Lampu Merah


Kejadiannya begini:

Itu perjalanan pulang setelah makan di burjo bersama anak-anak ilus: Bang Ipul, Mayang, dan Irma di daerah Pogung malam hari sekitar jam 9. Pulang setelah lihat kali code yang rame karena tadi ada banjir lahar dingin. Bang Ipul pulang duluan karena arahnya ke barat-selatan. Irma dan Mayang berboncengan. Saya sendiri. Kebetulan Mayang mau anter Irma yang kosnya di daerah Samirono sehingga sampai di perempatan selokan jakal kami masih searah. Jalanan cukup sepi, hanya ada 2 motor kami. Sampai perempatan ternyata lampu barusan berubah dari hijau menjadi merah sehingga kami berhenti karena plat kami tidak ada yang RI 1. Beberapa puluh detik pertama masih hanya ada 2 motor kami, sementara 2 bocah perempuan yang saya kira masih balita mulai menjual kasihan dengan mengelap motor kami walau sembrono dan tidak niat. Saya beli kasihan anak yang mengelap motor saya tadi seharga 2 ribu. Saya kasih dia dengan tangan saya memegang kepal tangannya seolah bersalaman sehingga dia tidak tahu berapa saya kasih sampai dia buka itu tangan. Sementara si Mayang juga ngasih ke anak yang ngelap motornya tadi berapa nominal rupiah nggak tahu. Si anak yang saya kasih berlalu. Motor masih hanya kami di perempatan tersebut, dan anak yang mengelap motor Mayang ganti mendekat ke arah saya.
“Ada lagi nggak mas?”, tanya si anak tersebut.
“Udah nggak ada lagi dek, minta aja sama temenmu tadi”, sambil saya merogoh saku dan tidak ada lagi uang disana.
“Itu pelit orangnya mas, mesti nggak mau ngasih, ada lagi nggak?”
“Udah nggak ada lagi, minta aja sama dia, masa ga mau?”
“Dia pelit mas, ada lagi nggak mas?”
“Udah dibilangin nggak ada lagi, minta sama temenmu aja, ato sama bapak yang disana”, saya sedikit kesal, menunjuk ke arah motor lain yang barusan ikut berhenti.
“Nggak ada uang kok bisa ngasih tadi? Ada lagi kan mas?”, dia masih belum beranjak. Saya kesal.
“Bukannya tadi udah di kasih sama mbak-mbak sebelah? Yaudah lah?”
“Pelit banget mas-nya, kalau nggak ada uang kok bisa ngasih tadi?” Saya benar-benar kesal.
“Emangnya kamu tahu uang saya ada berapa? Saya yo nggak selalu punya uang! Apa sini saya minta lagi uang yang tadi saya kasih!!”, saya meledak. Dia pergi. Lampu hijau.

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: