Lelap

Kita memang tidak pernah tahu kapan giliran kita berakhir. Sungguh, meskipun status jejaring sosial kita benar-benar sedang ceria atau bergalau-ria sekarang, siapa yang tahu apa yang akan terjadi pada kita beberapa saat lagi? Kita benar-benar tidak akan pernah tahu.

Apa yang lebih dekat dari kita, selain kematian itu sendiri? Dan apa yang lebih jauh dari kita, selain waktu yang baru saja berlalu?

 

sebuah tulisan untuk seniman besar, Pak AGS Arya Dipayana, dan adik kelas saya di SMADA angkatan 2011, Ervita Hayuningtyas. Selamat jalan duluan. Semoga tenang dalam perjalanan selanjutnya. Amin..

Iklan

Tinggalkan komentar

Cerita picisan tentang hidup sebelum ditemukannya mesin waktu

Maka dia kesana. Ke dalam sebuah lubang yang sangat dalam, seolah-olah memang dia ingin dikubur saja. Hilang dari dunia yang ia rasa sangat absurd. Malu.

Kamu tahu bagaimana dia merasai sebuah masa lalu. Iya, kamu sangat tahu, karena kamulah masa lalu itu sendiri. Menjelma menjadi sebuah waktu yang beku. Tak akan bisa diganti sebagaimanapun juga dia ingin. Kita terikat dalam pusaran yang memang mau tak mau harus kita jalani. Seandainya manusia adalah dia yang akan selalu egois dan cuek, tidak perlu terlalu peduli apa yang dilakukan tetangganya, tidak mau mencampuri urusan orang lain, tidak mau mengganggu dan membiarkan saja apa yang kita ingin lakukan selama tidak merugikan yang lain, sekalipun itu adalah berjalan telanjang di jalan tol. Tapi kamu tidak tahu, tidak bisa begitu caranya. Kamu merasa dirimulah tokoh utamanya, dan dialah satu-satunya yang kamu pedulikan. Padahal tidak. Ada kehidupan lain selain dirimu. Dia juga menjadi tokoh utama dalam hidupnya. Ibu-ibu tua itu juga menjadi tokoh utama dalam hidupnya. Semua orang. Tak terkecuali.

Pernahkah kamu berpikir bahwa semua orang juga mempunyai masa lalu? Lahir, menjalani masa kecil entah bagaimanapun juga setiap orang rasakan. Kita merasa bahwa kitalah yang terpenting, dan orang lain yang tidak terkait hanyalah tokoh-tokoh figuran. Tidak bisa begitu, bodoh! Bahkan pengemis yang sedang meminta-mintaimu segenggam receh darimu itu juga pasti memiliki perasaan. Memiliki hati. Memiliki masa lalu dan kehidupan. Memiliki rasa, pernah tertawa dan mungkin sering menangis.

Jangan juga kamu samakan setiap prajurit perang seperti robot yang bisa seenaknya saja kamu perintah untuk maju perang. Kamu kira kehilangan beberapa prajurit itu tidak apa-apa? Walau kamu menang, tetapi mati adalah selesai. Tamat. Jangan kamu lalu lega bahwa korban bencana alam hanya beberapa orang, karena yang beberapa orang itu akan dirasai kehilangan oleh banyak orang. Kamu terkubur dalam euphoria televisi!

Sedangkan dia mengubur dirinya sendiri dalam angan yang terlalu banyak. Menanamkan nisan dari ribuan keping detik yang ia kumpulkan dalam tangis yang ingin ia hempaskan. Sebanyak jumlah manusia yang telah mati dan entah menjadi apa di bawah tanah sana.

Menangis pun tak ada gunanya. Bangunlah, masih ada yang bisa kita lakukan sebelum detik-detik masa depan semakin banyak yang akan menjadi jatuh.

sambil mendengarkan berbagai musikalisasi puisi sapardi djoko darmono oleh Gadis Kecil, setelah demi apa tadi lihat film Hari Untuk Amanda yang oenyoe

Tinggalkan komentar

Ingin

Ingin yang terus menjadi ingin. Tak akan pernah menjadi puas karena memang selalu ada ingin yang baru setelah puas yang segera memudar. Nyatanya, manusia adalah dia yang tak akan pernah bisa memiliki alasan pasti kenapa dia harus hidup. Kita lahir setelah percampuran nafsu dan kegiatan senang-senang dari dua orang manusia yang akan memiliki tanggung jawab perbuatannya nantinya, yaitu kita. Setelah sebelumnya dua orang manusia sebelum mereka juga sama begitu. Dan seterusnya.

Semudah itukah untuk mengerti bagaimana tangan bisa bergerak, jemari bisa memegang, kaki dapat melangkah dan meloncat. Menghirup udara. Merasakan hidup. Bertemu dengan banyak orang. Denganmu. Mengalami berbagai peristiwa yang oleh manusia akan selalu dirasa indah dan bermakna. Menganggap sesuatu menjadi berarti. Menggunakan metafora dan majas yang menggantikan arti kata yang sesungguhnya sehingga terdengar berlebihan dalam sebuah cerita. Melihat mata-mata yang berbicara dalam berbagai macam bahasa dan warna. Menyentuh hingga menjadi hangat. Membayangkan untuk berbuat lebih dan menghasilkan manusia yang baru.

Apakah memang ini semua pantas kita miliki? Karena setelah ini lalu apa? Saya rasa saya menjadi aneh ketika menganggap ini menjadi normal. Apakah sebelumnya Adam menyangka bahwa hidup akan mengarah seperti kondisi sekarang ini? Ketika nyata adalah sebuah apel yang tertimbun di dalam kuburan yang dalam. Menjadi semakin dalam seiring dengan waktu yang terus mengalir dalam tanah yang akan terus mengubur perlahan menjadi bukit. Menjadi semakin hancur. Dilahap para nafsu yang menyamar menjadi belatung. Sedikit-sedikit berproses sampai mencapai kejayaan yang nyata.

Mungkin memang begitu. Selalu ada ingin setelah ingin. Tak akan pernah puas karena tak puas selalu mendominasi. Dan seterusnya sampai tak terhingga. Sampai akhir datang dan menuju abadi. Apakah kita akan bosan nantinya? Menjadi sebuah keabadian yang kekal. Akan selalu menjadi sebuah ingin belaka yang tak akan berakhir.

PUSING!!

10:06PM, diiringi melancholich bitch ft selir – dystopia

ingin yang terus menjadi ingin, diambil dari kata2 dalam buku 1 perempuan 14 lelaki, dalam cerpen berjudul matahari di klab malam – djenar maesa ayu & arya yudhistira syuman (mohon maaf kalau salah judul cerpen, saya ragu antara ini atau yg dengan sudjiwo tedjo, lupa)

Tinggalkan komentar

Masalah Nilai

Keluhan mengenai masalah nilai dan kegalauan akademis.

Jurusan saya sedang dilanda duka. Keoptimisan memiliki IP yang bagus untuk semester ini (setidaknya untuk saya sendiri, dibandingkan semester kemarin dimana IP 2,5 kebawah itu menjadi hal yang biasa, saya pernah posting juga di sini) dihajar begitu saja oleh beberapa makul yang kemudian membuat mahasiswanya mendapatkan nilai yang amburadul. Sebenarnya hanya 2 makul menjadi bahasan pembicaraan, setidaknya sampai tulisan ini dibikin dan semoga makul yang lain lalu tidak mengikuti. Itu adalah fisika modern yang hanya 1 orang mendapat B, 11 orang mendapat C, dan sisanya mendapat D dan E. Tidak ada A. Lalu juga ada mekanika fluida dimana kebanyakan nilai yang  keluar adalah E (termasuk saya juga). Yang paling mengenaskan adalah ketika hal ini kemudian lalu menjadi sebuah maklum oleh para mahasiswa, “yaudahlah, toh dosennya Pak F dan Pak K, wajar kalau dapat nilai segitu”. Apa memang kita mahasiswa jurusan saya angkatan 2009 segoblok itu? Sampai-sampai nilai D dan E kemudian menjadi mayoritas?

Saya rasa, dan ini juga saya rasakan di semester lalu juga, ketika nilai D dan E sudah menjadi sebuah mayoritas, mahasiswa bukan lagi tersangka utama, meskipun juga bukan tidak bisa tidak disalahkan juga. Tetapi apakah memang tidak apa-apa untuk menjadikan sebuah kemakluman ketika mahasiswa terus menerus mendapat nilai jelek untuk mata kuliah yang diampu oleh beberapa dosen tertentu? Saya rasa sih tidak. Dosen juga bisa patut kita pertanyakan, apakah sistem belajarnya yang salah, atau sistem penilaiannya, atau yang lain. Mungkin memang 2 makul tersebut susah, tetapi apakah memang sesusah itu?

Nilai memang bukan segalanya, tetapi segalanya butuh nilai. Itu masalahnya. Lalu apa gunanya kami masuk kuliah, mengerjakan tugas, dan belajar keras untuk UAS? Sementara hasilnya sama saja dengan tidur satu semester dan kemudian mengambil remedial pada akhir tahun, lebih menghemat tenaga. Apakah memang harus menjadi Abed untuk mendapatkan nilai yang baik? Sementara mahasiswa bukan makhluk yang bisa diseragamkan begitu saja.

Terimakasih. Cukup mengeluhnya, karena sama saja, saya juga cuma tidur saja waktu kuliah fismod. Haha. Selamat datang kembali kegalauan akademis. Semoga tidak lalu menjadi berlebihan.

2 Komentar

Proyek Penciptaan Makna

Adalah hujan yang membuatnya menjadi lebih terasa. Tetesan air yang banyak yang turun dari langit. Bau yang kemudian timbul di tanah-tanah yang basah. Daun-daun yang seolah beku. Udara yang menjadi dingin. Orang-orang yang berlarian, kehujanan. Speedy yang kemudian menjadi lambat. Tangisan yang tertutupi.

Adalah gelap yang membuatnya lebih bermakna. Hening dari jalanan yang bising. Redup yang tentram melindungi. Kesepian yang lalu berubah menjadi kata. Dan sepotong cahaya lilin yang kemudian menjadi lebih bermakna dari jutaan foton cahaya di siang hari.

Makna, mungkin adalah apa saja yang kamu bisa sayat dari sepotong mayat bernama “rasa”.

judul diambil dari artikel di kompas

Tinggalkan komentar

Mahameru (2)

ceritanya mau unyu2an, seolah-olah ndorong 2 gunung itu, tapi kok aneh

tanjakan pantat

Ada sebuah mitos yang menarik di salah satu sudut Semeru. Di sebuah tanjakan di dekat Ranukumbolo. Namanya tanjakan cinta. Dinamakan begitu karena tanjakan tersebut berada di antara dua bukit yang (katanya) kalau dilihat dari jauh mirip dengan lambang hati (walau buat saya malah seperti pantat). Konon, jika seseorang berhasil mendaki nonstop dari bawah sampai atas tanjakan tanpa melihat ke belakang dan berhenti, dan memikirkan seseorang yang dicintainya, maka cintanya akan terkabul. Entah itu mitos gaul darimana, saya sih bukannya percaya, tapi nyobain. Penasaran, seberat apa sih emang tanjakan cinta itu. Dan jika berhasil baru mungkin akan percaya. Haha. Nyatanya sedikit mudah kalau dibandingin dengan tanjakan-tanjakan yang selama ini sudah dirasain. Kalau dibandingin sama Sindoro atau Sumbing mah jauuhh.. dan alhamdulillah percobaan pertama saya di tanjakan ini dengan segala prasyarat (plus olok-olok dari teman) berhasil saudara-saudara. Bangga juga. Mau tahu siapa yang saya pikirkan? Sherina Munaf. Hahaha.

Lewat dari tanjakan pantat, kita sampai di oro-oro ombo. Tempat yang keren buat lari-lari dan main sepak bola kalau kamu selo. Juga buat joget india di antara ilalang-ilalang yang tinggi. Petak umpet. Kejar-kejaran ala dua orang india yang dilanda jatuh cinta. Konser. Dan lain-lain terserah. Pokoknya tempat ini asik. Sebuah padang sabana yang luas banget, dengan bunga-bungan apa nggak tahu namanya yang warnanya ungu tumbuh dan rumput-rumput ilalang yang tinggi.

oro-oro ombo

Yang asik adalah jalur kita mendaki juga melewati antara rumput ilalang ini. Jadi semacam syuting video klip peterpan yang menghapus jejakmu. Kalau pengen, bisa rebahan di rumput yang hangat sambil lalu ngobrol-ngobrol ringan atau nyanyi-nyanyi. Dan yang jelas, tempat ini sangat bagus buat narsis (selain di Ranukumbolo dan puncak mahameru nanti). Asik deh. Asik banget. Walau jalannya di sini cukup jauh, tapi landai, dan capeknya susah terasa karena pemandangannya bagus banget. Di jauh sana, kita bisa lihat puncak mahameru yang gagah dan menantang, bawahnya adalah hutan cemara bernama Cemoro Kandang. Oro-oro ombo adalah tempat yang paling tepat untuk lalu kamu berteriak sekencang-kencangnya: “BEBAASS!”

oro-oro ombo

 

muka narsis, muka songong

kuce kuce hotahe

mangan opo mboh

Lanjut, setelah bersenang-senang ria di oro-oro ombo, maka lain ceritanya ketika kamu sudah masuk daerah bernama Cemoro Kandang. Ketika kami sampai, hari sudah mulai menjadi sore. Cemoro Kandang itu, kalau menurut saya sih, sedikit seram. Dengan pohon cemara yang rapat di seluruh tempat ini dan terkesan monoton. Seolah-olah kita lewat jalan yang sama dari tadi (penjelasan ini sedikit dibikin lebay biar dramatis, jangan dipercaya). Padahal ya nggak juga sih. Sebenernya kalau lagi cerah juga asik. Cuma waktu kami lewat, hawa mulai dingin, matahari mulai tenggelam, dan tempat ini mulai berkabut. Kontras banget sama waktu di oro-oro ombo tadi. Saya kadang-kadang nyukil pohon cemara yang besar di pinggir jalan sedikit, takut kalau nyasar. Jalan-jalan-jalan sampai agak lama dan ditambah berasa deg-degan, maka sampailah di Jabangan, sebuah padang rumput juga, tapi lebih kecil dari oro-oro ombo tadi.

itu mahameru

Tempat yang bikin lalu bernafas lega karena sudah keluar dari Cemoro Kandang tadi. Hari sudah semakin sore. Puncak mahameru semakin dekat dan benar-benar keren, dengan tambahan efek sinar matahari sore yang oranye. Merinding lihatnya. Vegetasi mulai menjadi rumput kembali dan pohon cemara semakin jarang.

Setelah dari Jambangan, lalu turun sedikit, lalu naik lagi, lewat hutan lagi sebentar, maka sampailah di Kalimati. Sebuah padang rumput yang luas yang biasanya dipakai buat opsi camp terakhir selain arcapada sebelum summit attack. Ketika kami sampai, kayaknya sudah malam. Angin berhembus kencang banget dan kabut benar-benar parah. Dari kejauhan hanya terlihat senter-senter kecil yang rame. Tandanya kami sudah sampai. Ada pondok juga disini. Tapi karena rame, maka kami mendirikan tenda di sana. Di bawah pohon, biar bisa nahan angin.

Tiba saatnya senang-senang melepas capek setelah pendakian yang panjang seharian. Kira-kira dari basecamp tadi, pendakian sampai kesini sekitar 8-10 jam (lupa). Tapi itu nggak dihitung sama berhenti di ranukumbolo. Jadi ya lama juga. Tapi nggakpapa karena pendakiannya benar-benar luar biasa. Tapi disini dingin sekali. Brr.. Mungkin yang terdingin di antara pendakian-pendakian saya sebelumnya. Tenda sudah jadi dibangun, matras sudah tertata, api sudah sedikit menyala, lalu mulai acara masak-memasak. Bla-bla-bla, ngobrol ngalor ngidul, membicarakan apa saja, terutama pendakian tadi dan udara yang dingin, dan orang-orang yang ditemui selama perjalanan kesini. Tapi sengaja nggak lama-lama karena kami malah masuk ke tenda lagi. Lalu sedikit membahas rencana setelah ini, dan diputuskan bahwa kita harus ke puncak. Maka kami harus cepat-cepat tidur (walau nyatanya kadang-kadang masih sempat ngobrol). Setel alarm karena jam 12 malam nanti harus bangun buat bersiap menuju perjalanan paling mengharukan sepanjang masa saya hidup. Perjalanan ke tanah tertinggi di Pulau Jawa. Perjalanan menuju puncak Mahameru.

kalimati sore hari

Jeng jeng jengg… bersambung lagi biar dramatis… haha..

2 Komentar

Mahameru

Sekedar tulisan yang dibikin karena tiba-tiba kangen. Sebenarnya sudah ditulis fikar dulu, tapi kata TDM saya “tulis aja, kan pandangan tiap orang beda-beda”. Jadi catatan perjalanan ini ditulis dari perspektif saya. Bukan semacam catatan perjalanan yang bisa dijadikan info relevan, meskipun juga tidak salah untuk lalu dibaca, dipelajari, dan dikoreksi. Semoga berguna.

Itu adalah tanggal-tanggal yang bagus buat naik gunung. Sekitaran liburan semesteran yang lama dan sudah dinanti-nanti oleh para mahasiswa yang galau karena banyaknya tugas. Termasuk saya juga, hehe. Semua sudah disiapkan dari beberapa bulan yang lalu, terutama biaya perjalanan buat sampai ke sana. Ada beberapa kendala seperti susahnya nyari rekan perjalanan, dsb, bahkan sampai H-3 kita masih belum yakin buat berangkat. Tapi toh akhirnya berangkat juga. Biaya perjalanan dari Jogja sekitar Rp 500 ribu, sudah termasuk biaya perjalanan, administrasi, dan logistik. Mungkin akan lebih jika logistik yang dibawa juga semakin banyak. 500 ribu cuma buat seminggu kurang? Kalau kamu berkata bahwa kami adalah manusia yang boros, maka kamu benar. Tetapi saya pikir akan lebih baik menghamburkan uang segitu untuk naik gunung dibanding hanya sekedar beli 2 celana di distro. Setidaknya alasan kami jelas. Bangsa ini sudah bobrok oleh pemerintah yang borokan. Apa yang mau kita banggakan dan bisa mempersatukan kita sedangkan para pemerintah hanya bisa membuat kita semakin malu menjadi seorang Indonesia dengan berbagai caranya mempermainkan pasal dan kebijakan? Mungkin sepakbola, tapi itu hanya kadang-kadang, dan hanya berlangsung beberapa saat.

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.” (Gie)

Adalah kami 4 orang remaja tanggung, saya, fikar, dan 2 orang adik angkatan di vachera, cocom dan vista, yang akhirnya berangkat. Ehm, 2 cowok dan 2 cewek. Hanya berdasarkan pada peta dan guide yang didapat dari internet, novel  5cm, dan info seadanya dari teman-teman, kami berangkat pada tanggal 29 Juli 2010. Horee berangkat juga akhirnya, cihuy.. :D

Ehm. Jadi (rencana) transportasi yang kami ambil dari jogja adalah sebagai berikut:

– Naik KA Ekonomi dari Lempuyangan turun di Jombang (sebenarnya rencana turun di Surabaya karena di internet di tulis begitu, tapi ketemu sama 2 bapak kuli yang baik yang naik dari Jakarta, “woo goblok, omahku wae neng Lumajang kok, wes melu mbek awakku wae medhun Jombang, tak iruhi nganti Lumajang mengko” (kami adalah orang yang polos, maka kami ikut, untunglah bapak-bapak tersebut benar dan baik).

– Dari stasiun Jombang jalan kaki sedikit ke pertigaan, ke timur kalau ngga salah, naik bis apa itu lupa menuju malang. Karena pasti nyampe di Jombang itu masih pagi, maka buat menuju Malang cuma sekitar 2 jam, turun di terminal Landungsari

– Dari landungsari naik angkot ke arjosari, lalu naik angkot lagi ke tumpang, lalu naik jeep menuju Ranu Pane (desa terakhir sebelum jalur pendakian)

Tapi karena si Fikar ada saudara di sana, jadi ya rute perjalanan berubah dari Landungsari naik angkot (nyarter ding) ke suatu tempat di dekat Pasar Tumpang. Lalu turun di sana dan dijemput oleh saudaranya Fikar. Makan, mandi, sisiran, dan jumatan di sana. Lalu packing ulang dan berangkat lagi naik angkot yang sudah di carterin sama Om-nya Fikar. Tak lupa ucap terimakasih atas semuanya.

Sampai di Tumpang dan melakukan registrasi di kantor SAR-nya (apa namanya lupa). Tunjukan fotokopi surat kesehatan, KTP, dan bla-bla-bla biasalah birokrasi. Tidak terlalu susah sebenarnya. Hanya saja agak kecewa karena ada tulisan di jendela kantornya “pendakian hanya sampai kalimati”. Lalu sambil menunggu cari-cari tumpangan hingga sampai Ranu Pane nanti. Kabarnya, untuk menyewa satu jeep harus sedia ongkos Rp 450.000 buat carter sekali jalan (penulis tidak tahu ini benar atau tidak, cuma gosip, jangan jadikan refrensi), sedangkan kami cuma 4 orang. Mampuslah kalau mau patungan. Yang bikin mampus lagi adalah kami semacam sendirian di sana, tidak terlihat pendaki lain, tidak bisa mencari orang yang bisa diajak patungan lagi, sedangkan hari sudah semakin sore. Mampus!

Untunglah bapak angkot yang dicarter saudaranya Fikar tadi bersedia membantu mencarikan sesuatu untuk ke sana. Cari-cari-cari dan akhirnya dapat mas-mas tukang sayur yang mau mengantarkan hingga sampai Ranu Pane. Itupun setelah bujuk-bujukan dan tahu bahwa kita ternyata satu daerah asal (mas tukang sayur itu ternyata dari Magelang, tapi menganggap dirinya orang Jogja juga, nggak tahu kenapa, setidaknya jadi mau buat antar kita karena berasa satu kampung). Berangkat juga akhirnya ke Ranu Pane dengan persyaratan segala info mengenai transaksi ongkos dan tujuan dirahasiakan dari orang lain. Antisipasi biar tidak menjatuhkan harga kendaraan yang mau mengantar pendaki ke atas. Maka tarif dan ongkos ke sana jadi terpaksa saya rahasiakan. Yang jelas perjalanan sangat enak karena tidak desak-desakkan. Bisa duduk, berdiri, jongkok, sesukanya di bak belakang mobil pick-up. Dan pada suatu titik di belakang gunung bromo kita diberhentikan untuk disuruh foto-foto dan lalu ngobrol-ngobrol tentang semeru dan desa Ranu Pane. Menarik sekali karena kita baru pertama kali kesini. Menarik sekali karena ada pasukan abri yang sedang di diksar.

pak abri

Melihat mereka yang berjalan dan mendaki dari atas mobil berasa: kasihan, tapi juga pengen ngece. Huahaha. Tiba-tiba semacam komandan mereka ikut nebeng di mobil.

pak komandan cengenges cengenges

Gayanya macam Arnold Swarchnegger saja, pakai kacamata dan merokok. Banyak cerita dan melawak tentang Abri. Menyalahkan pandangan masyarakat tentang Abri yang seram karena faktanya penuh canda dan tawa (dan saya yakin kalau anak buah yang tadi jalan mendengar omongan-omongan si komandan ini, pasti ingin menembakkan senapannya ke rahang komandan kita ini sekarang juga. Kami sih tertawa sajalah).

Sampai di Ranu Pane sudah sangat sore, dan tidak boleh melakukan pendakian. Aturan di Semeru, tidak boleh melakukan pendakian dari basecamp lebih dari jam 5. Tidak ada trek malam sampai ke Ranukumbolo. Karena kita datang sudah jam 5, maka kami harus stay di basecamp menunggu pagi untuk lalu memulai pendakian. Oh juga melapor ke SAR disana lagi. Ke orang yang namanya Pak Tuangkat (berasa game RPG, putar-putar cari orang buat dapat izin jalan). Ranu Pane itu bagaimana ya? Asik dan dingin. Daerah yang akses menuju kesini susah karena jalanan yang cuma bisa dilewati kendaraan tertentu. Masih asri dan ada danaunya di sana. Romantis. Tapi suhunya MasyaAllah, ademm.. Ada papan vandalisme yang disediakan oleh siapa nggak tahu di sana buat yang hobi coret-coret. Antisipasi yang bagus untuk meredam mereka yang alay dan suka coret-coret di gunung.

Tidur di bedeng di atas bukit kecil. Berbagi dengan rombongan pendaki lain. Di situ tidak ada listrik. Udara jangan tanya, benar-benar dingin. Termometer seorang pendaki menunjukan kalau udara sekitar 4°-5° C. Bajigur! Untuk makan malam, kami beli di warung pinggir danau sana. Menunya lucu, bakso+tahu bakso campur nasi. Dengan saus yang sangat merah (sampai ngeri ini sebenarnya apa) dan sambal. Oh ada gorengan juga. Tapi enak kok. Mungkin karena memang sangat lapar jadi habis juga. Tapi harganya mahal.

ranupane

 

Bangun subuh-subuh, sholat, pipis, packing, makan roti, lalu mulai mendaki. Kamu tahu seberapa antusias saya untuk pendakian ini? BANGET! Karena Mahameru adalah impian saya selama saya menjadi pendaki sebelum ini. Dan tiba-tiba saja saya sudah berada disini. Mungkin ini juga dirasakan oleh teman-teman seperjalanan saya. Melihat puncak di jauh sana, berasa waw. Fikar di depan, saya di belakang sambil nyetel mp3 dari HPnya Cocom. Dan Vista jingkrak-jingkrak.

basecamp-pos1

Jalan dari basecamp ke Ranukumbolo itu jauh dan landai. Asik sekali. Bayangan saya tentang gunung tertinggi di Jawa ini adalah jalan yang ekstrim dan menanjak, tapi nyatanya landai-landai saja. Saya sampai bingung, ini nanjaknya dimana? Jalannya santai sekali. Istirahat, buka makanan, ganti celana pendek, buka jaket, foto-foto, akhirnya sampai juga di Ranukumbolo jam 11 siang. Berarti perjalanan dari Basecamp ke sini 6 jam. Sangat leha-leha.

Ranukumbolo itu bagaimana ya? Saya nggak tahu gimana mengungkapkannya. Mungkin: SHERINA.. KEREN GILAK! Danau tertinggi di Jawa dan berada di tengah rimba gunung. Kalau saya ini belum baca guide kesini, pasti sangat kaget dengan pemandangan di depan. Apa-apaan coba ada danau sebesar ini di tengah gunung? Kalau saya cuma lihat foto, mungkin tidak percaya ada tempat sekeren ini.

ranukumbolo

Ada banyak aktivitas yang dilakukan pendaki disini. Ada yang mancing, leha-leha, berjemur (??) dan menjemur pakaian. Buang air di semak-semak dan sebagainya. Ada rumah dan banyak tenda berdiri. Pancingannya pun khusus. Cuma semacam batang kayu yang dibiarkan berdiri begitu saja dengan kail yang banyak sekali di sepanjang talinya. Ada semacam lonceng kecil di batangnya, yang akan bunyi jika ada ikan yang terpancing. Umpannya pun nasi saudara-saudara. Dan yang terpancing biasanya ikan mas dengan ukuran satu kepal tangan. Menarik sekali. Sayang banyak sampah. Sayang banget. Sangat ironis karena kita para pendaki adalah kita yang disebut sebagai pecinta alam. Nyatanya sedikit demi sedikit alam rusak karena kita juga. Seolah-olah kita ini ternyata adalah perusak alam.

sampai ranukumbolo

Di sana makan siang sekaligus pagi karena tadi tidak sarapan. Bikin apa saja yang penting enak. Santai-santai dan mengobrol. Dan istirahat. Dan sholat. Sampai akhirnya kabut datang dan kami putuskan untuk naik saja karena takut udara menjadi sangat dingin. Naik menuju ke sana. Ke tanjakan cinta.

Semoga bersambung..

1 Komentar