Takbiran 1430H


Ohh, sudah malam takbiran lagi. padahal saya kira baru kemarin saya nulis jurnal dengan judul “Takbiran Ramai Sepi”. Mohon maaf lahir batin lagi untuk itu.

Tapi kalau kamu kira saya sudah pulang setelah dari rumahmu setelah tadi kita main kemana saja, ternyata tidak juga. Tiba-tiba saya malas pulang. Tiba-tiba saya ingin ke sebuah tempat yang cukup cahaya dan cukup makanan, dan saya bisa merasa sendiri disana, entah kenapa, entah buat apa. Karena itu kira-kira saya pikir terlalu ramai kalau balik lagi ke alun-alun utara, dan terlalu sepi kalau duduk-duduk di Pengok, di bawah pohon-pohon dekat rel kereta. Maka dari itu saya pergi ke bawah jembatan layang janti saja, sekalian cari mie ayam kalau ada. Dan alhamdulillah, ternyata ada juga. Mie Ayam Jakarta. 1 porsi pakai pangsit harganya 7 ribu. Duduk disana sendiri sambil baca buku Drunken Marmut yang baru saja dibeli tadi. Sambil sesekali tertawa waktu baca karena sumpah lucu sekali. Biarin, biarin, terserah orang mau bilang saya ini senewen atau bagaimana.

HP berbunyi, ada banyak SMS masuk yang kebanyakan tentang maaf lahir batin. Inginnya dibalas, tapi batere HP sedang lemah. Dan toh, saat itu juga saya sedang ingin sendirian saja tanpa gangguan, jadi saya teruskan saja baca sambil makan mi ayam. Besok saja saya balas habis sholat ied.

Dari situ saya masih belum ingin pulang. Pengennya ke wonocatur, nengokin kontrakan yang dulu, tapi malas. Pengen juga ke bukit patuk, ke bukit bintang, buat lihat kembang api dari atas, tapi juga merasa ini sudah terlalu malam dan saya malas mengantuk ketika pulang dari sana nanti. Jadi saya tidak jadi ke bukit bitang. Jadi saya malah pergi ke sana, ke candi prambanan. Buat apa? Nggak tahu. Tiba-tiba saja pengen ke sana, lihat itu candi Rorojonggrang. Sambil sesekali menikmati kembang api yang berpencar ceria dari langit segala penjuru arah. Santai saja saya tancap gas motor, lewat jalan solo, lewat KR, lewat Bogem. Akhrinya sampai juga di prambanan. Lalu belok kiri, lewat jalur alternatif kalau mau ke Magelang. Terus maju menuju jalanan yang semakin jauh semakin gelap gulita.

Lihat itu ke atas, ke langit. Bintang banyak sekali berpendar, seolah-olah dari tadi dia sembunyi. Biar saya sadar, betapa saya ini harusnya bersyukur sekarang ini. Kepada itu anak yang sudah bikin takbiran tahun ini jadi terasa ramai. Terasa menyenangkan. Bikin saya seolah-olah tidak merasa sendirian lagi seperti biasanya.

Lalu saya pulang setelah lihat kembang api yang disulut pemuda-pemuda di pinggir jalan. Duar..duar..duar…

Terimakasih.

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: