Cerita picisan tentang hidup sebelum ditemukannya mesin waktu


Maka dia kesana. Ke dalam sebuah lubang yang sangat dalam, seolah-olah memang dia ingin dikubur saja. Hilang dari dunia yang ia rasa sangat absurd. Malu.

Kamu tahu bagaimana dia merasai sebuah masa lalu. Iya, kamu sangat tahu, karena kamulah masa lalu itu sendiri. Menjelma menjadi sebuah waktu yang beku. Tak akan bisa diganti sebagaimanapun juga dia ingin. Kita terikat dalam pusaran yang memang mau tak mau harus kita jalani. Seandainya manusia adalah dia yang akan selalu egois dan cuek, tidak perlu terlalu peduli apa yang dilakukan tetangganya, tidak mau mencampuri urusan orang lain, tidak mau mengganggu dan membiarkan saja apa yang kita ingin lakukan selama tidak merugikan yang lain, sekalipun itu adalah berjalan telanjang di jalan tol. Tapi kamu tidak tahu, tidak bisa begitu caranya. Kamu merasa dirimulah tokoh utamanya, dan dialah satu-satunya yang kamu pedulikan. Padahal tidak. Ada kehidupan lain selain dirimu. Dia juga menjadi tokoh utama dalam hidupnya. Ibu-ibu tua itu juga menjadi tokoh utama dalam hidupnya. Semua orang. Tak terkecuali.

Pernahkah kamu berpikir bahwa semua orang juga mempunyai masa lalu? Lahir, menjalani masa kecil entah bagaimanapun juga setiap orang rasakan. Kita merasa bahwa kitalah yang terpenting, dan orang lain yang tidak terkait hanyalah tokoh-tokoh figuran. Tidak bisa begitu, bodoh! Bahkan pengemis yang sedang meminta-mintaimu segenggam receh darimu itu juga pasti memiliki perasaan. Memiliki hati. Memiliki masa lalu dan kehidupan. Memiliki rasa, pernah tertawa dan mungkin sering menangis.

Jangan juga kamu samakan setiap prajurit perang seperti robot yang bisa seenaknya saja kamu perintah untuk maju perang. Kamu kira kehilangan beberapa prajurit itu tidak apa-apa? Walau kamu menang, tetapi mati adalah selesai. Tamat. Jangan kamu lalu lega bahwa korban bencana alam hanya beberapa orang, karena yang beberapa orang itu akan dirasai kehilangan oleh banyak orang. Kamu terkubur dalam euphoria televisi!

Sedangkan dia mengubur dirinya sendiri dalam angan yang terlalu banyak. Menanamkan nisan dari ribuan keping detik yang ia kumpulkan dalam tangis yang ingin ia hempaskan. Sebanyak jumlah manusia yang telah mati dan entah menjadi apa di bawah tanah sana.

Menangis pun tak ada gunanya. Bangunlah, masih ada yang bisa kita lakukan sebelum detik-detik masa depan semakin banyak yang akan menjadi jatuh.

sambil mendengarkan berbagai musikalisasi puisi sapardi djoko darmono oleh Gadis Kecil, setelah demi apa tadi lihat film Hari Untuk Amanda yang oenyoe

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: