Thanks God It’s Saturday Night!


Biasanya, ada 2 kemungkinan untuk menghabiskan sabtu malam yang selalu membuat galau. Kalau nggak terlibat dalam suatu kegiatan apapun itu, kampus, naik gunung, atau apapun, adalah menyiapkan mental untuk online semalaman di rumah, berpacaran dengan komputer. Karena kemungkinan ketiga yang ‘ehm’ itu sepertinya susah untuk masuk dalam opsi kemungkinan saya. Tapi malam ini entah kenapa saya sedikit galau. Di rumah hanya sendiri dan menganggur karena tidak ada acara apapun. Sebenarnya ada ajakan ke Jogja Java Carnival jam 5, tapi tidak berangkat karena tadi baru bangun jam setengah 6 sore. Sampai sampai sampai, sampai akhirnya si waktu bilang kalau ini sudah jam 8 malam, dan saya muak berada di depan twitter yang penuh dengan orang-orang yang ngetweet lg malming-an, ejekan2 dari para jomblowan, dan JJC. Ambil duit 50 ribu, buku sket (yang akhirnya tidak terpakai). Kamera sedang dipinjam dan headset nggak tau dimana. Nggak papalah, tendang starter motor untuk segera berangkat ke sana. Ke JJC yang saya tahu saya sudah telat.

Sampai di sana horee, saya beneran telat. Karnavak sudah selesai. Haha saya merasa bodoh sekali. Yang ada hanya kerumunan manusia yang berdesak-desakan ingin pulang. Tapi lumayan juga dapat hiburan. Duduk-duduk di rerumputan dekat semacam monumen di stasiun tugu, saya sedikit mendapati kesimpulan bahwa orang-orang dalam keramaian itu adalah mereka yang akan mungkin untuk menjadi buas. Dalam arusnya lautan manusia yang sudah menonton karnaval dan pulang, ada mereka yang marah-marah karena banyak yang menorobos antrian, ada mereka yang kesal karena tidak kunjung juga bisa jalan, ada yang sedih karena apa, ada yang resah karena anaknya hilang, ada yang protes, ada yang membuaya, ada yang cuma bisa mencibir dan memilih sabar, ada yang ini dan itu. Banyak. Ada yang kelihatan puas dengan karnaval? Mmm mungkin karena sayanya yang senang lihat mereka yang buas-buas, jadi tidak begitu memperhatikan kelompok ini. Semoga ada dan banyak.

Sudah malas karena lalu menjadi semakin sepi dan tidak seru, saya pergi lagi. Sebenarnya ada SMS yang begitu menggoda untuk lalu menuju tempatnya, tapi karena ini jam setengah 10 malam dan mungkin tidak begitu seru, saya lebih memilih putar arah menjauh. Menuju ke timur. Ke atas. Ke tempat yang dulu sempat menjadi spesial. Eh sekarang juga masih dink. Ke sekitar jembatan di Jalan Patuk. Iya, ke tempat orang sebut ini bukit bintang.

Saya tidak peduli mau dibilang apa ini tempat. Tempat pacaran anak kimcil-lah, kumpulnya para alay-lah, dan sebagainya, peduli setan, saya tetap kesana. Dan malam ini sedang sedikit gerimis. Cuma sedikit, sehingga tetap saja akhirnya sampai disini. Oh baguslah sedikit sepi. Hanya ada beberapa pasangan. Mungkin karena orang-orang nonton karnaval dan tidak terpikir buat kesini. Parkir motor lalu beli jagung bakar. Lalu ngobrol-ngobrol dengan si pak penjual jagung bakar itu. Siapa namanya nggak tahu karena lupa tanya. Oh, dia curhat. Cari duit itu susah. Siang dia kerja jadi sopir truk, 3 kali bolak-balik ambil pasir dan cuma dibayar 40 ribu sehari. Kalau buat saya yang mahasiswa ini sih, jelas itu jumlah yang besar, bisa buat makan mewah seharian. Tapi kalau buat dia yang sudah beristri dan punya anak? Tidak usah dijelaskan pun kamu pasti tahu kalau itu sedikit. Dan tiap malam jual jagung bakar yang dapatnya dari Boyolali. Saat-saat paling ramai adalah ketika malam senin. “Kalau malam senin, saya bisa jualan sampai jam 3 pagi lho” kata dia. Ooo.. Itu karena banyak yang habis dari pantai terus mampir kesini. “Saya pikir mereka ini ngapain sih? Padahal cuma lihat pemandangan beginian (sambil lihat ke belakang, ke lampu-lampu kota Jogja yang berkedip-kedip), kalau saya bisa sih, mending tidur aja di rumah, anget”, katanya dengan bahasa yang sudah saya sesuaikan. Ooo..

“Tapi kalau disini jadi sepi, bapak yang bingung kan?”

“Hehe..”

Pasangan berlalu-lalang. Obrolan saya dengan si bapak di ganggu dengan mereka yang beli jagung bakar satu 3 ribu itu. Membuat si bapak sibuk dengan jagungnya. Saya jadi merasa bodoh karena sendiri lagi. Lalu sms temen. “Kalo disuruh pilih, kamu pilih pacar atau temen?”. Lalu jadi membahas ini. Dia pilih temen katanya. Cewek sih mungkin, jadi pilih temen. Emang kalau cowok? Mungkin pilih pacar. Kalau milih temen ndak dikira homo. Iyalah sesama cewek itu santai walau sampai cipika-cipiki. Kalau cowok? Pegangan tangan wae udah bikin merinding. Dan sms-an pun semakin absurd.

Sampai akhirnya malam sudah menjadi banget. Yang di-sms sudah tidur. Jagungnya si bapak itu juga sudah habis dan dia pamit pulang. Saya juga kok pak. Udah males. Lalu pulang. Yasudah begitu saja.

Dan merdeka itu mungkin adalah ketika bebas dari zona nyaman, lalu memilih bersenang-senang dengan cara apapun.

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: