Mahameru


Sekedar tulisan yang dibikin karena tiba-tiba kangen. Sebenarnya sudah ditulis fikar dulu, tapi kata TDM saya “tulis aja, kan pandangan tiap orang beda-beda”. Jadi catatan perjalanan ini ditulis dari perspektif saya. Bukan semacam catatan perjalanan yang bisa dijadikan info relevan, meskipun juga tidak salah untuk lalu dibaca, dipelajari, dan dikoreksi. Semoga berguna.

Itu adalah tanggal-tanggal yang bagus buat naik gunung. Sekitaran liburan semesteran yang lama dan sudah dinanti-nanti oleh para mahasiswa yang galau karena banyaknya tugas. Termasuk saya juga, hehe. Semua sudah disiapkan dari beberapa bulan yang lalu, terutama biaya perjalanan buat sampai ke sana. Ada beberapa kendala seperti susahnya nyari rekan perjalanan, dsb, bahkan sampai H-3 kita masih belum yakin buat berangkat. Tapi toh akhirnya berangkat juga. Biaya perjalanan dari Jogja sekitar Rp 500 ribu, sudah termasuk biaya perjalanan, administrasi, dan logistik. Mungkin akan lebih jika logistik yang dibawa juga semakin banyak. 500 ribu cuma buat seminggu kurang? Kalau kamu berkata bahwa kami adalah manusia yang boros, maka kamu benar. Tetapi saya pikir akan lebih baik menghamburkan uang segitu untuk naik gunung dibanding hanya sekedar beli 2 celana di distro. Setidaknya alasan kami jelas. Bangsa ini sudah bobrok oleh pemerintah yang borokan. Apa yang mau kita banggakan dan bisa mempersatukan kita sedangkan para pemerintah hanya bisa membuat kita semakin malu menjadi seorang Indonesia dengan berbagai caranya mempermainkan pasal dan kebijakan? Mungkin sepakbola, tapi itu hanya kadang-kadang, dan hanya berlangsung beberapa saat.

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.” (Gie)

Adalah kami 4 orang remaja tanggung, saya, fikar, dan 2 orang adik angkatan di vachera, cocom dan vista, yang akhirnya berangkat. Ehm, 2 cowok dan 2 cewek. Hanya berdasarkan pada peta dan guide yang didapat dari internet, novel  5cm, dan info seadanya dari teman-teman, kami berangkat pada tanggal 29 Juli 2010. Horee berangkat juga akhirnya, cihuy.. :D

Ehm. Jadi (rencana) transportasi yang kami ambil dari jogja adalah sebagai berikut:

– Naik KA Ekonomi dari Lempuyangan turun di Jombang (sebenarnya rencana turun di Surabaya karena di internet di tulis begitu, tapi ketemu sama 2 bapak kuli yang baik yang naik dari Jakarta, “woo goblok, omahku wae neng Lumajang kok, wes melu mbek awakku wae medhun Jombang, tak iruhi nganti Lumajang mengko” (kami adalah orang yang polos, maka kami ikut, untunglah bapak-bapak tersebut benar dan baik).

– Dari stasiun Jombang jalan kaki sedikit ke pertigaan, ke timur kalau ngga salah, naik bis apa itu lupa menuju malang. Karena pasti nyampe di Jombang itu masih pagi, maka buat menuju Malang cuma sekitar 2 jam, turun di terminal Landungsari

– Dari landungsari naik angkot ke arjosari, lalu naik angkot lagi ke tumpang, lalu naik jeep menuju Ranu Pane (desa terakhir sebelum jalur pendakian)

Tapi karena si Fikar ada saudara di sana, jadi ya rute perjalanan berubah dari Landungsari naik angkot (nyarter ding) ke suatu tempat di dekat Pasar Tumpang. Lalu turun di sana dan dijemput oleh saudaranya Fikar. Makan, mandi, sisiran, dan jumatan di sana. Lalu packing ulang dan berangkat lagi naik angkot yang sudah di carterin sama Om-nya Fikar. Tak lupa ucap terimakasih atas semuanya.

Sampai di Tumpang dan melakukan registrasi di kantor SAR-nya (apa namanya lupa). Tunjukan fotokopi surat kesehatan, KTP, dan bla-bla-bla biasalah birokrasi. Tidak terlalu susah sebenarnya. Hanya saja agak kecewa karena ada tulisan di jendela kantornya “pendakian hanya sampai kalimati”. Lalu sambil menunggu cari-cari tumpangan hingga sampai Ranu Pane nanti. Kabarnya, untuk menyewa satu jeep harus sedia ongkos Rp 450.000 buat carter sekali jalan (penulis tidak tahu ini benar atau tidak, cuma gosip, jangan jadikan refrensi), sedangkan kami cuma 4 orang. Mampuslah kalau mau patungan. Yang bikin mampus lagi adalah kami semacam sendirian di sana, tidak terlihat pendaki lain, tidak bisa mencari orang yang bisa diajak patungan lagi, sedangkan hari sudah semakin sore. Mampus!

Untunglah bapak angkot yang dicarter saudaranya Fikar tadi bersedia membantu mencarikan sesuatu untuk ke sana. Cari-cari-cari dan akhirnya dapat mas-mas tukang sayur yang mau mengantarkan hingga sampai Ranu Pane. Itupun setelah bujuk-bujukan dan tahu bahwa kita ternyata satu daerah asal (mas tukang sayur itu ternyata dari Magelang, tapi menganggap dirinya orang Jogja juga, nggak tahu kenapa, setidaknya jadi mau buat antar kita karena berasa satu kampung). Berangkat juga akhirnya ke Ranu Pane dengan persyaratan segala info mengenai transaksi ongkos dan tujuan dirahasiakan dari orang lain. Antisipasi biar tidak menjatuhkan harga kendaraan yang mau mengantar pendaki ke atas. Maka tarif dan ongkos ke sana jadi terpaksa saya rahasiakan. Yang jelas perjalanan sangat enak karena tidak desak-desakkan. Bisa duduk, berdiri, jongkok, sesukanya di bak belakang mobil pick-up. Dan pada suatu titik di belakang gunung bromo kita diberhentikan untuk disuruh foto-foto dan lalu ngobrol-ngobrol tentang semeru dan desa Ranu Pane. Menarik sekali karena kita baru pertama kali kesini. Menarik sekali karena ada pasukan abri yang sedang di diksar.

pak abri

Melihat mereka yang berjalan dan mendaki dari atas mobil berasa: kasihan, tapi juga pengen ngece. Huahaha. Tiba-tiba semacam komandan mereka ikut nebeng di mobil.

pak komandan cengenges cengenges

Gayanya macam Arnold Swarchnegger saja, pakai kacamata dan merokok. Banyak cerita dan melawak tentang Abri. Menyalahkan pandangan masyarakat tentang Abri yang seram karena faktanya penuh canda dan tawa (dan saya yakin kalau anak buah yang tadi jalan mendengar omongan-omongan si komandan ini, pasti ingin menembakkan senapannya ke rahang komandan kita ini sekarang juga. Kami sih tertawa sajalah).

Sampai di Ranu Pane sudah sangat sore, dan tidak boleh melakukan pendakian. Aturan di Semeru, tidak boleh melakukan pendakian dari basecamp lebih dari jam 5. Tidak ada trek malam sampai ke Ranukumbolo. Karena kita datang sudah jam 5, maka kami harus stay di basecamp menunggu pagi untuk lalu memulai pendakian. Oh juga melapor ke SAR disana lagi. Ke orang yang namanya Pak Tuangkat (berasa game RPG, putar-putar cari orang buat dapat izin jalan). Ranu Pane itu bagaimana ya? Asik dan dingin. Daerah yang akses menuju kesini susah karena jalanan yang cuma bisa dilewati kendaraan tertentu. Masih asri dan ada danaunya di sana. Romantis. Tapi suhunya MasyaAllah, ademm.. Ada papan vandalisme yang disediakan oleh siapa nggak tahu di sana buat yang hobi coret-coret. Antisipasi yang bagus untuk meredam mereka yang alay dan suka coret-coret di gunung.

Tidur di bedeng di atas bukit kecil. Berbagi dengan rombongan pendaki lain. Di situ tidak ada listrik. Udara jangan tanya, benar-benar dingin. Termometer seorang pendaki menunjukan kalau udara sekitar 4°-5° C. Bajigur! Untuk makan malam, kami beli di warung pinggir danau sana. Menunya lucu, bakso+tahu bakso campur nasi. Dengan saus yang sangat merah (sampai ngeri ini sebenarnya apa) dan sambal. Oh ada gorengan juga. Tapi enak kok. Mungkin karena memang sangat lapar jadi habis juga. Tapi harganya mahal.

ranupane

 

Bangun subuh-subuh, sholat, pipis, packing, makan roti, lalu mulai mendaki. Kamu tahu seberapa antusias saya untuk pendakian ini? BANGET! Karena Mahameru adalah impian saya selama saya menjadi pendaki sebelum ini. Dan tiba-tiba saja saya sudah berada disini. Mungkin ini juga dirasakan oleh teman-teman seperjalanan saya. Melihat puncak di jauh sana, berasa waw. Fikar di depan, saya di belakang sambil nyetel mp3 dari HPnya Cocom. Dan Vista jingkrak-jingkrak.

basecamp-pos1

Jalan dari basecamp ke Ranukumbolo itu jauh dan landai. Asik sekali. Bayangan saya tentang gunung tertinggi di Jawa ini adalah jalan yang ekstrim dan menanjak, tapi nyatanya landai-landai saja. Saya sampai bingung, ini nanjaknya dimana? Jalannya santai sekali. Istirahat, buka makanan, ganti celana pendek, buka jaket, foto-foto, akhirnya sampai juga di Ranukumbolo jam 11 siang. Berarti perjalanan dari Basecamp ke sini 6 jam. Sangat leha-leha.

Ranukumbolo itu bagaimana ya? Saya nggak tahu gimana mengungkapkannya. Mungkin: SHERINA.. KEREN GILAK! Danau tertinggi di Jawa dan berada di tengah rimba gunung. Kalau saya ini belum baca guide kesini, pasti sangat kaget dengan pemandangan di depan. Apa-apaan coba ada danau sebesar ini di tengah gunung? Kalau saya cuma lihat foto, mungkin tidak percaya ada tempat sekeren ini.

ranukumbolo

Ada banyak aktivitas yang dilakukan pendaki disini. Ada yang mancing, leha-leha, berjemur (??) dan menjemur pakaian. Buang air di semak-semak dan sebagainya. Ada rumah dan banyak tenda berdiri. Pancingannya pun khusus. Cuma semacam batang kayu yang dibiarkan berdiri begitu saja dengan kail yang banyak sekali di sepanjang talinya. Ada semacam lonceng kecil di batangnya, yang akan bunyi jika ada ikan yang terpancing. Umpannya pun nasi saudara-saudara. Dan yang terpancing biasanya ikan mas dengan ukuran satu kepal tangan. Menarik sekali. Sayang banyak sampah. Sayang banget. Sangat ironis karena kita para pendaki adalah kita yang disebut sebagai pecinta alam. Nyatanya sedikit demi sedikit alam rusak karena kita juga. Seolah-olah kita ini ternyata adalah perusak alam.

sampai ranukumbolo

Di sana makan siang sekaligus pagi karena tadi tidak sarapan. Bikin apa saja yang penting enak. Santai-santai dan mengobrol. Dan istirahat. Dan sholat. Sampai akhirnya kabut datang dan kami putuskan untuk naik saja karena takut udara menjadi sangat dingin. Naik menuju ke sana. Ke tanjakan cinta.

Semoga bersambung..

Iklan
  1. #1 by alia on Januari 9, 2011 - 6:25 am

    seruuuuu,, jadi pengen ikutan naik gunung, hahaha..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: