Pendakian Merapi (lagi) 4-5 Juni ’09


Pendakian Merapi. Sebelumnya tadi pagi ambil ijazah di sekolah. Pulang, terus packing, alhamdulillah sudah disediakan duit sama ibuk Rp 50.000,- . Berangkat ke Merapi jam 2 siang. Sengaja nggak bareng sama angkatan bawah biar gak terlalu rame dan ngrepotin (atau malah direpotin). Ada aku, Dodog, Fikar, Ucil, Kendho, Cing, Gingsoel, Suriph, Fitri, dan Kokom. Sampai di Ketep beli jagung bakar. Itu, yang jual dua bocah entah umur berapa. Semacam sedang kelas 1 SD.

“Satunya berapa dek? Yang mentah.”

“1500 mas”

“10 biji sepuluh ribu ya?”

“heh…” bingung dia “mm…gak bisa mas”

“lah, berapa emang?” hehe, saya mau ketawa liat mereka bingung.

“yaa… satu 1500 mas”

“sepuluh ribu sepuluh ya? Masak tawar dikit gak boleh?”

“mmmm….. gak bisa mas”

“oke, kalo gitu pas-nya aja deh berapa? Aku nambah berapa lagi gitu?”

yaa… satu 1500, kalo sepuluh jadi… mmm…” bingung banget deh. Kasihan sekali waktu liat itu bocah. Partnernya juga cuma diam aja.

15000 dek..” itu Dodog yang kasih tau akhirnya. Haha. Bayar segitu deh akhirnya kami. Nggak tega.

Lanjut lagi perjalanan setelah dapet jagung, minyak tanah, dan memastikan bahwa si Fikar benar-benar bawa bumbu (sebenarnya tidak sengaja, niatnya mau bikin tempe katanya). Jalanan ke Selo itu aneh. Ada 17 belokan yang bentuknya hampir sama lengkungannya (itu dari hasil saya dan Kokom hitung dan dicocokan dengan hasil hitungan teman-teman lain waktu pulang, daripada ngantuk). Sampai di basecamp jam 4 sore, menjelang setengah 5. Cari makan dan dapat warung nasi goreng. Nyamleng! Lalu berangkat dan mulai mendaki jam setengah 7, habis maghrib. Ada orang bilang, kalo ketemu Ridwan dari Kartasura, suruh turun aja. Adik dan ayah-nya meninggal karena kecelakaan. Astaughfirullah..

Mendakilah kami. Saya yang jadi leader dan perjalanan berlangsung menyenangkan karena guyonan-guyonan yang terus mengalir sepanjang perjalanan. Juga radio yang menemani kami berjalan memutar lagu yang enak buat didengar. Tapi semakin lama, guyonan berkembang jadi gosip, lalu berkembang lagi menjadi sindir-menyindir disertai pisuhan dan obrolan tak tahu diri berada dimana. Dan tawa semakin menggila dan itu sangat menyenangkan. Pada saat ditengah perjalanan setelah pos 1, pada saat kami dengan goblok malah teriak-teriak nyanyi lagunya mbah surip yang tak gendong itu, ada suara anjing di atas sana. Anjing?? Iya, kamu tidak salah baca. Keras, dan sepertinya mendekat. Logikanya, dengan contour tanah yang sperti ini (mengutip kata-kata favorit kendho) dan juga pada ketinggian seperti ini, tidak mungkin ada anjing. Tapi ini beneran ada dan sepertinya banyak, entah itu benar-benar anjing atau “anjing-anjingan”. Kami langsung merapat dan suasana panik sejenak. Tegang. Fikar dan aku bikin obor dari hasil motong batang pohon di pinggir jalur. Disamping itu juga manggil ke atas, kalau-kalau ada pendaki lain, tapi tidak ada jawaban. Cuma samar-samar terdengar “munggaho” tapi benar-benar tidak jelas, bikin tidak yakin itu siapa yang jawab. Perjalanan dilanjutkan setelah suara anjing samar-samar pergi, dan masih dengan suasana sangat tegang dan mencekam. Setelah agak lama, dan sadar bahwa kami malah jadi capek gara-gara suasana seperti ini, kami putuskan untuk berhenti sejenak. Istirahat dan menenangkan pikiran. Rileks. Fiuhh.. si anjing sepertinya sudah tidak ada. Kami sudah bisa tertawa-tawa lagi, dan untuk sementara kejadian tadi dibuat tabu untuk diingat.

Angin semakin menggelegar. Perjalanan menuju pasar bubrah benar-benar berat dan dingin, dan angin tak henti-hentinya berhembus. Jalur yang kami lewati benar-benar terbuka, dan gersang, dan tidak terlindung dari angin. Gila. Fitri kecapekan dan kedinginan, jadi istirahat sebentar di gua di bawah batu. Setelah oke, maka dengan nekat kami lanjutkan kembali perjalanan.

Sampai juga di pasar bubrah jam 11an malam. Langsung gabung dengan anak vachera yang tadi sudah mendaki duluan. Lalu bikin api unggun dan bakar jagung. Garam saya hilangkan tadi, jadi bikin Fikar nyenthe-nyenthe. Biarin, hehe. Akhirnya bumbunya Cuma saos, dan bawang putih yang sudah dikasih air dan minyak mi goreng. Apa-apan itu? Tapi lumayan, lho. Enak pedas dan gurih.

Lalu inilah saat paling menyenangkan dari mendaki gunung. Kami ngobrol-ngobrol ditemani api unggun, bicara soal pendakian tadi, soal anjing, soal cewek-cewek cantik angkatan bawah, soal pacar, soal gosip, soal 3 tahun sekolah, soal pensi, soal apa sajalah. Nyindir tentang masing-masing cewek dan cowok yang kami masing-masing sukai. Ditemani kopi, mie, kacang, rokok (tapi saya tidak, hanya hampir, tapi saya malas dan tidak jadi mencoba itu rokok, meski ternyata Fikar juga malah merorok). Tapi hanya kami para pendaki yang menyusul tadi yang berada di lingkiaran api unggun itu, itupun Cuma sebagian karena sebagian lain sudah tidur. Itu karena para adik-adik pendahulu juga sudah pada tidur. Enak sekali. Sampai lama sekali kami ngobrol. Sampai terang bulan purnama pudar tenggelam di balik bukit menuju puncak garuda. Sudah gelap dan kedinginan, maka kami masuk dome. HP disetel alarm untuk jam 4, biar tidak begitu siang kami mendaki puncak besok. Eh, nanti, karena ini sudah tanggal 5 Juli.

Bangun jam 4 pagi benar. Tidur Cuma 1 jam, dan itu bikin kepala pusing. Saya keluar dan nyalain lagi itu api ungun bareng Fikar. Anjiingg…dingin bangett diluar!!! Yang lain juga pada bangun begitu api berhasil hidup. Bikin mie goreng dan kopi, lalu shubuh. Lalu langit memerah, pertanda matahari sudah mulai mau keluar di ufuk timur sana. Entah kegoblokan macam apa ini, tapi saya dan fikar malah nyopot baju dan bertelanjang dada dan setengah kaki (karena saya pakai celana pendek dari awal pendakian), berkompetisi untuk siapa yang paling lama tahan dingin. Wuaseng…ademme pwol!!! tapi asik. Yang lain juga malah ikut-ikutan. Bego!

Jam 6 mulai menyiapkan pendakian menuju puncak. Perjalanan agak sedikit kacau karena koncisi jalan yang berbatu itu ditambah dengan kemruyuknya para pendaki. Bikin perjalanan tidak nyaman karena harus antri. Belum lagi sekali-sekali banyak pendaki ceroboh dan menjatuhkan batu, sehingga pendaki yang masih dibawah terancam keselamatannya. Saya dan Dodog hampir kena rockfall ketika foto-foto. Untung berhasil lari ke samping.

Sampai puncak garuda jam setengah 8. Uap sudah mulai keluar, tapi matahari cerah sehingga tidak begitu parah. Agak lama di sana, mungkin sekitar setengah jam. Puas melihat kawah merapi dan berfoto-foto, lalu turun lah kami.

Perjalanan turun sangat tidak menyenangkan. Jadi lebih baik saya tidak ceritakan karena terlalu biasa saja. Dan saya agak pusing. Mungkin karena efek sulfur sewaktu di puncak dan kawah mati tadi. Sampai di dome dan bikin banyak makanan. Jam 10 sebenarnya sudah bisa turun, tapi cuaca sangat panas, bahkan tidak ada awan secercahpun, bikin malas buat turun. Maka perjalanan turun ditunda hingga jam 1 siang. Selagi itu, saya tidur sebentar, lalu setelah bangun ikutan nimbrung di dekat semak-semak pinggir jurang bareng yang lain.

Lalu turun. Semakin lama berjalan, entah kenapa semakin tertinggal dan tidak bisa mengikuti laju anak-anak ’09, selain daripada saya memang sengaja menjauh karena debu-debu yang dihasilkan mereka yang pada suka lari-lari itu. Rasa pusing menjalar dan entah kenapa kaki juga kram, ditambah luka sewaktu turun dari puncak tadi dan sandal jepit yang sudah tipis sehingga bikin sakit ketika menginjak batu bikin semakin menghambat perjalanan. Daripada repot, mending saya biarkan saja ditinggal, biarin jalan sendiri. Jadi santai. Dan itu benar-benar saya jalan sendiri dari bawah pos 1 sampai New Selo. Enak sekali. Ditemani radio dan gula jawa saya santai-santai menikmati pemandangan alam. Pikiran sampai kosong, tidak bisa berfilosofi meski ingin. Hanya saja terasa sepi, tidak ada teman ngobrol.

Sampai basecamp agak sore, lalu ke warung nasi goreng yang kemarin, lalu pulang ke Jogjakarta lagi. Kembali ke kehidupan nyata. Ini saya pulang dari SMADA dan sudah malam, sudah jam setengah 11, saya lapar dan mampir sejenak ke warung burjo 24 jam. Itu warung semacam punyanya orang Bandung, dan mereka ngobrol-ngobrol pake aksen Bandung yang sangat kental dan khas, bikin gak tau mereka pada cerita apaan. Tapi saya pesen mi rebus telor dan es teh 2 gelas. Slurupp.. nyamleng!

Iklan
  1. #1 by com on Agustus 11, 2009 - 1:05 pm

    ayo munggah eneh mz…=D
    hha

  2. #2 by sleeplessstudent on Agustus 23, 2009 - 3:12 pm

    siap! haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: