Arsip untuk Januari, 2009

Seolah-olah Saya sedang Berbicara Denganmu, Hei Einstein!

Hei! Kau yang sedang menjulurkan lidah padaku itu. Yang disampingmu tertulis rumus maha dashyat yang telah kau temukan itu. E = mc² itu. Arrghh.. seolah-olah. Seolah-olah sekarang ini, jam 4 pagi ini, pagi yang dingin ini, seolah-olah kamu keluar dari buku diktat kimia dan mengejekku dengan berkata:

Ketika saya tidak mempunyai persoalan khusus yang harus dipecahkan oleh pikiran saya, saya sering mengumpulkan dan menyusun kembali bukti-bukti teorema matematika dan fisika yang telah lama saya kenal. Tidak ada maksud dan tujuan lain; itu semata hanyalah kesempatan bagi saya untuk terus memenuhi kesenangan dan kebutuhan berpikir”.

Hei!! Kau menghinaku? Seolah-olah dari tadi saya diam itu karena saya telah mengerti semua apa yang saya pelajari? Seolah-olah yang saya lakukan ini karena saya mempunyai waktu yang amat luang?”

Lalu?”

Saat ini entah kenapa saya seharusnya belajar kimia, dan nanti itu, beberapa jam lagi, adalah Latihan Ujian Nasional putaran pertama MKKS Jogja, dan kau pikir saya telah mengerti semua materi semua ini? Semua yang ada tertulis di SKL ini? Argghh.. Chemist is the worst nightmare for me!!”

Jangan pernah menganggap belajar sebagai suatu kewajiban, tetapi anggaplah ia sebagai suatu kesempatan untuk membebaskan diri dalam mempelajari keindahan alam da kehidupan.”

Fvck! Kau pikir kau tahu bagaimana sistem pembelajaran Indonesia saat ini? Kau pikir saya mengerti apa yang saya pelajari? Kau pikir saya mengerti untuk apa saya mempelajari ini semua, kalau tidak lain tujuannya hanyalah agar saya lulus UAN dan diterima di UM? Baca entri selengkapnya »

1 Komentar

Senandung Di Atas Awan

awan 1

Ini adalah kutipan omongan penyiar radio beberapa minggu yang lalu yang saya dengar di atas Merbabu, di pos II :

“Hidup adalah pengorbanan

Jika nggak mau berkorban, berarti kamu nggak mau hidup

Jika nggak mau hidup, mati saja kamu

Jika nggak mau mati, nggak usah hidup!”

Haha. Nggak nyambung!

Maka hirup saja udara segar ini kalau begitu. Rasukkan ke dalam tubuh. Rasakan apa saja yang terkandung. Buka jaketmu. Rasakan dinginnya. Hmm.. Disertai dengan bunyi radio handphone yang kemresek, dan secangkir kopi cofeemix yang dibuat apa adanya dengan air dari mata air Merbabu, sungguh nikmat pagi itu. Bahkan suara Charlie ST 12 atau Ryan D’Massive yang keluar dari mulut speaker radio ini pun terdengar begitu merdu di sini. Sembari menikmati hembusan angin dan awan yang naik ke atas dan menerpa muka dan tubuh sehingga menjadikannya sedikit basah. Dan memandangi pucuk Sindoro, Sumbing, dan Slamet di kejauhan sana yang terkadang tertutup awan. Dan jika tiba suatu waktu dimana awan yang naik sudah menutupi permukaan pos II ini, maka pemandangan pun akan berubah menjadi hanya putih belaka. Seolah-olah di depan sana itu hanyalah sebuah wallpaper putih belaka. Dan jika sinar matahari sudah mampu kembali menembus permukaan awan ini, dan membuat wallpaper putih tadi sirna, maka nikmatilah itu. Matikanlah radio dan dengarlah bunyi-bunyian ini. Tengoklah itu sedikit ke bawah, kepada air terjun yang kecil tetapi deras bunyinya di sela-sela tebing. Lihatlah itu monyet-monyet yang sedang kawin di atas pohon di agak jauh di sana. Kaookk…kaookk…! Pandanglah itu. Bukit di depanmu, di mana sekarang ini sudah sangat hijau, sudah beda sekali dengan dulu pada waktu pasca kebakaran. Pandanglah itu. Pohon-pohon yang begitu kecil tampak di matamu, tetapi besar sekali wujudnya jika kamu mendekati ke sana.

“Kalau misalnya aku di sana, seberapa besar diriku jika dilihat dari sini?”

Atau mungkin sangat kecil lebih tepat untuk kamu ucapkan.

Dan lihat awan itu. Bergumul begitu di depanmu, seolah-olah kamu ingin melompat ke sana, lalu menaikinya. Wah, pasti menyenangkan. Tapi sangat bodoh jika kamu lakukan itu karena tentu saja kamu akan jatuh.

Dan jika kamu sudah turun ke bawah, kembali ke kehidupan nyata. Tengoklah itu ke atas, kepada awan yang putih itu.

Waw! Betapa tingginya kita berada tadi. Jauh, jauh, jauh di atas awan.

Baca entri selengkapnya »

4 Komentar

Langkah-langkah yang Indah

vachera

vachera

iseng…

6 Komentar

Along This Devil Street

Dalam sepanjang perjalanan pagi saya kepada sebuah rutinitas bernama sekolah, dengan motor yang saya naiki, adalah sering bagi saya untuk sekedar merasa penasaran. Atau kosakata apa yang lebih tepat untuk itu. Penasaran dikarenakan rasa ingin tahu terhadap kehidupan orang lain selain saya. Bagi saya, bagi kita, pertemuan terhadap orang lain yang benar-benar baru pertama kali kita lihat dan tidak kenal di jalan adalah hal yang sangat mudah dilupakan. Kan? Kenapa juga kita memikirkan dia yang sedang berhenti di samping saya ketika sedang berada di lampu merah? Bagaimana kehidupannya? Apa pekerjaannya? Apa yang dia makan tadi pagi? Apa dia sarapan? Apa dia punya suami? Bagaimana masa kecilnya? Apa orangtuanya galak? Kayakah dia? Apa dia punya akitivitas tertentu yang sangat mengasyikan? Daerah mana yang akan ditujunya? Apa pula yang ia akan kerjakan nanti? Apakah dia bisa membaca? Apakah dia punya blog? Punya wordpress?

Tapi, jika rutinitas pagimu adalah dengan melewati perempatan Pasar Setan (baca “e” seperti pada kata “seperti”, daerah itu ada terletak di daerah Maguwo) dan sedikit memperhatikan kehidupan di sana, kamu akan melihatnya. Melihat 2 orang itu. Orang yang menurut saya tidak tahu apa tetapi sedikit membuat penasaran. Penasaran sekali sampai-sampai pernah terpikir untuk berhenti dan mewawancarai apa saja yang diperbuatnya. Tetapi sayang, hal itu tidak pernah saya lakukan karena jam masuk sekolah yang running out sehingga harus segera cepat menuju sampai Smada.

Salah satu dari dua orang itu adalah orang yang sebut saja Kakek Pengawas Jalan. Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan komentar