Archive for category pendakian

Mahameru (2)

ceritanya mau unyu2an, seolah-olah ndorong 2 gunung itu, tapi kok aneh

tanjakan pantat

Ada sebuah mitos yang menarik di salah satu sudut Semeru. Di sebuah tanjakan di dekat Ranukumbolo. Namanya tanjakan cinta. Dinamakan begitu karena tanjakan tersebut berada di antara dua bukit yang (katanya) kalau dilihat dari jauh mirip dengan lambang hati (walau buat saya malah seperti pantat). Konon, jika seseorang berhasil mendaki nonstop dari bawah sampai atas tanjakan tanpa melihat ke belakang dan berhenti, dan memikirkan seseorang yang dicintainya, maka cintanya akan terkabul. Entah itu mitos gaul darimana, saya sih bukannya percaya, tapi nyobain. Penasaran, seberat apa sih emang tanjakan cinta itu. Dan jika berhasil baru mungkin akan percaya. Haha. Nyatanya sedikit mudah kalau dibandingin dengan tanjakan-tanjakan yang selama ini sudah dirasain. Kalau dibandingin sama Sindoro atau Sumbing mah jauuhh.. dan alhamdulillah percobaan pertama saya di tanjakan ini dengan segala prasyarat (plus olok-olok dari teman) berhasil saudara-saudara. Bangga juga. Mau tahu siapa yang saya pikirkan? Sherina Munaf. Hahaha.

Lewat dari tanjakan pantat, kita sampai di oro-oro ombo. Tempat yang keren buat lari-lari dan main sepak bola kalau kamu selo. Juga buat joget india di antara ilalang-ilalang yang tinggi. Petak umpet. Kejar-kejaran ala dua orang india yang dilanda jatuh cinta. Konser. Dan lain-lain terserah. Pokoknya tempat ini asik. Sebuah padang sabana yang luas banget, dengan bunga-bungan apa nggak tahu namanya yang warnanya ungu tumbuh dan rumput-rumput ilalang yang tinggi.

oro-oro ombo

Yang asik adalah jalur kita mendaki juga melewati antara rumput ilalang ini. Jadi semacam syuting video klip peterpan yang menghapus jejakmu. Kalau pengen, bisa rebahan di rumput yang hangat sambil lalu ngobrol-ngobrol ringan atau nyanyi-nyanyi. Dan yang jelas, tempat ini sangat bagus buat narsis (selain di Ranukumbolo dan puncak mahameru nanti). Asik deh. Asik banget. Walau jalannya di sini cukup jauh, tapi landai, dan capeknya susah terasa karena pemandangannya bagus banget. Di jauh sana, kita bisa lihat puncak mahameru yang gagah dan menantang, bawahnya adalah hutan cemara bernama Cemoro Kandang. Oro-oro ombo adalah tempat yang paling tepat untuk lalu kamu berteriak sekencang-kencangnya: “BEBAASS!”

oro-oro ombo

 

muka narsis, muka songong

kuce kuce hotahe

mangan opo mboh

Lanjut, setelah bersenang-senang ria di oro-oro ombo, maka lain ceritanya ketika kamu sudah masuk daerah bernama Cemoro Kandang. Ketika kami sampai, hari sudah mulai menjadi sore. Cemoro Kandang itu, kalau menurut saya sih, sedikit seram. Dengan pohon cemara yang rapat di seluruh tempat ini dan terkesan monoton. Seolah-olah kita lewat jalan yang sama dari tadi (penjelasan ini sedikit dibikin lebay biar dramatis, jangan dipercaya). Padahal ya nggak juga sih. Sebenernya kalau lagi cerah juga asik. Cuma waktu kami lewat, hawa mulai dingin, matahari mulai tenggelam, dan tempat ini mulai berkabut. Kontras banget sama waktu di oro-oro ombo tadi. Saya kadang-kadang nyukil pohon cemara yang besar di pinggir jalan sedikit, takut kalau nyasar. Jalan-jalan-jalan sampai agak lama dan ditambah berasa deg-degan, maka sampailah di Jabangan, sebuah padang rumput juga, tapi lebih kecil dari oro-oro ombo tadi.

itu mahameru

Tempat yang bikin lalu bernafas lega karena sudah keluar dari Cemoro Kandang tadi. Hari sudah semakin sore. Puncak mahameru semakin dekat dan benar-benar keren, dengan tambahan efek sinar matahari sore yang oranye. Merinding lihatnya. Vegetasi mulai menjadi rumput kembali dan pohon cemara semakin jarang.

Setelah dari Jambangan, lalu turun sedikit, lalu naik lagi, lewat hutan lagi sebentar, maka sampailah di Kalimati. Sebuah padang rumput yang luas yang biasanya dipakai buat opsi camp terakhir selain arcapada sebelum summit attack. Ketika kami sampai, kayaknya sudah malam. Angin berhembus kencang banget dan kabut benar-benar parah. Dari kejauhan hanya terlihat senter-senter kecil yang rame. Tandanya kami sudah sampai. Ada pondok juga disini. Tapi karena rame, maka kami mendirikan tenda di sana. Di bawah pohon, biar bisa nahan angin.

Tiba saatnya senang-senang melepas capek setelah pendakian yang panjang seharian. Kira-kira dari basecamp tadi, pendakian sampai kesini sekitar 8-10 jam (lupa). Tapi itu nggak dihitung sama berhenti di ranukumbolo. Jadi ya lama juga. Tapi nggakpapa karena pendakiannya benar-benar luar biasa. Tapi disini dingin sekali. Brr.. Mungkin yang terdingin di antara pendakian-pendakian saya sebelumnya. Tenda sudah jadi dibangun, matras sudah tertata, api sudah sedikit menyala, lalu mulai acara masak-memasak. Bla-bla-bla, ngobrol ngalor ngidul, membicarakan apa saja, terutama pendakian tadi dan udara yang dingin, dan orang-orang yang ditemui selama perjalanan kesini. Tapi sengaja nggak lama-lama karena kami malah masuk ke tenda lagi. Lalu sedikit membahas rencana setelah ini, dan diputuskan bahwa kita harus ke puncak. Maka kami harus cepat-cepat tidur (walau nyatanya kadang-kadang masih sempat ngobrol). Setel alarm karena jam 12 malam nanti harus bangun buat bersiap menuju perjalanan paling mengharukan sepanjang masa saya hidup. Perjalanan ke tanah tertinggi di Pulau Jawa. Perjalanan menuju puncak Mahameru.

kalimati sore hari

Jeng jeng jengg… bersambung lagi biar dramatis… haha..

2 Komentar

Mahameru

Sekedar tulisan yang dibikin karena tiba-tiba kangen. Sebenarnya sudah ditulis fikar dulu, tapi kata TDM saya “tulis aja, kan pandangan tiap orang beda-beda”. Jadi catatan perjalanan ini ditulis dari perspektif saya. Bukan semacam catatan perjalanan yang bisa dijadikan info relevan, meskipun juga tidak salah untuk lalu dibaca, dipelajari, dan dikoreksi. Semoga berguna.

Itu adalah tanggal-tanggal yang bagus buat naik gunung. Sekitaran liburan semesteran yang lama dan sudah dinanti-nanti oleh para mahasiswa yang galau karena banyaknya tugas. Termasuk saya juga, hehe. Semua sudah disiapkan dari beberapa bulan yang lalu, terutama biaya perjalanan buat sampai ke sana. Ada beberapa kendala seperti susahnya nyari rekan perjalanan, dsb, bahkan sampai H-3 kita masih belum yakin buat berangkat. Tapi toh akhirnya berangkat juga. Biaya perjalanan dari Jogja sekitar Rp 500 ribu, sudah termasuk biaya perjalanan, administrasi, dan logistik. Mungkin akan lebih jika logistik yang dibawa juga semakin banyak. 500 ribu cuma buat seminggu kurang? Kalau kamu berkata bahwa kami adalah manusia yang boros, maka kamu benar. Tetapi saya pikir akan lebih baik menghamburkan uang segitu untuk naik gunung dibanding hanya sekedar beli 2 celana di distro. Setidaknya alasan kami jelas. Bangsa ini sudah bobrok oleh pemerintah yang borokan. Apa yang mau kita banggakan dan bisa mempersatukan kita sedangkan para pemerintah hanya bisa membuat kita semakin malu menjadi seorang Indonesia dengan berbagai caranya mempermainkan pasal dan kebijakan? Mungkin sepakbola, tapi itu hanya kadang-kadang, dan hanya berlangsung beberapa saat.

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.” (Gie)

Adalah kami 4 orang remaja tanggung, saya, fikar, dan 2 orang adik angkatan di vachera, cocom dan vista, yang akhirnya berangkat. Ehm, 2 cowok dan 2 cewek. Hanya berdasarkan pada peta dan guide yang didapat dari internet, novel  5cm, dan info seadanya dari teman-teman, kami berangkat pada tanggal 29 Juli 2010. Horee berangkat juga akhirnya, cihuy.. :D

Ehm. Jadi (rencana) transportasi yang kami ambil dari jogja adalah sebagai berikut:

– Naik KA Ekonomi dari Lempuyangan turun di Jombang (sebenarnya rencana turun di Surabaya karena di internet di tulis begitu, tapi ketemu sama 2 bapak kuli yang baik yang naik dari Jakarta, “woo goblok, omahku wae neng Lumajang kok, wes melu mbek awakku wae medhun Jombang, tak iruhi nganti Lumajang mengko” (kami adalah orang yang polos, maka kami ikut, untunglah bapak-bapak tersebut benar dan baik).

– Dari stasiun Jombang jalan kaki sedikit ke pertigaan, ke timur kalau ngga salah, naik bis apa itu lupa menuju malang. Karena pasti nyampe di Jombang itu masih pagi, maka buat menuju Malang cuma sekitar 2 jam, turun di terminal Landungsari

– Dari landungsari naik angkot ke arjosari, lalu naik angkot lagi ke tumpang, lalu naik jeep menuju Ranu Pane (desa terakhir sebelum jalur pendakian)

Tapi karena si Fikar ada saudara di sana, jadi ya rute perjalanan berubah dari Landungsari naik angkot (nyarter ding) ke suatu tempat di dekat Pasar Tumpang. Lalu turun di sana dan dijemput oleh saudaranya Fikar. Makan, mandi, sisiran, dan jumatan di sana. Lalu packing ulang dan berangkat lagi naik angkot yang sudah di carterin sama Om-nya Fikar. Tak lupa ucap terimakasih atas semuanya.

Sampai di Tumpang dan melakukan registrasi di kantor SAR-nya (apa namanya lupa). Tunjukan fotokopi surat kesehatan, KTP, dan bla-bla-bla biasalah birokrasi. Tidak terlalu susah sebenarnya. Hanya saja agak kecewa karena ada tulisan di jendela kantornya “pendakian hanya sampai kalimati”. Lalu sambil menunggu cari-cari tumpangan hingga sampai Ranu Pane nanti. Kabarnya, untuk menyewa satu jeep harus sedia ongkos Rp 450.000 buat carter sekali jalan (penulis tidak tahu ini benar atau tidak, cuma gosip, jangan jadikan refrensi), sedangkan kami cuma 4 orang. Mampuslah kalau mau patungan. Yang bikin mampus lagi adalah kami semacam sendirian di sana, tidak terlihat pendaki lain, tidak bisa mencari orang yang bisa diajak patungan lagi, sedangkan hari sudah semakin sore. Mampus!

Untunglah bapak angkot yang dicarter saudaranya Fikar tadi bersedia membantu mencarikan sesuatu untuk ke sana. Cari-cari-cari dan akhirnya dapat mas-mas tukang sayur yang mau mengantarkan hingga sampai Ranu Pane. Itupun setelah bujuk-bujukan dan tahu bahwa kita ternyata satu daerah asal (mas tukang sayur itu ternyata dari Magelang, tapi menganggap dirinya orang Jogja juga, nggak tahu kenapa, setidaknya jadi mau buat antar kita karena berasa satu kampung). Berangkat juga akhirnya ke Ranu Pane dengan persyaratan segala info mengenai transaksi ongkos dan tujuan dirahasiakan dari orang lain. Antisipasi biar tidak menjatuhkan harga kendaraan yang mau mengantar pendaki ke atas. Maka tarif dan ongkos ke sana jadi terpaksa saya rahasiakan. Yang jelas perjalanan sangat enak karena tidak desak-desakkan. Bisa duduk, berdiri, jongkok, sesukanya di bak belakang mobil pick-up. Dan pada suatu titik di belakang gunung bromo kita diberhentikan untuk disuruh foto-foto dan lalu ngobrol-ngobrol tentang semeru dan desa Ranu Pane. Menarik sekali karena kita baru pertama kali kesini. Menarik sekali karena ada pasukan abri yang sedang di diksar.

pak abri

Melihat mereka yang berjalan dan mendaki dari atas mobil berasa: kasihan, tapi juga pengen ngece. Huahaha. Tiba-tiba semacam komandan mereka ikut nebeng di mobil.

pak komandan cengenges cengenges

Gayanya macam Arnold Swarchnegger saja, pakai kacamata dan merokok. Banyak cerita dan melawak tentang Abri. Menyalahkan pandangan masyarakat tentang Abri yang seram karena faktanya penuh canda dan tawa (dan saya yakin kalau anak buah yang tadi jalan mendengar omongan-omongan si komandan ini, pasti ingin menembakkan senapannya ke rahang komandan kita ini sekarang juga. Kami sih tertawa sajalah).

Sampai di Ranu Pane sudah sangat sore, dan tidak boleh melakukan pendakian. Aturan di Semeru, tidak boleh melakukan pendakian dari basecamp lebih dari jam 5. Tidak ada trek malam sampai ke Ranukumbolo. Karena kita datang sudah jam 5, maka kami harus stay di basecamp menunggu pagi untuk lalu memulai pendakian. Oh juga melapor ke SAR disana lagi. Ke orang yang namanya Pak Tuangkat (berasa game RPG, putar-putar cari orang buat dapat izin jalan). Ranu Pane itu bagaimana ya? Asik dan dingin. Daerah yang akses menuju kesini susah karena jalanan yang cuma bisa dilewati kendaraan tertentu. Masih asri dan ada danaunya di sana. Romantis. Tapi suhunya MasyaAllah, ademm.. Ada papan vandalisme yang disediakan oleh siapa nggak tahu di sana buat yang hobi coret-coret. Antisipasi yang bagus untuk meredam mereka yang alay dan suka coret-coret di gunung.

Tidur di bedeng di atas bukit kecil. Berbagi dengan rombongan pendaki lain. Di situ tidak ada listrik. Udara jangan tanya, benar-benar dingin. Termometer seorang pendaki menunjukan kalau udara sekitar 4°-5° C. Bajigur! Untuk makan malam, kami beli di warung pinggir danau sana. Menunya lucu, bakso+tahu bakso campur nasi. Dengan saus yang sangat merah (sampai ngeri ini sebenarnya apa) dan sambal. Oh ada gorengan juga. Tapi enak kok. Mungkin karena memang sangat lapar jadi habis juga. Tapi harganya mahal.

ranupane

 

Bangun subuh-subuh, sholat, pipis, packing, makan roti, lalu mulai mendaki. Kamu tahu seberapa antusias saya untuk pendakian ini? BANGET! Karena Mahameru adalah impian saya selama saya menjadi pendaki sebelum ini. Dan tiba-tiba saja saya sudah berada disini. Mungkin ini juga dirasakan oleh teman-teman seperjalanan saya. Melihat puncak di jauh sana, berasa waw. Fikar di depan, saya di belakang sambil nyetel mp3 dari HPnya Cocom. Dan Vista jingkrak-jingkrak.

basecamp-pos1

Jalan dari basecamp ke Ranukumbolo itu jauh dan landai. Asik sekali. Bayangan saya tentang gunung tertinggi di Jawa ini adalah jalan yang ekstrim dan menanjak, tapi nyatanya landai-landai saja. Saya sampai bingung, ini nanjaknya dimana? Jalannya santai sekali. Istirahat, buka makanan, ganti celana pendek, buka jaket, foto-foto, akhirnya sampai juga di Ranukumbolo jam 11 siang. Berarti perjalanan dari Basecamp ke sini 6 jam. Sangat leha-leha.

Ranukumbolo itu bagaimana ya? Saya nggak tahu gimana mengungkapkannya. Mungkin: SHERINA.. KEREN GILAK! Danau tertinggi di Jawa dan berada di tengah rimba gunung. Kalau saya ini belum baca guide kesini, pasti sangat kaget dengan pemandangan di depan. Apa-apaan coba ada danau sebesar ini di tengah gunung? Kalau saya cuma lihat foto, mungkin tidak percaya ada tempat sekeren ini.

ranukumbolo

Ada banyak aktivitas yang dilakukan pendaki disini. Ada yang mancing, leha-leha, berjemur (??) dan menjemur pakaian. Buang air di semak-semak dan sebagainya. Ada rumah dan banyak tenda berdiri. Pancingannya pun khusus. Cuma semacam batang kayu yang dibiarkan berdiri begitu saja dengan kail yang banyak sekali di sepanjang talinya. Ada semacam lonceng kecil di batangnya, yang akan bunyi jika ada ikan yang terpancing. Umpannya pun nasi saudara-saudara. Dan yang terpancing biasanya ikan mas dengan ukuran satu kepal tangan. Menarik sekali. Sayang banyak sampah. Sayang banget. Sangat ironis karena kita para pendaki adalah kita yang disebut sebagai pecinta alam. Nyatanya sedikit demi sedikit alam rusak karena kita juga. Seolah-olah kita ini ternyata adalah perusak alam.

sampai ranukumbolo

Di sana makan siang sekaligus pagi karena tadi tidak sarapan. Bikin apa saja yang penting enak. Santai-santai dan mengobrol. Dan istirahat. Dan sholat. Sampai akhirnya kabut datang dan kami putuskan untuk naik saja karena takut udara menjadi sangat dingin. Naik menuju ke sana. Ke tanjakan cinta.

Semoga bersambung..

1 Komentar

Mahameru

Saya kembali lagi ke sini. Jogja, kota tercinta dengan segala keramahannya. Setelah hampir seminggu kemarin ke tempat yang sudah bertahun-tahun saya impikan untuk injakan kaki kesana. Mahameru. Tanah tertinggi di pulau ini. Puncak abadi para dewa.

Apa ya, saya jadi bingung sendiri. Saya benar-benar ingin menulis banyak hal mengenai apa-apa yang sudah saya dapat selama perjalanan ini. Perjalanan-perjalanan ini. Mulai dari sekedar perjalanan ke Bandung, hingga pencapaian puncak Mahameru. Seluruh keinginan saya tiba-tiba terkabul. Saya tidak tahu bagaimana harus berterimakasih kepada Yang Menciptakan saya, Sang Pewujud Impian. Kepada Allah Yang benar-benar Sangat Maha Pengasih dan Penyayang.

Lanjut!

Saya sedang malas menulis catatan pendakian karena akan sangat panjang sekali. Mungkin nanti malam atau besok pagi saja. Atau ketika foto-foto sudah didapat, atau di upload di facebook. Atau mungkin malah nggak sama sekali. Saya sedang ingin berkata-kata saja.

It’s not about the destination, but the journey. Saya rasa itu benar. Ini bukan tentang tujuan. Ini tentang perjalanan itu sendiri. Perjalanan yang membawa mimpi-mimpi yang sudah lama terpendam selama bertahun-tahun. Yang membawa berbagai emosi dan perasaan yang campur aduk. Yang membawa kepada perkenalanan dengan berbagai orang yang baik-baik. Yang mematahkan pepatah “jangan percaya pada orang yang nggak dikenal” karena nggak selamanya orang yang nggak dikenal itu jahat.

Terimakasih kepada Pak Ribut dan Pak Giman yang menemani saya dan Fikar di kereta. Yang terus saja mengobrol tentang rasial dan membandingkan keragaman berbagai bahasa di pulau Jawa seiring melajunya kereta. Yang lalu membuat tidak bisa tidur di kereta ekonomi ini karena terus saja tertawa. Yang lalu memberi tahu jalan yang lebih dekat ke Malang adalah turun di Jombang, bukan di Surabaya. Yang lalu baru kita tahu namanya ketika kita berpisah.

Terimakasih buat saudaranya Fikar yang baik dan memberi tempat transit, makan, dan mandi gratis. Om dan Tante Ayup beserta anak-anaknya Rangga dan mbak April, dan anak tetangganya si siapa itu lupa.

Terimakasih kepada para sopir angkutan yang membawa kami hingga akhirnya sampai di Ranupane. Kepada sopir-sopir yang kami carter dari terminal Landongsari hingga Madyapura yang ternyata dari Sleman. Kepada sopir angkutan yang membawa kami sampai ke Tumpang, dan juga turut serta dalam usaha pencarian kendaraan yang harus membawa kami ke Ranupane. Untuk sopir truk sayur yang ternyata dari Magelang, yang membawa kami dengan enak menikmati perjalanan dari tumpang ke ranupane. Sampai sempat diberi kesempatan untuk berfoto dipinggir lautan pasir gunung bromo. Benar-benar orang-orang yang baik sekali. Sialnya bagi kami semua karena tidak tahu nama-nama  mereka.

Terimakasih untuk Pak Rendi yang membawa kami turun malam-malam hujan setelah kami sampai lagi di Ranupane dengan Jeep yang melaju gila dengan tarif 30ribu seorang. Yang mempersilakan untuk menginap di rumahnya, memberi makan, dan memberi WC gratis untuk membuang hajat. Oh iya, juga mencarterkan sebuah angko untuk kami gampang ke stasiun.

Terimakasih untuk persahabatan yang terjalin secara ajaib di dalam perjalanan ini.

Terimakasih untuk para pendaki-pendaki yang hebat. Para pendaki Semeru yang padahal kita saling tidak kenal tetapi berasa teman lama karena satu nasib satu tujuan. Mahameru. Untuk mas-mas dari Palembang yang jalannya cepet banget. Untuk teman-teman dari Malang yang menyertai perjalanan kami ke puncak. Untuk Mas Sunu dan Mas Enggar yang baik dan gila. Untuk teman-teman dari Jakarta yang tidak sombong dan ikut ngobrol dan merokok dengan kita walau kasihan karena nggak ngerti bahasa Jawa.

Terimakasih untuk para pendaki-pendaki luar negeri. Yang secara tidak langsung turut membuat kami bangga dengan Indonesia karena buktinya beramai-ramai kalian mendaki gunung kami. Sementara beberapa dari kami si Indonesia malah tidak pernah tahu dimana Mahameru dan seperti apa wujudnya.

Terimakasih yang amat sangat besar hingga tak terbendung untuk para pendaki-pendaki yang pemberani. Rekan-rekan seperjalanan. Cocom, Vista, dan Fikar. Saya tak tahu bagaimana harus berkata apa untuk apa-apa yang telah kita lewati. Saya akan sangat kangen sekali dengan perjalanan ini. Kita hebat! Terimakasih untuk berbagai tawa dan canda yang terjadi. Untuk segala macam perasaan yang timbul. Untuk kehangatan di tenda dan makanan-makanan yang enak serta lagu yang walau fals tapi asik. Untuk perjuangan yang keras dan di kubah pasir. Untuk sebuah pelukan hangat dan tangisan yang nikmat di puncak Mahameru.

Terimakasih sekali.

Terimakasih sekali.

Dan terimakasih yang tak terhingga untuk Mahameru dengan berbagai pesonanya. Mulai dari Ranupane, waturejeng, ranukumbolo, tanjakan cinta, oro-oro ombo, cemoro kandang, blok jambangan, kalimati, sumbermani, arcapada, cemoro tunggal, kubah pasir, dan puncak Mahameru. Untuk seluruh hawa dingin, kilauan bintang, ledakan asap di kawah jonggring saloka, dinginnya air di ranukumbolo, manisnya buah ciplukan dan blackberry (?) di cemoro kandang, segarnya mata air sumbermani, seluruh hawa mistis dan horor, dan lain-lain yang tak terhingga untuk puncak Mahameru.

Mimpi saya untuk menginjak tanah tertinggi di Jawa telah tercapai. Dan saya nggak akan ragu untuk kembali lagi kesana suatu saat nanti. Untuk kembali menikmati perjalanan yang semoga akan selalu asik. Untuk kembali ke dunia dimana saya merasa nyaman dan damai.

HUP!

Saya rasa, ini adalah sebuah pijakan baru bagi saya untuk melangkah ke tempat yang lebih tingi lagi. Lebih tinggi dari Mahameru. Lebih tinggi dari langit. Melangkah menuju ke sana. Ke tempat sukses itu ada. Waktunya kembali ke dunia nyata bung!

Bangun!

Mendaki melintas bukit
Berjalan letih menahan menahan berat beban
Bertahan didalam dingin
Berselimut kabut Ranu Kumbolo…

Menatap jalan setapak
Bertanya – tanya sampai kapankah berakhir
Mereguk nikmat coklat susu
Menjalin persahabatan dalam hangatnya tenda
Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta


Mahameru berikan damainya
Didalam beku Arcapada
Mahameru sebuah legenda tersisa
Puncak abadi para dewa

Masihkah terbersit asa
Anak cucuku mencumbui pasirnya
Disana nyalimu teruji
Oleh ganas cengkraman hutan rimba
Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta

Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta

Mahameru berikan damainya
Didalam beku Arcapada
Mahameru sampaikan sejuk embun hati
Mahameru basahi jiwaku yang kering
Mahameru sadarkan angkuhnya manusia
Puncak abadi para dewa…

(DEWA 19 – MAHAMERU)

5 Komentar

4 jam sebelum berangkat ke Semeru

Barang-barang sudah di packing. Hmm oiya, kurang sendok. Sebentar nanti ambil di bawah. Juga kurang senter yang masih di charge.

Selalu begini. Selalu ada rasa was-was yang besar ketika beberapa jam sebelum berangkat. Selalu ada rasa segan ketika masih melihat TV yang nyala. Komputer yang masih memutar lagu dan facebook yang masih saja online. Selalu ada rasa malas untuk meninggalkan berbagai hal yang nyaman ini ketika nantinya akan berangkat naik gunung. Selalu begitu. Dan ini Semeru hei. SEMERU! MAHAMERU!!

Akhirnya, setelah sekian lama bermimpi, setelah dari dulu selalu membaca cerita-cerita dari blog orang-orang yang sudah kesana, membaca jalur pendakiannya hingga hampir hafal, setelah berkali-kali tamat membaca 5cm, setelah di tag foto oleh teman yang barusan ke sana, setelah mimpi untuk menginjakkan kaki di ranukumbolo, oro-oro ombo, recopodo, dan mahameru benar-benar sudah menjadi besar dan nyaris meledak. Ketika uang sudah terkumpul, rencana sudah matang, teman seperjalanan sudah membulatkan tekad, peralatan sudah dipacking, dan tinggal beberapa jam lagi sebelum kereta berangkat, tetap saja selalu berakhir begini. Berakhir dengan mendapati perasaan yang sedikit gugup dan segan untuk berangkat sebentar lagi.

Tapi tekad ini sudah tertanam di sana. Di Mahameru. Saya akan kesana sebentar lagi. Mendaki Semeru. Ke sana, ke tanah para dewa, ke puncak mahameru, dan pasti akan kembali. InsyaAllah..

Selamat tinggal nyaman. Selamat datang mimpi. Selamat datang tekad yang sudah menggantung 5 cm di depan jidat.

Bismillahirrohmannirrohim.. sampai jumpa 5 hari lagi.

“Patriotisme tidak lahir dari doktrin tapi hanya dengan mengenal alam ini, karena itulah kami naik gunung” (soe hok-gie)

“Kalau begitu, yang kita perlu sekarang cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa!” (6 pendaki di novel “5cm”)

sumber gambar : 
http://www.dephut.go.id/INFORMASI/TN%20INDO-ENGLISH/image/tengger.jpg

3 Komentar

Nostalgia Gunung

Mungkin akan membuat kamu berpikir 
untuk naik gunung 
(lagi)

VACHERA!

Cerah cerah cerah lewat cemoro sewu - Lawu

Sumur Jalutundo (deket puncak hargodumilah, turun ke kiri) - Lawu

melangkah di atas awan - Lawu (dari pucak maju lagi dikit)

Puncak Garuda - Merapi
(kalau ada yang sering tanya puncak merapi itu seperti apa, itu jawabanya)

Perjalanan turun dari Puncak Garuda - Merapi

Lereng seksi - Merbabu
Pos 2 Merbabu - 2nd sweet home
jembatan setan - Merbabu
(bisa lihat sebuah ujung pelangi di kiri itu?)
puncak! - Merbabu
(iya, di depan itu namanya merapi)
Puncak Syarif - Merbabu
Turun, pulang - Merbabu
Ngetrek! - Sindoro
Danau di Puncak - Sindoro
Puncak Kawah - Sumbing
(Mana mana mana? haha)

Beberapa hal yang akan membuat saya akan terus, dan terus, dan terus, kembali ke sana. Ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Terimakasih alam yang baik dan bagus.

Terimakasih

vachera..

3 Komentar

Pendakian Sindoro 13 – 15 April ’10

Pertama,  hal-hal yang menyebalkan ketika mendaki menurut saya adalah sebagai berikut:

  1. Mendaki bersama orang yang sok kuat, sombong, tidak sembodo. Saya tidak akan membicarakan apakah pendaki tersebut berpengalaman atau tidak. Kuat mendaki atau tidak. Yang jelas, orang yang sok kuat tapi nyatanya cemen hanya menghasilkan masalah.
  2. Mendaki bersama orang-orang yang tidak mengerti etika dalam mendaki. Seperti makan dan buang sampah sembarangan, menyenter muka, menyepelekan sesuatu selama pendakian, sembrono, tidak mau kerja saat sampai di tempat nge-dome dan hanya memilih tidur sampai segalanya siap, egois, dan lain-lain. Kau kira dirimu raja bung?!
  3. Mendaki dengan orang yang tidak tahu (atau mungkin malah memanfaatkan, semoga sih tidak) bahwa pendaki gunung adalah orang yang paling rela berkorban. Biasanya sih, kalau ada orang yang belum pernah mendaki gunung melihat pendaki gunung yang sudah agak berpengalaman (minimal mengerti etika dalam mendaki) maka akan sangat suka sekali merepotkan pendaki yang dinilai berpengalaman itu. Kita dapat mengerti hal tersebut dan saya kira itu wajar. Kita sadar bahwa kamu capek dan kita harus bantu kamu, tapi yo njuk jangan punya pikiran bahwa mereka itu kuat terus menerus selama mendaki. Apalagi lalu menggantungkan apapun kepada mereka, seolah kamu itu orang harus selalu dilayani, seolah mereka babumu. Mereka juga manusia bung, punya rasa capek dan mangkel.
  4. Manajemen yang buruk hanya akan merepotkan peserta pendakian. Ini serius. Pendakian kali ini saya benar-benar dibuat kaget. Oke, saya tidak berangkat waktu meeting sebelum pendakian, tapi saya merasa bahwa ini sama sekali tidak ada aturan. Tidak ada manajemen team packing, logistik, waktu, uang, transportasi. Hasilnya? Tidak ada kordinasi selama mendaki, bahkan sempat kehabisan logistik dan nge-camp lagi waktu pulang. Pendakian yang saya kira memakan waktu 2 hari malah menjadi 3 hari. Akhirnya, yang didapat hanya rasa capek, capek, dan capek. Sama sekali tidak menyenangkan.
  5. Mendaki ketika masih ada beban tugas sangatlah membuat dilema. Saya mendaki selasa, padahal kamis tugas uts prokom harus dikumpulkan paling lambat jam 10 pagi. saya pikir dulu saya bisa pulang rabu, nyatanya jam 9 pagi saya baru sampai Jogja. Beruntung ada teman yang bersedia ngirimin jawaban via email, dan tinggal saya ganti-ganti sedikit langsung dikumpulin. Keterlaluan sekali.
  6. Tidak usah salahkan cuaca dan hal-hal yang menghambat pendakian. Cuaca yang buruk memang tidak akan dapat kita prediksi. Yang sebaiknya dilakukan adalah siapkan hal-hal yang dapat meminimalisir akibat dari hal yang buruk tersebut. Sebelum hujan, sedia raincoat. Sebelum malam, sedia senter. Sebelum sendal jebat, sedia sendal pengganti. Sebelum baju basah, sedia baju ganti. Dan lain-lain. Paling penting, siapkan mental, sebelum menghadapi segala yang akan terjadi selama pendakian.

Sebenarnya masih banyak koreksi yang ingin saya beberkan tapi menurut saya itu sudah cukup mewakili.

Hei, apa-apaan sih itu?

Begini, tanggal 13 kemarin saya ternyata jadi mendaki gunung Sindoro. Mendaki dengan anak-anak fistek yang kebanyakan angkatan atas. Sebelumnya sempat malas karena ada tugas prokom yang harus dikumpul tanggal 15 jam 10 pagi. Apalagi gunung yang saya daki adalah Sindoro, tempat pendakian puncak pertama saya, yang sampai sekarang saya merasa bahwa itu adalah pendakian paling berat yang pernah saya lakukan. Tapi niat sudah terlanjur bulat, apalagi Ilham dan Ekat juga memaksa ikut, maka saya putuskan untuk ikut juga. Sore hari saya sudah sampai di KM. Yang saya kaget, begitu saya sampai langsung berangkat. Hah? Tidak ada waktu buat susun logistik dan packing ulang dulu nih? Baca entri selengkapnya »

2 Komentar

Sabana Merbabu

Pendakian Merbabu lagi. Sama vachera lagi meski personel yang berangkat cuma 4 orang. Sebenarnya rada males karena ini musim hujan, tapi ketika itu pagi lihat langit sedang biru cerah, segera saya sms temen-temen buat ndaki. Maka berangkatlah kami. Tapi kali ini lewat jalur selo.  Ngomong-ngomong, sebanyak ini saya daki merbabu, sekalipun belum pernah lewat jalur ini. Jadi ya kemarin banyak-banyak cari info lewat internet. Lumayan membantu.

Jalur selo itu, kalau bisa saya gambarkan, itu masyaAllah jauh sekali. Serasa bukan naik merbabu saja (karena biasanya saya lewat jalur wekas). Apalagi kalau sampai di sekitaran daerah Sabana (daerah padang rumput, dekat puncak). Tapi keren. Pemandangan yang didapat sungguh asik. Bukit-bukit di atas seolah-olah kayak bukit-bukit di film teletubbies. Hijau dan menggunduk-gunduk. Disertai dengan edelweiss yang tumbuh menghutan dimana-dimana di sepanjang sabana.  Asik sekali, apalagi jika tidur di situ. Angin yang hijau mengalir semilir. Dan jika malam, maka akan terlihat lampu-lampu kota Magelang dan (mungkin) Solo atau Boyolali. Gak taulah, karena saya agak disoriented dan kurang info. Pokoknya lampu kota. Dan sangat banyak, seperti laut yang memantulkan cahaya bintang.

Dan, saya menemukannya disana. Mungkin sudah agak lama saya melupakan ini. Basic of the adventure, it’s not about destination, but the journey. Ketika malam hari kedua, dan angin sedang berhembus sangat dingin, terlihatlah itu. Seperti yang saya bahas di atas, lampu-lampu kota yang kecil-kecil seperti cahaya bintang. Dan sadar akan satu hal, bahwa oh bahwa, kita ini sangat kecil adanya. Dan bumi itu sungguh maha luas. Saya sedikit lupa akhir-akhir ini, karena google earth dan facebook yang seolah menyempitkan jarak.

Saya ingin bertualang lagi. Menjelajahi wajah bumi dimanapun. Kebenaran didapat bukan dari kasur tidur di kamar, bukan dari bangku kuliah di kampus, di kantin, di WC. Bukan dari sekedar tour wisata atau trip ala travel agent. Tapi ketika memutuskan untuk jujur dan berani keluar dari cangkang, menapaki sesuai dengan jalan yang kita pilih. Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan komentar