Air, Knalpot, dan Siput


How far it goes.

Tempramen, menurut saya seperti air. Pada permukaannya, terdapat tegangan muka, menjadikan terdapat semacam selaput tipis di permukaannya, dan menjadikan dapat menahan gejolak di dalam air itu sendiri. Seperti  pada air embun yang dapat ditahan menjadi bulatan-bulatan yang sabar untuk tidak segera terjun ke tanah. Seperti ketika lidi atau daun jatuh pada air, tidak serta merta lalu tenggelam.

H = r ρ g h / 2 cos Ѳ

Itu sih, menurut saya saja. Tapi nyatanya mungkin saya merasa begitu. Begitu sesuatu yang besar mengguncang, maka kesabaran bisa dengan mudah pecah. Dalam artian lain, bagi saya, bukan lalu langsung meledak duar begitu. Saya malas buat marah, kecuali ketika berkendara. Saya bisa gila. Orang bilang, kepribadian sebenarnya seseorang adalah ketika mereka mengendarai sesuatu. Saya bisa dengan mudah misuh-misuh, menggeber-geber gas, dan lain semacamnya jika berkendara. Terutama ketika telat kuliah atau ingin ke suatu tempat, tapi jalanan sedang padat. Bahkan saya pikir, ini semua orang pada ngapain sih? Menuh-menuhin jalan aja, bikin macet, emang ngga tahu kalau saya sedang telat mau masuk kuliah? Tempramen saya parah ketika ride alone in my motorcycle.

Tapi ketika suatu saat yang lain. Ketika memang tidak ada tujuan yang buru-buru. Ketika memang tenang, maka saya itu adalah momen yang saya cukup suka. Otak dapat berpikir dengan baik dan cerah. Dan asik. However, saya sedang tidak ingin membahas sesuatu yang asik-asik, entah kenapa.

My head is crowded. Satu lagi kata orang, sih, jangan merasa bahwa kamu adalah yang palng menderita, paling susah, dsb ; karena masih banyak orang yang lebih menderita darimu. Tapi fvck with it. Yang namanya orang susah itu semua sama. Butuh penyelesaisan. Dan penyelesaian bukan didapat dari kelegaan dengan membandingkan kesusahan saya dengan kesusahsan orang lain. What a mess. Saya memang egois, tapi menurut saya ini logis. Setiap orang punya masalah sendiri-sendiri. Orang terlilit utang karena sebelumnya dia berhutang banyak. Orang mengemis karena dia malas buat bekerja. Orang dipenjara karena bersalah. Orang stres dan underpressure karena banyak tugas, karena memang tugas tersebut tanggung jawab dia buat diselesaikan. Ini logis. Inilah hukum kesetimbangan. Ada sebab ada akibat. Dan dari semua itu, yang dapat dilakukan adalah menyelesaikannya. Saya tahu, hidup tidak mungkin tanpa masalah. Pasti akan timbul lagi satu masalah baru setelah yang lain selesai. Hidup tidak seperti film yang ending-nya expectible dan benar-benar end here. Sialnya, hidup itu terasa neverend, meski jelas suatu saat nanti akan berakhir. Dan seharusnya, itulah yang menjadikan asik.

And how far I go. Sejauh mana sudah saya berjalan? Haih, saya merasa seperti siput. Berjalan sangat lambat.

Tapi bagaimanapun, biar bagaimana juga, ini adalah hal yang ingin saya ucapkan buat sekarang ini. biar bagaimanapun semuanya memenuhi otak, biar bagaimanapun segila-gilanya. Biar sebagaimana saya berjalan lambat.

“i’ll tell you secretly, i did not forget about the rumor of the test, but because the race made me so happy, so I felt that if i reach the end too early, it would have been a waste. I want to slowly, using my own methods, to slowly march into the world of perfection”

Yup, felt that too. Seperti sebuah perjalanan. Saya tidak ingin berakhir begitu saja di tujuan saya. Biksu Tong pun berjalan ke barat di mulai dengan satu langkah pertama, dan perlahan-lahan, satu demi satu langkah, menghadapi segala bahaya, mengenyahkan segala prahara, menyelesaikan segala konflik. Untuk pada akhirnya mendapatkan kitab suci.

Hmm, take it wasy dehh. Melangkah seperti biasa. Berjalan seperti biasa. Mendaki seperti biasa. Tak usah pikirkan puncak, karena nanti pasti akan sampai sendiri.

I’ll take my own step, to my own world of perfection.

Bismillah..

(wow, tanpa sadar, mood saya berubah seiring dengan semakin bawah tulisan ini, heheh iki sakjane ngomongke opo sih?)

Gambar  :  maomao520.yeah.net

Quote  : Akari Mizunashi, dalam Manga Aria, vol 01 navigation 4

Iklan
  1. #1 by Atinna on April 12, 2011 - 8:39 pm

    sama bay, aku kalo berkendara gak kira-kira misuhnya, hahaha

    yah kalau soal “crowded head” aku sering merasa gitu, apalagi aku sering ngerasa tertinggal dari temen2ku di angkatan (terutama TN)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: