Along This Devil Street


Dalam sepanjang perjalanan pagi saya kepada sebuah rutinitas bernama sekolah, dengan motor yang saya naiki, adalah sering bagi saya untuk sekedar merasa penasaran. Atau kosakata apa yang lebih tepat untuk itu. Penasaran dikarenakan rasa ingin tahu terhadap kehidupan orang lain selain saya. Bagi saya, bagi kita, pertemuan terhadap orang lain yang benar-benar baru pertama kali kita lihat dan tidak kenal di jalan adalah hal yang sangat mudah dilupakan. Kan? Kenapa juga kita memikirkan dia yang sedang berhenti di samping saya ketika sedang berada di lampu merah? Bagaimana kehidupannya? Apa pekerjaannya? Apa yang dia makan tadi pagi? Apa dia sarapan? Apa dia punya suami? Bagaimana masa kecilnya? Apa orangtuanya galak? Kayakah dia? Apa dia punya akitivitas tertentu yang sangat mengasyikan? Daerah mana yang akan ditujunya? Apa pula yang ia akan kerjakan nanti? Apakah dia bisa membaca? Apakah dia punya blog? Punya wordpress?

Tapi, jika rutinitas pagimu adalah dengan melewati perempatan Pasar Setan (baca “e” seperti pada kata “seperti”, daerah itu ada terletak di daerah Maguwo) dan sedikit memperhatikan kehidupan di sana, kamu akan melihatnya. Melihat 2 orang itu. Orang yang menurut saya tidak tahu apa tetapi sedikit membuat penasaran. Penasaran sekali sampai-sampai pernah terpikir untuk berhenti dan mewawancarai apa saja yang diperbuatnya. Tetapi sayang, hal itu tidak pernah saya lakukan karena jam masuk sekolah yang running out sehingga harus segera cepat menuju sampai Smada.

Salah satu dari dua orang itu adalah orang yang sebut saja Kakek Pengawas Jalan. Dilihat dari luar, beliau adalah seorang kakek-kakek. Sudah berumur. Berambut putih dan berkacamata besar seperti kacamata Pak Rahadiyo. Berjaket pink dengan bulu-bulu pada tudungnya. Memakai seragam hansip hijau lengkap dengan baret. Bermuka ukhh.. selalu galak dan tegas. Dan tak pernah lupa, peluit. Apa yang dilakukannya tiap pagi mungkin menurut beberapa orang sungguh sebuah pekerjaan sia-sia. Setidaknya itu pikir saya beberapa lama setelah sadar akan kehadirannya, dulu. Sepanjang pagi, di perempatan Pasar Setan, dengan gaya seperti Polantas berikut aba-aba tangannya, beliau dengan sibuk serta mengatur lalu lintas perempatan desa yang menurut saya tidak begitu ramai. Kadang-kadang juga pada suatu waktu, beliau pindah lokasi aksi ke perempatan stadion maguwo ataupun pertigaan ringroad timur. Padahal kamu tahu sendiri, buat apa beliau ada di sana, di ringroad timur, karena sudah ada banyak Polantas bercokol. Entahlah. Yang membuat saya heran adalah, kenapa juga beliau repot-repot melakukan semua itu? Dilihat apa yang dilakukan, sepertinya tidak dibayar. Atau iya? Entah. Pernah saya pikir, apakah ada yang mematuhinya. Karena lihat, kendaraan-kendaraan tetap lewat begitu saja terhadap apapun aba-aba yang ia berikan. Walau begitu, hampir tiap pagi tak pernah ia absen dalam “pekerjaannya”. Yah, tapi kalau tidak begitu, siapa pula yang akan menyeberangkan anak-anak SD itu? Atau simbah-simbah itu? Atau para pelajar yang buta itu untuk menyeberang menuju Madrasah jika kebetulan dia sedang ada di perempatan stadion. Oh, egois sekali kita ini.

Dan tetapi, orang kedua yang saya akan ceritakan ini sangat sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata karena kamu harus melihatnya sendiri untuk setelah itu bisa memberi komentar. Kamu akan melihatnya dengan sepeda ala cewek dengan keranjang didepannya. Bertubuh agak sedikit pendek, kurus, kumal, memakai baju sambungan dengan rok. Alah, apalah itu sebutanya. Dengan rambut cepak. Benar-benar cepak sehingga kamu sangat sulit membedakan apakah dia itu laki-laki atau perempuan. Berkelana kemana pun ia mau. Sungguh, saya pernah bersamanya dalam sebuah bus yang sama ketika pulang sekolah dulu waktu SMP. Perempuan itu naik dari bunderan UGM. Entah apa yang ia lakukan di sana dan apa yang dilakukannya nanti setelah ia turun di Pasar Setan. Pernah juga saya melihatnya bersepeda di dekat perumahan Pertamina. Entah. Misterius. Semuanya mempunyai kehidupan sendiri. Semua mempunyai arti hidup sendiri.

Dan jika berpikir lebih jauh mengenai itu. Mengenai orang-orang yang saya kenal dekat. Kadang-kadang ingin juga suatu saat untuk mengetahui apa yang dikerjakannya setelah pulang sekolah. Terlebih lagi pada masa liburan seperti ini. Apa saja yang kamu kerjakan sekarang? Apa saja yang kamu pikirkan? Berpikirkah kamu?

2 Januari 2009

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: