Kamu Membaca Sebuah Perpustakaan


Kamu akhirnya kesana untuk pertama kali.

Sedikit ragu, karena kamu takut dengan dia yang dinamakan birokrasi. Tapi toh, kamu tetap kesana juga. Sekedar memuaskan rasa ingin tahu seberapa banyak ilmu yang bisa diserap dari tempat itu.

Dari sebuah perpustakaan kota.

Itu adalah sebuah gedung tua yang sekarang sudah direnovasi menjadi bagus. Dengan gaya arsitektur yang modern, elegan, dan berwarna-warni. Kamu parkir disana, lewat pintu belakang yang nantinya membawamu ke parkir di halaman depan. Melewati beberapa jejer kursi yang tertata melingkar dan ditutupi sebentuk payung permanen karena berbahan semen. Yang sekelilingnya berornamen bagus dan banyak pohon dan rerumputan. Yang entah kenapabertuliskan cafenet. Oh aku tahu, itu karena kamu pasti akan mendarat disana kalau kamu dalam kondisi membawa laptop yang bisa mendapati sinyal wifi, sedang muak dengan tulisan-tulisan, dan ingin facebook-an atau sekedar chatting dengan siapa saja di dunia maya.

Tapi nyatanya kamu malah masuk ke dalam. Aku bisa tebak, itu pasti karena kamu datang pertama kali. Iya kan? Kamu penasaran dan pastinya kamu ingin mendaftar menjadi anggota perpustakaan. Untuk jika kamu tertarik salah satu dari barisan buku disana bisa kamu bawa pulang. Maka kamu kesana, ke meja di sebelah kanan. Tata ruang yang lucu menurutmu, dimana si pegawai perpustakaan itu berkantor di dalam sebuah meja yang berbentuk melingkar. Itu adalah, sebuah ruangan yang kalau kamu lihat dari atas, bisa kau samakan dengan donat, dengan ibu-ibu dan mbak-mbak di tengahnya yang bolong mencatat buku yang mereka orang-orang yang datang pinjam dan kembalikan. Juga sekaligus yang ingin mendaftar. Seperti kamu.

Kamu menyerahkan fotokopi kartu mahasiswamu, juga 2 lembar foto. Kamu membawanya pasti karena kamu sudah tahu sebelumnya bahwa itu adalah persyaratan buat menjadi anggota perpus. Kamu lega karena info yang kamu miliki benar ketika kamu baca tulisan-tulisanyang digantung di tiang di samping meja pendaftaran.

“Sudah bawa persyaratannya kan?”, kata mbak yang jaga perpus.

“Sudah mbak, cuma kurang satu aja yang ketinggalan, formulirnya”, katamu sambil ber-hehehe. Kamu berharap dengan itu suasana cair karena kamu mencoba bercanda, tapi nyatanya si mbak-mbak itu diam saja. Mungkin tidak mengerti atau candaanmu terlalu garing untuk sekedar ditertawai. Membuatmu salah tingkah dan lalu mengisi dengan diam formulir yang diberi oleh si mbak-mbak tadi. Oh, kamu memperhatikan juga. Ternyata si mbak-mbak tadi hamil. Ketika kamu berpose foto, tingkahmu yang salah tingkah itu akhirnya bikin dia senyum juga. Cukup cantik sehingga kamu malah merona. Cair sudah suasana walau kamu malah merasa malu sekarang.

Lalu kamu masuk ke dalam setelah menitipkan tas dan mendapatkan kartu bertulis nomer 21. Itu, kalau kamu hilangkan, harus membayar sebesar Rp50.000,00 dan benar-benar harus bisa membuktikan bahwa tas yang kamu bawa dan titipkan tadi adalah tasmu kepada si petugas, dengan cara apa aku juga tidak tahu karena tidak pernah. Kamu masuk dan terheran sebentar karena ternyata tempatnya kecil. Tidak sesuai dengan bayangan perpustakaan kota dalam imajinasimu yang besar dan modern. Dan ada tempat tidurnya jika mungkin ada yang ngantuk karena lelah membaca, atau ingin membaca seperti kebiasaanmu, sambil tiduran. Pasti akan sangat asik jika begitu.

Kamu melihat-lihat buku yang tertata di rak-rak disana. Sambil memperhatikan orang-orang pada duduk diam dan membaca. Atau hanya sekedar facebook-an di dalam diamnya. Atau yang kamu pandang wah, karena sambil belajar dan membuat ringkasan dari apa yang dia baca. Mungkin mau bikin skripsi, pikirmu. Ada yang cakep dan cantik juga ternyata, tapi kebanyakan seperti apa yang kamu imajikan tentang si kutu buku. Kalau nggak dia yang berkacamata tebal, adalah dia yang berjilbab. Entah kenapa jika kamu melihat seorang cewek berjilbab (yang bukan sembarang jilbab tentunya), interpretasimu langsung lari ke arah sosok seorang berwawasan luas dan suka membaca buku-buku berkelas.

Akhirnya kamu menemukan sebuah buku yang kamu minati buat baca. Buku ringan saja, sebuah kumpulan cerpen dari seorang yang kamu kenal. Kamu kenal bukan karena kamu pernah berkenalan, karena siapa juga kamu? Itu tapi jelas karena terkenalnya si penulis. Duduk kamu disana. Di sebuah kursi di meja panjang yang disediakan sebanyak 3 baris untuk mereka-mereka yang ingin baca-baca disana. Duduk di baris paling dekat dengan pintu luar.

Kamu asik membaca, sambil di headset yang tertempel di telingamu mengalun lagu-lagu dari the trees and the wild dan frau dari handphone-mu. Dan ada juga muse dan sheila on 7 dalam playlistmu. Itu karena kamu juga tahu, kamu bosan jika diam. Kamu membaca sambil memperhatikan lingkungan sekitar. Oh, semua pada asik sendiri. Ada yang sama sendiri sepertimu, ada yang berdua dengan pacar, ada yang berkerumun dalam tenangnya karena pada sama-sama membaca. Ada yang baru datang dan cantik sekali. Kamu melihatnya seperti kamu merasa mengenal dia. Sialnya tidak. Dia adalah dia yang agak tinggi, berwajah cerah dan cool kalau tidak mau disebut dingin, berkaus coklat, bercelana jeans, dan baru saja menitipkan tasnya yang lucu. Kamu kembali membaca buku karena takut disangka apa oleh orang-orang jika kebetulan melihatmu. Atau ternyata malah dia yang melihatmu memperhatikannya. Tapi tetap saja matamu tidak bisa lepas darinya. Untung buku yang kamu baca juga sama menarik, sehingga kamu bisa kembali tenggelam ke dalam bukumu ketika si dia sibuk mencari buku yang ingin dia baca.

Ternyata isi perpustakaan lumayan banyak juga. Setidaknya, tiap baris mejanya ada satu dua orang mengisi. Sehingga entah bagaimana dia bisa duduk dalam barisan yang sama denganmu karena masih kosong. Kamu di sudut pinggir, dia di pinggir satunya. Dan dia yang mengerjakan skrikpsi tiba-tiba bisa duduk di sampingmu. Menjadi penengah diantaramu dan dia. Kamu mengumpat dalam hati, sialan!

Kamu kembali tenggelam dalam bukumu setelah sepintas tadi meliriknya sedikit. Sekali lagi memastikan bahwa dia adalah dia yang kamu kenal sebagai si Fulan atau bukan. Dan lalu kamu mantap berkata bukan karena Fulan lebih pendek walau beneran mirip. Sembari kembali membaca buku, kamu lihat lingkungan sekitar. Para kaum adam seolah pada sama seperti yang ada di otakmu. Mencuri-curi pandang sekali-kali dalam dirinya yang sedang membaca. Malah ada yang terang-terangan memperhatikan gerak-gerik si cewek aduhai  tadi. Itu adalah orang di meja depanmu yang memakai jumper dan bertampang sedikit preman. Kamu bahkan sempat berpikir, ada juga ya orang macam preman begini di perpustakaan?

Kamu lihat lagi si cewek tadi. Masih setia dalam bukunya. Sedikit susah karena kamu di sampingnya, dan ditutupi oleh si dia pencari refrensi skripsi. Oh, masih disana. Tapi ini sudah jam 1 dan kamu belum Dhuhur. Maka kamu ke sana. Ke mushola belakang perpustakaan. Oh, demi mushola yang hanya ada 2 sajadah ini, kamu lalu kembali lagi ke dalam perupstakaan setelah tadi sholat. Melanjutkan membaca buku yang tadi sempat kamu tinggalkan di meja. Tapi ternyata perpus ini bertambah ramai. Kursimu sudah ditempati oleh dia si cewek berkerudung yang sedang buka facebook (kenapa sih tiap lihat orang-orang ngenet pasti halaman facebook yang dilihat?). Tapi cewek berkaus coklat itu masih di pojokan sana. Juga si pekerja skripsi. Eh, tapi kursi di depan tempat kamu duduk tadi sudah kosong. Kamu memilih untuk duduk disana. Kali ini kamu mempunyai 2 keuntungan. Kamu bisa curi-curi pandang si cewek dengan lebih mudah, sekaligus juga menutupi dia dari si cowok berjumper yang seolah matanya gatal dan obatnya adalah ketika melihat dia si cewek berkaus coklat. Kamu membaca sambil tertawa dalam hati. Evil grin!

Kamu terus membaca sampai tak terasa jam menunjukan jam 2. Perpustakaan kota tutup juga karena ini minggu. Dan lalu dia, dia yang berkaus coklat itu, meminjam buku yang dia baca dari tadi. Kamu lalu berspekulasi. Sebuah buku diberi jatah 1 minggu untuk setiap pinjam bawa rumahnya. Kamu menyimpulkan bahwa seminggu lagi kamu harus  ke sini lagi. Ke perpustakaan kota ini. Sambil lalu berharap bertemu dia lagi yang akan mengambalikan buku yang tadi dia pinjam. Untuk lalu mau ngapain kamu juga nggak tahu. Kamu hanya berharap bodoh, bahwa ini akan berlanjut manis. Semanis cerpen yang tadi kamu baca.

Semanis cerpen berjudul “Cinta Lokasi”.

Syukurlah ini berakhir dengan tidak usah diperpanjang lagi. Dengan kamu yang kembali kesana seminggu kemudian dan tidak mendapati lagi si gadis berkaus coklat. Mungkin dia adalah dirinya yang seperti kamu. Hobi mengembalikan barang rentalan dengan terlambat.

Sayang sekali.

NB:

Perhatian, ini cerpen lho!

Iklan
  1. #1 by cocom on Agustus 24, 2010 - 4:45 pm

    hha curcol.an kui,njud dianggep cerpen :p Dah k lntai atasx blm?

  2. #2 by bayuyeah on Agustus 26, 2010 - 11:00 am

    hahahaha kui fiksiii.. kenyataannya tdk begitu,
    blome emg ada apanya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: