Pendakian Lawu 20-21 Mei ’09


Nostalgia sebentar saya kira oke daripada hanya disimpan lalu lupa. Pada saat itu adalah sudah selesai yang UAN, UAS, dan sebagainya itu. UM juga alhamdulillah sudah tembus. Sudah tidak ada kerjaan lagi. Makanya ayo mendaki? Itu saya bilang sama Dodog yang juga sama diterima di UGM jurusan teknik industri. Kapan? Tanggal 20 Mei saja, sehari setelah ujian praktek selesai. Oke! Tapi ternyata itu si Ramon yang UPN npertambangan itu juga ikut. Nita si pacar Ramon yang juga kecantol di UGM jurusan gizi dan kesehatan juga ikut ternyata. Maka ada 4 orang yang siap berangkat untuk mendaki. Oke-oke, semakin ramai semakin asik.

Dan 20 Mei pun tiba. Berangkatlah kita ke Lawu. Ke terminal Giwangan dulu buat nanti naik bus Jogja-Solo, diantar oleh bapake Ramon, ditemani musik2 radio dan rasa deg-degan karena semula ini hanya rencana gila saya dan Dodog saja, tetapi malah beneran terjadi. Iya, kami seharusnya senang karena sampai saat ini semua berjalan dengan lancar baik persiapan barang2 yang akan dibawa dan juga persiapan ongkos perjalanan. Tapi tetep saja kaget.

Sampai pula di Giwangan, pamit sama bapak Mon? Udah. Lalu jalan kami ke peron dengan plakat SOLO. Jalan membawa ransel besar yang oleh karenanya menjadi pusat perhatian calon penumpang lain. Itu ada bus sudah siap melaju. Kami naik kesana dan alhamdulillah kosong. Yeah, duduklah kita di kursi belakang. Kamu tahu? Bus Jogja-Solo itu terkenal sekali dengan aksi gila-gilaannya. Kalau saya ke klaten naik motor, saya biasa memaki-maki sama itu Bus, lain ceritanya kalau saya yang naik ini Bus. Saya bergembira hati karena aksi kebut-kebutan Bus ini mendatangkan sensasi tertentu, selain angin dari kaca jendela yang otomatis kencang sehingga tidak membuat gerah dan panas. Tapi ternyata tidak semua berjalan indah, ya Pak Supir ya? Karena kita semua para penumpang, dan pak kernet, dan pengamen, dan kamu pak supir tahu kalau ketika akan menyebrangi rel kereta api yang baru saja dilewati kereta, bus ini malah tidak ikut dalam antrian kendaraan roda 4 tapi malah ambil sisi kanan dan menyalip semua mobil, truk, dan bus lain. Dan karenanya, bus ini malah kena tilang, yang membuat kamu menjadi minta maaf sama penumpang-penumpang. Oh, iya, saya maafkan.

Sampai di Tirtonandi, lanjut langsung ke tawangmangu. Oh, di Karanganyar foto-foto bupati narsis yang entah siapa namanya itu sudah tinggal sedikit. Sampai di terminal, langsung naik ompreng ke cemoro sewu. Ompreng penuh, suasana sangat sumpek dan menyebalkan.

Begitu sampai di Cemoro Sewu, oh hujan. Menunggu sekitar 2 jam sambil makan nasi goreng, lalu memberanikan diri untuk mulai mendaki. Untunglah sudah mulai terang. Jalan bebatuan jadi agak basah, tapi it’s oke. Hari sudah mulai malam dan waktunya buat menyalakan senter. Sebenarnya lancar-lancar saja sih perjalanan, jadi tidak banyak yang bisa diceritakan. Udara malam juga nggak begitu dingin. Bulan juga cerah. Oh, begitu lancar syukurlah.

Sampai di pos 4 akhirnya nge-camp. Sebenarnya rencananya mau di di deket-deket gua yang ada mata air apa itu lupa namanya, tapi entah kenapa capek dan tidak kuat kesana. Mungkin barang bawaan yang gila beratnya karena hanya 4 orang. Jadi aja nyari di sekitar semak di pos 4. Bikin api unggun juga, dan itu asik sekali. Bikin makanan banyak-banyak, bikin mie goreng, bikin sarden yang karena tidak ada nasi malah jadi dicampurin sama mie goreng tadi (dan rasanya tidak enak sekali, malah akhirnya dibuang), bikin telo bakar yang akhirnya gagal karena api unggunnya tidak begitu berhasil jadi arang karena dingin walau sudah dikasih banyak minyak tanah. Tapi tidak lupa banyak-banyak ngobrol dan foto-foto juga. Sampai akhirnya dingin dan ngantuk. Lalu masuk dome dan tidur. Telo tetap ditinggal di sisa-sisa api unggun yang dibiarkan menyala kecil.

Paginya ternyata ada telo bakar yang jadi. Lumayan buat sarapan. Saya dan Dodog Sholat Shubuh terlebih dulu di agak semak-semak sana. Karena kompas entah kenapa rusak dan membikin kami tidak tahu arah, akhirnya kami waton arah saja sholat. Tadi malam juga begitu waktu Isya. Teori yang kami tahu adalah bahwa arah kiblat adalah di arah bintang yang paling terang. Dan kesanalah kami menghadap. Tapi paginya, setelah selesai sholat shubuh, barulah kami sadar kalau kami ternyata bodoh sekali. Kami menghadap timur, ke arah matahari terbit. Subhanallah.. tapi tidak apa-apa kan? Itu kata saya. bumi itu kan bulat, jadi sama aja kalau kita hadap timur, toh nanti menujunya ke kiblat juga. Hehe ngawur.

Setelah itu makan roti dan buah lalu bersiap buat ke puncak. Perjalanan juga lancar. Matahari cerah bersinar. Awan-awan yang berada dibawah kami sepeti hamparan karpet yang seolah-olah sengaja dijereng begitu supaya apa? Supaya indah. Supaya keren aja. Bunga-bunga edelweiss lumayan mekar di pinggir –pinggir jalan walau masih kuncup. Ambil air di mata air situ itu dan berfoto-foto di guanya. Oh, ini bukan weekend, jadi warung-warung tutup. Setelah puas lalu ke atas. Ke puncak. Sebenarnya ingin juga mampir ke warung pecel situ itu, deket pertigaan ke Hargodumilah situ. Tapi malas. Jadi langsung aja ke puncak. Nita di depan dan menjadi yang pertama menginjak puncak di rombongan kami. Oh, hebat sekali. Rasa capek masih ada sebenarnya tapi entah kenapa agak berkurang. Lihat itu di tugu puncak, masih ada stiker Vachera yang kami tempel tahun lalu. Masih ada juga coretan VCH KHR NCZ yang dicoreti oleh seorang murid smada yang mendaki seminggu setelah kami turun dari gunung ini dulu. Bikin malu saja sebenarnya. Dulu ingin kami hukum dengan naik ke gunung ini sendiri dan hapus sendiri. Tapi tidak terlaksana. Jadi mumpung sekarang sudah sampai sini lagi, saya ambil batu dan hapus itu coret-coret. Stikernya saya biarkan karena keren.

Di puncak lagi-lagi cuma kabut. Mungkin karena terlalu siang kami sampai. Jadi tidak bisa lihat Samudra Hindia ataupun Gunung Semeru. Tapi itu dibawah, di sumur jatulundo, ada genangan air yang besar. Semacam danau tapi kecil dan cethek. Mungkin luapan air dari sumur karena hujan kemarin atau bagaimana tidak tahu. Tapi malah jadi bagus. Bikin kami pengen turun ke sana. Makan buah pear dan foto-foto di atas batu-batu. Bayangan kami terpantul di danau. Oh, keren sekali. Ada bendera Gerindra besar sekali di situ juga. Sempet-sempetnya ada orang kampanye disini saya pikir.

Setelah santai-santai sejenak menikmati danau. Ditemani dengan radio dan buah-buahan yang dibawa kemarin, akhirnya kami turun. Di puncak sudah sepi karena mungkin ini sudah sangat siang. Turun begitu. Agak lambat karena buat apa juga cepat-cepat.  Enak begini. Enak lambat dan santai. Relaks saja lah.. enjoy everything!

Tapi saya singkat saja cerita ini sampai bagian yang tidak enjoy. Saya singkat bagian turun dari gunung ada sedikit berfoto di pos 2 dengan bergaya seperti cliff climber. Saya singkat saja kami sampai di basecamp dan ke warung nasi goreng buat pesen lagi. Saya singkat lagi cerita waktu kami sholat dengan diburu-buru karena takut kehabisan ompreng dan bus. Saya singkat juga cerita yang karena hal itu tadi jadi bikin nasi goreng tidak jadi kami makan dan akhirnya dibungkus sajalah karena kami sudah dapat omprengan dan sudah ditunggu dari tadi kenapa tidak juga naik. Saya singkat sampai kami akhirnya dapat bus di tawangmangu, dan sampai perjalanan menuju Solo. Saya singkat sampai sini. Zruutt…

Pertamanya kami ingin naik kereta prambanan express (pramex) saja, tapi karena faktor uang dan waktu, akhirnya diputuskan naik bus saja untuk pulang. Di jalan SMS sama Sinyod, bus Jogja Solo jam segini masih ada nggak? (NB: sekarang sudah sekitar jam 7 malam). Oh, dibalas. Katanya sih habis sekitar jam segitu itu. Anjrit! Deg-degan pulalah kami. Tapi kayaknya ada ah. Ditengah kecemasan, sampailah kami di Tirtonandi lagi. di pintu bus yang berhenti ada beberapa bapak-bapak yang bilang mau kemana? Saya bilang jogja. Tanpa buang waktu, si bapak-bapak yang berbaju ada nomornya macam kaos sepak bola itu segera mengambil ransel kami. Ada banyak juga yang ikut-ikut “membantu”. Seharusnya kami lega karena Bus Jogja-Solo masih ada, tapi entah kenapa dad perasaan menyebalkan. Saya ada bisik-bisik dengan Ramon, kayake itu nggak bener deh? Kayake kuwi Portir deh! Tapi karena mereka berbadan besar dan beroto, dan kami hanya kurus kering serta kecil-kecil, maka kami tidak berani macam-macam. Sampai juga di Bus, dan barang-barang kami ditaruh secara sembrono di belakang. Lalu terjadilah yang ditakutkan. Kami dipaksa bayar! Oh, damn it! Bayar Rp 35.000 cuma buat ngangkutin barang yang jaraknya cuma 100 meter nggak ada itu?! Sialan.

Pelajaran moral yang harus dipetik dari semua ini adalah, jika kamu membawa tas besar sedangkan kamu merasa mampu untuk membawanya, dan lalu bertemu dengan bapak-bapak dengan baju yang bernomor punggung, maka sebaiknya pegangi barangmu baik-baik. Bawa langsung saja dan tidak usah mempedulikan tawaran mereka. Siap.

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: