Arsip untuk Juli, 2009

Kancil Insomnia dan Monyet Sulit Tidur

Kalau kamu pikir ini bercanda, maka kamu salah karena ini cerita ada benar. Setidaknya, ini saya karang buat biar jadi ada, biar kamu tahu kalau saya tidak berbohong mengatakan akan berdongeng seperti ini.

Pada suatu malam, di suatu hutan liar yang alhamdulillah tidak terjamah penebang liar—setidaknya belum karena kayu jatinya pasti akan mengundang jikalau para penebang-penebang liar itu tahu, ada seekor kancil yang entah kenapa malah merasa seolah-olah dia itu malah seperti kelelawar, nocturnal. Kalau kamu bertanya kenapa bisa terjadi hal seperti itu, jawabannya adalah karena Pak Tani sekarang sangat sibuk dengan mendengarkan kampanye dari bapak-bapak dan ibu calon presiden dan wakilnya yang sok-sokan menjunjung tinggi ekonomi kerakyatan dalam kampanye akhir-akhir ini, sehingga lupa akan ladangnya, sehingga timun pun mudah dicuri, sehingga mengakibatkan si kancil jadi tidak usah susah-susah kalau mau mencuri lagi, dan dengan kecerdikannya pada suatu hari dia mencuri semua timun yang ada, memasukkan ke dalam karung, membawa ke dalam rumahnya, dan menjadikan dia punya banyak stok makanan, sehingga dia benar-benar tidak perlu bekerja lagi, dan akhirnya menjadikan si kancil malas dan mudah tertidur pada siang hari karena tak perlulah ia susah mencuri, dan akhir-akhir ini malah bikin si kancil jadi suka tidak bisa tidur malam karena kebanyakan tidur siang. Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan komentar

Pendakian Merapi (lagi) 4-5 Juni ’09

Pendakian Merapi. Sebelumnya tadi pagi ambil ijazah di sekolah. Pulang, terus packing, alhamdulillah sudah disediakan duit sama ibuk Rp 50.000,- . Berangkat ke Merapi jam 2 siang. Sengaja nggak bareng sama angkatan bawah biar gak terlalu rame dan ngrepotin (atau malah direpotin). Ada aku, Dodog, Fikar, Ucil, Kendho, Cing, Gingsoel, Suriph, Fitri, dan Kokom. Sampai di Ketep beli jagung bakar. Itu, yang jual dua bocah entah umur berapa. Semacam sedang kelas 1 SD.

“Satunya berapa dek? Yang mentah.”

“1500 mas”

“10 biji sepuluh ribu ya?”

“heh…” bingung dia “mm…gak bisa mas”

“lah, berapa emang?” hehe, saya mau ketawa liat mereka bingung.

“yaa… satu 1500 mas”

“sepuluh ribu sepuluh ya? Masak tawar dikit gak boleh?”

“mmmm….. gak bisa mas”

“oke, kalo gitu pas-nya aja deh berapa? Aku nambah berapa lagi gitu?”

yaa… satu 1500, kalo sepuluh jadi… mmm…” bingung banget deh. Kasihan sekali waktu liat itu bocah. Partnernya juga cuma diam aja.

15000 dek..” itu Dodog yang kasih tau akhirnya. Haha. Bayar segitu deh akhirnya kami. Nggak tega.

Lanjut lagi perjalanan setelah dapet jagung, minyak tanah, dan memastikan bahwa si Fikar benar-benar bawa bumbu (sebenarnya tidak sengaja, niatnya mau bikin tempe katanya). Jalanan ke Selo itu aneh. Ada 17 belokan yang bentuknya hampir sama lengkungannya (itu dari hasil saya dan Kokom hitung dan dicocokan dengan hasil hitungan teman-teman lain waktu pulang, daripada ngantuk). Sampai di basecamp jam 4 sore, menjelang setengah 5. Cari makan dan dapat warung nasi goreng. Nyamleng! Lalu berangkat dan mulai mendaki jam setengah 7, habis maghrib. Ada orang bilang, kalo ketemu Ridwan dari Kartasura, suruh turun aja. Adik dan ayah-nya meninggal karena kecelakaan. Astaughfirullah.. Baca entri selengkapnya »

2 Komentar