Einstein, Proses, dan Mencatat


Adik saya ulang tahun hari ini. tapi tetap saja saya diamkan. Hubungan saya dengannya memang sangat buruk. Bukan buruk dalam artian tiap hari bertengkar, tetapi saya jarang buat cerita atau apa gitu dengannya. Ini berlangsung memang sejak dulu. Sejak kecil. Entah bagaimana ceritanya sehingga menjadi seperti ini. kadang-kadang iri juga lihat banyak teman yang akur dengan adiknya. Ingin juga seperti itu, tapi gimana caranya saya juga ngga tahu. Selamat ulang tahun, bagaimanapun juga, Ervina Nur Fauzia.

Ada banyak yang berubah dalam diri saya. Sekali waktu ketika scroll up, ke halaman-halaman depan jurnal, ketika waktu pertama-tama menjadi mahasiswa, ternyata hanya dalam waktu 1 tahun saya telah berubah sebanyak ini. Lucu juga, membandingkan diri yang dulu dan sekarang. Juga diri teman-teman dan siapapun yang juga turut saya perhatikan secara sengaja atau tidak. Oh, waktu berjalan begitu cepat, bagai Einstein yang mungkin benar dengan teori relativitasnya. Ya cepatlah,  Tein. Kan ketika kita merasa cepat itu adalah ketika waktu mengingat, bukan merasai. Apalagi kalau cuma dituang dalam tulisan begini. Waktu 1 tahun bisa saja saya rangkum dalam 1 paragraf saja.

Biar begitu, tetap saja ya, hal yang sudah dimulai pun pasti akan berakhir. Dan akan tidak terasa ketika memang benar-benar berakhir. Seperti SMA yang telah lama lewat. Seperti tugas dan praktikum yang sudah minggu lalu selesai. Seperti kerjaan yang ternyata juga sudah selesai. Seperti puncak yang kalau didaki lama-lama juga sampai. Seperti hidup, yang tanpa terasa lalu nanti pasti mati.

Kamu tahu? Pasti tidak karena saya belum kasih tahu. Halah. Tapi saya rasa, hal paling nikmat dari sebuah proses mungkin adalah proses itu sendiri. Seperti berpergian, saya rasa hal yang menarik adalah perjalannya. Bukan tujuannya. Bagai saya sih, apa-apa yang dirindukan dari perjalanan adalah perjalanan itu sendiri. Bukan hasil. Seperti bekerja, bukan gaji yang akan selalu diingat, meski tidak dipungkiri bahwa itu adalah ahl yang diincar. Seperti kuliah, bukan nilai yang harusnya diingat, tapi kuliahnya itulah.

Apa pula ini. Ini sudah minggu tenang. Kesimpulan dari kuliah saya semester ini adalah, saya sebenarnya ngapain sih kuliah? Aneh, masuk cuma tidur, atau malah gambar. Malam berkutat dengan hal lain yang tidak ada hubungannya dengan kuliah. Dan bagaimanapun minggu tenang berakhir dalam seminggu lagi. Saya kira ini akan cepat berlalu mungkin. What should i do? Catatan juga kosong. Buku juga abstrak dan tebal dan sangat malas buat dipelajarin.

Sudahlah, sebaiknya saya belajar sebisanya. Lalu seiring dengan itu, pun, nanti juga kelar UAS. Lalu dapat gaji. Lalu jalan-jalan kemana saja saya suka. Hup!

Saya kuliah buat apa, nanti saja saya pikirkan. Saya pikir jalan saya masih kabur. Semoga bisa saya tentukan setelah ini. Amin..

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: