Pasir


Untunglah kita bilang kalau kita sama-sama mangkel dengan mereka. Walau juga kadang-kadang (saya) ada ingin untuk menjadi semacamnya. Menjadi hal-hal yang dirasa biasa.
Menjadi normal.
Kamu bilang tidak pantas. Aku juga bilang malas.
Terimakasih.
Dan demi debu-debu yang berterbangan di wajah, demi panas, demi kursi yang ternyata untuk duduk saja membayar 5 ribu, demi mereka yang seenaknya kita judge.
Semoga begini akan selalu menyenangkan.
Because i (still) try to believe,
it’s truly not about destination, but the journey.
Karena hal paling malas adalah ketika sudah sampai lalu bingung mau apa. Selesai.


Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: