Arsip untuk Oktober, 2010

City of Ashes

Kamu tidak akan habis pikir, bagaimana bisa sebuah gunung yang hanya setinggi 2950 mdpl itu mampu memporak-porandakan satu kota dalam satu malam?

#PrayforIndonesia

sumber: kompas – http://images.kompas.com/

Iklan

Tinggalkan komentar

Thanks God It’s Saturday Night!

Biasanya, ada 2 kemungkinan untuk menghabiskan sabtu malam yang selalu membuat galau. Kalau nggak terlibat dalam suatu kegiatan apapun itu, kampus, naik gunung, atau apapun, adalah menyiapkan mental untuk online semalaman di rumah, berpacaran dengan komputer. Karena kemungkinan ketiga yang ‘ehm’ itu sepertinya susah untuk masuk dalam opsi kemungkinan saya. Tapi malam ini entah kenapa saya sedikit galau. Di rumah hanya sendiri dan menganggur karena tidak ada acara apapun. Sebenarnya ada ajakan ke Jogja Java Carnival jam 5, tapi tidak berangkat karena tadi baru bangun jam setengah 6 sore. Sampai sampai sampai, sampai akhirnya si waktu bilang kalau ini sudah jam 8 malam, dan saya muak berada di depan twitter yang penuh dengan orang-orang yang ngetweet lg malming-an, ejekan2 dari para jomblowan, dan JJC. Ambil duit 50 ribu, buku sket (yang akhirnya tidak terpakai). Kamera sedang dipinjam dan headset nggak tau dimana. Nggak papalah, tendang starter motor untuk segera berangkat ke sana. Ke JJC yang saya tahu saya sudah telat.

Sampai di sana horee, saya beneran telat. Karnavak sudah selesai. Haha saya merasa bodoh sekali. Yang ada hanya kerumunan manusia yang berdesak-desakan ingin pulang. Tapi lumayan juga dapat hiburan. Duduk-duduk di rerumputan dekat semacam monumen di stasiun tugu, saya sedikit mendapati kesimpulan bahwa orang-orang dalam keramaian itu adalah mereka yang akan mungkin untuk menjadi buas. Dalam arusnya lautan manusia yang sudah menonton karnaval dan pulang, ada mereka yang marah-marah karena banyak yang menorobos antrian, ada mereka yang kesal karena tidak kunjung juga bisa jalan, ada yang sedih karena apa, ada yang resah karena anaknya hilang, ada yang protes, ada yang membuaya, ada yang cuma bisa mencibir dan memilih sabar, ada yang ini dan itu. Banyak. Ada yang kelihatan puas dengan karnaval? Mmm mungkin karena sayanya yang senang lihat mereka yang buas-buas, jadi tidak begitu memperhatikan kelompok ini. Semoga ada dan banyak.

Sudah malas karena lalu menjadi semakin sepi dan tidak seru, saya pergi lagi. Sebenarnya ada SMS yang begitu menggoda untuk lalu menuju tempatnya, tapi karena ini jam setengah 10 malam dan mungkin tidak begitu seru, saya lebih memilih putar arah menjauh. Menuju ke timur. Ke atas. Ke tempat yang dulu sempat menjadi spesial. Eh sekarang juga masih dink. Ke sekitar jembatan di Jalan Patuk. Iya, ke tempat orang sebut ini bukit bintang.

Saya tidak peduli mau dibilang apa ini tempat. Tempat pacaran anak kimcil-lah, kumpulnya para alay-lah, dan sebagainya, peduli setan, saya tetap kesana. Dan malam ini sedang sedikit gerimis. Cuma sedikit, sehingga tetap saja akhirnya sampai disini. Oh baguslah sedikit sepi. Hanya ada beberapa pasangan. Mungkin karena orang-orang nonton karnaval dan tidak terpikir buat kesini. Parkir motor lalu beli jagung bakar. Lalu ngobrol-ngobrol dengan si pak penjual jagung bakar itu. Siapa namanya nggak tahu karena lupa tanya. Oh, dia curhat. Cari duit itu susah. Siang dia kerja jadi sopir truk, 3 kali bolak-balik ambil pasir dan cuma dibayar 40 ribu sehari. Kalau buat saya yang mahasiswa ini sih, jelas itu jumlah yang besar, bisa buat makan mewah seharian. Tapi kalau buat dia yang sudah beristri dan punya anak? Tidak usah dijelaskan pun kamu pasti tahu kalau itu sedikit. Dan tiap malam jual jagung bakar yang dapatnya dari Boyolali. Saat-saat paling ramai adalah ketika malam senin. “Kalau malam senin, saya bisa jualan sampai jam 3 pagi lho” kata dia. Ooo.. Itu karena banyak yang habis dari pantai terus mampir kesini. “Saya pikir mereka ini ngapain sih? Padahal cuma lihat pemandangan beginian (sambil lihat ke belakang, ke lampu-lampu kota Jogja yang berkedip-kedip), kalau saya bisa sih, mending tidur aja di rumah, anget”, katanya dengan bahasa yang sudah saya sesuaikan. Ooo..

“Tapi kalau disini jadi sepi, bapak yang bingung kan?”

“Hehe..”

Pasangan berlalu-lalang. Obrolan saya dengan si bapak di ganggu dengan mereka yang beli jagung bakar satu 3 ribu itu. Membuat si bapak sibuk dengan jagungnya. Saya jadi merasa bodoh karena sendiri lagi. Lalu sms temen. “Kalo disuruh pilih, kamu pilih pacar atau temen?”. Lalu jadi membahas ini. Dia pilih temen katanya. Cewek sih mungkin, jadi pilih temen. Emang kalau cowok? Mungkin pilih pacar. Kalau milih temen ndak dikira homo. Iyalah sesama cewek itu santai walau sampai cipika-cipiki. Kalau cowok? Pegangan tangan wae udah bikin merinding. Dan sms-an pun semakin absurd.

Sampai akhirnya malam sudah menjadi banget. Yang di-sms sudah tidur. Jagungnya si bapak itu juga sudah habis dan dia pamit pulang. Saya juga kok pak. Udah males. Lalu pulang. Yasudah begitu saja.

Dan merdeka itu mungkin adalah ketika bebas dari zona nyaman, lalu memilih bersenang-senang dengan cara apapun.

Tinggalkan komentar

Berapa Harganya?

Adian Adioetomo / Berapa Harganya / Provoke! Compilation vol 1

Bagi saya, ini baru benar-benar lagu keren!

Saya bisa membayangkan sedang berada di pinggir rel kereta api, memakai kaos seadanya dan jeans yang butut-belel, dan juga kaki yang nyeker-tidak memakai apapun. Rambut sedang acak-acakan dan mungkin saya sedang merokok. Lalu membawa segudang permasalahan di kepala dan bertumpuk-tumpuk pusing. Berdiri saya disana, menunggu untuk sebuah kereta terakhir. Kereta yang menuju ujung dunia. Yang akhirnya akan dapat membebaskan saya dari masalah-masalah duniawi.

Bebas!

Tak ada tempat tak ada jaminan

Siapa yang tak ingin melepas beban,

Bulan demi bulan tak kuhitung lagi

Ku hanya ingin pergi dari sini

Berapa harganya?

Satu karcis ujung dunia

Berapa harganya?

Akhirnya saya dapatkan karcis terakhir menuju ujung dunia itu, meski dengan harga yang sangat mahal. Peduli setan!

Tapi sial, kereta yang ditunggu tak kunjung juga datang. Bahkan sampai puntung rokok terakhir.

Dan karcis itupun, saya sobek sudah.

(Sekedar coret-coret liar ketika sedang dilanda berbagai deadline, dan sakit musiman yang juga tak kunjung sembuh)

Tinggalkan komentar

Kontribusi Oposisi

Sebuah contoh yang cukup ironis adalah ketika kegiatan ospek kemarin. Kalau mau jujur-jujuran, pada kegiatan ospek setahun lalu, saya adalah termasuk orang yang benar-benar males dan apatis untuk mengerjakan berbagai tugas dan mengikuti acara-acaranya. Walau entah kenapa tetap saja berangkat ke acara ospek itu. Bahkan ikut aktif waktu ada penugasan angkatan teater dengan menjadi sie perkapnya. Tapi di dalam hati, saya terus saja mengkritik dan malas demi apapun juga. Demi apa saya ada disini mengikuti ospek. Benar-benar kegiatan yang menurut saya hanya buang-buang waktu dan nggak penting. Pikiran saya waktu itu.

Dan ketika tahun ini ternyata jadi panitia, lucu juga ketika ada maba yang menganggap ini nggak penting. Seolah-olah, acara yang sudah susah-susah kita bikin ini diremehkan begitu saja. Ternyata ada juga rasa nggak terima di dalam diri ini. Saya saja ada, gimana panitia lain yang lebih niat? Ketika akhirnya dipikir-pikir lagi, haha lucu juga ya?

Pada acara terakhir yang dimana itu adalah inagurasi, dan semua panitia sudah dapat berleha-leha, saya sempat bercakap-cakap dengan teman saya yang juga sepaham dengan saya. Seorang yang masuk dalam kategori oposisi, namun tetap berkontribusi juga entah kenapa. Dan itupun aktif, nggak setengah-setengah. Saya foto para peserta yang sedang duduk di tempatnya sana secara hampir keseluruhan, lalu hasilnya di-zoom, cari muka-muka yang mungkin seperti kita setahun lalu. Dan lalu menertawakan diri sendiri karena ternyata ada. Muka yang menunjukan kemalasan ketika semua sedang ber-haha-hihi karena acara adalah senang-senang dan lawakan. Entah senang atau sedih juga ini. Yang kita percayai adalah, dia juga sama seperti kita, seorang yang oposisif tetapi tidak akan pernah bisa mengutarakan kritiknya karena suasana dan lingkungan yang seperti itu. Menyedihkan ya? Memangnya kita nggak? Kita (beberapa oknum-oknum panitia yang sedang bercakap-cakap ini, bukan semua) yang sudah susah jadi panitia juga, adalah pasti rasa malas dalam menjalankannya pada suatu waktu. Tapi entah kenapa tetap saja berkontribusi. Kotributif, sekaligus apatis.

Mungkin inilah. Saya lebih suka menjadi seorang yang realis. Ketika saya nggak suka, saya tidak akan langsung bilang tidak, karena bagaimanapun juga pekerjaan adalah dia yang harus dikerjakan. Dan kehadiran seorang oposisi, saya rasa akan menjadi penyeimbang. Karena ketika semua orang terlalu bersemangat, maka akan sangat mudah untuk menjadikan lengah karena mereka mungkin akan berpikir semua selalu baik-baik saja. Dan maka dari itu, dibutuhkan seorang yang selalu mengkritik, untuk tetap menjaga bahwa semua ini akan berlangsung masuk akal. Dan dibutuhkan sebuah kerja keras, dan pengertian dan rasa sabar terhadap mereka yang tidak mau mengerti, untuk sebuah kesuksesan kerja. Setidaknya, kamu masih punya mereka yang juga satu paham denganmu untuk mencurahkan segala apapun yang kamu mau hujat, atau kamu mau bungkam mulutnya.

ngomong2 ini gambarnya nggak nyambung ya? haha biarinlah.. setidaknya ada

2 Komentar