Le Grand Voyage


When the waters of the ocean rise to the heavens, they lose their bitterness to become pure again…

The ocean waters evaporate as they rise to the clouds. And as they evaporate they become fresh. That’s why it’s better to go on your pilgrimage on foot than on horseback, better on horseback than by car, better by car than by boat, better by boat than by plane. (The Father – Le Grand Voyage)


Itu film perancis. Ceritanya simpel, tapi tidak sesimpel bagaimana melakukannya. Itu tentang seorang ayah dan anak yang melakukan perjalanan dari Perancis menuju Makkah dalam rangka ibadah haji, menggunakan mobil. Si ayah adalah imigran dari Maroko 30 tahun lalu, dengan kepribadian yang keras dan Islam adalah satu-satunya prinsip dalam hidupnya, sedang si anak (Reda) adalah generasi kedua keluarga tersebut yang hidupnya sudah berafilasi dengan budaya Perancis. Dengan mobil tua Peugeot, mereka melewati berbagai negara untuk menuju Makkah Mukarramah.

Hmm, saya malas untuk menulis review-nya, apalagi sinopsisnya, karena sudah banyak di situs-situs lain. Yang jelas itu film yang bagus. Entah kenapa saya suka dengan film roadmovie macam ini. Ada quote yang bagus dari film itu. Ketika mereka sampai di Bulgaria, di sebuah daerah yang dingin, dalam sebuah percakapan ringan ketika mereka duduk mendekam dan berselimut tebal.

Reda : “Kenapa tidak menggunakan pesawat saja untuk menuju Mekkah? Itu lebih Mudah”

Ayah : “Ketika air laut naik ke langit, mereka kehilangan rasa asinnya untuk menjadi murni kembali”

Reda : “Err..apa?”

Ayah : “Air laut, mereka menguap saat mereka naik ke awan. Dan karena menguap, mereka menjadi segar. Itulah mengapa lebih baik berjalan daripada naik keledai. Lebih baik naik keledai daripada naik mobil. Lebih baik naik mobil daripada naik kapal laut. Lebih baik naik kapal laut daripada naik pesawat”

Keren.

Dan lalu..

Untuk Indonesia sendiri (dan ini saya mungkin sedikit sok tahu karena memang cuma tahu sedikit), jika kamu daftar haji sekarang di kementrian agama, mungkin baru 4-5 tahun lagi kamu bisa pergi ke sana (catatan: saya tinggal di Jogjakarta). Saya pikir, ini terlalu buang waktu. Selain itu, sangat-sangat tidak bebas. Sangat diatur dan saya rasa esensinya akan berkurang ketimbang mereka yang melakukan perjalanan sendiri. Sepertinya akan lebih asik kesana sendiri dan semaunya kapan saya ingin kesana. Bukan daftar sekarang dan menunggu 5 tahun lagi, atau lebih. Lebih bebas dan asik. Semoga saya diberi kesempatan untuk itu. Merasakan sebuah perjalanan besar, menikmati  berbagai apapun yang akan terjadi, meresapi dalamnya esensi, mengagumi berbagai tempat yang akan dilalui, merasai berbagai perasaan di hati, untuk pada akhinya  menuju rumahMu dan menyempurnakan rukun Islam yang terakhir.

Semoga.. amin..

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: