Arsip untuk April, 2010

Pendakian Sindoro 13 – 15 April ’10

Pertama,  hal-hal yang menyebalkan ketika mendaki menurut saya adalah sebagai berikut:

  1. Mendaki bersama orang yang sok kuat, sombong, tidak sembodo. Saya tidak akan membicarakan apakah pendaki tersebut berpengalaman atau tidak. Kuat mendaki atau tidak. Yang jelas, orang yang sok kuat tapi nyatanya cemen hanya menghasilkan masalah.
  2. Mendaki bersama orang-orang yang tidak mengerti etika dalam mendaki. Seperti makan dan buang sampah sembarangan, menyenter muka, menyepelekan sesuatu selama pendakian, sembrono, tidak mau kerja saat sampai di tempat nge-dome dan hanya memilih tidur sampai segalanya siap, egois, dan lain-lain. Kau kira dirimu raja bung?!
  3. Mendaki dengan orang yang tidak tahu (atau mungkin malah memanfaatkan, semoga sih tidak) bahwa pendaki gunung adalah orang yang paling rela berkorban. Biasanya sih, kalau ada orang yang belum pernah mendaki gunung melihat pendaki gunung yang sudah agak berpengalaman (minimal mengerti etika dalam mendaki) maka akan sangat suka sekali merepotkan pendaki yang dinilai berpengalaman itu. Kita dapat mengerti hal tersebut dan saya kira itu wajar. Kita sadar bahwa kamu capek dan kita harus bantu kamu, tapi yo njuk jangan punya pikiran bahwa mereka itu kuat terus menerus selama mendaki. Apalagi lalu menggantungkan apapun kepada mereka, seolah kamu itu orang harus selalu dilayani, seolah mereka babumu. Mereka juga manusia bung, punya rasa capek dan mangkel.
  4. Manajemen yang buruk hanya akan merepotkan peserta pendakian. Ini serius. Pendakian kali ini saya benar-benar dibuat kaget. Oke, saya tidak berangkat waktu meeting sebelum pendakian, tapi saya merasa bahwa ini sama sekali tidak ada aturan. Tidak ada manajemen team packing, logistik, waktu, uang, transportasi. Hasilnya? Tidak ada kordinasi selama mendaki, bahkan sempat kehabisan logistik dan nge-camp lagi waktu pulang. Pendakian yang saya kira memakan waktu 2 hari malah menjadi 3 hari. Akhirnya, yang didapat hanya rasa capek, capek, dan capek. Sama sekali tidak menyenangkan.
  5. Mendaki ketika masih ada beban tugas sangatlah membuat dilema. Saya mendaki selasa, padahal kamis tugas uts prokom harus dikumpulkan paling lambat jam 10 pagi. saya pikir dulu saya bisa pulang rabu, nyatanya jam 9 pagi saya baru sampai Jogja. Beruntung ada teman yang bersedia ngirimin jawaban via email, dan tinggal saya ganti-ganti sedikit langsung dikumpulin. Keterlaluan sekali.
  6. Tidak usah salahkan cuaca dan hal-hal yang menghambat pendakian. Cuaca yang buruk memang tidak akan dapat kita prediksi. Yang sebaiknya dilakukan adalah siapkan hal-hal yang dapat meminimalisir akibat dari hal yang buruk tersebut. Sebelum hujan, sedia raincoat. Sebelum malam, sedia senter. Sebelum sendal jebat, sedia sendal pengganti. Sebelum baju basah, sedia baju ganti. Dan lain-lain. Paling penting, siapkan mental, sebelum menghadapi segala yang akan terjadi selama pendakian.

Sebenarnya masih banyak koreksi yang ingin saya beberkan tapi menurut saya itu sudah cukup mewakili.

Hei, apa-apaan sih itu?

Begini, tanggal 13 kemarin saya ternyata jadi mendaki gunung Sindoro. Mendaki dengan anak-anak fistek yang kebanyakan angkatan atas. Sebelumnya sempat malas karena ada tugas prokom yang harus dikumpul tanggal 15 jam 10 pagi. Apalagi gunung yang saya daki adalah Sindoro, tempat pendakian puncak pertama saya, yang sampai sekarang saya merasa bahwa itu adalah pendakian paling berat yang pernah saya lakukan. Tapi niat sudah terlanjur bulat, apalagi Ilham dan Ekat juga memaksa ikut, maka saya putuskan untuk ikut juga. Sore hari saya sudah sampai di KM. Yang saya kaget, begitu saya sampai langsung berangkat. Hah? Tidak ada waktu buat susun logistik dan packing ulang dulu nih? Baca entri selengkapnya »

Iklan

2 Komentar

Gerimis, Punk, dan Kerja

Kemarin saya harus ke Klaten. Harus, karena ini bukan ingin. Karena ini memang harus hadir di pernikahan mas sepupu saya. Tidak usah berbelit-belit karena hanya akan menghasilkan jayus.

Itu adalah hari yang hujan. Dan melankolis. Seperti lagu-lagu melly goeslaw (yang saya baca seperti “go slow”) yang mengalun dari pada tape mobil. Seperti lampu-lampu jam 9 malam di luar situ, di jalanan yang kuning temaram. Seperti butir-butir basah di kaca mobil, di aspal, di mantel-mantel pengendara motor, di kaca bis jogja solo. Dimana-mana. Bahkan di badan anak punk itu, yang bersatu padu dengan peluh keringat. Dan asap rokok. Dan di koin dan uang kertas yang dikumpulkannya. Hei, ini hari yang sedang hujan. Dan mereka masih juga ngamen. Asik sekali malah saya pikir. Se-gondes apapun gaya mereka, tapi yang kali ini saya tidak merasa ukhh. Saya malah merasa waw, andai kata saya berada di antara mereka. Membaur. Mencari duit dengan jual suara yang ngasal dan jelek banget. Merokok bersama di hujan yang romantis ini. Membicarakan tentang darimana saja mereka dapat uang. Dari kantong anak SMA yang kaya. Dari mahasiswa yang miskin. Dari guru. Dari sopir bus. Dari rock star. Dari pemabuk. Dari sastrawan. Dari desainer grafis. Dari dokter. Dari ibu rumah tangga. Dari pebisnis. Dari mana-mana. Lalu memikirkan lagi bahwa uang ini telah ada bahkan sebelum yang ngasih ini uang ini gajian. Menyenangkan untuk membayangkan bahwa mungkin duit-duit yang kita pegang ini telah melanglang buana menuju seluruh penjuru nusantara. Dari pertama kali di cetak oleh si pemerintah itu, lalu kepada PNS, atau mungkin koruptor, lalu kepada investor, lalu kepada pebisnis, lalu kepada anak buah, kepada anak buah lagi, kepada anak buah lagi, kepada pedagang nasi padang yang digunakan untuk memberi kembalian kepada seorang guru yang lewat, kepada penjaga kasir di matahari, kepada ibu kos, kepada tukang sayur, kepada guru lagi yang kebetulan beli sayur, lalu diberikan kepada anaknya yang mahasiswa, lalu pada akhirnya kepada si anak punk ini. Atau bahkan mungkin lebih jauh dari itu. Untuk hanya akan diberikan lagi kepada tukang jual nasi bungkus, atau buat beli beberapa batang rokok saja. Asik sekali. Asik lagi kalau seandainya kita jadi duit, pasti sudah merasakan travelling gratis kemana-mana. Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan komentar

Air, Knalpot, dan Siput

How far it goes.

Tempramen, menurut saya seperti air. Pada permukaannya, terdapat tegangan muka, menjadikan terdapat semacam selaput tipis di permukaannya, dan menjadikan dapat menahan gejolak di dalam air itu sendiri. Seperti  pada air embun yang dapat ditahan menjadi bulatan-bulatan yang sabar untuk tidak segera terjun ke tanah. Seperti ketika lidi atau daun jatuh pada air, tidak serta merta lalu tenggelam.

H = r ρ g h / 2 cos Ѳ

Itu sih, menurut saya saja. Tapi nyatanya mungkin saya merasa begitu. Begitu sesuatu yang besar mengguncang, maka kesabaran bisa dengan mudah pecah. Dalam artian lain, bagi saya, bukan lalu langsung meledak duar begitu. Saya malas buat marah, kecuali ketika berkendara. Saya bisa gila. Orang bilang, kepribadian sebenarnya seseorang adalah ketika mereka mengendarai sesuatu. Saya bisa dengan mudah misuh-misuh, menggeber-geber gas, dan lain semacamnya jika berkendara. Terutama ketika telat kuliah atau ingin ke suatu tempat, tapi jalanan sedang padat. Bahkan saya pikir, ini semua orang pada ngapain sih? Menuh-menuhin jalan aja, bikin macet, emang ngga tahu kalau saya sedang telat mau masuk kuliah? Tempramen saya parah ketika ride alone in my motorcycle.

Tapi ketika suatu saat yang lain. Ketika memang tidak ada tujuan yang buru-buru. Ketika memang tenang, maka saya itu adalah momen yang saya cukup suka. Otak dapat berpikir dengan baik dan cerah. Dan asik. However, saya sedang tidak ingin membahas sesuatu yang asik-asik, entah kenapa. Baca entri selengkapnya »

1 Komentar