Arsip untuk April, 2009

Alhamdulillah

ugm

Tinggalkan komentar

UAN, H-7

donkey_ilTapi untuk sekali ini, demi masa depan di sana itu, demi masa depan yang sudah menyongkol di depan mata, saya akan mencoba untuk optimis kali ini. Mungkin kalau kamu pernah baca itu buku “5 cm” karya Donny Dhirgantoro kamu akan paham apa yang saya maksud kemudian ini. Bahwa sebuah kalimat yang berbunyi “selagi masih bisa bermimpi” itu benar-benar nyata berharganya, terutama untuk saat ini. Okelah, saya sudah gagal dalam SIMAK UI kemarin, dan UM UGM pun belum keluar hasilnya. Semoga pengumumannya adalah merupakan yang terbaik bagi saya. Dan walau rasa pesimis itu tetap ada, tapi untuk saat ini semoga dapat dengan lancar saya lupakan sejenak untuk memikirkan hal yang lebih penting daripada ini.

Ya, 1 minggu lagi adalah UAN.

Dan selagi saya,,eh kita. Kita anak kelas XII. Selagi kita masih bisa bermimpi, karena SNMPTN, USM ITB, dan berbagai jalan lain masih tersedia, maka mari kita mimpikan itu. Halah, bahasa opo iki… Tapi yang saya ingin saya sadar di sini itu adalah bahwa, taruhlah mimpi itu 5 cm di depan jidatmu. Dan kejar! Seolah-olah kamu adalah seorang keledai yang sedang dinaiki oleh pengembara dan di depanmu itu adalah wortel yang diikatkan pada tali dan dihubungkan dengan kail. Sehingga apa, sehingga kamu akan terus mengejar wortel itu. Dimana wortel itu ibaratkanlah bahwa itu adalah mimpi.

Yeah, saya masih dapat bermimpi. Dan semoga mimpi itu dapat saya wujudkan kelak. Aminn… Semoga apapun itu, kemanapun itu, dimanapun nanti saya berada setelah ini, setelah lulus nanti (aminn lulus..), adalah yang terbaik bagi saya. Huhhhrrghhh!!!

Hell Yeah, 1 minggu lagi adalah UAN.

Dan semoga gerbang itu, gerbang kelulusan itu, dapat kita dobrak dengan sukses menjawab soal-soal yang akan diajukan nanti.

Semangat yo boy!!

Jadikan SMADA 09 lulus semua dengan cara terbaik!!!

3 Komentar

Sekali berkali-kali

07-copySekali-kali saya berpikir bahwa seandainya saya ingin sekali-kali hidup dan berpikir secara normal senormal-normalnya. Semacam seandainya saya ini tidak usah mengerti saja tentang internet. Tidak punya blog, facebook, friendster, dan semacamnya. Sekali-kali saya juga ingin berpikir sepertinya enak sekali kehidupan saya dulu ketika itu. Ketika masih balita sehingga tidak perlu berpikir macam-macam tentang masa depan. Ketika hidup itu hanyalah bermain di pekarangan rumah di suatu desa di Klaten bersama bulek dan paklek, dan lalu ketika sore menjelang sudah seperti suatu runitas untuk duduk di lincak depan rumah simbah untuk melihat ke arah halaman untuk melihat ular sawah lewat. Sekali-kali saya ingin hidup dengan polos sajalah, tidak usah susah-susah terjebak dalam roman duniawi seperti ini. Dimana saya malah mengerti (walau sedikit-sedikit, benar-benar kadang-kadang cuma sedikit karena saya malas lihat berita atau nonton sepakbola) tentang politik, berita-berita terbaru, gosip, anime, manga , jepang, google, artis, porno, dan semacam itu.

Sekali-kali, benar-benar sekali-kali, saya malah ingin hidup di perantauan sana. Di suatu desa di kaki merbabu misalnya. Dimana saya tidak usah saja mengerti tentang susahnya hidup karena terlalu banyak berpikir yang bukan-bukan akibat pemberitaan di TV atau internet. Di mana saya bisa tersenyum polos saja untuk sekedar mengaji pada sore hari dan setelah pulang lalu bermain petak umpet bersama kawan-kawan hingga maghrib menjelang. Tak usahlah berpikir bahwa bersekolah tinggi-tinggi untuk sukses. Tak usahlah susah-susah memikirkan persaingan dunia yang diakibatkan oleh globalisasi yang semakin menggila.

Sekali-kali saya ingin berpikir bahwa musik yang saya dengarkan itu cukuplah The Beatles, Rolling Stone, Koes Plus, dan Rhoma Irama. Dan sekali-kali saya ingin berpikir bahwa itulah rock ‘n roll sesungguhnya. Dan itulah musik sesungguhnya juga. Tidak usahlah dicampuri dan dibikin bising oleh musik-musik dari band-band yang sekarang ini suka mengisi acara-acara semacam Dashyat atau MTV Ampuh. Tidak usah saja mengerti tentang musik pop, musik poprock, musik popdut, musik rockdut, musik emo, musik hardcore, mayor label, musik indie, musik antah berantah. Fvck!

Sekali-kali saya tidak ingin mengerti Bahasa Indonesia saja. Biarin. Biar saya tidak mengerti bagaimana perkembangan jaman sehingga saya bisa santai hidup dengan pikiran saya yang murni dan tidak tercampuri oleh apapun.

Sekali-kali saya tidak ingin mengenal SBY. Meski memang benar-benar saya tidak kenal beliau, tapi seolah-olah saya kenal karena TV. Tapi walau begitu, faktanya beliau juga sudah pasti tidak mengenal saya, meski saya rakyatnya.

Sekali-kali saya juga tidak ingin listrik itu ada. Sehingga kita dapat terus dengan polos hidup dengan keyakinan dan pendirian diri dan suku kita masing-masing tanpa dicampuri oleh kebudayaan bangsa lain yang tidak lain terbawa melalui TV dan Internet yang sudah pasti memerlukan listrik. Sehingga juga kita dapat menikmati malam ketika purnama datang untuk bermain keluar dan berkejar-kejaran di bawah terangnya bulan dan kerlipan bintang. Asik sekali.

Sekali-kali saya ingin kamu tahu bahwa saya kadang-kadang capek untuk hidup di zaman sekarang ini. Ingin rasanya kembali ke masa radio begitu populer, lebih populer daripada TV yang saat itu masih mahal harganya. Karena saya pikir iklan pada radio itu lebih menarik daripada racun-racun iklan di TV.

Sekali-kali saya ingin untuk tidak usah saja ada sekolah. Tidak usah saja ada pelajaran biologi, kimia, fisika, matematika, TI, apalagi kewarganegaraan. Biar tidak usah susah-susah mikirin UAN dan SNM PTN dan hasil UM kemarin. Baca entri selengkapnya »

2 Komentar