Gerimis, Punk, dan Kerja


Kemarin saya harus ke Klaten. Harus, karena ini bukan ingin. Karena ini memang harus hadir di pernikahan mas sepupu saya. Tidak usah berbelit-belit karena hanya akan menghasilkan jayus.

Itu adalah hari yang hujan. Dan melankolis. Seperti lagu-lagu melly goeslaw (yang saya baca seperti “go slow”) yang mengalun dari pada tape mobil. Seperti lampu-lampu jam 9 malam di luar situ, di jalanan yang kuning temaram. Seperti butir-butir basah di kaca mobil, di aspal, di mantel-mantel pengendara motor, di kaca bis jogja solo. Dimana-mana. Bahkan di badan anak punk itu, yang bersatu padu dengan peluh keringat. Dan asap rokok. Dan di koin dan uang kertas yang dikumpulkannya. Hei, ini hari yang sedang hujan. Dan mereka masih juga ngamen. Asik sekali malah saya pikir. Se-gondes apapun gaya mereka, tapi yang kali ini saya tidak merasa ukhh. Saya malah merasa waw, andai kata saya berada di antara mereka. Membaur. Mencari duit dengan jual suara yang ngasal dan jelek banget. Merokok bersama di hujan yang romantis ini. Membicarakan tentang darimana saja mereka dapat uang. Dari kantong anak SMA yang kaya. Dari mahasiswa yang miskin. Dari guru. Dari sopir bus. Dari rock star. Dari pemabuk. Dari sastrawan. Dari desainer grafis. Dari dokter. Dari ibu rumah tangga. Dari pebisnis. Dari mana-mana. Lalu memikirkan lagi bahwa uang ini telah ada bahkan sebelum yang ngasih ini uang ini gajian. Menyenangkan untuk membayangkan bahwa mungkin duit-duit yang kita pegang ini telah melanglang buana menuju seluruh penjuru nusantara. Dari pertama kali di cetak oleh si pemerintah itu, lalu kepada PNS, atau mungkin koruptor, lalu kepada investor, lalu kepada pebisnis, lalu kepada anak buah, kepada anak buah lagi, kepada anak buah lagi, kepada pedagang nasi padang yang digunakan untuk memberi kembalian kepada seorang guru yang lewat, kepada penjaga kasir di matahari, kepada ibu kos, kepada tukang sayur, kepada guru lagi yang kebetulan beli sayur, lalu diberikan kepada anaknya yang mahasiswa, lalu pada akhirnya kepada si anak punk ini. Atau bahkan mungkin lebih jauh dari itu. Untuk hanya akan diberikan lagi kepada tukang jual nasi bungkus, atau buat beli beberapa batang rokok saja. Asik sekali. Asik lagi kalau seandainya kita jadi duit, pasti sudah merasakan travelling gratis kemana-mana.

Lalu jadi terpaksa ingat bahwa ini masih kepada hari yang gerimis. Dan saya yang masih menjadi mahasiswa yang hidup dengan konvensional saja. Tidak begitu ekstrim seperti mereka itu. Masih harus susah buat mikir masa depan yang mau jadi apa. Tidak seperti mereka yang mungkin mikir tapi tidak begitu dibikin pusing. Atau ternyata malah lebih pusing lagi?

Hmm, ngomong-ngomong tentang perjalanan saya ini, adalah tentang nikah. Hmm, something that made me little bit envy. Asik sekali sepertinya. Hmm, hmm hmm.. satu hal yang simpel yang dari dulu saya iri dan menjadi ingin, adalah ketika melihat sepasang suami istri muda yang berjalan berdua menuju masjid di malam hari ketika tarawih. Sambil berbicara berdua dan mungkin sedikit bercanda. Entah kenapa terlihat sangat menyenangkan buat saya.

Dan membuat tangan tiba-tiba sms.

-Suka hujan ngga dirimu?

-Hmm suka, tapi lebih suka yg gerimis, hahaha

-Hehe setuju, tapi asik kayak gini, yang berpetir-petir sekalian, keren

-Ga suka petir og

-Asik ah wee, eh hujan2 gini dgrin “menghitung hari” hwaha so sweet tenan

-…*sepertinya tidak terkirim*

-Kekirim ngga td?

-Ga iq

Dan berakhir karena sudah sampai. Sudah harus jadi saudara yang baik, dan otomatis menjadi pembantu yang baik buat bantu-bantu persiapan nikahnya besok.

Sebenarnya sih, saya ingin membuktikan satu hal bahwa saya tidak seperti dulu lagi. Loh apa ini? out of topic. No, it’s still in the topic. Karena tadi menyangkut-nyangkut tentang masa depan, maka pada perjalanan pulang yang masih juga hujan ini, tumben-tumben saya sedikit berbicara dengan keluarga tentang kuliah. Actually, saya adalah termasuk manusia yang jarang cerita apapun dengan orang tua, tapi untuk kali ini bolehlah. Dan saya mendapat wejangan yang tumben juga dirasa saya bagus. Masa depan itu ngga usah pusing-pusing dipikirin sekarang. Sekarang mah kuliah-kuliah aja. Biarin besok itu masa depan akan datang pada waktunya, seiring perjalanan saya yang sekarang ini. Mungkin ngga gitu juga sih sebenarnya yang beliau bilang, itu cuma yang saya tangkap aja.

Dan sebenarnya sekali, saya ingin membuktikan padamu bahwa hei, sekarang saya berani buat bilang sudah sedikit lebih kuat. Setidaknya, saya sudah tidak pernah berpikir bahwa jurusan saya begini dan begitu lagi. Bahwa inginnya saya begini bukan begitu. Ketika dulu terbesit keinginan untuk ikut ujian masuk universitas lagi, maka sekarang sih nggak lagi. saya pikir bahwa ketika mengambil hal itu, berarti saya telah undur sebanyak satu tahun. Yaaaa, kalo pilihan itu tepat. Kalo ngga?

Dan hmm hmm hmm,

Dalam gerimis yang masih berlanjut hingga sekarang ini, apa yang kamu sedang pikirkan di jauh sana?

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: