Arsip untuk Mei, 2010

Hotel, Golf, dan Hujan yang Mubadzir

Ada satu hal yang menarik kalau saya berangkat atau pulang kerja. FYI: lokasi tempat kerja saya itu di belakang Hotel Hyatt. Hotel yang buesaaar sekali. Yang bagus dan hijau. Yang banyak mobil keluar masuk dan jarang sekali terlihat motor. Yang ada kolam renangnya. Ada restorannya. Ada WC dalam. Ada TV dan AC. Ada ruang rapatnya. Ada BARnya. Ada tempat panjat dinding. Ada SPA. Ada salon dan mall-nya. Ada tempat pijat plus2. Heh emang ada? Kayak pernah masuk aja. Tapi yang jelas ada lapangan Golf-nya. Lapangan yang buesaaar, dan bagus, dan ramai beberapa orang yang mudah secara finansial kalau pagi. Juga ternyata ada itu, caddy, dan mobil golf, hal yang saya kira Cuma ada di luar negeri dan komik dandoh. Oh dan di kasus Antasari juga. Dan yang saya kira keren adalah ketika malam, saya suka lampunya yang terang bersinar di ujung lapangannya, dibalik warung angkringan yang buka sampai jam 1. Yang, ini apa sih sebenarnya gunanya? Ada gitu golf malam-malam?

Di sekliling lapangan golf itu, lucunya, ada semacam pagar yang tinggi sekali. Yang dingin bagai ingin bicara bahwa kamu yang tidak cukup tinggi dan besar status sosialnya, pandangilah kemewahan ini. Kemewahan yang tidak akan kamu dapat kalau tidak menginap di sini, dan membayar uang sejumlah zzzz. Yang secara logika tidak mungkin kamu jamah, kecuali habis menang undian atau togel. Yang lucu lagi adalah, bahwa lapangan golf kontradiktif sekali  dengan lingkungan sekitar. Di sudut belakang dari situ ada sepetak lapangan futsal, yang jelek dan sempit, tapi ramai dengan orang-orang kalau sore pada main bola. Berseragam pula. Pakai sepatu. Tapi kelihatan sekali bahwa mereka sangat senang dan menikmati lapangan yang menurut saya Cuma seuplik itu. Sangat lucu ketika membandingkan dengan ‘ramainya’ lapangan golf kalau pagi. Yang terkesan eksklusif dan meng-kasta sekali. Urgh..

Coba bayangkan, jika sekiranya lapangan golf yang berhektar-hektar itu dibongkar. Lalu dijadikan pasar tradisional saja, berapa kepala keluarga bakal dapat kerja? Dan penduduk sekitar dan mahasiswa juga mudah cari sembako. Coba bayangkan lagi kalau itu dibongkar, lalu dijadikan perumahan yang murah, berapa kepala keluarga yang masih terlantar dan mengontrak akan dapat rumah? Coba bayangkan lagi, kalau seandainya lapangan golf itu dibongkar, lalu dijadikan apa ya.. apa sajalah. Lapangan bola mungkin, yang bisa muat 20ribu penonton. Apapun asal bukan GOLF.

Saya kira sih, pencipta dari olahraga ini adalah orang yang paling suka mubadzir sedunia. Apa coba, lapangan segede itu cuma buat main pukul bola yang ukurannya tidak lebih besar dari telur ayam. Dan Cuma dimainin oleh SATU orang saja. Dan Cuma ada 18 lubang pula buat dimasukin. Dengan alat pukul yang jumlah jenisnya sangat banyak, yang jadi harus bawa-bawa kemana-kemana dan berat. Dan untunglah dalam golf itu ada caddy yang bisa disewa buat bawa-bawain. Dan ada mobil yang kalau sekiranya malas buat jalan-jalan jauh. Yang membuat bertanya, ini dimana sih sebenarnya sisi ke-olahraga-annya? Pemukul dibawain, jalan pakai mobil.

Tapi tapi, jogja kalau malam sekarang suka hujan. Baunya yang khas dan harum kembali tercium. Dan jangkrik suka mengkrik krik kalau malam. Dan juga kodok. Dan cicak. Dan lain-lain. Membuat dingin dan tidur menjadi nyenyak. Tapi kuliah sedang banyak-banyaknya tugas. Dan kerjaan juga sedang sibuk-sibuknya. Membikin seolah saya begitu mubadzir juga, melepaskan kesempatan buat tidur enak dikala hujan malam-malam. Oh, seolah saya seorang yang sangat merugi.

Iklan

Tinggalkan komentar