Arsip untuk September, 2010

Apel

Cuma berandai-andai, pasti menarik kalau ada uang segepok 13 juta rupiah tiba2 jatuh dari langit dan menghampiri tangan saya.

Seandainya saja -_____-

Tapi bagaimanapun juga, semoga semester ini kau dapat kubeli. Sabar sedikit untuk berfoya-foya  melancong kemana-mana dulu. Hmm hmm hmm… seperti bukan saya biasanya.

source: apple.com + edit2 sedikit

Iklan

Tinggalkan komentar

Owl of the Tree

Seandainya saja, burung hantu yang suka main di pohon mangga depan rumah itu adalah dia yang bernama si penghubung mimpi. Dan lalu, ketika saya tidur nanti, dia datang menghampiri, masuk dengan cara menembus jendela dengan magic-nya, dan lalu hinggap di meja belajar dekat kasur. Mematuk dahi saya tapi saya tidak bangun. Mengambil apa yang disebut intisari. Mencengkramnya dengan erat dalam terbangnya, melintasi udara jogja yang dingin. Dan membawanya kesana. Ke pulau kapuk. Untuk lalu bercengkrama dalam dunia kita saja.

Benar-benar dunia yang menarik, tanpa harus tetap bertahan untuk terjaga hingga insomnia.

Oh wahai..

imajinasi.

2 Komentar

Besok

tiru-tiru http://www.explosm.net/

Tinggalkan komentar

Memulai Sebuah Jualan

Memulai sesuatu itu mudah. Mempertahankan minat pada sesuatu? Buat saya jujur itu susah. Susah banget!

Dulu waktu bikin jaket fistek ‘09, asal muasalnya hanyalah karena tidak bisa tidur di pagi hari. Lalu iseng desain-desain-desain cuma pakai corel draw. Lalu iseng upload di Facebook, lalu tag teman-teman, lalu maka ternyata jadilah banyak yang pesan. Sebenarnya ide tentang jaket itu sudah saya rintis agak lama sebelumnya sama si Munir, tapi ketika serius didiskusikan tidak menjadikan suatu kemajuan yang berarti. Yang ada kebanyakan malah diskusi tentang lomba desain jaket fakultas teknik (dan juara cuma sampai 3 dan sementara kita urutan ke 4, bajigur banget!).

Lalu ya begitu, saya jualan jaket dengan Munir (yang entah bagaimana kok malah jaket itu didaulat jadi jaket angkatan, yasudahlah saya toh juga senang). Pertama-tama saat survey mungkin masih semangat, saat pilih-pilih kain, tanya harga, dan sebagainya. Tapi saat selanjutnya, malah jadi pusing sendiri. Seperti saat harus promosi tingkat lanjut (diiringi rasa malu karena sayanya yang nggak terlalu PD), menentukan tanggal naik cetak, transaksi (yang begonya nomer HP si pemesan malah tidak saya catat), orderan jaket yang lewat dari jadwal, pembayaran yang macet, protes teman-teman yang minta mana jaketnya, dan sebagainya sampai saya harus cari hutang buat ngelunasin jaket biar bisa diambil cepat. Benar-benar capek, dan yang bikin sedih adalah karena beberapa teman yang sudah pesan ternyata melarikan diri tanpa tanggung jawab buat ngelunasin jaketnya (dan ini membuat saya hanya mendapat untung sedikit sekali, duhh…).

Dulu juga pernah waktu SMA. Waktu bikin jaket KHR. Parahnya, disitu saya tidak mengambil laba sama sekali. Bayangkan betapa capek dan sakit hatinya bagaimana. Ikhlas sih, cumaa…. wajar dong kalau ngeluh.

Seharusnya saya senang bisa punya pengalaman macam itu, tapi kadang-kadang ketika jualan-jualan macam itu, kadang saya merasa “kok aku terus ya yang susah? ini sayanya yang memang kere dan malas, atau bagaimana?”. Tapi ya itulah usaha. Katanya. Selalu ada masa jenuh ketika kita melakukan sesuatu. Seperti ketika menanam pohon, kadang pasti ada suatu saat ketika kamu malas buat menyiram walaupun akan berbuah enak nantinya.

Hup!

Yang perlu dilakukan adalah meyakinkan diri bahwa buah itu nanti segar rasanya. Manis bulat merah cerah ceria. Dan menyenangkan banyak orang. Dan menyenangkan diri sendiri.

Hmm..

Nerusin lah yang jual kaos~

Tinggalkan komentar

Hujannya si cewek

dan ternyata coret-coret di bawah situ tadi diteruskan oleh Addina Faizati di blognya

hahaha bagus lho..

Tinggalkan komentar

Hujan

Tapi kamu tidak tahu bahwa tadi saya sedikit berbohong. Nyatanya, jika kamu periksa jok motor saya, terdapat sebuah jas hujan yang baru dibeli tadi siang dan masih bagus. Hehehe, maafkan saya. Saya hanya merasa, ini malam yang terlalu bagus untuk diakhirkan dengan berhujan-hujanan di bawah mantrol.

Dan di emperan toko itu, kita duduk berdua. Saya rasa, relativitas terjadi bukan hanya pada prespektif pandangan terhadap sebuah benda saja. Tetapi pada apa saja.

Karena saya merasa hangat ketika malah hujan semakin deras.

Karena saya merasa enak ketika hawa menjadi semakin dingin.

Karena relativitas saya bukan lagi terhadap alam, tetapi kepadamu yang sedang tersenyum.

:p

Tinggalkan komentar