Mbrewok


Seandainya tuan ada waktu luang di kala siang hari, kala dhuhur dan tuan belum makan. Seandainya tuan sempat dan sedang ingin berendah diri untuk mau mencicipi makanan yang murah dan merakyat, sekaligus ingin melupakan penat tuan yang mungkin membebani otak. Sekaligus ingin berkata-kata sampah dan serapah sedikit. Cobalah sekali-sekali tuan pergi ke arah utara dari fakultas teknik UGM, terus belok kiri di pertigaan MM, lalu melajulah terus tuan ke arah masjid di pinggir jalan sana. Cobalah tuan tengok sejenak warung kecil di depan masjid tersebut. Di bawah pohon kecil dan di samping cakruk. Ke sebuah warung bertenda merah yang buka dari pukul 11.30 sampai malam nanti habis. Kepada ibu-ibu yang membungkus nasi teri dan tempe tak henti-henti karena pelanggan yang selalu makan lebih dari 2 bungkus nasi. Kepada gorengan-gorengan hangat dan sate usus yang enak.  Kepada bapak-bapak brewokan yang menjadi general manajer tempat itu, yang suka merokok SamSoe, yang lalu kami sebut Pak Brewok. Kepada tempat mereka berjualan, yang lalu kami sebut angkringan Pak Brewok.

Cukup sampai disitukah? Tidak. Mampirlah kemari barang 10-20 menit, sehingga tuan akan menemukan kami, manusia-manusia yang akan selalu datang kesana setiap dhuhur hari senin-jumat kalau sedang kuliah. Atau sedang apa di kampus di hari-hari selain itu. Kumpulan yang saya rasa sih, asik. Dan saya tidak akan mau panjang lebar mendeskripsikannya karena saya kira deskripsi-deskripsi ini akan menjurus kepada hal-hal mellow memalukan, atau malah menjadi sampah.

Yang tuan perlu tahu bahwa, tuan akan mendapati obrolan-obrolan kami yang memang idak berisi. Gosip, menjelek-jelekan dosen, ngrasani teman cewek atau idola (baik kenal atau cuma tahu wajahnya via facebook), mengeluh tentang kuliah, menghina-dina, jorok, dan lain-lain. Obrolan sampah. Tapi ada kalanya juga bisa menjadi berat. Kamu mungkin akan kaget bahwa dari mulut-mulut kami, ada kalanya kita bahas semacam begini: Zaman sekarang itu, salah besar jika kita menjadi idealis. Menjadi seperti Gie. Gie mungkin hanya akan mati, baik itu karena terasing, atau karena bunuh diri. Lingkungan saat ini hanya dipenuhin dengan suasana yang seperi rimba. Makan atau dimakan. Idealis hanya akan mati diinjak-injak, baik oleh sistem, maupun oleh mereka yang sama-sama mahasiswa. Simbiosis mutualisme yang baik adalah mendapatkan partner dan cara terbaik untuk mencontek untuk selamat dari rimba yang kejam ini, bagaimanapun caranya. Dan harga diri adalah dia yang tak usah kamu pikirkan untuk urusan satu ini. Memang sampah banget. Tapi saya rasa ini lebih baik daripada mati terinjak oleh sistem. Realis adalah jalan satu-satunya bagi otak-otak pemalas dan kurang mampu seperti kami ditengah persaingan yang individualis gila macam ini. Saya yakin banyak dari tuan mungkin tidak terima, dan saya akan dengan senang untuk menjawab debat yang mungkin tuan akan tembakkan.

Tapi bagaimanapun, tuan mungkin akan menemukan hidup yang bagus disini. Di sebuah cakruk di samping angkringan pak brewok. Hanya bermodal nasi teri atau oseng 2 sampai 3 bungkus, gorengan 2 biji, sate usus dan es teh, dan teman-teman yang baik, maka akan tercipta atmosfer yang kemudian menjadi sangat adiktif. Dan tertawa adalah hal yang menjadi keharusan karena tidak mungkin tuan bisa tahan menghadapinya. Kecuali tuan adalah macam orang-orang yang suci yang tidak tega untuk kami kotorin cara berpikirnya, atau Marzuki Ali yang bajingan.

Kami suka menertawakan mereka yang kami anggap munafik, sebagaimanapun munafiknya diri kami. Juga orang-orang yang kami anggap egois, tanpa pernah berkaca bahwa kami mungkin lebih egois dari mereka. Dan kami benar-benar akan terbahak-bahak ketika melihat salah seorang yang menjadi idealis demi menjadi eksis, sebagaimanapun eksis adalah kata terbodoh yang kami pernah tahu, sebagaimanapun juga kami adalah orang-orang yang rajin dalam mengeluh dalam suatu kegiatan.

Karena bagaimanapun juga, inilah cara kami untuk melupakan hidup barang sejenak di alam rimba yang kejam ini. Atau mungkin disinilah tempat kami menjadi hidup? Sesederhana nasi teri yang menjadi menu utama di sini.

 

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: