Archive for category jurnal harian

Bye!

Ini blog galau tentu. Dibaca-baca isinya juga cuma tulisan galau, dan beberapa tulisan pendakian yang menurut saya sih keren. Sebenarnya kalau dibilang sudah lama tidak baca ya nggak juga sih. Kadang-kadang saya masih suka buka kok buat sekedar narsis dalam berpikir: “keren juga ya saya bisa bikin tulisan begini”. Yang lalu menjadi sadar dan malu bahwa tulisan-tulisan ini kok isinya kebanyakan galau dan berantakan ketika dibandingkan dengan teman-teman lain saat ber-blogwalking.

Hem hem dan ketika berkunjung lagi, kok masih ada aja yang lihat. Haha, di statistik masih ada beberapa orang yang tiap hari nyangkut kesini. Yang punya aja nggak pernah buka. Jadi terharu. Lalu berpikir sepertinya sudah cukup. Sudah cukup deh. Blog ini menurut saya hanyalah representasi masa lalu. Dan masa lalu adalah ketika semua menjadi menyenangkan untuk dipikirkan hari ini, betapapun apapun yang terjadi ketika itu. Dan menyenangkan saja tidak akan cukup untuk menghadapi apa yang akan terjadi hari ini, dan besok, dan besoknya lagi. Lalalala semoga menyenangkan menjadi milik diri kita masing-masing.

Selamat tinggal  sleeplessstudent.wordpress.com, dan berbagai objek yang menjadi bulan-bulanan di dalamnya. Semoga kita baik-baik saja. Senang untuk dapat berbagi disini.

Terimakasih :)

PS:
blog ini berhenti posting sampai disini saja, terimakasih untuk yang sudah berkunjung :)
tulisan-tulisan dan apapun akan berpindah ke theperpetualavalanche.blogspot.com

Tinggalkan komentar

Reportase 2010 (2-habis)

Agustus

Pulang dari mahameru. Yeay!

Menghadapi kenyataan tentang perjalanan di Fistek yang kembali di lanjutkan. Ada banyak motivasi yang bisa diambil dari perbincangan dengan beberapa orang, dari mas Mail Sukribo, dari teman-teman, dari ditolaknya proposal masuk ISI, dari rekan kerja yang lalu setelah itu saya resign, bahkan dari Pak Haryono juga. Semangat baru di bulan kemerdekaan. Walau tetap saja ber”tapi”..

 

September

Saya kok lupa ya -___-

Sepertinya puasa. Aduh lupa.. dokumentasi di jurnal kosong. Sepertinya ini bulan yang sudah mulai sibuk kuliah dan laporan dan kegiatan apa saja. Melupakan beberapa hal. Mentargetkan hal baru lain. Taruhan dengan teman yang Ipnya paling tinggi dapat 300 ribu.

 

Oktober

Ospek fistek. Entah kenapa jadi panitia. Sempat menggalau di suatu malam minggu kapan itu di bukit bintang. Mengobrol banyak dengan pak tukang jagung bakar. Akhir bulan, status merapi naik. Dan mbah Maridjan meninggal.

 

November

Ada banyak peristiwa ketika akhirnya merapi “batuk-batuk”. Mulai dari di rumah yang ternyata jarak dari merapi 21 km, kampus yang diliburkan, dan ikut-ikutan bantu-bantu di gelanggang buat jadi relawan. Banyak teman saya bilang bahwa inilah hidup. Inilah softskill yang sama teman-teman “disana” di-koar-koar tanpa ada pembuktian. Sayangnya ini hanya beberapa hari saja. Lalu masuk. Lalu males. Oh, ada mubul juga. Mubul yang wow.

 

Desember

Saya lupa ngapain juga di bulan ini. Jarang kuliah karena apa lupa. Seolah-olah rumah saya di awal bulan itu KM dan akhir bulan itu lab isntrumen.

Akhir bulan mendaki lawu. Hohoi.

Finish!

2010 adalah tahun yang menyenangkan. Semoga 2011 lebih menyenangkan lagi.

 

Tinggalkan komentar

Reportase 2010 (1)

Januari

Awal tahun selalu dibuka dengan UAS saudara-saudara. Dan hasil UAS pertama buat semester I ini adalah: HANCUR. IP cuma 2koma sekian. Pikiran saya: “semester awal sudah begini, gimana selanjutnya?” hahahaha. Galau. Ada pendakian merbabu jalur selo di bulan ini. Salah satu dari pendakian asik.

Februari

Mulai jarang di rumah. Pulang sore dari kuliah yang masih selo atau dari bul, lalu ke sana itu apa namanya, oh iya Luna. Oh iya green owl. Lalu menginap di sana buat garap desain apapun bareng berbagai macam orang di dalamnya yang selalu antik-antik. Saya suka nasi goreng di burjo pojokan dekat hotel hyatt sana.

Maret

Masih di green owl dengan berbagai kerjaan yang mendera. Tapi asik juga. Setidaknya saya bisa sedikit melupakan bahwa saya ini kuliah buat apa dan lupa untuk frustasi. Haha, bodoh sekali. Dan sampai bulan ini pun masih ragu dengan apakah saya akan lanjut atau keluar pagar, membuat jalur baru dalam kehidupan akademis saya.

April

April mop!

Ada pendakian yang sedikit menyebalkan pada pendakian Sindoro, tapi gakpapalah. Asik juga pada akhirnya ketika cerita ke orang-orang gimana kondisi kita. Setidaknya. Oh iya, dan ada pertemuan yang menyenangkan di akhir bulan, dan di hari-hari setelah itu. Setidaknya, dulu. Dan ada sedikit konflik yang menyebalkan. Setidaknya, dampaknya masih terasa sampai sekarang. Sensor-sensor-sensor.

Oh iya, bulan ini UTS semester 2.

Mei

Menonton ERK untuk pertamakalinya. Dan saya langsung suka “Menjadi Indonesia”-nya. Btw, buka taunan anak2 smp6 naik cetak pertama kali. Hohoi seharusnya yang bangga kita atau mereka? Semoga tidak puas biar kita bisa perbaiki kualitas.

Juni

5 juni adalah tanggal yang mungkin akan susah saya lupakan. Tapi kenangan adalah dia yang biarkan saja akan tetap dan selalu indah. Kebimbangan berlanjut di UAS semester 2. Kalau kata Tiwi: Galau akademik! Huahaha.

Juli

Bagi saya, bulan ini adalah salah satu titik balik dari kehidupan saya ke depan. Saya putuskan untuk lanjut di fistek. Sebenarnya juga karena saya tidak boleh daftar ISI karena saya yang terlalu sembrono dalam meminta ijin. Tapi, setidaknya sampai saat ini, saya toh tetep betah disini. Walau IP turun lebih drastis lagi dari semester I kemarin dan cukup membuat frustasi.

Juli ini, saya sempat mengalami apa yang bernama lari dari kenyataan. Saya hanya ingin libur, tetapi berbagai pekerjaan menghambatnya buat terjadi. Alhasil, saya lari dari pekerjaan tersebut. Dan penyesalan datang di akhir-akhir. Kesimpulannya: pekerjaan adalah dia yang memang harus dikerjakan. Tak akan pergi walau ditunda-tunda sekalipun. Walau setidaknya, dalam pelarian tersebut saya berhasil mengunjungi 2 tempat yang selama ini saya pengen datengin. Bandung, dan Puncak Mahameru.

Pendakian paling bersejarah dalam hidup saya terjadi pada akhir bulan, bersama 3 orang lain yaitu fikar cocom dan vista. Pengen sih bikin jurnal-nya, cuma saya yakin tulisan saya pasti akan jelek sekali dibanding dengan pelbagai petualangan yang terjadi. Terimakasih untuk berbagai manusia pemberani yang mengantarkan kami menuju ke puncak mahameru. Terimakasih dan maaf untuk berbagai macam manusia yang akhirnya susah karena sayanya yang melarikan diri. Haha.

Ada banyak keputusan yang di ambil. Dan saya rasa saya menjadi “sedikit” lebih dewasa dalam menyikapi hidup. Sedikit saja, setidaknya.

Agustus

Pulang dari mahameru. Yeay!

Dan reportase ternyata harus bersambung..

CIAO!

Sampai jumpa di 2011!

Tinggalkan komentar

Mbrewok

Seandainya tuan ada waktu luang di kala siang hari, kala dhuhur dan tuan belum makan. Seandainya tuan sempat dan sedang ingin berendah diri untuk mau mencicipi makanan yang murah dan merakyat, sekaligus ingin melupakan penat tuan yang mungkin membebani otak. Sekaligus ingin berkata-kata sampah dan serapah sedikit. Cobalah sekali-sekali tuan pergi ke arah utara dari fakultas teknik UGM, terus belok kiri di pertigaan MM, lalu melajulah terus tuan ke arah masjid di pinggir jalan sana. Cobalah tuan tengok sejenak warung kecil di depan masjid tersebut. Di bawah pohon kecil dan di samping cakruk. Ke sebuah warung bertenda merah yang buka dari pukul 11.30 sampai malam nanti habis. Kepada ibu-ibu yang membungkus nasi teri dan tempe tak henti-henti karena pelanggan yang selalu makan lebih dari 2 bungkus nasi. Kepada gorengan-gorengan hangat dan sate usus yang enak.  Kepada bapak-bapak brewokan yang menjadi general manajer tempat itu, yang suka merokok SamSoe, yang lalu kami sebut Pak Brewok. Kepada tempat mereka berjualan, yang lalu kami sebut angkringan Pak Brewok.

Cukup sampai disitukah? Tidak. Mampirlah kemari barang 10-20 menit, sehingga tuan akan menemukan kami, manusia-manusia yang akan selalu datang kesana setiap dhuhur hari senin-jumat kalau sedang kuliah. Atau sedang apa di kampus di hari-hari selain itu. Kumpulan yang saya rasa sih, asik. Dan saya tidak akan mau panjang lebar mendeskripsikannya karena saya kira deskripsi-deskripsi ini akan menjurus kepada hal-hal mellow memalukan, atau malah menjadi sampah.

Yang tuan perlu tahu bahwa, tuan akan mendapati obrolan-obrolan kami yang memang idak berisi. Gosip, menjelek-jelekan dosen, ngrasani teman cewek atau idola (baik kenal atau cuma tahu wajahnya via facebook), mengeluh tentang kuliah, menghina-dina, jorok, dan lain-lain. Obrolan sampah. Tapi ada kalanya juga bisa menjadi berat. Kamu mungkin akan kaget bahwa dari mulut-mulut kami, ada kalanya kita bahas semacam begini: Zaman sekarang itu, salah besar jika kita menjadi idealis. Menjadi seperti Gie. Gie mungkin hanya akan mati, baik itu karena terasing, atau karena bunuh diri. Lingkungan saat ini hanya dipenuhin dengan suasana yang seperi rimba. Makan atau dimakan. Idealis hanya akan mati diinjak-injak, baik oleh sistem, maupun oleh mereka yang sama-sama mahasiswa. Simbiosis mutualisme yang baik adalah mendapatkan partner dan cara terbaik untuk mencontek untuk selamat dari rimba yang kejam ini, bagaimanapun caranya. Dan harga diri adalah dia yang tak usah kamu pikirkan untuk urusan satu ini. Memang sampah banget. Tapi saya rasa ini lebih baik daripada mati terinjak oleh sistem. Realis adalah jalan satu-satunya bagi otak-otak pemalas dan kurang mampu seperti kami ditengah persaingan yang individualis gila macam ini. Saya yakin banyak dari tuan mungkin tidak terima, dan saya akan dengan senang untuk menjawab debat yang mungkin tuan akan tembakkan.

Tapi bagaimanapun, tuan mungkin akan menemukan hidup yang bagus disini. Di sebuah cakruk di samping angkringan pak brewok. Hanya bermodal nasi teri atau oseng 2 sampai 3 bungkus, gorengan 2 biji, sate usus dan es teh, dan teman-teman yang baik, maka akan tercipta atmosfer yang kemudian menjadi sangat adiktif. Dan tertawa adalah hal yang menjadi keharusan karena tidak mungkin tuan bisa tahan menghadapinya. Kecuali tuan adalah macam orang-orang yang suci yang tidak tega untuk kami kotorin cara berpikirnya, atau Marzuki Ali yang bajingan.

Kami suka menertawakan mereka yang kami anggap munafik, sebagaimanapun munafiknya diri kami. Juga orang-orang yang kami anggap egois, tanpa pernah berkaca bahwa kami mungkin lebih egois dari mereka. Dan kami benar-benar akan terbahak-bahak ketika melihat salah seorang yang menjadi idealis demi menjadi eksis, sebagaimanapun eksis adalah kata terbodoh yang kami pernah tahu, sebagaimanapun juga kami adalah orang-orang yang rajin dalam mengeluh dalam suatu kegiatan.

Karena bagaimanapun juga, inilah cara kami untuk melupakan hidup barang sejenak di alam rimba yang kejam ini. Atau mungkin disinilah tempat kami menjadi hidup? Sesederhana nasi teri yang menjadi menu utama di sini.

 

Tinggalkan komentar

Thanks God It’s Saturday Night!

Biasanya, ada 2 kemungkinan untuk menghabiskan sabtu malam yang selalu membuat galau. Kalau nggak terlibat dalam suatu kegiatan apapun itu, kampus, naik gunung, atau apapun, adalah menyiapkan mental untuk online semalaman di rumah, berpacaran dengan komputer. Karena kemungkinan ketiga yang ‘ehm’ itu sepertinya susah untuk masuk dalam opsi kemungkinan saya. Tapi malam ini entah kenapa saya sedikit galau. Di rumah hanya sendiri dan menganggur karena tidak ada acara apapun. Sebenarnya ada ajakan ke Jogja Java Carnival jam 5, tapi tidak berangkat karena tadi baru bangun jam setengah 6 sore. Sampai sampai sampai, sampai akhirnya si waktu bilang kalau ini sudah jam 8 malam, dan saya muak berada di depan twitter yang penuh dengan orang-orang yang ngetweet lg malming-an, ejekan2 dari para jomblowan, dan JJC. Ambil duit 50 ribu, buku sket (yang akhirnya tidak terpakai). Kamera sedang dipinjam dan headset nggak tau dimana. Nggak papalah, tendang starter motor untuk segera berangkat ke sana. Ke JJC yang saya tahu saya sudah telat.

Sampai di sana horee, saya beneran telat. Karnavak sudah selesai. Haha saya merasa bodoh sekali. Yang ada hanya kerumunan manusia yang berdesak-desakan ingin pulang. Tapi lumayan juga dapat hiburan. Duduk-duduk di rerumputan dekat semacam monumen di stasiun tugu, saya sedikit mendapati kesimpulan bahwa orang-orang dalam keramaian itu adalah mereka yang akan mungkin untuk menjadi buas. Dalam arusnya lautan manusia yang sudah menonton karnaval dan pulang, ada mereka yang marah-marah karena banyak yang menorobos antrian, ada mereka yang kesal karena tidak kunjung juga bisa jalan, ada yang sedih karena apa, ada yang resah karena anaknya hilang, ada yang protes, ada yang membuaya, ada yang cuma bisa mencibir dan memilih sabar, ada yang ini dan itu. Banyak. Ada yang kelihatan puas dengan karnaval? Mmm mungkin karena sayanya yang senang lihat mereka yang buas-buas, jadi tidak begitu memperhatikan kelompok ini. Semoga ada dan banyak.

Sudah malas karena lalu menjadi semakin sepi dan tidak seru, saya pergi lagi. Sebenarnya ada SMS yang begitu menggoda untuk lalu menuju tempatnya, tapi karena ini jam setengah 10 malam dan mungkin tidak begitu seru, saya lebih memilih putar arah menjauh. Menuju ke timur. Ke atas. Ke tempat yang dulu sempat menjadi spesial. Eh sekarang juga masih dink. Ke sekitar jembatan di Jalan Patuk. Iya, ke tempat orang sebut ini bukit bintang.

Saya tidak peduli mau dibilang apa ini tempat. Tempat pacaran anak kimcil-lah, kumpulnya para alay-lah, dan sebagainya, peduli setan, saya tetap kesana. Dan malam ini sedang sedikit gerimis. Cuma sedikit, sehingga tetap saja akhirnya sampai disini. Oh baguslah sedikit sepi. Hanya ada beberapa pasangan. Mungkin karena orang-orang nonton karnaval dan tidak terpikir buat kesini. Parkir motor lalu beli jagung bakar. Lalu ngobrol-ngobrol dengan si pak penjual jagung bakar itu. Siapa namanya nggak tahu karena lupa tanya. Oh, dia curhat. Cari duit itu susah. Siang dia kerja jadi sopir truk, 3 kali bolak-balik ambil pasir dan cuma dibayar 40 ribu sehari. Kalau buat saya yang mahasiswa ini sih, jelas itu jumlah yang besar, bisa buat makan mewah seharian. Tapi kalau buat dia yang sudah beristri dan punya anak? Tidak usah dijelaskan pun kamu pasti tahu kalau itu sedikit. Dan tiap malam jual jagung bakar yang dapatnya dari Boyolali. Saat-saat paling ramai adalah ketika malam senin. “Kalau malam senin, saya bisa jualan sampai jam 3 pagi lho” kata dia. Ooo.. Itu karena banyak yang habis dari pantai terus mampir kesini. “Saya pikir mereka ini ngapain sih? Padahal cuma lihat pemandangan beginian (sambil lihat ke belakang, ke lampu-lampu kota Jogja yang berkedip-kedip), kalau saya bisa sih, mending tidur aja di rumah, anget”, katanya dengan bahasa yang sudah saya sesuaikan. Ooo..

“Tapi kalau disini jadi sepi, bapak yang bingung kan?”

“Hehe..”

Pasangan berlalu-lalang. Obrolan saya dengan si bapak di ganggu dengan mereka yang beli jagung bakar satu 3 ribu itu. Membuat si bapak sibuk dengan jagungnya. Saya jadi merasa bodoh karena sendiri lagi. Lalu sms temen. “Kalo disuruh pilih, kamu pilih pacar atau temen?”. Lalu jadi membahas ini. Dia pilih temen katanya. Cewek sih mungkin, jadi pilih temen. Emang kalau cowok? Mungkin pilih pacar. Kalau milih temen ndak dikira homo. Iyalah sesama cewek itu santai walau sampai cipika-cipiki. Kalau cowok? Pegangan tangan wae udah bikin merinding. Dan sms-an pun semakin absurd.

Sampai akhirnya malam sudah menjadi banget. Yang di-sms sudah tidur. Jagungnya si bapak itu juga sudah habis dan dia pamit pulang. Saya juga kok pak. Udah males. Lalu pulang. Yasudah begitu saja.

Dan merdeka itu mungkin adalah ketika bebas dari zona nyaman, lalu memilih bersenang-senang dengan cara apapun.

Tinggalkan komentar

Berapa Harganya?

Adian Adioetomo / Berapa Harganya / Provoke! Compilation vol 1

Bagi saya, ini baru benar-benar lagu keren!

Saya bisa membayangkan sedang berada di pinggir rel kereta api, memakai kaos seadanya dan jeans yang butut-belel, dan juga kaki yang nyeker-tidak memakai apapun. Rambut sedang acak-acakan dan mungkin saya sedang merokok. Lalu membawa segudang permasalahan di kepala dan bertumpuk-tumpuk pusing. Berdiri saya disana, menunggu untuk sebuah kereta terakhir. Kereta yang menuju ujung dunia. Yang akhirnya akan dapat membebaskan saya dari masalah-masalah duniawi.

Bebas!

Tak ada tempat tak ada jaminan

Siapa yang tak ingin melepas beban,

Bulan demi bulan tak kuhitung lagi

Ku hanya ingin pergi dari sini

Berapa harganya?

Satu karcis ujung dunia

Berapa harganya?

Akhirnya saya dapatkan karcis terakhir menuju ujung dunia itu, meski dengan harga yang sangat mahal. Peduli setan!

Tapi sial, kereta yang ditunggu tak kunjung juga datang. Bahkan sampai puntung rokok terakhir.

Dan karcis itupun, saya sobek sudah.

(Sekedar coret-coret liar ketika sedang dilanda berbagai deadline, dan sakit musiman yang juga tak kunjung sembuh)

Tinggalkan komentar

Kontribusi Oposisi

Sebuah contoh yang cukup ironis adalah ketika kegiatan ospek kemarin. Kalau mau jujur-jujuran, pada kegiatan ospek setahun lalu, saya adalah termasuk orang yang benar-benar males dan apatis untuk mengerjakan berbagai tugas dan mengikuti acara-acaranya. Walau entah kenapa tetap saja berangkat ke acara ospek itu. Bahkan ikut aktif waktu ada penugasan angkatan teater dengan menjadi sie perkapnya. Tapi di dalam hati, saya terus saja mengkritik dan malas demi apapun juga. Demi apa saya ada disini mengikuti ospek. Benar-benar kegiatan yang menurut saya hanya buang-buang waktu dan nggak penting. Pikiran saya waktu itu.

Dan ketika tahun ini ternyata jadi panitia, lucu juga ketika ada maba yang menganggap ini nggak penting. Seolah-olah, acara yang sudah susah-susah kita bikin ini diremehkan begitu saja. Ternyata ada juga rasa nggak terima di dalam diri ini. Saya saja ada, gimana panitia lain yang lebih niat? Ketika akhirnya dipikir-pikir lagi, haha lucu juga ya?

Pada acara terakhir yang dimana itu adalah inagurasi, dan semua panitia sudah dapat berleha-leha, saya sempat bercakap-cakap dengan teman saya yang juga sepaham dengan saya. Seorang yang masuk dalam kategori oposisi, namun tetap berkontribusi juga entah kenapa. Dan itupun aktif, nggak setengah-setengah. Saya foto para peserta yang sedang duduk di tempatnya sana secara hampir keseluruhan, lalu hasilnya di-zoom, cari muka-muka yang mungkin seperti kita setahun lalu. Dan lalu menertawakan diri sendiri karena ternyata ada. Muka yang menunjukan kemalasan ketika semua sedang ber-haha-hihi karena acara adalah senang-senang dan lawakan. Entah senang atau sedih juga ini. Yang kita percayai adalah, dia juga sama seperti kita, seorang yang oposisif tetapi tidak akan pernah bisa mengutarakan kritiknya karena suasana dan lingkungan yang seperti itu. Menyedihkan ya? Memangnya kita nggak? Kita (beberapa oknum-oknum panitia yang sedang bercakap-cakap ini, bukan semua) yang sudah susah jadi panitia juga, adalah pasti rasa malas dalam menjalankannya pada suatu waktu. Tapi entah kenapa tetap saja berkontribusi. Kotributif, sekaligus apatis.

Mungkin inilah. Saya lebih suka menjadi seorang yang realis. Ketika saya nggak suka, saya tidak akan langsung bilang tidak, karena bagaimanapun juga pekerjaan adalah dia yang harus dikerjakan. Dan kehadiran seorang oposisi, saya rasa akan menjadi penyeimbang. Karena ketika semua orang terlalu bersemangat, maka akan sangat mudah untuk menjadikan lengah karena mereka mungkin akan berpikir semua selalu baik-baik saja. Dan maka dari itu, dibutuhkan seorang yang selalu mengkritik, untuk tetap menjaga bahwa semua ini akan berlangsung masuk akal. Dan dibutuhkan sebuah kerja keras, dan pengertian dan rasa sabar terhadap mereka yang tidak mau mengerti, untuk sebuah kesuksesan kerja. Setidaknya, kamu masih punya mereka yang juga satu paham denganmu untuk mencurahkan segala apapun yang kamu mau hujat, atau kamu mau bungkam mulutnya.

ngomong2 ini gambarnya nggak nyambung ya? haha biarinlah.. setidaknya ada

2 Komentar