the view from the land of God

Mahameru!

Iklan

Tinggalkan komentar

Reportase 2010 (2-habis)

Agustus

Pulang dari mahameru. Yeay!

Menghadapi kenyataan tentang perjalanan di Fistek yang kembali di lanjutkan. Ada banyak motivasi yang bisa diambil dari perbincangan dengan beberapa orang, dari mas Mail Sukribo, dari teman-teman, dari ditolaknya proposal masuk ISI, dari rekan kerja yang lalu setelah itu saya resign, bahkan dari Pak Haryono juga. Semangat baru di bulan kemerdekaan. Walau tetap saja ber”tapi”..

 

September

Saya kok lupa ya -___-

Sepertinya puasa. Aduh lupa.. dokumentasi di jurnal kosong. Sepertinya ini bulan yang sudah mulai sibuk kuliah dan laporan dan kegiatan apa saja. Melupakan beberapa hal. Mentargetkan hal baru lain. Taruhan dengan teman yang Ipnya paling tinggi dapat 300 ribu.

 

Oktober

Ospek fistek. Entah kenapa jadi panitia. Sempat menggalau di suatu malam minggu kapan itu di bukit bintang. Mengobrol banyak dengan pak tukang jagung bakar. Akhir bulan, status merapi naik. Dan mbah Maridjan meninggal.

 

November

Ada banyak peristiwa ketika akhirnya merapi “batuk-batuk”. Mulai dari di rumah yang ternyata jarak dari merapi 21 km, kampus yang diliburkan, dan ikut-ikutan bantu-bantu di gelanggang buat jadi relawan. Banyak teman saya bilang bahwa inilah hidup. Inilah softskill yang sama teman-teman “disana” di-koar-koar tanpa ada pembuktian. Sayangnya ini hanya beberapa hari saja. Lalu masuk. Lalu males. Oh, ada mubul juga. Mubul yang wow.

 

Desember

Saya lupa ngapain juga di bulan ini. Jarang kuliah karena apa lupa. Seolah-olah rumah saya di awal bulan itu KM dan akhir bulan itu lab isntrumen.

Akhir bulan mendaki lawu. Hohoi.

Finish!

2010 adalah tahun yang menyenangkan. Semoga 2011 lebih menyenangkan lagi.

 

Tinggalkan komentar

Reportase 2010 (1)

Januari

Awal tahun selalu dibuka dengan UAS saudara-saudara. Dan hasil UAS pertama buat semester I ini adalah: HANCUR. IP cuma 2koma sekian. Pikiran saya: “semester awal sudah begini, gimana selanjutnya?” hahahaha. Galau. Ada pendakian merbabu jalur selo di bulan ini. Salah satu dari pendakian asik.

Februari

Mulai jarang di rumah. Pulang sore dari kuliah yang masih selo atau dari bul, lalu ke sana itu apa namanya, oh iya Luna. Oh iya green owl. Lalu menginap di sana buat garap desain apapun bareng berbagai macam orang di dalamnya yang selalu antik-antik. Saya suka nasi goreng di burjo pojokan dekat hotel hyatt sana.

Maret

Masih di green owl dengan berbagai kerjaan yang mendera. Tapi asik juga. Setidaknya saya bisa sedikit melupakan bahwa saya ini kuliah buat apa dan lupa untuk frustasi. Haha, bodoh sekali. Dan sampai bulan ini pun masih ragu dengan apakah saya akan lanjut atau keluar pagar, membuat jalur baru dalam kehidupan akademis saya.

April

April mop!

Ada pendakian yang sedikit menyebalkan pada pendakian Sindoro, tapi gakpapalah. Asik juga pada akhirnya ketika cerita ke orang-orang gimana kondisi kita. Setidaknya. Oh iya, dan ada pertemuan yang menyenangkan di akhir bulan, dan di hari-hari setelah itu. Setidaknya, dulu. Dan ada sedikit konflik yang menyebalkan. Setidaknya, dampaknya masih terasa sampai sekarang. Sensor-sensor-sensor.

Oh iya, bulan ini UTS semester 2.

Mei

Menonton ERK untuk pertamakalinya. Dan saya langsung suka “Menjadi Indonesia”-nya. Btw, buka taunan anak2 smp6 naik cetak pertama kali. Hohoi seharusnya yang bangga kita atau mereka? Semoga tidak puas biar kita bisa perbaiki kualitas.

Juni

5 juni adalah tanggal yang mungkin akan susah saya lupakan. Tapi kenangan adalah dia yang biarkan saja akan tetap dan selalu indah. Kebimbangan berlanjut di UAS semester 2. Kalau kata Tiwi: Galau akademik! Huahaha.

Juli

Bagi saya, bulan ini adalah salah satu titik balik dari kehidupan saya ke depan. Saya putuskan untuk lanjut di fistek. Sebenarnya juga karena saya tidak boleh daftar ISI karena saya yang terlalu sembrono dalam meminta ijin. Tapi, setidaknya sampai saat ini, saya toh tetep betah disini. Walau IP turun lebih drastis lagi dari semester I kemarin dan cukup membuat frustasi.

Juli ini, saya sempat mengalami apa yang bernama lari dari kenyataan. Saya hanya ingin libur, tetapi berbagai pekerjaan menghambatnya buat terjadi. Alhasil, saya lari dari pekerjaan tersebut. Dan penyesalan datang di akhir-akhir. Kesimpulannya: pekerjaan adalah dia yang memang harus dikerjakan. Tak akan pergi walau ditunda-tunda sekalipun. Walau setidaknya, dalam pelarian tersebut saya berhasil mengunjungi 2 tempat yang selama ini saya pengen datengin. Bandung, dan Puncak Mahameru.

Pendakian paling bersejarah dalam hidup saya terjadi pada akhir bulan, bersama 3 orang lain yaitu fikar cocom dan vista. Pengen sih bikin jurnal-nya, cuma saya yakin tulisan saya pasti akan jelek sekali dibanding dengan pelbagai petualangan yang terjadi. Terimakasih untuk berbagai manusia pemberani yang mengantarkan kami menuju ke puncak mahameru. Terimakasih dan maaf untuk berbagai macam manusia yang akhirnya susah karena sayanya yang melarikan diri. Haha.

Ada banyak keputusan yang di ambil. Dan saya rasa saya menjadi “sedikit” lebih dewasa dalam menyikapi hidup. Sedikit saja, setidaknya.

Agustus

Pulang dari mahameru. Yeay!

Dan reportase ternyata harus bersambung..

CIAO!

Sampai jumpa di 2011!

Tinggalkan komentar

garuda

Bgmn mungkin kita tega mnyalahkan TIMNAS oleh krn mrk kalah, pdhl skrg mrk justru sdg brsedih krn kcewa tdk bs mmbuat kita bahagia. Bgmn mungkin kita mmbenci Malaysia oleh krn mrk menang, pdhl kita tau dg mmbnci maka kkalahan akan lbh trasa mnyakitkan. Cintai Malaysia untuk kita anggap kekalahan ini sbg sdekah buat mrk

(pidi baiq, 2010)

Tinggalkan komentar

Udara

Demi apapun yang ada di dunia ini, di bawah sini,
di segala kehingar-bingaran lampu kota yang kuning temaram, yang bokeh,
di segala kebisingan kendaraan-kendaraan yang keren lagi canggih,
di segala dering ringtone HP dan MP3 lagu-lagu masa kini,
di segala tayangan TV yang membosankan dan euforia dunia maya,

saya jenuh!

Sudah tiba waktunya mengepak ransel kembali, mengambil peta, membawa kompas, membuat rencana perjalanan, kembali ke sana, menghirup udara di atas awan,
bebas!

Tapi kapan?!

3 Komentar

Side Project

sebuah sampingan, semoga jalan terus

http://theperpetualavalanche.blogspot.com/

1 Komentar

Lampu Merah

Kejadiannya begini:

Itu perjalanan pulang setelah makan di burjo bersama anak-anak ilus: Bang Ipul, Mayang, dan Irma di daerah Pogung malam hari sekitar jam 9. Pulang setelah lihat kali code yang rame karena tadi ada banjir lahar dingin. Bang Ipul pulang duluan karena arahnya ke barat-selatan. Irma dan Mayang berboncengan. Saya sendiri. Kebetulan Mayang mau anter Irma yang kosnya di daerah Samirono sehingga sampai di perempatan selokan jakal kami masih searah. Jalanan cukup sepi, hanya ada 2 motor kami. Sampai perempatan ternyata lampu barusan berubah dari hijau menjadi merah sehingga kami berhenti karena plat kami tidak ada yang RI 1. Beberapa puluh detik pertama masih hanya ada 2 motor kami, sementara 2 bocah perempuan yang saya kira masih balita mulai menjual kasihan dengan mengelap motor kami walau sembrono dan tidak niat. Saya beli kasihan anak yang mengelap motor saya tadi seharga 2 ribu. Saya kasih dia dengan tangan saya memegang kepal tangannya seolah bersalaman sehingga dia tidak tahu berapa saya kasih sampai dia buka itu tangan. Sementara si Mayang juga ngasih ke anak yang ngelap motornya tadi berapa nominal rupiah nggak tahu. Si anak yang saya kasih berlalu. Motor masih hanya kami di perempatan tersebut, dan anak yang mengelap motor Mayang ganti mendekat ke arah saya.
“Ada lagi nggak mas?”, tanya si anak tersebut.
“Udah nggak ada lagi dek, minta aja sama temenmu tadi”, sambil saya merogoh saku dan tidak ada lagi uang disana.
“Itu pelit orangnya mas, mesti nggak mau ngasih, ada lagi nggak?”
“Udah nggak ada lagi, minta aja sama dia, masa ga mau?”
“Dia pelit mas, ada lagi nggak mas?”
“Udah dibilangin nggak ada lagi, minta sama temenmu aja, ato sama bapak yang disana”, saya sedikit kesal, menunjuk ke arah motor lain yang barusan ikut berhenti.
“Nggak ada uang kok bisa ngasih tadi? Ada lagi kan mas?”, dia masih belum beranjak. Saya kesal.
“Bukannya tadi udah di kasih sama mbak-mbak sebelah? Yaudah lah?”
“Pelit banget mas-nya, kalau nggak ada uang kok bisa ngasih tadi?” Saya benar-benar kesal.
“Emangnya kamu tahu uang saya ada berapa? Saya yo nggak selalu punya uang! Apa sini saya minta lagi uang yang tadi saya kasih!!”, saya meledak. Dia pergi. Lampu hijau.

Tinggalkan komentar