Mahameru (2)


ceritanya mau unyu2an, seolah-olah ndorong 2 gunung itu, tapi kok aneh

tanjakan pantat

Ada sebuah mitos yang menarik di salah satu sudut Semeru. Di sebuah tanjakan di dekat Ranukumbolo. Namanya tanjakan cinta. Dinamakan begitu karena tanjakan tersebut berada di antara dua bukit yang (katanya) kalau dilihat dari jauh mirip dengan lambang hati (walau buat saya malah seperti pantat). Konon, jika seseorang berhasil mendaki nonstop dari bawah sampai atas tanjakan tanpa melihat ke belakang dan berhenti, dan memikirkan seseorang yang dicintainya, maka cintanya akan terkabul. Entah itu mitos gaul darimana, saya sih bukannya percaya, tapi nyobain. Penasaran, seberat apa sih emang tanjakan cinta itu. Dan jika berhasil baru mungkin akan percaya. Haha. Nyatanya sedikit mudah kalau dibandingin dengan tanjakan-tanjakan yang selama ini sudah dirasain. Kalau dibandingin sama Sindoro atau Sumbing mah jauuhh.. dan alhamdulillah percobaan pertama saya di tanjakan ini dengan segala prasyarat (plus olok-olok dari teman) berhasil saudara-saudara. Bangga juga. Mau tahu siapa yang saya pikirkan? Sherina Munaf. Hahaha.

Lewat dari tanjakan pantat, kita sampai di oro-oro ombo. Tempat yang keren buat lari-lari dan main sepak bola kalau kamu selo. Juga buat joget india di antara ilalang-ilalang yang tinggi. Petak umpet. Kejar-kejaran ala dua orang india yang dilanda jatuh cinta. Konser. Dan lain-lain terserah. Pokoknya tempat ini asik. Sebuah padang sabana yang luas banget, dengan bunga-bungan apa nggak tahu namanya yang warnanya ungu tumbuh dan rumput-rumput ilalang yang tinggi.

oro-oro ombo

Yang asik adalah jalur kita mendaki juga melewati antara rumput ilalang ini. Jadi semacam syuting video klip peterpan yang menghapus jejakmu. Kalau pengen, bisa rebahan di rumput yang hangat sambil lalu ngobrol-ngobrol ringan atau nyanyi-nyanyi. Dan yang jelas, tempat ini sangat bagus buat narsis (selain di Ranukumbolo dan puncak mahameru nanti). Asik deh. Asik banget. Walau jalannya di sini cukup jauh, tapi landai, dan capeknya susah terasa karena pemandangannya bagus banget. Di jauh sana, kita bisa lihat puncak mahameru yang gagah dan menantang, bawahnya adalah hutan cemara bernama Cemoro Kandang. Oro-oro ombo adalah tempat yang paling tepat untuk lalu kamu berteriak sekencang-kencangnya: “BEBAASS!”

oro-oro ombo

 

muka narsis, muka songong

kuce kuce hotahe

mangan opo mboh

Lanjut, setelah bersenang-senang ria di oro-oro ombo, maka lain ceritanya ketika kamu sudah masuk daerah bernama Cemoro Kandang. Ketika kami sampai, hari sudah mulai menjadi sore. Cemoro Kandang itu, kalau menurut saya sih, sedikit seram. Dengan pohon cemara yang rapat di seluruh tempat ini dan terkesan monoton. Seolah-olah kita lewat jalan yang sama dari tadi (penjelasan ini sedikit dibikin lebay biar dramatis, jangan dipercaya). Padahal ya nggak juga sih. Sebenernya kalau lagi cerah juga asik. Cuma waktu kami lewat, hawa mulai dingin, matahari mulai tenggelam, dan tempat ini mulai berkabut. Kontras banget sama waktu di oro-oro ombo tadi. Saya kadang-kadang nyukil pohon cemara yang besar di pinggir jalan sedikit, takut kalau nyasar. Jalan-jalan-jalan sampai agak lama dan ditambah berasa deg-degan, maka sampailah di Jabangan, sebuah padang rumput juga, tapi lebih kecil dari oro-oro ombo tadi.

itu mahameru

Tempat yang bikin lalu bernafas lega karena sudah keluar dari Cemoro Kandang tadi. Hari sudah semakin sore. Puncak mahameru semakin dekat dan benar-benar keren, dengan tambahan efek sinar matahari sore yang oranye. Merinding lihatnya. Vegetasi mulai menjadi rumput kembali dan pohon cemara semakin jarang.

Setelah dari Jambangan, lalu turun sedikit, lalu naik lagi, lewat hutan lagi sebentar, maka sampailah di Kalimati. Sebuah padang rumput yang luas yang biasanya dipakai buat opsi camp terakhir selain arcapada sebelum summit attack. Ketika kami sampai, kayaknya sudah malam. Angin berhembus kencang banget dan kabut benar-benar parah. Dari kejauhan hanya terlihat senter-senter kecil yang rame. Tandanya kami sudah sampai. Ada pondok juga disini. Tapi karena rame, maka kami mendirikan tenda di sana. Di bawah pohon, biar bisa nahan angin.

Tiba saatnya senang-senang melepas capek setelah pendakian yang panjang seharian. Kira-kira dari basecamp tadi, pendakian sampai kesini sekitar 8-10 jam (lupa). Tapi itu nggak dihitung sama berhenti di ranukumbolo. Jadi ya lama juga. Tapi nggakpapa karena pendakiannya benar-benar luar biasa. Tapi disini dingin sekali. Brr.. Mungkin yang terdingin di antara pendakian-pendakian saya sebelumnya. Tenda sudah jadi dibangun, matras sudah tertata, api sudah sedikit menyala, lalu mulai acara masak-memasak. Bla-bla-bla, ngobrol ngalor ngidul, membicarakan apa saja, terutama pendakian tadi dan udara yang dingin, dan orang-orang yang ditemui selama perjalanan kesini. Tapi sengaja nggak lama-lama karena kami malah masuk ke tenda lagi. Lalu sedikit membahas rencana setelah ini, dan diputuskan bahwa kita harus ke puncak. Maka kami harus cepat-cepat tidur (walau nyatanya kadang-kadang masih sempat ngobrol). Setel alarm karena jam 12 malam nanti harus bangun buat bersiap menuju perjalanan paling mengharukan sepanjang masa saya hidup. Perjalanan ke tanah tertinggi di Pulau Jawa. Perjalanan menuju puncak Mahameru.

kalimati sore hari

Jeng jeng jengg… bersambung lagi biar dramatis… haha..

Iklan
  1. #1 by agung on Januari 14, 2011 - 2:23 am

    bro..jalur pendakian sudah di buka…..y?

  2. #2 by bayuyeah on Januari 14, 2011 - 9:10 am

    kalo sekarang kurang tau juga bang, aku naik agustus kemarin, hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: