Pendakian Merbabu 11-12 Desember 2009


Saya kesana lagi. Ke Merbabu tercinta yang serasa feel like home. Kali ini bersama anak-anak Avante, semacam pecinta alam di fisika teknik. Saya sebut semacam karena memang begitulah kenyataanya. Agak sangsi buat menyebut ini sebagai mapala. Organisasi ini baru berdiri 6 bulan yang lalu, dan saya bisa dianggap sebagai angkatan kedua disini.  But it’s okelah, let’s have some fun in here.

Pendakian terdiri dari sekitar 8 orang dari angkatan 2009 dan 7 orang angkatan 2008. Kesana naik motor dan rencanannya lewat jalur wekas. Saya tawari mereka buat mampir ke warung simbok e anak vachera, warung nasi goreng di deket gapura masuk kalau mau ke basecamp. Itu adalah warung nasi  goreng yang kamu harus rela buat nunggu lama sampai nasi goreng benar-benar jadi entah karena apa, mungkin karena si simbok masih harus ngonceki bumbu-bumbunya. Tapi begitu menjelang detik-detik sebelum jadi, siapkan ember atau minimal tutup mulutmu rapat-rapat biar ilermu tidak muncrat kemana-mana, karena bau yang keluar dari panci penggorengan adalah masyaAllah, dashyat luar biasa menggoda perut. Apalagi tahulah, hawa pegunungan  yang dingin, semakin bikin perut yang lapar ini ingin cepat-cepat makan itu nasi gorng buatan simbok. Yang konon luar biasa maknyus!

Lanjut kepada pendakian. Jalanan menuju basecamp sekarang sudah bagus. Sudah dikasih blok semen 2 jalur dan tengahnya sudah dikasih batu-batuan yang sejajar dengan tinggi blok semen. Jadi kami yang naik motor ini cukup santai saja melewati jalanan yang curamnya mring luar biasa. Dulu, sebelum dibangun ini jalan blok, trek masih berupa batu-batuan. Jika kamu boncengan, pendaki yang duduk di belakang kudu siap rela jalan kaki dari jalanan pinus sampai ke basecamp kalau motor tidak kuat. Pun kalau kuat, kasihan motormu, pasti akan berbau gosong di sekitaran mesinnya. Apalagi untuk motor saya yang cuma smash 110cc. Pahit.

Pendakian akhirnya dilakukan malam. Entah bagaimana, malah saya lagi yang jadi penunjuk arah. Dan, seperti biasa, nyasar. Saya ambil jalur kiri, tapi malah nyasar ke jalur tengah dimana jalanan akan habis karena longsor agak jauh diatas. Setelah pusing surve-surve, nggrasak, dan sedikit mangkel karena seolah tidak ada yang peduli bahwa kita sedang nyasar dan malah pada leha-leha, alhamdulillah dengan ditemani Ilham berhasil lagi nemuin jalan yang benar. Jalur kiri yang itu adalah jalur pipa.

Sampai pos 2 sekitar jam 2 pagi. Pendakian yang terhitung agak lama buat sekedar sampai di pos 2. Tapi terbayar, setidaknya menurut saya. inlah pos 2. Rumah kedua bagi saya. ada semacam lapangan disini. Ada air yang mengalir dari pralon-pralon. Ada gunung sumbing dan sindoro di ufuk barat sana. Ada bintang yang banyak dan berjatuhan. Oh iya, kata berita ini malam sedang hujan meteor. Pantas banyak lihat para bintang meluncur satu per satu. Saya lihat ada 3 waktu itu. Belum yang dilihat teman-teman lain.

Ada rokok dan api unggun. Ada kopi juga. Ada kacang kulit juga. Nyaman sekali. Sambil bicara-bicara tentang pengalaman masing-masnig dari kami di SMA dulu. Sampai tidak terasa bahwa ini jam 4 pagi. yang lain sudah tidur, sedangkan saya dan 3 orang lain belum. Ada Ilham Dhias dan Mas Anas, ketua Avante. Akhirnya memutuskan buat naik lagi saja. Ke puncak. Yak, kita resmi tidak tidur semalaman buat sekdar naik lagi. Niatnya cari sunrise, tapi kondisi tubuh agak drop karena tadi tidak tidur. Kecuali si Ilham monster satu itu yang terus saja nanjak tanpa lelah.

Sampai di pertigaan puncak agak siangan, habisin sekalian puncak syarif, lalu ke puncak kentheng songo. Mungkin sekitar jam 6 pagi sampai di situ. Duduk-duduk dan makan mi mentah dan minum hemaviton jreng. Dan rokok lagi. Ada 4 orang tua, 1 ibu-ibu, yang datang juga dari arah Selo. Kami mau minta fotoin, tapi ternyata si mereka sedang berdoa di semacam bak air yang terbuat dari batu yang terletak di tengah-tengah daratan puncak kenteng songo. Tidak bawa apapun, seperti bahan makan atau kompor, apalgi tenda. Tapi turun lewat jalur wekas, jadi tidak mungkin juga kalau seperti kami yang ninggal barang di tenda di pos 2. Saya agak bingung, bagaimana mereka sampai sini dan bagaimana dengan logistik dan semacamnya. Hebat sekali.

Agak lama disini, sampai agak siang. Lalu turun ke pos 2 lagi. di tengah jalan bertemu dengan rombongan yang tadi ditinggal naik duluan. Selamat mendaki ke puncak. Dan saya pun tidur di pos 2 sampai lama. Sampai puas demi membayar pendakian ke puncak barusan yang dibela-belain tidak tidur. Zzzz…

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: