Mahameru


Saya kembali lagi ke sini. Jogja, kota tercinta dengan segala keramahannya. Setelah hampir seminggu kemarin ke tempat yang sudah bertahun-tahun saya impikan untuk injakan kaki kesana. Mahameru. Tanah tertinggi di pulau ini. Puncak abadi para dewa.

Apa ya, saya jadi bingung sendiri. Saya benar-benar ingin menulis banyak hal mengenai apa-apa yang sudah saya dapat selama perjalanan ini. Perjalanan-perjalanan ini. Mulai dari sekedar perjalanan ke Bandung, hingga pencapaian puncak Mahameru. Seluruh keinginan saya tiba-tiba terkabul. Saya tidak tahu bagaimana harus berterimakasih kepada Yang Menciptakan saya, Sang Pewujud Impian. Kepada Allah Yang benar-benar Sangat Maha Pengasih dan Penyayang.

Lanjut!

Saya sedang malas menulis catatan pendakian karena akan sangat panjang sekali. Mungkin nanti malam atau besok pagi saja. Atau ketika foto-foto sudah didapat, atau di upload di facebook. Atau mungkin malah nggak sama sekali. Saya sedang ingin berkata-kata saja.

It’s not about the destination, but the journey. Saya rasa itu benar. Ini bukan tentang tujuan. Ini tentang perjalanan itu sendiri. Perjalanan yang membawa mimpi-mimpi yang sudah lama terpendam selama bertahun-tahun. Yang membawa berbagai emosi dan perasaan yang campur aduk. Yang membawa kepada perkenalanan dengan berbagai orang yang baik-baik. Yang mematahkan pepatah “jangan percaya pada orang yang nggak dikenal” karena nggak selamanya orang yang nggak dikenal itu jahat.

Terimakasih kepada Pak Ribut dan Pak Giman yang menemani saya dan Fikar di kereta. Yang terus saja mengobrol tentang rasial dan membandingkan keragaman berbagai bahasa di pulau Jawa seiring melajunya kereta. Yang lalu membuat tidak bisa tidur di kereta ekonomi ini karena terus saja tertawa. Yang lalu memberi tahu jalan yang lebih dekat ke Malang adalah turun di Jombang, bukan di Surabaya. Yang lalu baru kita tahu namanya ketika kita berpisah.

Terimakasih buat saudaranya Fikar yang baik dan memberi tempat transit, makan, dan mandi gratis. Om dan Tante Ayup beserta anak-anaknya Rangga dan mbak April, dan anak tetangganya si siapa itu lupa.

Terimakasih kepada para sopir angkutan yang membawa kami hingga akhirnya sampai di Ranupane. Kepada sopir-sopir yang kami carter dari terminal Landongsari hingga Madyapura yang ternyata dari Sleman. Kepada sopir angkutan yang membawa kami sampai ke Tumpang, dan juga turut serta dalam usaha pencarian kendaraan yang harus membawa kami ke Ranupane. Untuk sopir truk sayur yang ternyata dari Magelang, yang membawa kami dengan enak menikmati perjalanan dari tumpang ke ranupane. Sampai sempat diberi kesempatan untuk berfoto dipinggir lautan pasir gunung bromo. Benar-benar orang-orang yang baik sekali. Sialnya bagi kami semua karena tidak tahu nama-nama  mereka.

Terimakasih untuk Pak Rendi yang membawa kami turun malam-malam hujan setelah kami sampai lagi di Ranupane dengan Jeep yang melaju gila dengan tarif 30ribu seorang. Yang mempersilakan untuk menginap di rumahnya, memberi makan, dan memberi WC gratis untuk membuang hajat. Oh iya, juga mencarterkan sebuah angko untuk kami gampang ke stasiun.

Terimakasih untuk persahabatan yang terjalin secara ajaib di dalam perjalanan ini.

Terimakasih untuk para pendaki-pendaki yang hebat. Para pendaki Semeru yang padahal kita saling tidak kenal tetapi berasa teman lama karena satu nasib satu tujuan. Mahameru. Untuk mas-mas dari Palembang yang jalannya cepet banget. Untuk teman-teman dari Malang yang menyertai perjalanan kami ke puncak. Untuk Mas Sunu dan Mas Enggar yang baik dan gila. Untuk teman-teman dari Jakarta yang tidak sombong dan ikut ngobrol dan merokok dengan kita walau kasihan karena nggak ngerti bahasa Jawa.

Terimakasih untuk para pendaki-pendaki luar negeri. Yang secara tidak langsung turut membuat kami bangga dengan Indonesia karena buktinya beramai-ramai kalian mendaki gunung kami. Sementara beberapa dari kami si Indonesia malah tidak pernah tahu dimana Mahameru dan seperti apa wujudnya.

Terimakasih yang amat sangat besar hingga tak terbendung untuk para pendaki-pendaki yang pemberani. Rekan-rekan seperjalanan. Cocom, Vista, dan Fikar. Saya tak tahu bagaimana harus berkata apa untuk apa-apa yang telah kita lewati. Saya akan sangat kangen sekali dengan perjalanan ini. Kita hebat! Terimakasih untuk berbagai tawa dan canda yang terjadi. Untuk segala macam perasaan yang timbul. Untuk kehangatan di tenda dan makanan-makanan yang enak serta lagu yang walau fals tapi asik. Untuk perjuangan yang keras dan di kubah pasir. Untuk sebuah pelukan hangat dan tangisan yang nikmat di puncak Mahameru.

Terimakasih sekali.

Terimakasih sekali.

Dan terimakasih yang tak terhingga untuk Mahameru dengan berbagai pesonanya. Mulai dari Ranupane, waturejeng, ranukumbolo, tanjakan cinta, oro-oro ombo, cemoro kandang, blok jambangan, kalimati, sumbermani, arcapada, cemoro tunggal, kubah pasir, dan puncak Mahameru. Untuk seluruh hawa dingin, kilauan bintang, ledakan asap di kawah jonggring saloka, dinginnya air di ranukumbolo, manisnya buah ciplukan dan blackberry (?) di cemoro kandang, segarnya mata air sumbermani, seluruh hawa mistis dan horor, dan lain-lain yang tak terhingga untuk puncak Mahameru.

Mimpi saya untuk menginjak tanah tertinggi di Jawa telah tercapai. Dan saya nggak akan ragu untuk kembali lagi kesana suatu saat nanti. Untuk kembali menikmati perjalanan yang semoga akan selalu asik. Untuk kembali ke dunia dimana saya merasa nyaman dan damai.

HUP!

Saya rasa, ini adalah sebuah pijakan baru bagi saya untuk melangkah ke tempat yang lebih tingi lagi. Lebih tinggi dari Mahameru. Lebih tinggi dari langit. Melangkah menuju ke sana. Ke tempat sukses itu ada. Waktunya kembali ke dunia nyata bung!

Bangun!

Mendaki melintas bukit
Berjalan letih menahan menahan berat beban
Bertahan didalam dingin
Berselimut kabut Ranu Kumbolo…

Menatap jalan setapak
Bertanya – tanya sampai kapankah berakhir
Mereguk nikmat coklat susu
Menjalin persahabatan dalam hangatnya tenda
Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta


Mahameru berikan damainya
Didalam beku Arcapada
Mahameru sebuah legenda tersisa
Puncak abadi para dewa

Masihkah terbersit asa
Anak cucuku mencumbui pasirnya
Disana nyalimu teruji
Oleh ganas cengkraman hutan rimba
Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta

Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta

Mahameru berikan damainya
Didalam beku Arcapada
Mahameru sampaikan sejuk embun hati
Mahameru basahi jiwaku yang kering
Mahameru sadarkan angkuhnya manusia
Puncak abadi para dewa…

(DEWA 19 – MAHAMERU)

Iklan
  1. #1 by guemonologue on Agustus 6, 2010 - 12:53 pm

    GREAT MASTER!!! :D

  2. #2 by 123mulai on Agustus 6, 2010 - 3:39 pm

    aaaaaa, kereeenn mas

  3. #3 by bayuyeah on Agustus 21, 2010 - 6:44 am

    aaaa…

  4. #4 by cocom on Agustus 21, 2010 - 3:18 pm

    dah dpt foto2nya lom kang?
    ayoog ng gede ;p cdak lho.. sko kene hha

  5. #5 by bayuyeah on Agustus 22, 2010 - 12:29 am

    belom, aku durung ketemu fikar je, hehe
    ayoo.. kowe munggaho disik, ssk terke aku, hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: