Matahari Terakhir 2008 dan Pesta Pora


Jika kamu sempat melihat pemandangan langit pada jam 6 sore tadi, maka kamu akan melihat pemandangan yang menurut saya mengandung arti filosofi yang amat mendalam. Sungguh, pada jam itu, pada waktu adzan maghrib, sebuah panggilan Allah untuk segera sholat Maghrib dan sebuah tanda bahwa matahari terakhir 2008 telah terbenam, sudah selesai dikumandangkan, jika kamu lihat pemandangan langit di sana, di atas, masih saja berwarna ungu. Seolah-olah, matahari enggan terbenam tahun ini. Seolah-olah, beliau masih ingin bersinar tahun ini. Karena, seolah-olah, tahun depan adalah sebuah tahun yang berat dimana dampak krisis global mencapai klimaksnya pada 4 bulan pertama di tahun itu. Belum lagi juga kalau kita bicara tentang pemilu yang juga akan dilaksanakan tahun itu juga (who care!?). Belum lagi jika kita membicarakan Israel bangsat itu yang sepertinya akan benar-benar melakukan serangan yang benar-benar besar pada saudara kita Palestina pada tahun itu juga. Belum lagi juga kalau saat ini kamu adalah anak kelas XII SMA yang masa depannya benar-benar ditentukan pada tahun itu juga. Ohhhh…sungguh sebuah pandangan pesimisme terhadir seketika menjelang pergantian tahun baru ini. Juga juga juga.

Tapi bagaimana pun juga, tetap saja entah kenapa masih sempat-sempatnya juga kita-kita ini tidak lepas dari sebuah perayaan gila-gilaan untuk menyambut tahun baru ini. Euforia macam pesta hura-hura, turun ke jalan, kebut-kebutan, diskon mall, kembang api, menggosip, dansa, dansa, dansa, menggila, menggelinjang, mabuk, mabuk, mabuk, menari purbakala, lari, berteriak-teriak, telanjang, beringas, mengaum, ahooyy…!!! Hey!! Senang-senang-senang sekali!!! Free!! JERK IT OUT!!

Euforia binatang.

Ya, mungkin apa yang kita pikirkan itu masuk akal. Apa bedanya hari ini dengan besok? Toh tetap saja besok matahari terbit dari timur. Apa bedanya dengan hari ini dan kemarin? Atau mungkin kamu pikir tidak? Sehingga kamu harus berpesta gila seperti itu karena kamu pikir besok adalah hari kiamat? Tidak, karena jika kamu berpikir seperti itu pastilah kamu akan pergi ke Masjid untuk berzikir secara maksimal. Atau paling tidak kamu akan melihat acara dzikir nasional yang dipimpin oleh ustadz Arifin Ilham nanti malam di TV One. Tapi jika kamu tidak berfikir seperti itu, maka apa yang kamu pikirkan? Sementara saudara kita yang ada di Palestina itu sekarang ini benar-benar sedang berjuang mati-matian melawan penjahat paling biadab di dunia ini bernama zionis israel. Oh wahai, apa kamu tidak melihat TV, apa kamu tidak melihat bagaimana sebuah wilayah bernama Gaza sudah hancur lebur diporak-porandakan oleh segi enam biru sialan itu dan telah menghasilkan mayat saudara kita sebanyak lebih dari 370 jiwa lebih? Tidak bisa membayangkan kah kamu ketika kamu nanti berfoya-foya dalam euforia binatang itu, para pemuda itu, pemuda Palestina itu, terus saja berjihad dengan segala cara untuk melawan kekejaman israel? Bahkan hanya bersenjatakan sebuah batu, mereka berani melawan tentara israel yang memakai protector dan persenjataan lengkap. Apa kamu tidak pernah mencoba bayangkan, bahwa jika seolah-olah Jogja adalah Gaza, sehingga pada saat kamu mengira secercah cahaya merah yang menyala pada jam 12 malam nanti itu adalah kembang api, ternyata itu adalah sebuah bom yang diluncurkan oleh pesawat siluman israel yang dengan sangat cepat memporak-porandakan alun-alun utara. Sehingga semua pada mati. Sehingga penyanyi dangdut itu juga mati. Sehingga baik tua muda, kaya miskin, pendosa atau bertaqwa, semuanya mati. Sehingga semua bangunan pada terbakar. Ohh, asik sekali! Asik sekali!! Langit menyala merah dan tanah dialiri darah!! Ohh, semua merah!! Asik sekali!! Ayo kita menari lagi, menggelinjang bersama mengelilingi api itu!!!

Gila! Lalu buat apa kamu tadi siang repot-repot berdemo menentang penjajahan zionis itu? Sinting!

Matahari sudah benar-benar tenggelam. Langit yang tadi ungu sudah berganti menjadi hitam pekat. Selamat tahun baru hijriyah. Selamat tahun baru masehi. Selamat bertambah umur Bumiku. Selamat bertambah tua. Bertambah umur. Bertambah dekat dengan kiamat. Bertambah dekat dengan mati.

Ohh…jerk itu out!

palestine

31 Desember 2008

19.37 WIB

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: