Arsip untuk November, 2010

Lampu Merah

Kejadiannya begini:

Itu perjalanan pulang setelah makan di burjo bersama anak-anak ilus: Bang Ipul, Mayang, dan Irma di daerah Pogung malam hari sekitar jam 9. Pulang setelah lihat kali code yang rame karena tadi ada banjir lahar dingin. Bang Ipul pulang duluan karena arahnya ke barat-selatan. Irma dan Mayang berboncengan. Saya sendiri. Kebetulan Mayang mau anter Irma yang kosnya di daerah Samirono sehingga sampai di perempatan selokan jakal kami masih searah. Jalanan cukup sepi, hanya ada 2 motor kami. Sampai perempatan ternyata lampu barusan berubah dari hijau menjadi merah sehingga kami berhenti karena plat kami tidak ada yang RI 1. Beberapa puluh detik pertama masih hanya ada 2 motor kami, sementara 2 bocah perempuan yang saya kira masih balita mulai menjual kasihan dengan mengelap motor kami walau sembrono dan tidak niat. Saya beli kasihan anak yang mengelap motor saya tadi seharga 2 ribu. Saya kasih dia dengan tangan saya memegang kepal tangannya seolah bersalaman sehingga dia tidak tahu berapa saya kasih sampai dia buka itu tangan. Sementara si Mayang juga ngasih ke anak yang ngelap motornya tadi berapa nominal rupiah nggak tahu. Si anak yang saya kasih berlalu. Motor masih hanya kami di perempatan tersebut, dan anak yang mengelap motor Mayang ganti mendekat ke arah saya.
“Ada lagi nggak mas?”, tanya si anak tersebut.
“Udah nggak ada lagi dek, minta aja sama temenmu tadi”, sambil saya merogoh saku dan tidak ada lagi uang disana.
“Itu pelit orangnya mas, mesti nggak mau ngasih, ada lagi nggak?”
“Udah nggak ada lagi, minta aja sama dia, masa ga mau?”
“Dia pelit mas, ada lagi nggak mas?”
“Udah dibilangin nggak ada lagi, minta sama temenmu aja, ato sama bapak yang disana”, saya sedikit kesal, menunjuk ke arah motor lain yang barusan ikut berhenti.
“Nggak ada uang kok bisa ngasih tadi? Ada lagi kan mas?”, dia masih belum beranjak. Saya kesal.
“Bukannya tadi udah di kasih sama mbak-mbak sebelah? Yaudah lah?”
“Pelit banget mas-nya, kalau nggak ada uang kok bisa ngasih tadi?” Saya benar-benar kesal.
“Emangnya kamu tahu uang saya ada berapa? Saya yo nggak selalu punya uang! Apa sini saya minta lagi uang yang tadi saya kasih!!”, saya meledak. Dia pergi. Lampu hijau.

Iklan

Tinggalkan komentar

Apel Hijau

Ini adalah tulisan yang terpaksa dibuat demi membungkam omongan waton saya tadi waktu chatting. Hehe.

Saya lupa bagaimana awalnya, tapi saya rasa ini berkaitan dengan ketika saya dan dia-yang-(sepertinya)-tidak-mau-disebut-namanya-disini membentuk sebuah negara ketika nyampah di wallpost Nura di facebook. Negara yang kalau ngga salah dibentuk karena ingin merdeka dari banyaknya tugas kuliah di negeri sebelah tempat kampus kita berada (Indonesia) dan untuk apa lagi nggak tahu, lupa. Dia si presiden, saya si menteri luar negerinya. Penduduk resminya cuma 2 orang ini. Lupa dulu Nura daftar jadi penduduk juga atau ngga. Luasnya banget. Karena wilayahnya berada di dunia maya, jadi suka-suka mau batasnya sampai dimana. Tapi toh ruang rapat kita hanya ada di YM atau chat via facebook. Yang karena itu, seiring waktu jadi entah bagaimana jabatan presiden-menteri ini menguap entah bagaimana, dan ganti dengan Teman Dunia Maya.

Sebenarnya gak gitu maya-maya amat. Minimal kita satu SMA dulu. Tapi ngga gitu gini-gini amat juga dulu. Orang yang saya kira perfect luar dalam ternyata malah banyak punya pikiran rame dan asik. Thanks’s for facebook yang membikin kita bertemu dan bisa mendirikan sebuah negara, menjadikan saya dapat teman untuk ngobrol nggak penting berjam-jam. Membahasakan galau. Kuliah, tugas, laporan, UKM, kerjaan, agama, parampaa, video-video youtube, SM*SH, dan beberapa problematika ababil masa kini yang macam-macam dari yang nggak penting sampai sangat-sangat nggak penting banget. Kontemplasi-kontemplasi absurd. Simpel saja. Karena teman dunia maya, maka nggak ada hubungannya dengan dunia nyata. Karena itulah segalanya mengalir dengan santai. Tanpa macam-macam.

Tapi udahlah segitu saja deskripsi-deskripsinya biar ge-er nya nggak banget. Hehe.

gambar yg cuma ngambil dari facebook

Sebuah obrolan:

“Seandainya ada cewek yang bisa gini ya, hubungan kita emg terikat tapi kita bisa aja deket sama orang lain, bahkan kalau terpaksa pacaran, tapi kita terikat untuk satu hal, pada umur sekian kita menikah. Itu karena pacaran kebanyakan ini-itu. Dan kemungkinan untuk berakhir putus sangat tinggi”, kata saya.

“Setuju”, katanya.

Hahaha semangkean. Semoga cepat dapat jodoh mbak presiden! :P

 

Tinggalkan komentar

A Girl and A Planet

Say.. have you ever realized how insignificant your existance is on this planet? I have. It’s something that i couldn’t forget.

During elementary school when I was in sixth grade, the whole family went to watch a baseball game at the stadium. I wasn’t particulary interested in baseball but I was shocked when we got there. There were people everywhere I looked. The ones other side at the stadium looked like squirming grain of rice all packed together. I wondered if every last person in Japan had gathered in this place. And so, I asked my dad: Exactly how many people were in the stadium? His answer was that a sold-out game meant around fifty thousand people. Adter the game, the path to the station was flooded with people. The sight stunned me. So may people around me, yet they only made a fraction of people in Japan. Once I got home, I got a calculator and did the math. We learned that the Japanese population was a hundred million and some in social studies. Divide fifty thousand into that, and you get two-thousand. I was stunned again. Not only I was just a little person in the sea of people in that stadium, but that sea of people was merely drop in the ocean.

I had thought my self to be a special person up until that point. I enjoyed being with my family, and most of all, I thought that my class in my school had the most interesting people in the world. But, that was when I realized it wasn’t like that. The things that happened in what I believe to be the most enjoyable class in the world could be found happening in any school in the world. Everyone in the world would find them to be ordinary occurances. Once I realized this, I suddenly found that my surroundings was begining to lose their color. Brush my teeth and go to sleep at night. Wake up and eat breakfast in the morning. People do those everywhere. When I realized that people did all this things on a daily basis, everything started to feel so boring. And if there were so many people in the world, there had to be someone living an interesting life that wasn’t ordinary. I was sure of it. Why wasn’t that person is me?

That’s all I could think about until I graduated from elementary school. And in the proces, I realized something. Nothing fun will happen if you just sit around waiting. So I figured I would change myself in middle school. Let the world know that I wasn’t a girl content with sitting around and waiting. And I conducted myself accordingly.

But in the end nothing were ever happened.

Quote of :
Suzumiya Haruhi, the president of SOS Brigade.
The Melancholy of Suzumiya Haruhi eps 13th
image: http://bit.ly/g6Xi11

 

Tinggalkan komentar

The Fatiha

In the name of God, the infinitely Compassionate and Merciful.
Praise be to God, Lord of all the Universes.
The Compassionate, the Most Loving. Lords of the End of the Days.
You alone do we worship, and You alone do we ask for help.
Guide us on the Shiratal Mustaqiim (straight path),
the path of those who have received your grace;
not the path of those who have brought down wrath, nor of those who wander astray.
Amen.

Tinggalkan komentar

Le Grand Voyage

When the waters of the ocean rise to the heavens, they lose their bitterness to become pure again…

The ocean waters evaporate as they rise to the clouds. And as they evaporate they become fresh. That’s why it’s better to go on your pilgrimage on foot than on horseback, better on horseback than by car, better by car than by boat, better by boat than by plane. (The Father – Le Grand Voyage)


Itu film perancis. Ceritanya simpel, tapi tidak sesimpel bagaimana melakukannya. Itu tentang seorang ayah dan anak yang melakukan perjalanan dari Perancis menuju Makkah dalam rangka ibadah haji, menggunakan mobil. Si ayah adalah imigran dari Maroko 30 tahun lalu, dengan kepribadian yang keras dan Islam adalah satu-satunya prinsip dalam hidupnya, sedang si anak (Reda) adalah generasi kedua keluarga tersebut yang hidupnya sudah berafilasi dengan budaya Perancis. Dengan mobil tua Peugeot, mereka melewati berbagai negara untuk menuju Makkah Mukarramah.

Hmm, saya malas untuk menulis review-nya, apalagi sinopsisnya, karena sudah banyak di situs-situs lain. Yang jelas itu film yang bagus. Entah kenapa saya suka dengan film roadmovie macam ini. Ada quote yang bagus dari film itu. Ketika mereka sampai di Bulgaria, di sebuah daerah yang dingin, dalam sebuah percakapan ringan ketika mereka duduk mendekam dan berselimut tebal.

Reda : “Kenapa tidak menggunakan pesawat saja untuk menuju Mekkah? Itu lebih Mudah”

Ayah : “Ketika air laut naik ke langit, mereka kehilangan rasa asinnya untuk menjadi murni kembali”

Reda : “Err..apa?”

Ayah : “Air laut, mereka menguap saat mereka naik ke awan. Dan karena menguap, mereka menjadi segar. Itulah mengapa lebih baik berjalan daripada naik keledai. Lebih baik naik keledai daripada naik mobil. Lebih baik naik mobil daripada naik kapal laut. Lebih baik naik kapal laut daripada naik pesawat”

Keren.

Dan lalu..

Untuk Indonesia sendiri (dan ini saya mungkin sedikit sok tahu karena memang cuma tahu sedikit), jika kamu daftar haji sekarang di kementrian agama, mungkin baru 4-5 tahun lagi kamu bisa pergi ke sana (catatan: saya tinggal di Jogjakarta). Saya pikir, ini terlalu buang waktu. Selain itu, sangat-sangat tidak bebas. Sangat diatur dan saya rasa esensinya akan berkurang ketimbang mereka yang melakukan perjalanan sendiri. Sepertinya akan lebih asik kesana sendiri dan semaunya kapan saya ingin kesana. Bukan daftar sekarang dan menunggu 5 tahun lagi, atau lebih. Lebih bebas dan asik. Semoga saya diberi kesempatan untuk itu. Merasakan sebuah perjalanan besar, menikmati  berbagai apapun yang akan terjadi, meresapi dalamnya esensi, mengagumi berbagai tempat yang akan dilalui, merasai berbagai perasaan di hati, untuk pada akhinya  menuju rumahMu dan menyempurnakan rukun Islam yang terakhir.

Semoga.. amin..

Tinggalkan komentar

Pasir

Untunglah kita bilang kalau kita sama-sama mangkel dengan mereka. Walau juga kadang-kadang (saya) ada ingin untuk menjadi semacamnya. Menjadi hal-hal yang dirasa biasa.
Menjadi normal.
Kamu bilang tidak pantas. Aku juga bilang malas.
Terimakasih.
Dan demi debu-debu yang berterbangan di wajah, demi panas, demi kursi yang ternyata untuk duduk saja membayar 5 ribu, demi mereka yang seenaknya kita judge.
Semoga begini akan selalu menyenangkan.
Because i (still) try to believe,
it’s truly not about destination, but the journey.
Karena hal paling malas adalah ketika sudah sampai lalu bingung mau apa. Selesai.


Tinggalkan komentar

#nowplaying Float – Pulang

Saya suka lagu ini sudah lama sekali. Sudah dari zaman SMA, lupa kelas berapa, mungkin kelas 2. Tahu pertama kali karena terdapat di folder musik sebuah komputer warung internet bernama Gantar. Itu warnet pertama yang berdiri di desa saya di Purwamartani ngomong-ngomong. Bangga sekali akhirnya desa terpencil ini disentuh dengan internet karena sebelumnya kalau mau ngecek Friendster harus jauh-jauh ke kota sana.

Lagu ini adalah salah satu di Film 3 Hari Untuk Selamanya. Adegannya waktu opening film. Kalau mau jujur-jujuran sih, dulu penasaran nonton karena ada tulisan Nicholas Saputra di cover filmnya. Dan juga Riri Riza sama Mira Lesmana juga. Nama-nama besar untuk sebuah film yang (menurut saya) asing. Film yang simpel, tentang 2 saudara maniak drugs yang naik mobil dari Jakarta ke Jogja dalam bentuk roadmovie. Cerita tentang Sosok anak muda yang menatapi keterasingan dari lingkungan dan masa depan. Kalau saya bilang sih, itu film yang bagus meski banyak sekali kritiknya dikritik dan dicerca (gimana nggak? wong hampir setiap scene si 2 orang tokoh utama nyimeng).

Dari sebelum saya disuruh bikin film angkatan waktu akhir kelas 3, saya sudah kepengen banget membuat beberapa adegan dengan BGM lagu ciptaan om Meng ini. Tapi utamanya adalah, adegan pembuka, atau adegan penutup. Kalau tidak salah ingat, saya ingin bikin dokumenter yang ditutup dengan anak sekolahan yang lalu pulang dari sekolahnya. Sebuah simbolisasi bahwa kita sudah selesai buat ada di sini. Sudah tamat. Di-shoot hanya dari sisi kaki saja, dan beberapa bagian tubuh, atau apalah itu berbagai angle yang dalam benak saya dulu akan asik. Nyatanya, sampai sekarang tidak pernah ada lagu ini di film-film yang saya edit. Lucu. Bahkan ketika akhirnya jadi bikin film angkatan, malah lagunya Float yang lain yang berjudul Surrender yang saya masukin. Itu di adegan merbabu.

Hmm..

Saya suka memutar lagu ini berulang kali. Dan lalu, sepertinya tidak akan pernah bosan dengannya.

Dan lalu…

Float – Pulang (versi kamar)

Tinggalkan komentar