Arsip untuk Agustus, 2010

Es Kopi dalam Sebuah Malam yang Hedon

Dan adalah dia yang tidak pernah bisa berbohong, selalu ada pahit dalam setiap manisnya.

Dan mereka adalah 3 orang yang biasa. Bahkan terlalu biasa untukmu sehingga kamu mungkin bertanya untuk apa kisah mereka diceritakan. Tapi buat saya sih, apa salahnya. Mereka adalah 2 cowok dengan perangai dan cara berpikir serta selera musik yang hampir sama, kecuali cara mereka berpakaian dan bertingkah, dan 1 cewek yang ceria, kalau tidak mau dibilang cerewet dan hiperaktif. Tapi bagaimanapun juga, mereka adalah 3 orang dengan masing-masing sifatnya yang sudah sama-sama mereka tahu karena sedari kecil bersama. Bukan dalam artian menjadi sahabat yang kental, hanya karena memang rumah mereka berdekatan dan mereka sepantaran dalam umur yang masih 19 tahun. Bukan lalu menjadi sahabat yang penuh perjanjian dan penuh kisah dan kenangan romantis. Hanya kenal saja, dan tahu kisah masing-masing. Tidak lebih.

Dan mereka, 3 orang yang biasa itu, adalah mereka yang sedang duduk di depan sebuah tumbler berisi kopi yang cukup mahal, di sebuah kafe di kota Jogja. Mereka adalah 3 orang yang benar-benar sederhana, yang masih saja menganga kaget melihat daftar menu yang berisikan harga-harga dalam dolar. Mahal.

Dan di depan kopi dalam berbagai jenis yang mereka pesan, dan di antara nada-nada white shoes and the couples company yang mengalun pelan di speaker di pojokan ruangan, adalah mereka yang selalu bertanya tentang orang lain yang menurut mereka entah bagaimana cara berpikirnya. Tentang kumpulan disana itu, yang dalam rumpinya gampang sekali main selendotan antar lawan jenis. Dibandingkan 3 orang tadi yang untuk saling menyentuh pun masih segan. Tentang mereka di pojokan sana, yang asyik sekali dalam dunianya berdua. Dibanding mereka yang selalu saling menertawakan masing-masing kisah asmara mereka yang sama-sama selalu gagal. Tentang dia yang sendirian menikmati kopi hitam yang hangat. Sepertinya dia adalah dirinya yang memang mengerti tentang bagaimana menikmati kopi. Tidak seperti 3 orang itu, yang memesan sebuah kopi hanya dengan pertimbangan nama yang keren dan harga yang pantas buat kantongnya.

Dan nada-nada itu tiba-tiba berubah menjadi abdul & the coffee theory.

Oh, musik yang bagus.

Dan tentang kopi, tidak ada satupun dari mereka adalah seorang expert dalam menikmati olahan biji-biji hitam yang tercampur dalam rasa yang selalu mereka anggap ajaib. Setidaknya salah satu dari mereka yang sehari-hari di rumah suka bikin coffeemix. Maka dari itu, santai saja mereka minum. Tidak perlulah mencari filosofi yang terkandung dari kopi yang mereka pesan. Masih banyak yang bisa diobrolkan selain itu. Ini malam yang berharga pikir mereka. Dan waktu yang bagus ini tidak perlulah disia-siakan dalam bahasan yang susah.

Dan lalu, 3 orang itu masih disana. Di sebuah kafe yang bagus di kota Jogja. Menggosip dan memakan french fries. Dan menertawai kisah yang dibagi oleh masing-masing dari mereka.

Dan sampai kopi sudah habis sampai ke ampasnya, mereka masih disana. Menuangkan berbagai pengalaman untuk lalu kembali ditertawai bersama.

Sampai malam benar-benar larut dan mereka harus pulang dalam keadaanya yang mengantuk.

Dan waktu adalah dirinya yang selalu berputar dalam detiknya yang tak pernah kita sadari. Dan demi detik yang tak akan bisa terulang, kenangan adalah dia yang akan selalu abadi dalam tiap momennya. Yang akan selalu indah bagaimanapun juga.

Bagaimanapun juga sebuah kenangan itu terjadi.

Tinggalkan komentar

Bagaimana Saya Mencintaimu

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

-Soe Hok-Gie-

“merah putih teruslah kau berkibar
di ujung tiang tertinggi di indonesiaku ini
merah putih teruslah kau berkibar
di ujung tiang tertinggi di indonesiaku ini
merah putih teruslah kau berkibar
ku akan selalu menjagamu”

-bendera – coklat-

1 Komentar

Kamu Membaca Sebuah Perpustakaan

Kamu akhirnya kesana untuk pertama kali.

Sedikit ragu, karena kamu takut dengan dia yang dinamakan birokrasi. Tapi toh, kamu tetap kesana juga. Sekedar memuaskan rasa ingin tahu seberapa banyak ilmu yang bisa diserap dari tempat itu.

Dari sebuah perpustakaan kota.

Itu adalah sebuah gedung tua yang sekarang sudah direnovasi menjadi bagus. Dengan gaya arsitektur yang modern, elegan, dan berwarna-warni. Kamu parkir disana, lewat pintu belakang yang nantinya membawamu ke parkir di halaman depan. Melewati beberapa jejer kursi yang tertata melingkar dan ditutupi sebentuk payung permanen karena berbahan semen. Yang sekelilingnya berornamen bagus dan banyak pohon dan rerumputan. Yang entah kenapabertuliskan cafenet. Oh aku tahu, itu karena kamu pasti akan mendarat disana kalau kamu dalam kondisi membawa laptop yang bisa mendapati sinyal wifi, sedang muak dengan tulisan-tulisan, dan ingin facebook-an atau sekedar chatting dengan siapa saja di dunia maya.

Tapi nyatanya kamu malah masuk ke dalam. Aku bisa tebak, itu pasti karena kamu datang pertama kali. Iya kan? Kamu penasaran dan pastinya kamu ingin mendaftar menjadi anggota perpustakaan. Untuk jika kamu tertarik salah satu dari barisan buku disana bisa kamu bawa pulang. Maka kamu kesana, ke meja di sebelah kanan. Tata ruang yang lucu menurutmu, dimana si pegawai perpustakaan itu berkantor di dalam sebuah meja yang berbentuk melingkar. Itu adalah, sebuah ruangan yang kalau kamu lihat dari atas, bisa kau samakan dengan donat, dengan ibu-ibu dan mbak-mbak di tengahnya yang bolong mencatat buku yang mereka orang-orang yang datang pinjam dan kembalikan. Juga sekaligus yang ingin mendaftar. Seperti kamu.

Kamu menyerahkan fotokopi kartu mahasiswamu, juga 2 lembar foto. Kamu membawanya pasti karena kamu sudah tahu sebelumnya bahwa itu adalah persyaratan buat menjadi anggota perpus. Kamu lega karena info yang kamu miliki benar ketika kamu baca tulisan-tulisanyang digantung di tiang di samping meja pendaftaran.

“Sudah bawa persyaratannya kan?”, kata mbak yang jaga perpus.

“Sudah mbak, cuma kurang satu aja yang ketinggalan, formulirnya”, katamu sambil ber-hehehe. Kamu berharap dengan itu suasana cair karena kamu mencoba bercanda, tapi nyatanya si mbak-mbak itu diam saja. Mungkin tidak mengerti atau candaanmu terlalu garing untuk sekedar ditertawai. Membuatmu salah tingkah dan lalu mengisi dengan diam formulir yang diberi oleh si mbak-mbak tadi. Oh, kamu memperhatikan juga. Ternyata si mbak-mbak tadi hamil. Ketika kamu berpose foto, tingkahmu yang salah tingkah itu akhirnya bikin dia senyum juga. Cukup cantik sehingga kamu malah merona. Cair sudah suasana walau kamu malah merasa malu sekarang.

Lalu kamu masuk ke dalam setelah menitipkan tas dan mendapatkan kartu bertulis nomer 21. Itu, kalau kamu hilangkan, harus membayar sebesar Rp50.000,00 dan benar-benar harus bisa membuktikan bahwa tas yang kamu bawa dan titipkan tadi adalah tasmu kepada si petugas, dengan cara apa aku juga tidak tahu karena tidak pernah. Kamu masuk dan terheran sebentar karena ternyata tempatnya kecil. Tidak sesuai dengan bayangan perpustakaan kota dalam imajinasimu yang besar dan modern. Dan ada tempat tidurnya jika mungkin ada yang ngantuk karena lelah membaca, atau ingin membaca seperti kebiasaanmu, sambil tiduran. Pasti akan sangat asik jika begitu.

Kamu melihat-lihat buku yang tertata di rak-rak disana. Sambil memperhatikan orang-orang pada duduk diam dan membaca. Atau hanya sekedar facebook-an di dalam diamnya. Atau yang kamu pandang wah, karena sambil belajar dan membuat ringkasan dari apa yang dia baca. Mungkin mau bikin skripsi, pikirmu. Ada yang cakep dan cantik juga ternyata, tapi kebanyakan seperti apa yang kamu imajikan tentang si kutu buku. Kalau nggak dia yang berkacamata tebal, adalah dia yang berjilbab. Entah kenapa jika kamu melihat seorang cewek berjilbab (yang bukan sembarang jilbab tentunya), interpretasimu langsung lari ke arah sosok seorang berwawasan luas dan suka membaca buku-buku berkelas.

Akhirnya kamu menemukan sebuah buku yang kamu minati buat baca. Buku ringan saja, sebuah kumpulan cerpen dari seorang yang kamu kenal. Kamu kenal bukan karena kamu pernah berkenalan, karena siapa juga kamu? Itu tapi jelas karena terkenalnya si penulis. Duduk kamu disana. Di sebuah kursi di meja panjang yang disediakan sebanyak 3 baris untuk mereka-mereka yang ingin baca-baca disana. Duduk di baris paling dekat dengan pintu luar.

Kamu asik membaca, sambil di headset yang tertempel di telingamu mengalun lagu-lagu dari the trees and the wild dan frau dari handphone-mu. Dan ada juga muse dan sheila on 7 dalam playlistmu. Itu karena kamu juga tahu, kamu bosan jika diam. Kamu membaca sambil memperhatikan lingkungan sekitar. Oh, semua pada asik sendiri. Ada yang sama sendiri sepertimu, ada yang berdua dengan pacar, ada yang berkerumun dalam tenangnya karena pada sama-sama membaca. Ada yang baru datang dan cantik sekali. Kamu melihatnya seperti kamu merasa mengenal dia. Sialnya tidak. Dia adalah dia yang agak tinggi, berwajah cerah dan cool kalau tidak mau disebut dingin, berkaus coklat, bercelana jeans, dan baru saja menitipkan tasnya yang lucu. Kamu kembali membaca buku karena takut disangka apa oleh orang-orang jika kebetulan melihatmu. Atau ternyata malah dia yang melihatmu memperhatikannya. Tapi tetap saja matamu tidak bisa lepas darinya. Untung buku yang kamu baca juga sama menarik, sehingga kamu bisa kembali tenggelam ke dalam bukumu ketika si dia sibuk mencari buku yang ingin dia baca.

Ternyata isi perpustakaan lumayan banyak juga. Setidaknya, tiap baris mejanya ada satu dua orang mengisi. Sehingga entah bagaimana dia bisa duduk dalam barisan yang sama denganmu karena masih kosong. Kamu di sudut pinggir, dia di pinggir satunya. Dan dia yang mengerjakan skrikpsi tiba-tiba bisa duduk di sampingmu. Menjadi penengah diantaramu dan dia. Kamu mengumpat dalam hati, sialan!

Kamu kembali tenggelam dalam bukumu setelah sepintas tadi meliriknya sedikit. Sekali lagi memastikan bahwa dia adalah dia yang kamu kenal sebagai si Fulan atau bukan. Dan lalu kamu mantap berkata bukan karena Fulan lebih pendek walau beneran mirip. Sembari kembali membaca buku, kamu lihat lingkungan sekitar. Para kaum adam seolah pada sama seperti yang ada di otakmu. Mencuri-curi pandang sekali-kali dalam dirinya yang sedang membaca. Malah ada yang terang-terangan memperhatikan gerak-gerik si cewek aduhai  tadi. Itu adalah orang di meja depanmu yang memakai jumper dan bertampang sedikit preman. Kamu bahkan sempat berpikir, ada juga ya orang macam preman begini di perpustakaan?

Kamu lihat lagi si cewek tadi. Masih setia dalam bukunya. Sedikit susah karena kamu di sampingnya, dan ditutupi oleh si dia pencari refrensi skripsi. Oh, masih disana. Tapi ini sudah jam 1 dan kamu belum Dhuhur. Maka kamu ke sana. Ke mushola belakang perpustakaan. Oh, demi mushola yang hanya ada 2 sajadah ini, kamu lalu kembali lagi ke dalam perupstakaan setelah tadi sholat. Melanjutkan membaca buku yang tadi sempat kamu tinggalkan di meja. Tapi ternyata perpus ini bertambah ramai. Kursimu sudah ditempati oleh dia si cewek berkerudung yang sedang buka facebook (kenapa sih tiap lihat orang-orang ngenet pasti halaman facebook yang dilihat?). Tapi cewek berkaus coklat itu masih di pojokan sana. Juga si pekerja skripsi. Eh, tapi kursi di depan tempat kamu duduk tadi sudah kosong. Kamu memilih untuk duduk disana. Kali ini kamu mempunyai 2 keuntungan. Kamu bisa curi-curi pandang si cewek dengan lebih mudah, sekaligus juga menutupi dia dari si cowok berjumper yang seolah matanya gatal dan obatnya adalah ketika melihat dia si cewek berkaus coklat. Kamu membaca sambil tertawa dalam hati. Evil grin!

Kamu terus membaca sampai tak terasa jam menunjukan jam 2. Perpustakaan kota tutup juga karena ini minggu. Dan lalu dia, dia yang berkaus coklat itu, meminjam buku yang dia baca dari tadi. Kamu lalu berspekulasi. Sebuah buku diberi jatah 1 minggu untuk setiap pinjam bawa rumahnya. Kamu menyimpulkan bahwa seminggu lagi kamu harus  ke sini lagi. Ke perpustakaan kota ini. Sambil lalu berharap bertemu dia lagi yang akan mengambalikan buku yang tadi dia pinjam. Untuk lalu mau ngapain kamu juga nggak tahu. Kamu hanya berharap bodoh, bahwa ini akan berlanjut manis. Semanis cerpen yang tadi kamu baca.

Semanis cerpen berjudul “Cinta Lokasi”.

Syukurlah ini berakhir dengan tidak usah diperpanjang lagi. Dengan kamu yang kembali kesana seminggu kemudian dan tidak mendapati lagi si gadis berkaus coklat. Mungkin dia adalah dirinya yang seperti kamu. Hobi mengembalikan barang rentalan dengan terlambat.

Sayang sekali.

NB:

Perhatian, ini cerpen lho!

2 Komentar

Mahameru

Saya kembali lagi ke sini. Jogja, kota tercinta dengan segala keramahannya. Setelah hampir seminggu kemarin ke tempat yang sudah bertahun-tahun saya impikan untuk injakan kaki kesana. Mahameru. Tanah tertinggi di pulau ini. Puncak abadi para dewa.

Apa ya, saya jadi bingung sendiri. Saya benar-benar ingin menulis banyak hal mengenai apa-apa yang sudah saya dapat selama perjalanan ini. Perjalanan-perjalanan ini. Mulai dari sekedar perjalanan ke Bandung, hingga pencapaian puncak Mahameru. Seluruh keinginan saya tiba-tiba terkabul. Saya tidak tahu bagaimana harus berterimakasih kepada Yang Menciptakan saya, Sang Pewujud Impian. Kepada Allah Yang benar-benar Sangat Maha Pengasih dan Penyayang.

Lanjut!

Saya sedang malas menulis catatan pendakian karena akan sangat panjang sekali. Mungkin nanti malam atau besok pagi saja. Atau ketika foto-foto sudah didapat, atau di upload di facebook. Atau mungkin malah nggak sama sekali. Saya sedang ingin berkata-kata saja.

It’s not about the destination, but the journey. Saya rasa itu benar. Ini bukan tentang tujuan. Ini tentang perjalanan itu sendiri. Perjalanan yang membawa mimpi-mimpi yang sudah lama terpendam selama bertahun-tahun. Yang membawa berbagai emosi dan perasaan yang campur aduk. Yang membawa kepada perkenalanan dengan berbagai orang yang baik-baik. Yang mematahkan pepatah “jangan percaya pada orang yang nggak dikenal” karena nggak selamanya orang yang nggak dikenal itu jahat.

Terimakasih kepada Pak Ribut dan Pak Giman yang menemani saya dan Fikar di kereta. Yang terus saja mengobrol tentang rasial dan membandingkan keragaman berbagai bahasa di pulau Jawa seiring melajunya kereta. Yang lalu membuat tidak bisa tidur di kereta ekonomi ini karena terus saja tertawa. Yang lalu memberi tahu jalan yang lebih dekat ke Malang adalah turun di Jombang, bukan di Surabaya. Yang lalu baru kita tahu namanya ketika kita berpisah.

Terimakasih buat saudaranya Fikar yang baik dan memberi tempat transit, makan, dan mandi gratis. Om dan Tante Ayup beserta anak-anaknya Rangga dan mbak April, dan anak tetangganya si siapa itu lupa.

Terimakasih kepada para sopir angkutan yang membawa kami hingga akhirnya sampai di Ranupane. Kepada sopir-sopir yang kami carter dari terminal Landongsari hingga Madyapura yang ternyata dari Sleman. Kepada sopir angkutan yang membawa kami sampai ke Tumpang, dan juga turut serta dalam usaha pencarian kendaraan yang harus membawa kami ke Ranupane. Untuk sopir truk sayur yang ternyata dari Magelang, yang membawa kami dengan enak menikmati perjalanan dari tumpang ke ranupane. Sampai sempat diberi kesempatan untuk berfoto dipinggir lautan pasir gunung bromo. Benar-benar orang-orang yang baik sekali. Sialnya bagi kami semua karena tidak tahu nama-nama  mereka.

Terimakasih untuk Pak Rendi yang membawa kami turun malam-malam hujan setelah kami sampai lagi di Ranupane dengan Jeep yang melaju gila dengan tarif 30ribu seorang. Yang mempersilakan untuk menginap di rumahnya, memberi makan, dan memberi WC gratis untuk membuang hajat. Oh iya, juga mencarterkan sebuah angko untuk kami gampang ke stasiun.

Terimakasih untuk persahabatan yang terjalin secara ajaib di dalam perjalanan ini.

Terimakasih untuk para pendaki-pendaki yang hebat. Para pendaki Semeru yang padahal kita saling tidak kenal tetapi berasa teman lama karena satu nasib satu tujuan. Mahameru. Untuk mas-mas dari Palembang yang jalannya cepet banget. Untuk teman-teman dari Malang yang menyertai perjalanan kami ke puncak. Untuk Mas Sunu dan Mas Enggar yang baik dan gila. Untuk teman-teman dari Jakarta yang tidak sombong dan ikut ngobrol dan merokok dengan kita walau kasihan karena nggak ngerti bahasa Jawa.

Terimakasih untuk para pendaki-pendaki luar negeri. Yang secara tidak langsung turut membuat kami bangga dengan Indonesia karena buktinya beramai-ramai kalian mendaki gunung kami. Sementara beberapa dari kami si Indonesia malah tidak pernah tahu dimana Mahameru dan seperti apa wujudnya.

Terimakasih yang amat sangat besar hingga tak terbendung untuk para pendaki-pendaki yang pemberani. Rekan-rekan seperjalanan. Cocom, Vista, dan Fikar. Saya tak tahu bagaimana harus berkata apa untuk apa-apa yang telah kita lewati. Saya akan sangat kangen sekali dengan perjalanan ini. Kita hebat! Terimakasih untuk berbagai tawa dan canda yang terjadi. Untuk segala macam perasaan yang timbul. Untuk kehangatan di tenda dan makanan-makanan yang enak serta lagu yang walau fals tapi asik. Untuk perjuangan yang keras dan di kubah pasir. Untuk sebuah pelukan hangat dan tangisan yang nikmat di puncak Mahameru.

Terimakasih sekali.

Terimakasih sekali.

Dan terimakasih yang tak terhingga untuk Mahameru dengan berbagai pesonanya. Mulai dari Ranupane, waturejeng, ranukumbolo, tanjakan cinta, oro-oro ombo, cemoro kandang, blok jambangan, kalimati, sumbermani, arcapada, cemoro tunggal, kubah pasir, dan puncak Mahameru. Untuk seluruh hawa dingin, kilauan bintang, ledakan asap di kawah jonggring saloka, dinginnya air di ranukumbolo, manisnya buah ciplukan dan blackberry (?) di cemoro kandang, segarnya mata air sumbermani, seluruh hawa mistis dan horor, dan lain-lain yang tak terhingga untuk puncak Mahameru.

Mimpi saya untuk menginjak tanah tertinggi di Jawa telah tercapai. Dan saya nggak akan ragu untuk kembali lagi kesana suatu saat nanti. Untuk kembali menikmati perjalanan yang semoga akan selalu asik. Untuk kembali ke dunia dimana saya merasa nyaman dan damai.

HUP!

Saya rasa, ini adalah sebuah pijakan baru bagi saya untuk melangkah ke tempat yang lebih tingi lagi. Lebih tinggi dari Mahameru. Lebih tinggi dari langit. Melangkah menuju ke sana. Ke tempat sukses itu ada. Waktunya kembali ke dunia nyata bung!

Bangun!

Mendaki melintas bukit
Berjalan letih menahan menahan berat beban
Bertahan didalam dingin
Berselimut kabut Ranu Kumbolo…

Menatap jalan setapak
Bertanya – tanya sampai kapankah berakhir
Mereguk nikmat coklat susu
Menjalin persahabatan dalam hangatnya tenda
Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta


Mahameru berikan damainya
Didalam beku Arcapada
Mahameru sebuah legenda tersisa
Puncak abadi para dewa

Masihkah terbersit asa
Anak cucuku mencumbui pasirnya
Disana nyalimu teruji
Oleh ganas cengkraman hutan rimba
Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta

Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta

Mahameru berikan damainya
Didalam beku Arcapada
Mahameru sampaikan sejuk embun hati
Mahameru basahi jiwaku yang kering
Mahameru sadarkan angkuhnya manusia
Puncak abadi para dewa…

(DEWA 19 – MAHAMERU)

5 Komentar