arti kata “aku” seeprti yang ingin saya maksud. Seperti “I” dalam bahasa inggris yang benar-benar berarti “I”. Entah kenapa terasa begitu. Tapi tak mengapa karena saya cinta bahasa Indonesia. Dan “saya”lah kata ganti “saya” yang menurut saya paling enak untuk di dengar. Setidaknya bagi saya.

Iklan
  1. #1 by jon waki on Desember 22, 2008 - 12:07 am

    egepe lah..nyang penting org yang gwe ajak omong ngarti pe nyang gwe sampein ..ha ha ha

    “apalah arti sebuah bahasa..” nyang penting sinyalnye konek :D

  2. #2 by sleeplessstudent on Desember 22, 2008 - 4:36 am

    ahahaha,
    jadi kepikiran, siapa yang bikin kata bahasa hayo?
    kenapa juga kita mengerti bahwa apa yang dimaksud dengan “bahasa” adalah sebuah isyarat komunikasi untuk agar kita bisa mengerti cakap-cakap kita antar sesama?
    alah, tambah ngawur..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: