Arsip untuk Agustus, 2009

Pendakian Sumbing 10 – 11 Agustus ‘09

Pendakian Sumbing ternyata jadi dilakukan. Saya kalah debat dan ternyata ada keinginan juga buat kesana karena sampai saat ini saya belum pernah mendaki itu Sumbing. Dan ternyata si Ican, Dodog, dan Gingsoel pun juga hanya ingin kesana, bukan gunung lain. Maka dari hasil mufakat ini, diputuskan untuk jadi mendaki Gunung Sumbing dengan hanya 4 orang yang tidak tahu apa-apa dan mengesampingkan firasat saya kemarin. Hanya berbekal hasil telepon saya dengan teman SMP gambar peta pendakian sumbing yang saya gambar sendiri, dan guide dari internet (dari mapala geografi ugm, saya lupa alamatnya apa, cari saja di google) kami berangkat kesana. Guide internet yang bukan dari merbabu.com karena saya buang jauh-jauh setelah baca isinya.

Ada cerita yang tidak menarik sebenarnya sebelum kami berangkat ke Sumbing. Itu terjadi waktu masih kumpul dan bersiap-siap buat berangkat di angkringan si om depan Smada. Itu waktu kami sibuk buat ngecek perlengkapan, dan ternyata ada yang kurang. Radio! Sebuah makhluk yang membuat kami tidak akan diam saja selama mendaki. Atau minimal radio tersebut bakal terus saja nggambleh dalam diam kami karena kelelahan nanti, sehingga tidak terasa begitu sunyi. Saya agak lupa bagaimana itu, tapi kita sempat SMS dan telepon banyak teman-teman. Tapi sialnya, tidak ada yang punya, sehingga entah bagaimana bodohnya kami, sehingga kepikiran buat ke Klithikan dulu buat beli radio. Masing-masing urunan Rp 5.000, lalu saya dan Dodog berangkat kesana. Berangkat kesana pakai motor si Gingsoel dan tidak membawa STNK-nya. Dan ternyata benar sial, ketika itu di daerah Transito itu ada razia. Anjrit, tapi untung kami tidak terlalu maju sehingga kami berhenti di agak jauh sebelum razia itu. Telepon si Gingsoel suruh bawain STNK-nya, iya. Tapi ketika si Gingsoel datang, entah bego atau bagaimana, dia sendiri tidak bawa STNK karena pakai motor Ican, sehingga akhirnya saya harus jalan kaki ke depan foto digital Pertigaan Jatinom buat ngambil STNK-nya Gingsoel. Untunglah kebegoan ini berakhir ketika saya dapat SMS dari Simbah yang bilang kalau ternyata punya, sehingga kami tidak usahlah susah-susah ke Klithikan buat beli. Oke, saya telpon Simbah buat pinjem dan akan kesitu sebentar lagi. Tapi nyatanya ketika kembali ke angkringan si Om itu, ternyata malah dipinjami radio sama si Om. Radio yang kelak kami beri nama SiFikar. Tapi nggak ada baterenya lho? Nggak apa-apa, kami beliin nanti. Makasih om! Dan berangkatlah kami dengan tidak jadi mampir ke rumah Simbah. Itu sekitar jam 11.30 siang.

Perjalanan dari Jogja ke Wonosobo jauh sekali. Sekitar pukul 14.30 kami baru sampai ke desa Garung (desa terakhir sebelum pendakian Subing). Makan dulu di warung transit di bawah itu dan sholat Ashar di masjid di atas. Baru sekitar jam setengah 4 sore kita ke Basecamp buat lapor. Ternyata basecamp sumbing itu asik walau agak sedikit mahal, karena kita dikasih peta pendakian sumbing beserta keterangan-keterangannya. Peta yang saya gambar jadi tidak ada artinya. Tapi tidak saya buang karena keren. Setelah banyak bertanya ini itu sama petugas SAR, dan dicegat sama anak-anak TPA yang minta juga ikut foto bareng kami, kami langsung naik. Kami mendaki lewat jalur baru. Kebetulan saya bawa drawing pen sehingga sayalah yang bawa peta dari Om SAR tadi. Biar gampang kalau navigasi atau sekedar coret-coret.

Edan, gunung Sumbing itu benar-benar keren kalau kamu mau tahu. Baru sekitar 15 menit kami berjalan dan keringat sudah membanjir serta jantung kami berdetak kencang. Panoramanya pun lucu. Tidak monoton sehingga kamu tidak akan bosan. Sebelum ke pos 1 itu, track yang kita lalui adalah ladang para petani. Itu sampai agak jauh, sampai sekitar batas kilometer (KM) III. Sampai ke Boweisen (batas antara ladang dengan hutan). Saya pikir apa ya? Gila, tinggi sekali. Apa nggak capek itu nanti yang ngerawat dan bolak-balik bawa hasil panen?

Sepanjang perjalanan, sebelum sampai di bawah Pos 1, ada sungai di sisi kiri kami. Tapi sayangnya ini musim kemaru, sehingga air terjun yang ada di situ tidak ada air yang mengalir terjun. Mata air pun cuma ada air kotor sekali, sehingga tidak jadi ngmbil air disitu. Lalu sampailah ke pos 1 yang bernama Kedung.

Track setelah itu adalah hutan pinus. Jalurnya lebih mendaki lagi. Seolah-olah tidak ada jalan landai buat kami bisa istirahat. Sampai akhirnya tiba di Pos 2 yang bernama Gatakan. Sebelum itu, sebelum nanti kami turun dan sudah sampai di basecamp, kami tidak tahu bahwa itulah yang dimaksud pos 2 karena bentuknya cuma tanah lapang biasa. Tapi ada pohon besar sekali yang tidak ada daunnya. Juga sebuah makam. Kami sempat berdoa sebentar disitu.

Jalanan lebih gila lagi begitu keluar dari pos 2. Jalurnya lebar berpasir dan pohon pinus mulai jarang. Ditambah lagi dengan sudut kemiringan yang amat sangat. Bikin capek karena licin sekali. Sampai akhirnya sekitar jam 8 malam sampai di pertemuan antara jalur baru dan lama. Disana sudah benar-benar lapang. Pohon mulai jarang dan yang ada hanya rumput dan semak belukar. Jalanan masih berpasir dan karena lapangnya kondisi jalan membuat angin yang bertiup agak kencang membuat kami menggigil kedinginan. Tapi, tapi kalau kamu suka bintang, kamu pasti akan iri dengan kami yang ada disini. Bintang-bintang benar-benar banyak sekali bertabur di atas sana, berkelap-kelip dan kadang-kadang bergerak, bahkan jatuh. Bulan yang bulat walau tidak penuh juga bersinar terang di agak timur situ. Keren sekali. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Tinggalkan komentar

Pendakian Lawu 20-21 Mei ’09

Nostalgia sebentar saya kira oke daripada hanya disimpan lalu lupa. Pada saat itu adalah sudah selesai yang UAN, UAS, dan sebagainya itu. UM juga alhamdulillah sudah tembus. Sudah tidak ada kerjaan lagi. Makanya ayo mendaki? Itu saya bilang sama Dodog yang juga sama diterima di UGM jurusan teknik industri. Kapan? Tanggal 20 Mei saja, sehari setelah ujian praktek selesai. Oke! Tapi ternyata itu si Ramon yang UPN npertambangan itu juga ikut. Nita si pacar Ramon yang juga kecantol di UGM jurusan gizi dan kesehatan juga ikut ternyata. Maka ada 4 orang yang siap berangkat untuk mendaki. Oke-oke, semakin ramai semakin asik.

Dan 20 Mei pun tiba. Berangkatlah kita ke Lawu. Ke terminal Giwangan dulu buat nanti naik bus Jogja-Solo, diantar oleh bapake Ramon, ditemani musik2 radio dan rasa deg-degan karena semula ini hanya rencana gila saya dan Dodog saja, tetapi malah beneran terjadi. Iya, kami seharusnya senang karena sampai saat ini semua berjalan dengan lancar baik persiapan barang2 yang akan dibawa dan juga persiapan ongkos perjalanan. Tapi tetep saja kaget.

Sampai pula di Giwangan, pamit sama bapak Mon? Udah. Lalu jalan kami ke peron dengan plakat SOLO. Jalan membawa ransel besar yang oleh karenanya menjadi pusat perhatian calon penumpang lain. Itu ada bus sudah siap melaju. Kami naik kesana dan alhamdulillah kosong. Yeah, duduklah kita di kursi belakang. Kamu tahu? Bus Jogja-Solo itu terkenal sekali dengan aksi gila-gilaannya. Kalau saya ke klaten naik motor, saya biasa memaki-maki sama itu Bus, lain ceritanya kalau saya yang naik ini Bus. Saya bergembira hati karena aksi kebut-kebutan Bus ini mendatangkan sensasi tertentu, selain angin dari kaca jendela yang otomatis kencang sehingga tidak membuat gerah dan panas. Tapi ternyata tidak semua berjalan indah, ya Pak Supir ya? Karena kita semua para penumpang, dan pak kernet, dan pengamen, dan kamu pak supir tahu kalau ketika akan menyebrangi rel kereta api yang baru saja dilewati kereta, bus ini malah tidak ikut dalam antrian kendaraan roda 4 tapi malah ambil sisi kanan dan menyalip semua mobil, truk, dan bus lain. Dan karenanya, bus ini malah kena tilang, yang membuat kamu menjadi minta maaf sama penumpang-penumpang. Oh, iya, saya maafkan.

Sampai di Tirtonandi, lanjut langsung ke tawangmangu. Oh, di Karanganyar foto-foto bupati narsis yang entah siapa namanya itu sudah tinggal sedikit. Sampai di terminal, langsung naik ompreng ke cemoro sewu. Ompreng penuh, suasana sangat sumpek dan menyebalkan.

Begitu sampai di Cemoro Sewu, oh hujan. Menunggu sekitar 2 jam sambil makan nasi goreng, lalu memberanikan diri untuk mulai mendaki. Untunglah sudah mulai terang. Jalan bebatuan jadi agak basah, tapi it’s oke. Hari sudah mulai malam dan waktunya buat menyalakan senter. Sebenarnya lancar-lancar saja sih perjalanan, jadi tidak banyak yang bisa diceritakan. Udara malam juga nggak begitu dingin. Bulan juga cerah. Oh, begitu lancar syukurlah. Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan komentar