Kontribusi Oposisi


Sebuah contoh yang cukup ironis adalah ketika kegiatan ospek kemarin. Kalau mau jujur-jujuran, pada kegiatan ospek setahun lalu, saya adalah termasuk orang yang benar-benar males dan apatis untuk mengerjakan berbagai tugas dan mengikuti acara-acaranya. Walau entah kenapa tetap saja berangkat ke acara ospek itu. Bahkan ikut aktif waktu ada penugasan angkatan teater dengan menjadi sie perkapnya. Tapi di dalam hati, saya terus saja mengkritik dan malas demi apapun juga. Demi apa saya ada disini mengikuti ospek. Benar-benar kegiatan yang menurut saya hanya buang-buang waktu dan nggak penting. Pikiran saya waktu itu.

Dan ketika tahun ini ternyata jadi panitia, lucu juga ketika ada maba yang menganggap ini nggak penting. Seolah-olah, acara yang sudah susah-susah kita bikin ini diremehkan begitu saja. Ternyata ada juga rasa nggak terima di dalam diri ini. Saya saja ada, gimana panitia lain yang lebih niat? Ketika akhirnya dipikir-pikir lagi, haha lucu juga ya?

Pada acara terakhir yang dimana itu adalah inagurasi, dan semua panitia sudah dapat berleha-leha, saya sempat bercakap-cakap dengan teman saya yang juga sepaham dengan saya. Seorang yang masuk dalam kategori oposisi, namun tetap berkontribusi juga entah kenapa. Dan itupun aktif, nggak setengah-setengah. Saya foto para peserta yang sedang duduk di tempatnya sana secara hampir keseluruhan, lalu hasilnya di-zoom, cari muka-muka yang mungkin seperti kita setahun lalu. Dan lalu menertawakan diri sendiri karena ternyata ada. Muka yang menunjukan kemalasan ketika semua sedang ber-haha-hihi karena acara adalah senang-senang dan lawakan. Entah senang atau sedih juga ini. Yang kita percayai adalah, dia juga sama seperti kita, seorang yang oposisif tetapi tidak akan pernah bisa mengutarakan kritiknya karena suasana dan lingkungan yang seperti itu. Menyedihkan ya? Memangnya kita nggak? Kita (beberapa oknum-oknum panitia yang sedang bercakap-cakap ini, bukan semua) yang sudah susah jadi panitia juga, adalah pasti rasa malas dalam menjalankannya pada suatu waktu. Tapi entah kenapa tetap saja berkontribusi. Kotributif, sekaligus apatis.

Mungkin inilah. Saya lebih suka menjadi seorang yang realis. Ketika saya nggak suka, saya tidak akan langsung bilang tidak, karena bagaimanapun juga pekerjaan adalah dia yang harus dikerjakan. Dan kehadiran seorang oposisi, saya rasa akan menjadi penyeimbang. Karena ketika semua orang terlalu bersemangat, maka akan sangat mudah untuk menjadikan lengah karena mereka mungkin akan berpikir semua selalu baik-baik saja. Dan maka dari itu, dibutuhkan seorang yang selalu mengkritik, untuk tetap menjaga bahwa semua ini akan berlangsung masuk akal. Dan dibutuhkan sebuah kerja keras, dan pengertian dan rasa sabar terhadap mereka yang tidak mau mengerti, untuk sebuah kesuksesan kerja. Setidaknya, kamu masih punya mereka yang juga satu paham denganmu untuk mencurahkan segala apapun yang kamu mau hujat, atau kamu mau bungkam mulutnya.

ngomong2 ini gambarnya nggak nyambung ya? haha biarinlah.. setidaknya ada

Iklan
  1. #1 by cocom on Oktober 6, 2010 - 4:03 pm

    ospek q isine seminar mz. karo pak wakil mntri prtnian.pgrang bku 5menara. sing duwe kbun buah naga ng jakal kae jg jd pmbcra trz de el el jd y g sia2 ikt ospek soale qt dpt bnyk motivasi gt -skdr share aja ;p

  2. #2 by bayuyeah on Oktober 7, 2010 - 4:20 pm

    hehehe ini cuma subjektif-ku wae kok com :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: