Archive for category sampah

ups!

Iklan

Tinggalkan komentar

di suatu sudut di desa Gathas

“…mencintai itu, kadang mengumpulkan segala tabiat menyebalkan dari seseorang yang engkau cintai, memakinya, merasa tak sanggup lagi menjadi yang terbaik untuk dirinya, dan berpikir tak ada lagi jalan kembali, tapi tetap saja engkau tidak sanggup benar-benar meniggalkannya”

(Kashva, dari buku Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan)

Tinggalkan komentar

fairy tale

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan komentar

Cerita picisan tentang hidup sebelum ditemukannya mesin waktu

Maka dia kesana. Ke dalam sebuah lubang yang sangat dalam, seolah-olah memang dia ingin dikubur saja. Hilang dari dunia yang ia rasa sangat absurd. Malu.

Kamu tahu bagaimana dia merasai sebuah masa lalu. Iya, kamu sangat tahu, karena kamulah masa lalu itu sendiri. Menjelma menjadi sebuah waktu yang beku. Tak akan bisa diganti sebagaimanapun juga dia ingin. Kita terikat dalam pusaran yang memang mau tak mau harus kita jalani. Seandainya manusia adalah dia yang akan selalu egois dan cuek, tidak perlu terlalu peduli apa yang dilakukan tetangganya, tidak mau mencampuri urusan orang lain, tidak mau mengganggu dan membiarkan saja apa yang kita ingin lakukan selama tidak merugikan yang lain, sekalipun itu adalah berjalan telanjang di jalan tol. Tapi kamu tidak tahu, tidak bisa begitu caranya. Kamu merasa dirimulah tokoh utamanya, dan dialah satu-satunya yang kamu pedulikan. Padahal tidak. Ada kehidupan lain selain dirimu. Dia juga menjadi tokoh utama dalam hidupnya. Ibu-ibu tua itu juga menjadi tokoh utama dalam hidupnya. Semua orang. Tak terkecuali.

Pernahkah kamu berpikir bahwa semua orang juga mempunyai masa lalu? Lahir, menjalani masa kecil entah bagaimanapun juga setiap orang rasakan. Kita merasa bahwa kitalah yang terpenting, dan orang lain yang tidak terkait hanyalah tokoh-tokoh figuran. Tidak bisa begitu, bodoh! Bahkan pengemis yang sedang meminta-mintaimu segenggam receh darimu itu juga pasti memiliki perasaan. Memiliki hati. Memiliki masa lalu dan kehidupan. Memiliki rasa, pernah tertawa dan mungkin sering menangis.

Jangan juga kamu samakan setiap prajurit perang seperti robot yang bisa seenaknya saja kamu perintah untuk maju perang. Kamu kira kehilangan beberapa prajurit itu tidak apa-apa? Walau kamu menang, tetapi mati adalah selesai. Tamat. Jangan kamu lalu lega bahwa korban bencana alam hanya beberapa orang, karena yang beberapa orang itu akan dirasai kehilangan oleh banyak orang. Kamu terkubur dalam euphoria televisi!

Sedangkan dia mengubur dirinya sendiri dalam angan yang terlalu banyak. Menanamkan nisan dari ribuan keping detik yang ia kumpulkan dalam tangis yang ingin ia hempaskan. Sebanyak jumlah manusia yang telah mati dan entah menjadi apa di bawah tanah sana.

Menangis pun tak ada gunanya. Bangunlah, masih ada yang bisa kita lakukan sebelum detik-detik masa depan semakin banyak yang akan menjadi jatuh.

sambil mendengarkan berbagai musikalisasi puisi sapardi djoko darmono oleh Gadis Kecil, setelah demi apa tadi lihat film Hari Untuk Amanda yang oenyoe

Tinggalkan komentar

Ingin

Ingin yang terus menjadi ingin. Tak akan pernah menjadi puas karena memang selalu ada ingin yang baru setelah puas yang segera memudar. Nyatanya, manusia adalah dia yang tak akan pernah bisa memiliki alasan pasti kenapa dia harus hidup. Kita lahir setelah percampuran nafsu dan kegiatan senang-senang dari dua orang manusia yang akan memiliki tanggung jawab perbuatannya nantinya, yaitu kita. Setelah sebelumnya dua orang manusia sebelum mereka juga sama begitu. Dan seterusnya.

Semudah itukah untuk mengerti bagaimana tangan bisa bergerak, jemari bisa memegang, kaki dapat melangkah dan meloncat. Menghirup udara. Merasakan hidup. Bertemu dengan banyak orang. Denganmu. Mengalami berbagai peristiwa yang oleh manusia akan selalu dirasa indah dan bermakna. Menganggap sesuatu menjadi berarti. Menggunakan metafora dan majas yang menggantikan arti kata yang sesungguhnya sehingga terdengar berlebihan dalam sebuah cerita. Melihat mata-mata yang berbicara dalam berbagai macam bahasa dan warna. Menyentuh hingga menjadi hangat. Membayangkan untuk berbuat lebih dan menghasilkan manusia yang baru.

Apakah memang ini semua pantas kita miliki? Karena setelah ini lalu apa? Saya rasa saya menjadi aneh ketika menganggap ini menjadi normal. Apakah sebelumnya Adam menyangka bahwa hidup akan mengarah seperti kondisi sekarang ini? Ketika nyata adalah sebuah apel yang tertimbun di dalam kuburan yang dalam. Menjadi semakin dalam seiring dengan waktu yang terus mengalir dalam tanah yang akan terus mengubur perlahan menjadi bukit. Menjadi semakin hancur. Dilahap para nafsu yang menyamar menjadi belatung. Sedikit-sedikit berproses sampai mencapai kejayaan yang nyata.

Mungkin memang begitu. Selalu ada ingin setelah ingin. Tak akan pernah puas karena tak puas selalu mendominasi. Dan seterusnya sampai tak terhingga. Sampai akhir datang dan menuju abadi. Apakah kita akan bosan nantinya? Menjadi sebuah keabadian yang kekal. Akan selalu menjadi sebuah ingin belaka yang tak akan berakhir.

PUSING!!

10:06PM, diiringi melancholich bitch ft selir – dystopia

ingin yang terus menjadi ingin, diambil dari kata2 dalam buku 1 perempuan 14 lelaki, dalam cerpen berjudul matahari di klab malam – djenar maesa ayu & arya yudhistira syuman (mohon maaf kalau salah judul cerpen, saya ragu antara ini atau yg dengan sudjiwo tedjo, lupa)

Tinggalkan komentar

Masalah Nilai

Keluhan mengenai masalah nilai dan kegalauan akademis.

Jurusan saya sedang dilanda duka. Keoptimisan memiliki IP yang bagus untuk semester ini (setidaknya untuk saya sendiri, dibandingkan semester kemarin dimana IP 2,5 kebawah itu menjadi hal yang biasa, saya pernah posting juga di sini) dihajar begitu saja oleh beberapa makul yang kemudian membuat mahasiswanya mendapatkan nilai yang amburadul. Sebenarnya hanya 2 makul menjadi bahasan pembicaraan, setidaknya sampai tulisan ini dibikin dan semoga makul yang lain lalu tidak mengikuti. Itu adalah fisika modern yang hanya 1 orang mendapat B, 11 orang mendapat C, dan sisanya mendapat D dan E. Tidak ada A. Lalu juga ada mekanika fluida dimana kebanyakan nilai yang  keluar adalah E (termasuk saya juga). Yang paling mengenaskan adalah ketika hal ini kemudian lalu menjadi sebuah maklum oleh para mahasiswa, “yaudahlah, toh dosennya Pak F dan Pak K, wajar kalau dapat nilai segitu”. Apa memang kita mahasiswa jurusan saya angkatan 2009 segoblok itu? Sampai-sampai nilai D dan E kemudian menjadi mayoritas?

Saya rasa, dan ini juga saya rasakan di semester lalu juga, ketika nilai D dan E sudah menjadi sebuah mayoritas, mahasiswa bukan lagi tersangka utama, meskipun juga bukan tidak bisa tidak disalahkan juga. Tetapi apakah memang tidak apa-apa untuk menjadikan sebuah kemakluman ketika mahasiswa terus menerus mendapat nilai jelek untuk mata kuliah yang diampu oleh beberapa dosen tertentu? Saya rasa sih tidak. Dosen juga bisa patut kita pertanyakan, apakah sistem belajarnya yang salah, atau sistem penilaiannya, atau yang lain. Mungkin memang 2 makul tersebut susah, tetapi apakah memang sesusah itu?

Nilai memang bukan segalanya, tetapi segalanya butuh nilai. Itu masalahnya. Lalu apa gunanya kami masuk kuliah, mengerjakan tugas, dan belajar keras untuk UAS? Sementara hasilnya sama saja dengan tidur satu semester dan kemudian mengambil remedial pada akhir tahun, lebih menghemat tenaga. Apakah memang harus menjadi Abed untuk mendapatkan nilai yang baik? Sementara mahasiswa bukan makhluk yang bisa diseragamkan begitu saja.

Terimakasih. Cukup mengeluhnya, karena sama saja, saya juga cuma tidur saja waktu kuliah fismod. Haha. Selamat datang kembali kegalauan akademis. Semoga tidak lalu menjadi berlebihan.

2 Komentar

Proyek Penciptaan Makna

Adalah hujan yang membuatnya menjadi lebih terasa. Tetesan air yang banyak yang turun dari langit. Bau yang kemudian timbul di tanah-tanah yang basah. Daun-daun yang seolah beku. Udara yang menjadi dingin. Orang-orang yang berlarian, kehujanan. Speedy yang kemudian menjadi lambat. Tangisan yang tertutupi.

Adalah gelap yang membuatnya lebih bermakna. Hening dari jalanan yang bising. Redup yang tentram melindungi. Kesepian yang lalu berubah menjadi kata. Dan sepotong cahaya lilin yang kemudian menjadi lebih bermakna dari jutaan foton cahaya di siang hari.

Makna, mungkin adalah apa saja yang kamu bisa sayat dari sepotong mayat bernama “rasa”.

judul diambil dari artikel di kompas

Tinggalkan komentar